Selamat Ulang Tahun @AyundaDamai

Apa kado ulang tahunmu? Papski kasih kado ulang tahun berupa cerita ya. Semoga kamu suka

Cerita mengenai nama
Dulu sebelum kamu lahir, papski dan mamski tinggal di sebuah kontrakan di Surabaya. Kontrakan mungil di sebuah kampung. Tidak ada langit-langit di rumah kontrakan itu sehingga kalau kalau siang panas sekali. Malam hari pun, kalau tidak hujan, hawanya tetap hangat, setengah panas gitu. Banyak tamu di kontrakan itu. Biasanya datang kalau tidak ada orang di rumah. Tamunya kecil, berwarna hitam, dan berbunyi cit cit cit….hihi iya itu tikus. Papski paling jengkel kalau tikus itu meninggalkan kotoran di dalam bak kamar mandi. Papski pulang dari kampus harus menguras bak mandi meski malam-malam.

Awalnya papski dan mamski tidak punya televisi sampai suatu hari papski beli antena UHF. Dengan antena itu, papski mengubah monitor komputer menjadi televisi. Papski sama mamski nonton televisi biasanya malam hari atau hari sabtu dan minggu bila tidak ada acara. Salah satu acara favorit papski dan mamski waktu itu adalah AVI Junior, acara lomba nyanyi buat anak-anak. Ada satu anak yang suaranya bagus, namanya Damai. Waktu itu papski nyeletuk “Mams, kalau punya anak kita kasih nama Damai yuk. Nama adalah doa. Nama Damai itu doa yang bagus sekali”. Mamski setuju sama usulan papski.

Singkat cerita, mamski hamil. Ketika menjelang melahirkan, papski dan mamski ingat ide yang pernah dibahas dulu itu, memberi nama anak Damai. Tapi Damai siapa? Masak cuma satu kata saja. Seperti biasa, papski berimajinasi dan menemukan nama “Damai Wajah Bulan”. Indah kan? Sayangnya mamski tidak setuju. Katanya, “Namanya terlalu aneh buat orang-orang”. Papski mengalah, toh satu usulan papski sudah disetujui. Mamski kemudian punya usul untuk memberi nama awal “Ayunda” yang berarti kakak perempuan yang ayu. Kemudian menjelang kelahiranmu, mamski punya usul lagi untuk menambahkan satu nama lagi, Fatmarani. Jadi lengkapnya, Ayunda Damai Fatmarani.

Apa arti sebuah nama? Bagi papski, nama adalah doa. Setiap kali kita menyebut nama, setiap kali pula kita berdoa. Dan doa akan menjadi kuat, bila orang yang berdoa tahu makna doanya, bukan hanya sekedar mengucapkan. Karena itulah papski ingin memberi nama ke anak dengan menggunakan bahasa Indonesia. Biar semua orang tahu, apa arti nama anak papski. Biar setiap kali memanggil nama anak Papski, orang mengucapkan doa yang kuat, doa yang penuh makna. Dan alangkah indahnya bila banyak orang yang berdoa agar kehidupan jadi damai, bukan? :)

Cerita kelahiran
Menjelang kelahiran, Mamski mengambil cuti dan tinggal di rumah nenek di Wlingi. Jadi papski tinggal sendiri di rumah kontrakan. Oh ya tidak sendiri, bersama tamu yang bunyinya cit-cit itu :D. Papski pulang ke Wlingi setiap hari jumat sore naik bis. Masa dimana papski paling sering nongkrong di terminal bis, bukan tidak ada pekerjaan, tapi menunggu bis datang dan berangkat. Papski kembali ke Surabaya hari minggu sore atau hari senin jam 4 pagi. Wah kalau berangkat senin pagi itu bis padat dengan penumpang, sering papski berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. Jadi papski lebih sering pulang minggu sore.

Sampailah pada suatu malam, mamski mendapat tanda-tanda akan segera melahirkan. Malam itu, mamski pun masuk ke klinik bersalin yang dekat dengan rumah nenek di Wlingi. Sejak malam itu, mamski merasakan sakit. Papski tidak tahu bagaimana rasa sakitnya. Papski hanya tahu wajah mamski menngeryit menahan sakit yang teramat sangat. Mamski sampai mencengkeramkan tangannya. Begitu terus sepanjang malam. Papski dan nenek bergantian menemani mamski yang kesakitan. Begitu terus sampai pagi hari, mamski kesakitan tapi perawat mengatakan belum waktunya mamski melahirkan.

Pagi harinya, ada yang mengusulkan agar mamski melahirkan dengan cara operasi. Karena mamski lama menahan sakit, papski setuju usulan itu. Kalau operasi, mamski harus pindah ke Rumah Sakit yang bisa melakukan operasi. Karena itu butuh persiapan yang cukup lama. Ketika menunggu ini mamski sudah dipindahkan dari kamar ke ruangan melahirkan. Papski menunggu di luar ruangan. Menunggu sambil bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Tapi ternyata mamski tidak jadi operasi, justru melahirkan di klinik itu pada saat menunggu.

Setelah itu, papski melihat seorang perawat menggendong bayi ke ruangan bayi di sebelah ruang melahirkan. Papski diberitahu bila itu anak papski, bayi perempuan. Papski pun ke ruang itu untuk melihat kamu pertama kali. Cantik! Papski kemudian melantunkan adzan di telingamu. Doa papski satu. Satu doa yang papski ulang terus hingga hari ini, semoga kamu jadi anak baik. Baik seperti apa? Biarlah engkau yang mengartikannya, dan terus mengartikan ulang sepanjang hidupmu.

Beberapa hari kemudian, mamski dan kamu pulang ke rumah nenek. Wah rumah jadi ramai gara-gara kamu. Kalau menangis, suaranya keras sekali. Apalagi menangis waktu mandi, kerasnya bisa berlipat-lipat. Tapi tangisanmu adalah tanda ada kebahagiaan dalam rumah, tanda adanya seorang bayi yang siap tumbuh dan mengarungi dunia.

Ketiha mendung pun sirna
Malam itu papski dan mamski mengadakan aqiqah buat kamu. Rumah nenek ramai sekali untuk persiapan aqiqah. Setelah magrib, acara aqiqah pun dimulai. Mendung membuat ruangan jadi panas, sampai-sampai papski dan para tamu keringatan. Orang-orang sudah mulai gelisah. Sampai kemudian acara memotong rambut. Papski berdiri mendekatimu dan kemudian memotong sejumput kecil rambutmu. Dan tiba-tiba hujan pun jatuh, deras sekali disertai angin kencang. Tidak lama, mungkin hanya 5 menit. Hujan yang membuat mendung sirna, dan suasana ruangan menjadi segar sekali.

Doa adalah nama, Nak. Papski berharap engkau menjadi orang yang menyejukkan suasana, dimanapun engkau berada. Sepanas apapun suasana, hatimu tetap sejuk. Sericuh apapun suasana, sikapmu tetap damai. Memang tidak mudah Nak. Semakin engkau besar, semakin rumit dunia yang akan kau hadapi, semakin susah perilaku orang untuk dimengerti. Tapi Papski yakin engkau pasti bisa tetap bersikap damai. Engkaulah, anak paling tegar yang pernah papski kenal. Engkaulah anak dengan nama yang disebut dalam doa jutaan orang.

Rumah baru, keluarga baru
Setelah usia dua bulan (tepatnya papski lupa), papski dan mamski membawamu ke Surabaya, ke rumah kontrakan dengan tamu yang bersuara cit-cit itu. Kamu yang lahir dan terbiasa dengan suasana sejuk Wlingi, terus menangis karena hawa panas dalam rumah. Kulitmu sampai timbul bercak-bercak. Papski dan mamski tidak tega melihatnya. Kami memutuskan untuk mengijinkan nenek membawamu kembali ke Wlingi. Sementara waktu, kita berpisah. Berpisah fisik, tapi tidak hati kita.

Kita masih tinggal di rumah kontrak, karena rumah yang papski dan mamski persiapkan buat kamu masih belum jadi. Rumah baru kita di Sidoarjo, di ujung jalan, tak jauh dari kebun tebu dan sawah. Ketika pembangunan telah selesai, papski dan mamski pun membawamu ke rumah baru kita. Kita berkumpul kembali, seolah menjadi keluarga baru, karena baru saat itulah kita hidup bersama di rumah sendiri.

Rumah kita memang kecil, tapi akan selalu lapang karena hati kita yang selalu besar untuk saling mencintai. Rumah kita memang di ujung jalan, tapi akan selalu menenangkan karena jiwa kita yang selalu menari dalam harmoni.

Hari ini papski empat cerita yang mungkin sebagian sudah kamu dengar dari mamski atau papski. Tapi papski ingin menuliskan cerita ini, agar kapan pun kamu rindu, kamu bisa membaca kembali cerita-cerita ini.

Selamat ulang tahun anakku, Damai Wajah Bulan, eh Ayunda Damai Fatmarani. Sudah sembilan tahun engkau mengarungi hidup, tapi masih panjang perjalanan hidupmu. Sudah banyak suka duka kita jalani, tapi kita akan menjalani lebih banyak suka duka di hari nanti.

Oh ya pesan papski, tetaplah jadi anak-anak yang penuh rasa ingin tahu. Jangan terlalu serius :D

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

2 thoughts on “Selamat Ulang Tahun @AyundaDamai”

Gimana komentarmu?