Tweetmu Harimaumu

Gara-gara dimention oleh @IARidlo aku membaca berita “12 Orang Ini Dipecat Gara-gara Twitter” di http://bit.ly/kkDlXv . Baca berita itu rasanya tersengat, sedikit takut dan agak geli juga. Twitter, tepatnya media sosial, telah menjadi dunia nyata bagi kita semua. Sebuah tweet bisa berdampak pada kehidupan nyata kita. Gimana menurutmu?

Hadirnya media sosial (Facebook, twitter, blog, youtube dll), memungkinkan setiap orang tampil dan berkomunikasi secara interaktif ke seluruh dunia. Banyak orang masih menganggap media sosial hanya untuk mencari kesenangan, bergalau ria, dianggap tidak penting dan tidak punya pengaruh bagi kehidupan nyata. Orang mudah membuat akun di media sosial dan kemudian menggunakan seenaknya sendiri untuk mengekspresikan segala perasaannya.

Kalau memang hanya untuk kesenangan, lalu mengapa sampai ada 12 orang yang dipecat gara-gara twitter?

Media sosial sebagai bagian dari gelombang globalisasi 3.0 memungkinkan setiap orang mempunyai medianya sendiri. Punya akun twitter itu ibarat mempunyai koran. Kita bebas memuat informasi apapun pada koran milik kita. Kita bisa mengisinya dengan informasi yang serius, lelucon, inspiratif, galau dan lainnya.

Tetapi sebagaimana kehidupan nyata, kita tetaplah berkaitan dengan orang dan pihak lain. Orang atau pihak lain juga bebas untuk menyukai atau membenci informasi yang dimuat di media kita. Kalau suka orang akan follow kita, kalau tidak suka mereka unfollow atau melakukan tindakan lain yang memutuskan hubungan dengan kita.

Dulu ada peribahasa, mulutmu harimaumu. Sekarang peribahasanya sudah berubah, tweetmua adalah harimaumu. Masih mending kalau kata-kata dari mulut kita, hanya sekali kita ucapkan belum tentu direkam dan tercatat. Tetapi sekali kita ngetweet, maka tweet kita bisa tersebar ke orang-orang yang bahkan kita tidak mengenalnya sama sekali. Tweet kita pasti terekam dan bisa disimpan orang lain. Twitter menggadakan kekuatan harimau itu berkali-kali lipat.

Apa pelajarannya? Pertama, pikir dahulu sebelum ngetweet. Kedua, jangan ngetweet ketika emosi. Ketiga, tunggangi harimau yang perkasa itu untuk tujuan-tujuan positif. Keempat, apapun konsekuensinya, kalau kamu yakin dengan sesuatu, tetaplah ngetweet. Jangan biarkan kekhawatiran menghilangkan kesenangan kita menggunakan twitter.

Apa pelajaran lain menurutmu?

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

9 thoughts on “Tweetmu Harimaumu”

    1. Wah perlu nulis postingnya nih. Globalisasi 3.0 itu ketika individu bisa mengglobal melalu media sosial. Dulu, negara dan perusahaan yang bisa menyebarkan pengaruh ke seluruh dunia

  1. bener banget. dikampus saya malah pernah kejadian ada mahasiswa yang bermasalah sama dosen gara-gara berkicau menjelek-jelekkan dosen tersebut. twitmu adalah harimaumu.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.