Twitter untuk Pendidikan: Melejitkan Kreativitas

Mahasiswa asyik dengan telepon genggam atau laptop ketika dosen mengajar. Dulu mungkin berarti tidak memperhatikan pelajaran. Sekarang? Bisa jadi tengah belajar. 

Suatu ketika ada seorang teman via twitter (maaf lupa namanya karena sudah hampir setengah tahun…hehe) pernah bertanya apakah aku terganggu kalau mahasiswaku asyik ngetweet (menggunakan twitter)? Aku bilang aku malah suka. “Kenapa?”, tanyanya lebih lanjut. “Ngetweet berarti belajar,” tukasku. “Loh kok bisa?”, ujarnya kebingungan. Nah posting ini aku tulis dengan niatan untuk menjawab pertanyaan itu. Penjelasan atas “Aku ngetweet maka aku belajar”.

Banyak orang beranggapan bahwa belajar adalah menghafalkan sejumlah materi. “Rumus-rumus itu harus hafal!”, kata sebagian orang. Dengan hafal rumus, maka orang bisa menggunakan rumus yang mana untuk mengerjakan suatu soal. “Kalau tidak hafal, bagaimana mungkin mengerjakan soal?”, tegas orang lain lagi. Anggapan belajar yang demikian bisa dikatakan merupakan pondasi dari persekolahan kita. Murid menjadi mesin fotocopy yang menyalin materi dari buku ke dalam otaknya.

Tapi tahukah anda bahwa menghafal adalah tingkat terendah dari belajar?

Tenang. Bukan aku kok yang ngomong. Adalah Blooom yang membuat tingkatan tujuan pembelajaran yang terkenal sebagai Taxonomy Bloom. Taxonomi itu kemudian direvisi oleh Krathwohl (2001) menjadi seperti ini:

Menurut Taxonomy tersebut, menghafal atau mengingat adalah pembelajaran pada tingkat terendah. Lalu mengapa kita bangga anak-anak kita bisa menghafal begitu banyak pelajaran?

Kembali ke twitter. Bayangkan seorang dosen atau guru (dan profesi lainnya) masuk dalam ruangan. Ia kemudian meminta mahasiswa untuk ngetweet tentang pelajaran yang didapatkan maupun apa yang dipikir dan dirasakan. Ngetweet apapun dengan menggunakan tagar #BelajarKeren (Apa itu tagar? Baca Twitter untuk Pemula). Setelah itu, dosen itu bercerita menerangkan suatu materi pelajaran sementara para mahasiswa sibuk ngetweet. Apa yang terjadi?

Mahasiswa menyimak dan menemukan pelajaran yang menurutnya menarik. Mahasiswa membuat ringkasan dalam 1 tweet (140 karakter). Bisa jadi, mahasiswa membuat tweet tentang pertanyaan yang muncul di benaknya.  Selama kuliah akan terkumpul tweet-tweet yang juga jadi catatan kuliah.

Apa bedanya dengan mencatat secara tradisional? Ketika mencatat secara tradisional, mahasiswa bisa menuliskan apa saja. Otak ketika tidak mendapat tantangan cenderung mengikuti cara yang nyaman, menyalin kata-kata persis yang didengar. Beda dengan ngetweet, otak kita ditantang untuk menemukan inti pelajaran yang panjangnya tidak lebih dari 140 karakter (dikurangi jumlah karakter tagar). Bahkan, harus membuat sebuah kalimat baru yang melukiskan pelajaran yang didapatkan. Meski hanya 140 karakter, tapi membuat sebuah tweet bukan hal mudah. Butuh kreativitas kita untuk membuat tweet yang memikat.

Oleh karena itu, ngetweet tidak sekedar menghafalkan pelajaran. Ngetweet justru sebuah tantangan untuk menciptakan pelajaran. Proses ngetweet itu sendiri merupakan upaya menciptakan bangunan pemahaman. Otak tidak pasif, justru aktif melakukan penemuan dan penciptaan. Otak yang aktif ini merupakan tanda dari senyatanya pembelajaran. Bahkan bila mengacu pada taxonomi diatas, penciptaan ini merupakan level tertinggi pembelajaran.

Dengan semakin banyak ngetweet maka semakin banyak belajar. Dengan semakin banyak ngetweet maka semakin banyak menciptakan kalimat inspiratif. Semakin ngetweet, semakin belajar. Semakin ngetweet, semakin kreatif.

Everything I learned about twitter I learned in grade school

Awalnya aku mempraktekkannya bukan sebagai sebagai dosen, namun sebagai mahasiswa yang ngetweet dalam sebuah forum diskusi. Karena mencoba inilah, aku jadi tahu rasanya mahasiswa yang diminta ngetweet ketika kuliah.

Acara terakhir yang aku ikuti sebagai peserta adalah Indonesian Young Changemakers Summit. Aku aktif ngetweet dengan tagar #IYCS (Coba cek di http://bit.ly/wXp24g). Wah rasanya ada banyak koneksi-koneksi terhubung dalam otakku. Malam harinya aku cek seluruh tweetku dan dari bahan itu menjadi sebuah tulisan.

Bayangkan bila sesuai sesi. Sang dosen memeriksa tweet dengan tagar #BelajarKeren. Sang dosen bisa mengetahui apa yang dipelajari oleh mahasiswa. Lebih dari itu, sang dosen juga bisa membangun percakapan untuk mengembangkan pemahaman mahasiswa. Atau setidaknya tweet-tweet itu bisa jadi masukan untuk proses pembelajaran berikutnya.

Apakah cuma itu peran twitter untuk pendidikan? Eits tunggu dulu. Twitter adalah ruang brainstorming yang bebas dan liar. Melalui twitter, kita bisa melontarkan pertanyaan dan mendapat banyak ide dari berbagai perspektif. Gagasan Indonesia Bercerita sendiri lahir di linimasa twitter. Hanya saja yang perlu diingat, twitter adalah ruang publik sehingga ide kreatif yang lahir di linimasa twitter bisa diakses dan dipelajari oleh siapapun.

Selain itu, twitter telah digunakan sebagai media pembelajaran kolaboratif. Coba simak tagar #twitedu yang digagas oleh @bincangedukasi pada setiap selasa jam 19.00 WIB. Tagar #twitedu mengajak semua orang berbagi pengetahuan, pengalaman dan pertanyaan kepada semua orang. Kalau suka bercerita, anda juga harus menyimak #edustory yang digagas oleh @IDcerita pada setiap Senin jam 19.oo WIB. Setiap orang bisa terlibat dalam proses pembelajaran kolaboratif ini.

Bagaimana pengalamanmu menggunakan twitter untuk pendidikan?

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?