Homesick but Homeless: Dilema Tempat Asal

Dari mana asalmu? Pertanyaan sederhana yang sulit saya jawab.
Pernah mengalami hal yang sama?

Dulu ketika sekolah atau kuliah, entah karena anak rantau atau sebab lainnya, saya sering mendapat pertanyaan “dari mana asalmu?”. Saya melihat banyak teman yang begitu mudah menjawab pertanyaan tersebut. Mereka bercerita tentang kampung asalnya, cerita tentang tempat khas di kampungnya, cerita tentang makanannya dan banyak lagi.

Ketika pertanyaan itu sampai di saya, otak langsung membeku, tidak tahu mau menjawab apa. Kalau lagi capek, saya jawab singkat. Kalau lagi pengen ngobrol, saya tanya apa arti asal. Dan biasanya kami akan panjang lebar membahas pengertian asal sehingga saya tidak perlu menjawab pertanyaan itu.

Pertanyaan tentang asal itu berpijak pada asumsi bahwa hidup adalah perjalanan, yang berangkat dari suatu titik asal. Ada kebutuhan untuk melekatkan diri pada suatu daerah, entah sebagai identitas atau sebagai ruang nyaman buat kita. Seolah bila tidak ada titik asal, kita menjadi manusia yang tercerabut dari akarnya.

Sebagai perjalanan, berangkat dari titik asal tentunya menuju suatu titik tujuan. Orang bergerak mengikuti harapannya. Ada titik tujuan yang tetap sama di titik asal. Ada pula yang titik tujuannya jauh dari titik asal. Sejauh-jauhnya titik tujuan tetap ada dorongan buat kembali lagi ke titik asal.

Jadi apa maksud asal dari mana? Maksudnya bisa asal kelahiran, bisa tempat tinggal (orangtua), bisa asal suku bangsa, tapi bisa jadi tempat kita tumbuh besar (ada lagi?). Ketika menempuh sekolah menengah di Papua, pertanyaan tersebut bisa saya jawab dengan beragam jawaban. Pati, Koya Barat, Jawa dan Jayapura. Pati tempat kelahiran. Koya Barat tempat tinggal orangtua (saat itu). Jawa sebagai suku bangsa. Jayapura tempat tumbuh besar (mencakup Nimbokrang, Koya Barat, Sentani, Waena, Abepura).

Pada saat itu, setiap jawaban bisa menghasilkan dilema. Kalau menjawab Jawa, saya tidak mahir berbahasa Jawa. Kalau menjawab Pati, tidak ada bayangan mudik ke Pati. Kalau menjawab Koya Barat dan Jayapura, saya bukan orang Papua, tidak bisa berbahasa Papua. Serba salah…..

Dilema itu terasa usai ketika saya berkuliah dan kerja di Surabaya. Tinggal jelas Di Surabaya atau kemudian pindah ke Sidoarjo yang masih relatif dekat. Meski tidak mahir berbahasa Jawa, tapi bahasa Jawa Surabaya relatif lebih mudah dikuasai, karena cenderung bahasa kasar. Mudik ke Gresik, tidak jauh dari Surabaya.

Awal tahun lalu, dilema tempat asal muncul kembali. Selepas suatu kejadian hidup yang saya ceritakan pada tulisan saya sebelumnya (Klik tautan ini). Untungnya agak “terselamatkan” oleh pandemi COVID-19 yang menyebabkan adanya larangan mudik.

Tepatnya, dilema itu terasa menusuk ketika secara random mendengar lagunya Andre Harihandoyo & Sonic People (pernah dengar lagu-lagunya?) yang berjudul Homesick but Homeless. Lagu yang menceritakan kerinduan akan kampung halaman dari orang yang tidak mempunyai kampung halaman. Meski ia telah berusaha keras tapi tetap tidak berdaya.

Sebagaimana saya yang hingga hari ini masih merenung, dimana rumah saya selanjutnya. Tetap bertahan di seputaran Jakarta atau memilih daerah lain di Jawa. Dan ternyata menjawab pertanyaan tempat asal masih menjadi hal memusingkan saya sampai sekarang. Karena bukan sekedar kepemilikan rumah, bukan hanya perkara alamat di kartu identitas, tapi juga perkara kemana akan pulang. Perubahan jati diri :)

Karenanya pada Idulfitri dan hari Kenaikan Isa Almasih, saya memilih topik terkait kelahiran kembali. Silahkan baca di Instagram saya, @Bukik.

Bersyukurlah buat teman-teman yang bisa mudik ke kampung halaman tanpa menerobos protokol kesehatan. Bersyukurlah buat teman-teman yang tidak bisa mudik, tapi setidaknya punya kampung halaman untuk kembali. Saya masih merenung hingga beberapa waktu ke depan. Atau seperti akhir lirik lagu tadi, berucap “Somebody please take me home” :))

Apakah Anda juga mengalami dilema tempat asal? Pernah merasa Homesick but Homeless?

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

2 thoughts on “Homesick but Homeless: Dilema Tempat Asal”

  1. Memang merepotkan. Saya yang punya latar dua kota saja kadang dianggap plin-plan. Rumah dan ortu di Yogya. Saya numpang lahir di Salatiga. Lalu balik ke Yogya. Lalu ortu tugas di Salatiga. Saya di Salatiga sampai SMA. Lalu kuliah di Yogya tinggal di rumah sendiri.

    Tapi saya lbh kuat mengenal Salatiga ketimbang Yogya. Dulu begitu. Kini saya pangling dengan dua kota itu.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.