Temu Pendidik Nusantara, Vergadering Guru Belajar

Saya jarang sekali menggunakan istilah asing, tapi kali ini saya menggunakan Vergadering untuk menjelaskan Temu Pendidik Nusantara. Kenapa? 

Temu Pendidik Nusantara diadakan untuk ketiga kalinya tahun ini. Dari tahun ke tahun, kegiatan tahunan ini terus mengalami peningkatan secara kuantitas maupun kualitas.

Jumlah dan ragam pembicara/pelatih yang lebih banyak. Tahun ini, Guru Belajar dari daerah mendapat kesempatan menjadi pelatih, bukan hanya yang dilatih. Jumlah orangtua penyedia penginapan bagi guru belajar dari daerah semakin banyak. Jumlah dan ragam lokasi penyelenggaraan yang lebih banyak. Tahun ini, lokasi bukan hanya di Sekolah Cikal Cilandak, tapi juga di sekolah negeri mulai SD, SMP, SMA hingga SMK. Konsekuensinya, pesertanya pun lebih banyak dan beragam.

Namun, pembeda subtansi dari Temu Pendidik Nusantara tahun ini adalah adanya pertemuan 82 penggerak Komunitas Guru Belajar dari 38 daerah (tahun sebelumnya baru 21 penggerak dari 14 daerah) mulai Langkat di sebelah barat hingga Timika di sebelah Timur. Tujuan pertemuan ini adalah merefleksikan masa lalu untuk mendapatkan pelajaran dan mengimajinasikan masa depan untuk melanjutkan pergerakan. Pertemuan inilah yang menjadi elemen kunci mengapa tulisan ini menggunakan istilah Vergadering.

Apa itu Vergadering? 

Saya mengenal Vergadering dari buku Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912 -1926 (Takashi Shiraishi, 1997). Salah satu buku yang membongkar persepsi saya mengenai pergerakan kemerdekaan Indonesia yang sebelumnya didominasi gambaran perlawanan bersentara. Zaman Bergerak menceritakan awal, atau bahkan pra, zaman pergerakan kemerdekaan Indonesia. Pergerakan kaum sipil yang yang meninggalkan cara bersenjata tak terorganisir pada masa sebelumnya. Zaman terbitnya kesadaran tentang kebangsaan, kemanusiaan dan demokrasi.

Ada dua cara kunci yang memicu terbitnya kesadaran tersebut yaitu Vergadering dan Surat Kabar. Meski mayoritas rakyat pada masa itu buta huruf, tapi surat kabar penting sebagai media berbagai gagasan sekaligus sumber pengetahuan bagi para penggerak. Namun, pemberi pengaruh yang lebih besar terhadap terbitnya kesadaran rakyat adalah Vergadering atau rapat umum.

Mengapa Vergadering lebih berpengaruh? Ketika surat kabar menyampaikan ide dan cerita, vergering memberi contoh nyata pada rakyat banyak. Pada masa itu, adanya orang berkulit sawo matang yang berdiri di atas panggung dan cakap berbicara adalah sesuatu yang luar biasa. Rakyat yang hadir merasa berada pada posisi setara dengan para tuan kolonial. “Kami ternyata setara dengan Mereka”. “Kami ternyata bisa seperti Mereka”.

Vergadering bukan hanya pemicu kesadaran akan kesetaraan. Para penggerak, tua maupun muda (13 – 14 tahun) meluaskan perannya sebagai pertemuan untuk menemukan solusi terhadap kebutuhan rakyat, seperti mengadakan perpustakaan. Vergadering menjadi tempat berkumpulnya orang berdaya untuk menjadi komunitas yang berdaya. Cikal bakal lahirnya berbagai komunitas yang berjiwa merdeka, yang berpuluh tahun kemudian menjadi bangsa merdeka, Indonesia.

Bukan suatu kebetulan, dua elemen kunci pada zaman bergerak hadir di Temu Pendidik Nusantara. Surat Kabar Guru Belajar edisi cetak yang berisi tulisan para guru dibagikan pada seluruh peserta. Vergadering diawali dengan pertemuan terbatas penggerak Komunitas Guru Belajar hingga seminar untuk publik dengan tema “Merdeka Belajar”.

Pertemuan Penggerak Komunitas Guru Belajar diawali dengan saling berbagi cerita perjalanan dari daerah masing-masing menuju lokasi Temu Pendidik Nusantara di Gelanggang Remaja (dulu Balai Rakyat) Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dalam hal perjalanan saja, keragaman para guru belajar begitu terlihat. Semisal, Guru Belajar dari Langkat harus berkendara mobil, naik kereta, naik pesawat, hingga taksi untuk menuju lokasi. Corak perjalanan yang sangat berbeda dengan Guru Belajar yang berasal dari pulau Jawa.

pertemuan-penggerak-komunitas-guru-belajar-temu-pendidik-nusantara

Agenda selanjutnya adalah pemetaan ekosistem pendidikan sehingga dikenali faktor yang mendukung dan menghambat guru belajar. Hasil diskusi merumuskan tiga faktor penghambat adalah, 1. Diri sendiri (belajar karena motivasi ekstrinsik); 2. Budaya komunitas yang negatif (perisakan, senioritas, kompetisi); 3. Kepemimpinan sekolah yang tidak mendukung. Sementara, 3 faktor pendukung adalah, 1. Diri sendiri (semangat belajar); 2. Adanya komunitas guru belajar; 3. Relasi yang baik dengan orangtua siswa.

Menarik adanya kesamaan dua faktor pendukung dan penghambat. Kedua faktor tersebut yang bisa menjelaskan mengapa guru belajar bisa hadir di sekolah negeri. Guru sekolah negeri seringkali dipersepsikan negatif, seperti guru penurut atau malas belajar. Kenyataannya, ketika kedua faktor tersebut bertemu, maka guru belajar akan hadir, baik di sekolah swasta maupun negeri.

Setelah terpetakan faktor pendukung dan penghambat guru belajar maka selanjutnya para penggerak mendiskusikan solusinya. Salah satu solusi yang menarik adalah berbagi praktik cerdas manajemen sekolah. Usulan yang memperluas topik yang selama ini masih sebatas pada praktik cerdas pengajaran dan pendidikan (pedagogi). Dengan perluasan topik ini diharapkan menjadi pengungkit kesadaran para kepala sekolah agar menjadi kepala sekolah belajar.

Proses pertemuan Penggerak Komunitas Guru Belajar bersifat partisipatif. Setiap orang bisa berbicara, setiap orang bersedia mendengar. Suasananya sangat berbeda dengan kebanyakan pertemuan guru yang menempatkan guru sebagai obyek yang hanya mendengar. Sebagaimana Vergadering di zaman bergerak, pertemuan penggerak membuat guru merasa setara dan berdaya. Guru mengambil keputusan untuk dirinya, menjadi guru merdeka!

Pesan yang serupa terlihat pada pandangan anak-anak tentang Merdeka Belajar yang mengawali Temu Pendidik Nusantara. Pesan tersebut ditegaskan pidato utama yang disampaikan Najelaa Shihab, inisiator Komunitas Guru Belajar dan Kampus Guru Cikal, “Bila Anda sepakat bahwa demokrasi adalah tujuan pendidikan, maka Anda berada pada forum yg tepat”. Demokrasi lebih dari sekedar 1 orang 1 suara. Tidak ada demokrasi tanpa kesetaraan dan kemerdekaan. (Bagian pertama dari pidato utama dapat dibaca di http://bit.ly/MerdekaBelajar1)

Demokrasi sebagai tujuan tidak akan tercapai tanpa pendidikan. Pendidikan tidak cukup hanya dengan guru, tapi butuh guru yang merdeka belajar. Karena bila guru tidak merdeka belajar, yang terjadi sebenarnya proses mencekoki anak-anak kita. Guru merdeka belajar yang bisa memfasilitasi anak-anak kita tumbuh menjadi orang merdeka yang siap berdemokrasi. (Makna Merdeka Belajar bisa dipelajari lebih lanjut dengan mengunduh Surat kabar Edisi Ke-6 di http://bit.ly/SKGuruBelajar6)

Rencananya, pidato utama dilanjutkan dengan debat publik pendidikan yang dipandu oleh Najwa Shihab. Sayangnya, Ridwan Kamil berhalangan hadir sehingga forum bergeser menjadi percapakan. Meski demikian, percakapan antara moderator dan Suyoto, bupati Bojonegoro, tetap memikat perhatian peserta dari awal hingga akhir. Merdeka belajar bukan belajar yang tunduk pada keharusan dari “pusat”, tapi belajar yang bermakna bagi anak.

Itulah gambaran hari pertama Temu Pendidik Nusantara sebagai Vergadering guru belajar. Sebagaimana vergadering pada zaman bergerak, harapannya Temu Pendidik Nusantara meluas ke seluruh nusantara. Temu Pendidik diadakan di berbagai daerah untuk menjadi pengungkit kesadaran sekaligus contoh nyata dari guru merdeka belajar.

Hari kedua Temu Pendidik Nusantara menghadirkan 80 kelas lokakarya yang disajikan oleh Kampus Guru Cikal, Komunitas Guru Belajar dan berbagai komunitas pendidikan lainnya. Penggerak Komunitas Guru Belajar yang tahun sebelumnya menjadi peserta, tapi tahun ini 4 guru sekolah swasta dan 4 guru sekolah negeri hadir sebagai pelatih di kelas lokakarya. Sebuah unjuk karya dan bukti bahwa guru pun bisa merdeka mengembangkan kariernya.

komunitas-guru-belajar-temu-pendidik-nusantara

Hari kedua berlalu dengan kesibukan di berbagai kelas lokakarya. Guru senang belajar baik di kelas besar maupun di kelas kecil, karena senyatanya ukuran kelas bukan rukun terjadinya proses belajar.  Dua hari berlalu, cepat berlalu. Malam terakhir, sejumlah penggerak Guru Belajar masih menyempatkan berbincang santai untuk menuntaskan kerinduan belajar.

Sore ini ketika tulisan ini dibuat, beberapa penggerak Guru Belajar masih dalam perjalanan pulang sementara sebagian besar lainnya sudah sampai di rumah masing-masing. Semoga pijar merdeka belajar terus menyala di berbagai daerah hingga kita berjumpa lagi di vergadering guru belajar berikutnya. (Bila ingin membentuk Komunitas Guru Belajar dan mengadakan Temu Pendidik, silahkan unduh dengan klik di Buku Komunitas Guru Belajar)

Merdeka!

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?