Tidak Punya Pekerjaan, Akhirnya Saya Jadi Penulis :)

Kalau ada yang tanya mengapa saya menulis buku, salah satu jawabannya adalah karena saya tidak punya pekerjaan. Bagaimana ceritanya?

Saya pernah dengar anekdot, kesibukan kerja seringkali seperti lalat yang mengerubungi kita. Tidak mematikan, tapi terasa mengganggu sehingga kita pun sibuk mengusir lalat-lalat itu yang pada kenyataannya tidak mudah untuk mengusirnya. Tanpa terasa waktu kita habis untuk mengusir nyamuk itu sehingga lupa misi utama kita bekerja, dan bahkan seringkali sampai lupa untuk merasakan nikmatnya bekerja.

Bayangkan seseorang bekerja di suatu kantor. Masuk pagi, sampai kantor cek agenda apa yang harus dikerjakan, buka komputer untuk mulai mengerjakan. Baru sebentar, ada telepon dari pelanggan. Menjawab telepon selesai, kembali ke komputer eh ada panggilan dari bos. Memberi penjelasan pada bos selesai, kembali ke komputer eh ada teman yang minta tolong karena kesulitan mengerjakan tugasnya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Dulu ketika jadi dosen, saya sempat terbersit rasa malu karena setelah 7 tahun bekerja, belum sempat menulis buku. Ada buku teks yang saya ikut keroyokan menulisnya. Tapi karena buku teks dan ditulis keroyokan pula, saya tidak punya kelonggaran untuk mengekspresikan pengalaman dan gagasan saya. Saya katakan pada ide menulis buku yang sesekali muncul di kepala, “Hush, jauh-jauh sana, jangan ganggu”. Selain itu, saya sempat merangkum beberapa tulisan menjadi 2 buah buku-e. Buku-e pertama mengenai Appreciative Inquiry. Buku-e yang kedua mengenai The Dancing Leader.

Di tengah kesibukan kerja itu, saya iri sama Malcolm Gladwell yang bisa mendapat ijin cuti menulis buku. Andaikan ada pekerjaan yang bisa punya cuti menulis, mungkin bangsa kita produktif menulis…..mungkin lho ya :D

Untung di atas saya tulis mungkin, karena ternyata setelah mengundurkan diri sebagai dosen pun, saya tetap berkutat dengan kesibukan demi kesibukan. Saya hanya sempat berusaha menyusun buku yang berisi perjalanan karir seseorang, hasil dari kumpulan wawancara Bukik Pertama. Bahkan pada buku-e ketiga ini saya sempat mengundang teman-teman blogger untuk menulis. Dari sekian banyak yang memenuhi undangan, saya pilih dan saya sunting. Saya sempat tawarkan pada sebuah penerbit ketika mereka mengundang kopdar para blogger di Bandung. Sayang, respon penyunting yang mewakili penerbit tidak terlalu memberi semangat. Selepas itu, saya pun kembali ke alasan pada kesibukan yang satu ke kesibukan yang lain.

Sampai kemudian, proyek Takita terhenti dan tiga bulan kemudian kontrak pekerjaan utama saya tidak diperpanjang. Tidak punya pekerjaan. Saya berada pada titik nol……..

Pada titik nol itulah lahir ide untuk menulis buku. Dan kesempatan datang dengan cara yang tidak terduga. Sepertinya, tuhan ikut campur tangan. Seorang penyunting menghubungi saya dan menawarkan kesempatan untuk menerbitkan sebuah buku, mbak Gita Romadhona.

Andai pada saat itu ada banyak kesibukan, mungkin saya akan bimbang memilih antara bekerja yang menghasilkan atau menulis buku tanpa ada penghasilan sementara waktu dan belum tentu buku laku. Tapi karena pada saat itu saya berada pada titik nol maka pilihan menulis buku jadi terlihat lebih mengasyikkan. Mau ngapain lagi? Tidak ada. Ya sudah menulis buku saja

Mulailah proses penulisan buku. Saya mengajak teman, Dwi Krisdianto, untuk membantu pada tahap riset dan penyuntingan awal. Selama proses riset, saya dan Dwi hanya bertemu sesekali untuk membahas temuan-temuan yang didapatkan dan meninjau ulang kerangka buku berdasarkan temuan itu.

Pada saat bulan puasa, saya konsentrasi pada penulisan buku setelah sholat tarawih hingga waktu sahur tiba. Malam adalah titik nol. Ketika orang-orang berhenti beraktivitas, saya justru memulai aktivitas. Begitu terus sepanjang bulan puasa. Proses berhenti sementara menjelang lebaran hingga usai libur lebaran.

Lebaran usai, proses riset pun usai. Setelah lebaran, saya masuk pada tahapan penulisan akhir. Saya dan Dwi duet di depan rumah, di sebuah meja kecil dengan laptop berhadapan, dari pagi hingga petang. Saya berhenti pada malam hari agar pikiran punya kesempatan untuk menjelajah ke tempat yang lebih segar :D

Proses penulisan berlangsung selama dua minggu. Tenggat waktu dari penerbit semakin dekat. Alhamdulillah dengan duet yang seru dengan Dwi, akhirnya saya berhasil menyelesaikan naskah buku Anak Bukan Kertas Kosong. Naskah saya cetak untuk dibaca oleh pembaca pertama, isteri saya. Dan tidak butuh proses panjang kali lebar, bab-bab awal buku mendapat koreksi cukup banyak. Selesai naskah awal dikoreksi, saya pun mengirimkannya ke penerbit.

Saya menunggu naskah buku dibaca oleh penyunting dari penerbit. Beberapa waktu kemudian penyunting mengabarkan bahwa naskah buku memenuhi syarat untuk diterbitkan. Penyunting pun mulai prosedur internal untuk penerbitan buku.

Apakah sudah selesai? Belum saudara-saudara. Karena satu dan lain hal, proses penerbitan buku lebih lama dari yang saya perkirakan semula, akhir bulan Oktober. Jadi, saya pun mendapat perpanjangan titik nol.

Setiap orang yang pernah ke dokter gigi pasti tahu benar makna dari menunggu. Begitulah rasanya. Titik nol yang semula mengasyikkan mulai berubah menjadi menjemukan. Tidak punya pekerjaan, sementara kebutuhan keluarga tetap jalan terus, tidak peduli dengan titik nol. Dan percayalah, sesuatu yang menjemukan berpotensi melahirkan banyak penyakit

Karena selama penulisan buku saya tidak mencari kesibukan, maka banyak teman yang punya persepsi bahwa saya punya kesibukan sendiri. Memang benar sih, sibuk menulis buku. Tapi karena persepsi itu, saya tidak diajak untuk bersibuk-sibuk. Hanya ada satu dua seminar yang mengisi titik nol hingga Desember.

Mau apa sekarang di tengah titik nol ini? Saya ingat betul selama bertahun-tahun sebelumnya bahwa penghujung tahun hingga awal tahun adalah jeda tanpa ada kesibukan. Begitu pula tahun ini, terlebih lagi teman-teman mempersepsikan saya punya kesibukan sendiri. Mau membiarkan diri tenggelam dalam titik nol begitu saja?

Saya hubungi Dwi untuk mendiskusikan beberapa ide buku yang pernah kami bicarakan sebelumnya. Hasil diskusi, saya memutuskan untuk melanjutkan buku kedua dari seri pengembangan bakat anak. Mengapa? Alasan utama, saya menikmati proses penulisan buku. Sebuah kenikmatan yang dulu saya pilih ketika terlibat di majalah sekolah maupun di pers mahasiswa. Dan selama ini, kenikmatan tersebut sebatas menjadi tulisan di blog. Penulisan buku bisa jadi kapitalisasi sebuah kenikmatan :D

Pada buku pertama, Anak Bukan Kertas Kosong, saya menjelaskan fase eksplorasi dan belajar mendalam dalam siklus pengembangan bakat anak. Saya ingin melanjutkan penjelasan fase ketiga dan keempat, arah karir dan berkarir, pada buku kedua.

Berbeda dengan buku pertama, buku kedua diawali dengan riset paling mendasar, menanyakan pada orang tua mengenai persoalan karir anak yang paling mereka khawatirkan. Ternyata ada banyak sekali persoalan karir yang dirasakan orang tua. Saya pun kategorikan dan laporkan pada orang tua. Penulisan buku kedua selain mengacu pada hal-hal prinsip, juga bertujuan menjawab persoalan tersebut.

Ditengah tahap riset buku kedua, saya mendapat kabar gembira dari penerbit bahwa naskah sudah disetujui untuk masuk ke percetakan. Insya Allah, buku Anak Bukan Kertas Kosong sudah bisa ditemui di toko buku pada awal Februari, sekitar tanggal sepuluh. Kalau ketemu di toko buku, jangan lupa ajak ngobrol dan ajak pulang ke rumah ya :) Kalau tidak ketemu, teman-teman bisa menemuinya di TemanTakita.com. Ajak ngobrolah dari jarak jauh :D

Cover Buku Anak Bukan Kertas Kosong

Ibarat sebuah kendaraan, kendaraan yang melaju kencang mustahil untuk menikung tajam. Kendaraan perlu melambat terlebih dahulu, sebelum berbelok. Begitu pula dengan kehidupan kita. Kesibukan bisa berarti rejeki yang berlimpah, bisa pula berarti kosongnya kesempatan untuk melakukan perubahan. Tidak punya pekerjaan bisa berarti bencana, bisa berarti peluang bagi kita untuk berubah, untuk berkarya.

Tapi jangan meniru saya, karena saya pun sebenarnya tidak ingin mengulangi, yang masuk titik nol karena dipaksa keadaan. Alangkah indahnya bila bisa seperti Malcolm Gladwell yang mengambil titik nol secara terencana dan mendapat ijin dari atasannya. Bila sudah bertahun-tahun sibuk bekerja tanpa menghasilkan karya yang keren, segeralah masuk ke titik nol

Punya pengalaman masuk pada titik nol? 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

36 thoughts on “Tidak Punya Pekerjaan, Akhirnya Saya Jadi Penulis :)”

  1. Hemmm masuk dalam keadaan titik nol yah, rasanya mungkin pernah, seperti tidak mendapat projekan, atau gagal dalam usaha, dan setiap jatuh dalam titik nol, itu membuat kenyakinan bahwa hidup ada yang mengatur semakin besar.

  2. ———-
    Ibarat sebuah kendaraan, kendaraan yang melaju kencang mustahil untuk menikung tajam. Kendaraan perlu melambat terlebih dahulu, sebelum berbelok. Begitu pula dengan kehidupan kita.

    Kesibukan bisa berarti rejeki yang berlimpah, bisa pula berarti kosongnya kesempatan untuk melakukan perubahan. Tidak punya pekerjaan bisa berarti bencana, bisa berarti peluang bagi kita untuk berubah, untuk berkarya.
    ———-

    Like this! :)

  3. Wah, semoga barokah atas karya yang dilahirkan, om Bukik.

    Penasaran, bagaimana proses seorang bergumul dengan satu momentum dalam hidupnya: titik nol, yang membuatnya bergeser ke identitas peran yang barunya secara total: penulis.

    Jadi, ceritanya sekrang ini lebih longgar untuk ditemui di Sidoarjo, om? :D

    1. Amin amin amin
      Terima kasih buat penguatannya
      Harapannya begitu, personal branding yang semula saya ajarkan untuk mahasiswa, bisa dipelajari lebih dini agar anak-anak lebih siap untuk mandiri

  4. ah, rasanya seperti bertahun-tahun saya tidak komen di blog Pak Bukik (mungkin memang iya) :)))
    dan kali ini malah nggak bisa banyak komentar. cuma bisa ngangguk. setuju.
    saya pun juga pengen (sebatas pengen-karena belum mulai bergerak) untuk jadi penulis buku. apalagi setelah ibuk saya bilang: nduk, ndang koyok Andrea Hirata kuwi. nulis novel, trus ngajak bocah2 kampung kene syuting film sing diangkat saka novel sampeyan. jederrr! ndakik-ndakik banget yak impian ibuk saya. hahaha. semoga segera :)))
    *salim*

  5. Ke titik nol?.. persis ‘ulat dalam kepompong ‘ kan?… berpikir utk melahirkan ide berikutnya. Cuman bedanya, kepompong jd kupu, cukup sekali. Kalo kita yg free, bisa berkali2… inovasi tiada henti sampai Sang Ilahi ‘menyudahi’.. *insyaallaaaah jd pahala..

  6. Menarik tulisannya Mas Bukik. Banyak orang di Indonesia (termasuk saya dulu) tidak berani beranjak ke titik nol. Alasannya sederhana: tidak berani keluar dari zona nyaman. Adanya pemasukan rutin bulanan, supaya ketahanan ekonomi pribadi dan keluarga tetap terjaga. Karena alasan itu bertahun-tahun kita terjebak pada rutinitas monoton, rutinitas 9 to 5. Tidak berani memulai sesuatu yang baru yang benar-benar berbeda, terlepas dari apakah itu pilihan, atau dipaksa keadaan.

    Sulit disalahkan juga, karena sistem pendidikan kita dari dulu memang mendidik kita mendukung terciptanya kondisi itu. Mendidik untuk menjadi buruh yang baik, bukan menjadi seorang wirausahawan yang ulet, yang mampu melihat peluang dan menghadapi resiko gagal dalam berusaha. Di tambah pandangan lingkungan yang menganggap bahwa seseorang telah berhasil kalau dia sibuk pergi ke kantor dari pagi sampai sore. Orang yang sehari-harinya di rumah berarti menganggur, titik. Tidak peduli kalau ternyata dia berbisnis di rumah yang juga bisa menghasilkan.

    Yang ingin saya katakan adalah, proses mengubah paradigma adalah proses yang sulit dan panjang. Paradigma pendidikan yang tidak lagi labor oriented, dan juga paradigma masyarakat untuk tidak lagi menganggap bahwa wirausaha dan bekerja di rumah lebih rendah kastanya dibanding kerja kantoran. Saya pikir ini sedikit banyak ini berkaitan juga dengan concern orang tua terhadap karir anak. Mungkin Mas Bukik bisa ulas di buku berikutnya.

    Maaf agak ngelantur. Sukses untuk bukunya, Mas.

    1. Setuju…….
      Tapi wajar karena memang kita berada di penghujung akhir jaman industri. Kita melihat kesadaran dan kebiasaan masyarakat industri yang mengartikan bekerja sebagai bekerja menjadi pegawai. Padahal pada jaman sebelumnya, bekerja tidak ada urusannya dengan status kepegawaian.

      Siap……pada buku kedua ya :)

  7. Assalamu’alaikum

    Dear Mas Bukik

    Thanks mas, buat inspirasi lewat bukunya anak bukan kertas kosong. semakin menguatkan saya untuk nantinya mendidik anak dengan cara yang tidak selalu ikut arus sekarang yang menurut saya tidak ramah anak.

    btw. sy pns yg bekerja di salah satu kementerian. kebetulan bekerja di subdit yang mengawal transformasi kelembagaan kementerian.
    setelah baca di riwayat hidup mas yang pernah mengelola jurusan manajemen perubahan. mungkin bisa disharing mas ilmu yang mas punya tentang bagaimana mengawal sebuah perubahan. saya lagi cari sudut pandang yang lain mas, selain petunjuk dari menteri. terima kasih.
    mohon masukannya mas. thanks

    M. Saiful Bahri

    1. Semangat! Bila cara mendidik sudah ikut arus, bagaimana dengan hasil didikannya? :D

      Wah yang kedua ini sepertinya enak ngobrol sambil ngopi di mana gitu……FX?

  8. Titik nol gak harus berarti gak ada kerjoan. Titik nol bisa dimaknai sebagai energi yang tak terpakai. Itu juga sebabnya aku akhir-akhir ini sering update tulisan di blogku yang sudah lama tak terjamah. Terlihat sibuk itu juga satu frasa yang menunjukkan profesi. Bukannya semua karyawan kantor berprofesi sebagai orang yang “terlihat sibuk”?

    Thanks mas bukik, akhirnya ada tulisan yang inspire me untuk tetap menulis. Karena percaya atau tidak “Nulis is A Power”, (paling tidak begitu kata anak-anak KSB-Kelompok Studi Belenggu dulu)

  9. Saya dan suami pernah mengalaminya pak Bukik… dari yang semula bergaji dollar (saya dan suami sama2 bekerja), berubah ke kondisi tanpa penghasilan sama sekali. Tapi pada saat itulah justru buku saya laris dan kami mampu memenuhi kebutuhan, termasuk biaya kuliah suami (karena nganggur, dia pun kuliah lagi). Begitu suami selesai kuliah, dia dapat kerjaan lagi (dan gantian dia yang membiayai saya -yang kini full ibu RT- untuk kuliah lagi), dan pada saat itu royalti buku pun menurun drastis. Sepertinya memang sudah diatur Allah, flow-cash kita :)

  10. Duh, telat baca tulisan ini. Saya justru sedang bekerja, gaji pokok tiap bulan, uang makan, dan sebagainya, tapi entah kenapa justru saya malah merasa berada pada TITIK NOL sekarang. Saya juga punya keinginan menulis sejak dulu, tapi enggak pernah rampung, karena bayangan pekerjaan (dan juga wajah para boss) terus menghantui, akibatnya jari jemari tumpul, ide pun kering. maaf, Pak, curcol. hehe. Tapi, saya suka tulisannya Pak Bukik, memberi inspirasi.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.