Begitulah Hidup, Selalu Punya Kejutan

Beberapa waktu lalu ketika melewati usia 40 tahun, saya membayangkan hidup sudah berada pada “jalur”nya. Anak semata wayang. Jalan hidup sudah berketetapan di bidang pendidikan. Tinggal melakukan perbaikan dan pengembangan di sana sini. “Tinggal” menjalani jalan hidup.

Kesimpulan yang serta merta dari refleksi perjalanan hidup yang semula naik turun kemudian semakin lama semakin landai. Semakin berumur, berusaha semakin menerima apa-apa yang tidak bisa diubah. Semakin berusia, berusaha semakin menjernihkan urusan yang menjadi prioritas. Namun, begitulah hidup, selalu punya kejutan

Perjalanan Hidup
Kehidupan masa kecil saya habiskan antara dua daerah, Juwana dan Kudus, dengan lebih banyak masa ditinggal bertugas ke Bengkulu, Yogya hingga Batu. Usia 5 tahun, orangtua membawa saya pindah ke ujung timur Indonesia. Papua, setelah 6 bulan di Sentani, kemudian pindah ke Nimbokrang, di sebuah rumah yang jauh dari mana-mana kecuali hutan.

Tak lama, kurang dari dua tahun, kami pun pindah ke desa transmigrasi yang baru dibuka, Koya Barat. Rumah sendiri yang saya tinggali paling lama sepanjang hidup sampai nanti ketika sudah punya rumah sendiri. Layaknya anak kecil di Koya Barat, saya bermain bola, menggembala, menjelajah hutan, mengaji di masjid hingga berkelahi. Saya merasakan panen padi. panen kunyit, bawang merah hingga panen jeruk yang berlimpah. Begitu berlimpahnya, saya berjualan jeruk keliling desa. Saya belajar berbagai permainan kartu hingga catur. Hingga kisah cinta pertama tapi belum pacaran *eh

Saya lulus SD. Tidak ada SMP di Koya Barat pada waktu itu. Saya melanjutkan SMPN 2 (?) di Abepura, tinggal di rumah temannya bapak di Kotaraja. Baru saja diterima dan pindah, Bapak sakit diopname di RSUD Dok 2 Jayapura. Tidak lama, Bapak meninggal sebelum rencana berobat ke Jawa terlaksana. Bapak dimakamkan di Sentani. Keluarga kami goyah. Ibu tidak bekerja, harus menghidupi anak tiga.

Saya dipindah ke SMPN 2 Sentani, tinggal di rumah mantan atasan Bapak yang menyanggupi untuk menghidupi saya. Dari Abepura, upacara pemakaman, tanpa sempat pulang ke rumah di Koya Barat, saya langsung menuju ke Sentani. Fase hidup yang sangat berat. Saya tidak siap tinggal di rumah orang lain. Kesulitan berkomunikasi dan beradaptasi. Hiburannya teman-teman berangkat dan pulang sekolah dengan jalan kaki serta membaca buku di perpustakaan sekolah.

Suatu hari berjumpa dan ngobrol dengan Arthur, kakak kelas, yang cerita dirinya tinggal di asrama AURI. Saya pun berinisiatif datang ke asrama AURI dan bertanya kemungkinan tinggal di sana. Gayung bersambut. Saya diperbolehkan tinggal. Singkat cerita, saya pindah dari rumah mantan atasan bapak. Saya tinggal di kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu asrama.

Tinggal di asrama, hidup bersama tentara, saya justru belajar banyak tentang hidup. Mereka cenderung asertif dan berkomunikasi secara terbuka. Salah ya salah, benar ya benar. Meski hanya semester terakhir, saya lebih banyak teman, lebih banyak berinteraksi, lebih banyak berpetualang. Sore sehari menjelang ujian akhir pun, saya tetap bergembira bermain bola di halaman sekolah :)

Nilai ujian (NEM) saya pas dengan syarat minimal untuk masuk ke SMAN 1 Jayapura di Abepura yang lebih dekat dengan rumah dibandingkan Sentani. Saya nekat mendaftarkan diri dan ternyata diterima. Saya kembali lagi ke Abepura, melanjutkan di SMAN 1 Jayapura yang tepat berseberangan dengan SMPN yang sempat 2 bulan saya incipi. Tahun pertama tinggal di kenalan Ibu di daerah Waena. Bergaul dengan anak kompleks perumahan PLN. Tidak lama. Tahun kedua saya pindah tempat tinggal. Entah dimana.

Saya dibantu teman satu desa yang menjadi takmir masjid di dekat pasar Abepura. Saya tinggal di masjid itu selama beberapa minggu. Saya lupa persisnya, tapi kemudian saya pindah ke kos barengan dengan teman-teman satu sekolah. Goncangan terjadi pada titik ini. Saya lebih menikmati kenakalan remaja dibandingkan belajar di sekolah yang membosankan. Meski sempat dipindah untuk tinggal di rumah guru BP, tapi petualangan remaja lebih menarik minat. Akibatnya pada akhir tahun ajaran, saya mencatat rekor alpa dan sakit lebih dari 4 bulan, yang kemudian diganjar dengan nilai rapor yang ditandai 4 angka 5 dan 2 angka 4. Saya tidak naik kelas. Geger!

Ibu kemudian memutuskan saya pulang ke Jawa, tinggal bersama paman. Saya kembali ke kampung halaman di Juwana. Saya bersekolah di SMAN Juwana, mengulang kembali kelas 2. Saya kembali menemui kehidupan yang menyenangkan. Saya belajar banyak di sekolah maupun di rumah. Di rumah, saya banyak mendapat kesempatan belajar dari paman yang seorang pengusaha kecil. Saya bisa mencoba berbagai peran mulai tukang amplas, pembuat kardus, menata paket hingga mengendarai becak. Bekerja dan bergembira bersama buruh paman saya.

Di sekolah selain belajar pelajaran, saya mendapat kepercayaan menjadi pemimpin redaksi majalah sekolah yang berupa majalah dinding dan majalah cetakan. Entah bagaimana bisa murid yang tidak naik kelas justru dijadikan pemimpin. Saya sebenarnya tidak punya kemampuan, tapi sebagaimana pelajaran yang saya dapatkan dari ayah dan paman, kerja keras itu penentu. Saya memimpin dengan membagi pekerjaan termasuk ke diri sendiri. Majalah dinding terbit edisi demi edisi. Majalah cetak terbit berkat dukungan pemimpin usaha yang bekerja lebih keras lagi. Lulus dengan bangga :)

Mau kemana setelah SMA? Saya ke Surabaya, tinggal di rumah bulik (bibi) yang menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi swasta. Sekamar dengan sepupu yang seusia tapi sudah berkuliah duluan di ITS. Singkat cerita, saya diterima kuliah di ITS. Saya pun pindah ke asrama ITS. Di asrama, pertama kali terlibat demonstrasi untuk menuntut perbaikan kualitas makanan. Saya berkenalan dengan sejumlah aktivis mahasiswa. Pelan pelan saya semakin jarang di asrama dan lebih sering di sekretariat himpunan mahasiswa.

Antara kesibukan menjadi aktivis mahasiswa yang kariernya melejit dengan kegagapan menguasai kuliah probalititas membuat masa depan kuliah saya terancam DO. Sebelum ancaman datang, saya memilih ikut ujian seleksi masuk PTN lagi. Nasib baik, saya diterima di Psikologi Unair. Awal yang cukup bagus (IP diatas 2,5), pertengahan anjlok (IP dari mepet 2, 1 koma sampai nol koma), tapi diakhiri dengan cemerlang (IP 4 koma).

Selama kuliah, saya lebih banyak belajar di jalanan, kampus lain, hingga pelosok-pelosok desa melakukan pendampingan warga. Tapi bagian ini akan saya ceritakan di bagian lain. Singkat cerita lulus S1, kemudian dapat beasiswa dari kampus untuk lanjut ke S2. Bukan karena saya mahasiswa yang pintar, tapi karena saya mau kerja keras. Lebih keras, melampui tuntutan pekerjaan. Tidak punya koneksi, keterbatasan kompetensi, apalagi kalau tidak mengandalkan kerja keras yang terbukti?

Lulus S2, saya diangkat menjadi dosen PNS di Psikologi Unair. Sebuah peran yang berharga untuk belajar banyak hal, banyak sekali hal. Kisahnya bisa dibaca di Iya, Aku Mengundurkan Diri sebagai PNS.

Setelah mundur dari PNS, saya menekuni profesi sebagai fasilitator lepas di sebuah lembaga internasional selama hampir 2 tahun sambil mengembangkan startup di Indigo Incubator.

Kontrak sebagai fasilitator lepas berbarengan dengan selesainya masa Indigo Incubator. Hasilnya tidak terlalu menjanjikan. Saya menolak untuk melanjutkan ke fase akselerasi karena tidak melihat ada prospek yang bagus. Lagipula, anak saya sudah beranjak besar, terlalu beresiko untuk mempertaruhkan nasib sebagai pengusaha digital tanpa pekerjaan tetap yang jelas.

Setelah melalui sejumlah percakapan, saya memilih bergabung dengan Cikal untuk merintis pendirian sekolah tinggi guru. Resmi per 1 Mei 2015, saya menjadi bagian dari tim Cikal. Setelah menjadi manajer pengembangan dan ketua Kampus Guru Cikal, saya dipercaya menjadi ketua Yayasan Guru Belajar, organisasi yang berdiri mandiri, terpisah dari Cikal.

Lima tahun lebih telah berlalu. Dengan berbagai dinamika dalam mewujudkan visi pendidikan guru. Saya sudah menetapkan jalan hidup di jalan guru. Sepanjang waktu fokus berpikir bagaimana bisa berdampak lebih besar terhadap masa depan guru.

Kejutan Hidup
Begitu dinamisnya hidup, saya menempuh TK, SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi pada 2 lembaga yang berbeda. Sering berpindah tempat tinggal, banyak kesempatan buat saya mengasah kemampuan beradaptasi :)

Selewat usia 40 tahun, jalur hidup mulai landai. Tenang mengendarai karier. Senang menjadi teman ngobrol anak. Asyik mencoba hobi fotografi. Memperjuangkan apa yang bisa diubah, menerima apa yang tidak bisa diubah. Seolah sebuah film, sudah menjelang adegan penutup.

Namun, hidup rupanya belum menyerah untuk memberi kejutan. Jalan yang landai pun tiba-tiba naik turun, curam dan mengejutkan. Hidup bukan pengulangan kejadian di masa lalu. Sejak pertengahan Juni, saya berada pada titik dimana saya menjalani jalan hidup seorang diri. Semua baik-baik saja saat ini, dan semoga tetap baik-baik saja hingga nanti.

Begitulah Hidup, Selalu Punya Kejutan

Apa kejutan hidup yang Anda hadapi dalam setahun terakhir?

Foto oleh @AdelAnggr

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

14 thoughts on “Begitulah Hidup, Selalu Punya Kejutan”

      1. Apa Damai ikut ke Jakarta atau di Sidoarjo? Masih suka main musik? Sibuk sekali ya Mas Bukik sekarang sampai jarang nulis di blog. Saya pikir tadi postingannya panjang. Jebule sauprit. Jaga diri dan selamat beraktivitas, Mas!

  1. Menunggu bagian saat S1 bersama warga itu, Mas. Sejk pindah ke Lamongan tiga tahun lalu, hidup rasanya landai-landai saja, tapi untunglah tidak membosankan. Kejutan? Tentu ada, tapi ya tidak mencengangkan, tapi menyenangkan. Haha

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.