Temu Pendidik Makassar, Perpaduan Kutub Ekstrim

Temu Pendidik Makassar memberi pelajaran pada saya bahwa kutub-kutub ekstrim justru melahirkan terobosan rasa. 

Temu Pendidik Makassar sudah dibicarakan sejak pertengahan Desember 2015. Berawal dari obrolan ringan di kotak pesan Facebook hingga pembahasan yang lebih serius melalui WA. Semula Temu Pendidik Makassar diadakan pada pertengahan Januari tapi belum ada kecocokan jadwal antara Kampus Guru Cikal dan Penggerak Komunitas Guru Belajar hingga diundur pada Sabtu, 13 Februari 2016.

Obrolan tentang Temu Pendidik Makassar jadi lebih terbuka di grup Facebook Komunitas Guru Belajar dan ada guru dari Sinjai yang usul kalau mengadakan sekalian di  Sinjai. Jeng jeng…..Saya tanya mengenai jarak Sinjai – Makassar, dipertimbangkan dan akhirnya diputuskan diadakan sekalian, sehari setelah Temu Pendidik Makassar. Kisah tentang Sinjai akan saya tulis terpisah.

Karena sekalian ke Sinjai, penerbangan saya ajukan sehari sebelum acara, yang semula langsung pulang pergi pada hari pelaksanaan. Terbang pada saat hujan itu bikin deg-degan ya……tapi beruntungnya sampai Makassar disambut udara dan langit yang cerah. Saya mendarat langsung clingak-clinguk mencari rekan-rekan Penggerak yang katanya menjemput. Karena tidak ketemu, saya jalan sambil menelepon menuju parkiran mobil. Eh ketemu dengan Penggerak Usman dan saya pun langsung naik mobil, tapi ternyata Penggerak Wawan dan Moeljadi yang menjemput ternyata masih di pintu kedatangan untuk menjemput. Huehehe

Temu Pendidik Makassar konro

Setelah hujan deras, terbang dan tawaran solusinya menggiurkan. Usman bertanya apakah saya ada pantangan makan. Saya menjawab tidak dan rombongan pun meluncur untuk menyantap sop konro. “Tidak ada kolesterolnya ini mas”, ujar Usman, “nanti di rumah baru ada”, lanjutnya yang disambut tertawa oleh semua. Konro tandas, kami pun meluncur untuk menikmati sarabba, minuman khas Makassar yang terbuat dari jahe, santan, gula aren dan kuning telur. Gurih, manis, hangat rasanya.

Nikmatnya makanan, hangatnya minuman dan serunya obrolan membuat waktu cepat berlalu, tengah malam datang. Kami pun berpisah

Esok harinya, kami meluncur ke lokasi Temu Pendidik Makassar. Sebelum sampai, ternyata rombongan mampir dulu ke cafe kopi Rumbu di Jalan Talasalapang. Sambil menunggu persiapan acara, kami menghirup kopi susu yang mantap. Kopi yang kuat rasanya menemani kami ngobrol tentang banyak hal mulai tentang arti Rumbu, lika-liku menjadi guru hingga kehidupan di Selayar.

Menjelang mulai, kami pun meluncur ke lokasi Temu Pendidik Makassar, Gedung LPTQ Makassar. Acaranya di lantai dua, di ruang sederhana, tidak ada pendingin, hanya ada kipas angin yang kelelahan mengusir hawa panas. Tak heran bila pemandu acara, Guru Penggerak Wawan, harus berusaha keras untuk mencairkan suasana. Tapi begitu acara mulai, guru yang menjadi narasumber berbagi, suasana jadi semakin menarik.

Temu Pendidik Makassar 2a

Narasumber pertama, Guru Ayatollah Hidayat, guru kelas 1 di SD Negeri Paccinongang. Beliau bercerita mengenai perjalanan karirnya sebagai seorang guru di daerah. Meski guru di daerah, meski “hanya” guru kelas 1 SD, tapi ia kini menempuh pendidikan S3 dan menciptakan beberapa karya yang diakui di tingkat nasional. “Percuma sekolah dan kuliah tinggi-tinggi bila tidak mencipta karya. Mencipta karya bisa dimulai dari ruang-ruang kelas, di pelosok sekalipun”, ujarnya mengambil kesimpulan dari perjalanan karirnya. Karena terburu-buru dengan agenda lain, Guru Ayatollah segera meninggalkan lokasi seusai berbagi praktik cerdasnya.

Narasumber kedua, Guru Nursam Mattoreang, guru SMP Negeri 1 Labae, Soppeng. Ia mengajar di daerah yang langka air, kalau pun ada, lebih sering air keruh. Jadi mandi pun harus super irit. Ketika pertama ditugaskan, ia masuk ke kelas hanya menemui 1 orang siswa. Ia pun bertanya-tanya mengapa para murid tidak masuk sekolah. Setelah diselidiki, ia mendapatkan jawaban, para murid menganggap sekolah itu membosankan. Anda pernah merasakan hal yang sama?

Karena itu, Guru Nursam terdorong mencari cara untuk menumbuhkan kegemaran belajar siswa. “Kebiasaan lama: nak, kau makanlah ini. Kebiasaan baru: nak, apa makanan yg kau sukai?”, jelasnya mengenai perubahan paradigma yang ingin ia lakukan. Setelah ia mencoba-coba, hasilnya nyata, perubahan terjadi, siswa jadi rajin masuk sekolah. “Ternyata bila diajak mempelajari apa yang mereka sukai, murid akan belajar lebih cepat,” ujar Guru Nursam menyimpulkan.

Selesai berbagi praktik cerdas, Guru Nursam mempraktikkan salah satu cara untuk menumbuhkan kegemaran belajar siswanya. Cara cepat membuat puisi. Ia memandu peserta Temu Pendidik Makassar dalam membuat puisi. Dan memang menakjubkan, meski waktu sangat terbatas, beliau berhasil memandu kelas menghasilkan puisi. Meski praktik tidak sampai selesai, tapi peserta Temu Pendidik Makassar senang bisa belajar teknik mengajar baru.

Temu Pendidik Makassar 1

Narasumber terakhir adalah Guru Abdul Hakim, mantan guru di Sorowako yang kini berkarier sebagai pelatih guru di Kalla Foundation. “Saya 7 tahun jadi guru. setiap kali mengajar, saya memulainya dengan mendongeng”, ujar beliau sambil memperkenalkan diri. Ia pun memulai sesi dengan mendongeng sambil bermusik. Peserta tidak dibiarkan diam mendengarkan, tapi diajak untuk terlibat dalam dongeng yang diceritakannya. Setelah mendongeng, ia melanjutkan berbagi hasil refleksinya mengajar dongeng pada para guru di berbagai pelosok. “Ada yang hilang dari sekolah kita, interaksi guru dan murid sebagai manusia. Dan mendongeng bisa menciptakan interaksi yang manusiawi,” tukas beliau menutup sesi berbaginya.

Seusai tiga narasumber, Guru Penggerak Wawan meminta pada Guru Penggerak Usman menjelaskan tentang Komunitas Guru Belajar Makassar. Setelah itu, giliran saya yang diminta memberikan penjelasan tentang Komunitas Guru Belajar. Saya pun menjelaskan salah kaprah tentang guru belajar, asyiknya guru belajar, aktivitas dan karya yang telah dihasilkan Komunitas Guru Belajar. “Hanya dengan guru belajar, maka guru lebih siap mengajar, bisa bersenang-senang belajar bersama siswa,” tukas saya menutup penjelasan.

Temu Pendidik Makassar 3

Saya melanjutkan sesi dengan memfasilitasi peserta untuk melakukan refleksi Temu Pendidik Makassar. Saya membagi peserta secara acak agar mereka berkenalan dengan orang baru sekaligus mengacak kekakuan pola komunikasi. Setelah itu, setiap kelompok melakukan refleksi terhadap pelajaran yang didapatkan dan ide untuk diterapkan di kelas.

Usailah sudah Temu Pendidik Makassar edisi perdana. Ruangan boleh sederhana, hawa ruangan boleh membara, tapi pelajaran yang didapatkan selaksa.

Selanjutnya, saya dibajak untuk acara selanjutnya, Ngopi (ngobrol pintar) Anak Bukan Kertas Kosong di Rumbu. Ngobrol santai di sore hari tentang konsepsi anak, pendidikan menumbuhkan dan siklus perkembangan bakat anak. Entah dapat ide dari mana, saya tiba-tiba melontarkan pertanyaan, mana yang lebih pintar, orang dewasa dan anak-anak? Peserta ragu menjawab, tapi beberapa nampak condong menjawab orang dewasa.

Temu Pendidik Makassar Anak Bukan Kertas Kosong

Saya pun cerita tentang Ayunda Damai, putri saya yang suka bermain musik sejak kecil.  Sejak kecil saya suka membelikan mainan buat Damai. Dari sejumlah mainan, ia paling suka dengan permainan yang terkait musik. Pada saat itulah, isteri saya mengamati aktivitas bermusik Damai bersama saya. Dan kesimpulannya, ketukan Damai lebih ritmis yang baru 3 tahun lebih ritmis dibandingkan saya. Huehehehe. Jadi kecerdasan pun bukan soal anak atau dewasa. Bila memang menonjol di suatu bidang, anak pun bisa lebih cerdas dari orang dewasa.

Obrolan berkepanjangan hingga malam tiba dan jadwal berkunjung ke tempat yang unik pun terlewati. Kami pun tergopoh-gopoh berangkat dengan bimbang memilih, makan atau kunjungan dulu? Saya usul kunjungan dulu sebelum tempat yang unik itu tutup. Dan saya pun menyesali usulan itu ahaha

Tempat unik apa sih? Katakerja, sebuah perpustakaan komunitas. Kenapa saya menyesal? Karena sepanjang perjalanan dari Rumbu ke Katakerja, kami kena macet lama, sehingga sampai lokasi dengan kondisi perut yang meraung-raung bersaing dengan rasa penasaran di kepala.

Setelah sibuk mencari parkir mobil di gang yang memang pas banget, kami pun masuk ke KataKerja. Bersyukur kedatangan kami langsung disambut @HurufKecil, penulis Aan Mansyur. Kami pun tenggelam mendengar penjelasan di balik nama KataKerja. Aan Mansyur mengamati di organisasi pergerakan ada dua kelompok yang seharusnya bekerja bersama tapi seringkali justru tidak akur. Kelompok pemikir dengan kelompok yang terjun ke lapangan. Ia membayangkan adanya dialog antara keduanya. Dipadukan lah Kata mewakili aktivitas berpikir dengan Kerja mewakili aktivitas bekerja, jadilah KataKerja. Meski ia menegaskan di akhir bahwa “Berpikir itu sendiri adalah pekerjaan”.

Temu Pendidik Makassar katakerja

Apa menariknya KataKerja? Berbeda dengan perpustakaan pada umumnya, buku di KataKerja tidak diatur secara sistematis. Perpustakaan bukan lah tentang buku, tapi tentang interaksi orang-orang. Dengan buku diacak, KataKerja mendorong orang untuk bertanya, menjawab, bercakap-cakap dan akhirnya berinteraksi antara orang yang mencari dan membaca buku di sana. Asyik kan? Hal menarik lainnya bisa dibaca di Medium.com.

Di tengah obrolan ramai, Guru Nursam berdiam diri. Karena serangan perut yang tidak tertahankan, kami pun pamit undur diri. Ketika pamit itu lah, Guru Nursam beraksi. Ia mengajukan diri pada kelompok pembaca puisi di KataKerja, “Bolehkah saya membacakan puisi yang baru saja saya buat?”, tanya Guru Nursam. Setelah dipersilahkan, ia pun membacakannya. Selesai itu, kami pun meluncur mencari makanan.

Temu Pendidik Makassar katakerja bersama

Malam itu kami makan Pallubasa. Makanan yang menginspirasi judul tulisan ini.  Apa itu Pallubasa? Makanan semacam Coto Makassar. Bedanya campuran kelapa parut yang telah disangrai. Jadi ya, isinya sudah daging, jeroan dan kawan-kawannya, ditambah pula dengan kelapa. Kutub ekstrim dipadu dengan kutub ekstrim yang menghasilkan rasa luar biasa gurih.

Begitulah Temu Pendidik Makassar. Saya berjumpa dengan guru SD kelas 1, sering dianggap sebagai pekerjaan mudah, yang telah menempuh pendidikan doktor, sering dianggap sebagai pendidikan akhir yang sulit. Saya berjumpa dengan guru di daerah pelosok, tapi meyakini pendidikan menumbuhkan yang maju. Saya berjumpa dengan orang yang telah menjadi guru tapi memilih mundur untuk mengajar para guru di daerah pedalaman. Tinggal di daerah “belakang” bukan berarti terbelakang, tapi justru bisa maju.

Pallubasa yang gurih
Pallubasa yang gurih

Selesai makan malam, setelah persiapan, tengah malam kami meluncur untuk Temu Pendidik Sinjai. Nantikan ceritanya di tulisan berikutnya :)

 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?