Temu Pendidik Daring, Belajar Melintasi Batas

Temu Pendidik menemukan cara baru untuk menjadi penghubung guru belajar di seluruh nusantara. Kami menyebutnya Temu Pendidik Daring! 

Apa itu Temu Pendidik Daring? 

Temu Pendidik Daring adalah temu pendidik yang diadakan secara daring. Eh apa daring itu? Daring adalah singkatan dari “dalam jaringan” yang merupakan penerjemahan dari kata online. Pasti banyak yang bilang “ooooo” tuh. Kalau offline, coba tebak diterjemahkan sebagai apa? Tulis di komentar ya

Kembali ke Temu Pendidik Daring. Awalnya terinpirasi dari banyaknya Facebook Live yang bertebaran di Beranda akun Facebook. Facebook Live adalah fitur dari Facebook untuk membuat siaran langsung dari telepon genggam dimanapun kita berada. Sebenarnya Facebook bukan yang pertama membuat fitur siaran langsung. Ada Youtube, Meerkat dan Twitter yang telah mencoba terlebih dahulu. Tapi perbedaan kecil membuat Facebook Live jadi lebih populer, kemudahan pengguna mengaksesnya baik dalam membuat maupun menyaksikan siaran langsung.

Berawal dari diskusi di grup WA Kampus Guru Cikal yang kemudian melahirkan Seminar Daring tentang Penghapusan Ujian Nasional dengan narasumber Najelaa Shihab (Inisiator Kampus Guru Cikal, Pesta Pendidikan dll) dan Nino Aditomo (Peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan). Seminar Daring diadakan di Surabaya sehingga kami meminta bantuan rekan-rekan Komunitas Guru Belajar Surabaya dan Sekolah Cikal Surabaya untuk menjadi penyelenggaranya. Meski sudah melakukan ujicoba, tapi pelaksanaan Seminar Daring kurang lancar terutama kualitas suara yang berdengung. Pengalaman pertama ini memberi banyak pelajaran, bukan hanya soal suara tapi juga pola perilaku penonton.

Bulan berikutnya, Januari 2017, Kampus Guru Cikal menyelenggarakan Seminar Daring kedua dengan topik Kurikulum Merdeka Belajar. Kami melakukan ujicoba lebih banyak dan perbaikan lebih banyak. Seminar Daring kedua pun berjalan lancar……10 menit pertama, setelah itu putus. Rupanya telepon genggamnya galau dan beralih ke jaringan lain yang kualitas koneksinya buruk. Setelah melakukan perbaikan, seminar pun berjalan lancar.

Banyak sekali pertanyaan yang diajukan guru dari berbagai daerah. Kualitas pertanyaannya pun beragam. Dan meski tidak semua pertanyaan dijawab, tapi sesi tanya jawab memang sengaja dibuat lebih banyak dibandingkan sesi narasumber berbicara. Jadi sesinya lebih asyik karena interaksi antara narasumber dan penonton.

Dari pelaksanaan kedua seminar itu kami pun melakukan evaluasi menyeluruh. Kesimpulan, cara daring efektif sebagai media belajar dan layak untuk diadakan secara rutin setiap bulan. Rekomendasinya, waktu pelaksanaan dipersingkat dan nama seminar diubah menjadi Temu Pendidik. Perubahan nama ini untuk memperkuat semangat guru belajar dibalik nama Temu Pendidik yang telah dirintis sebelumnya. Guru belajar dari guru yang lain. Baca tulisan saya sebelumnya, Temu Pendidik, Ketika Komunitas Guru Belajar Saling Belajar. Jadi kegiatan ketiga dan seterusnya akan mengusung nama Temu Pendidik Daring atau bisa disingkat sebagai Mudik Daring.

Apa Pentingnya Temu Pendidik Daring?

Teknologi menyingkat waktu dan ruang. Ah normatif….kita simak ceritanya saja ya…..

Tahun lalu saya ke Sinjai. Iya Sinjai, bukan Sinjay yang bebek ya tapi Sinjai sebuah kabupaten di sebelah timur Sulawesi Selatan. Perjalanan dari Makassar menuju Sinjai membutuhkan waktu sekitar 6 jam ke arah timur. Kalau dihitung dari Jakarta bisa lebih dari 20 jam pulang pergi. Padahal di Sinjai tujuannya mengadakan Temu Pendidik yang durasinya hanya 2 jam. Dua puluh jam  perjalanan untuk 2 jam belajar. Karena itu, tulisan mengenai perjalanan tersebut  saya beri judul Perjalanan Panjang untuk Perjumpaan Singkat Temu Pendidik Sinjai.

Berbeda dengan tahun ini, Temu Pendidik Daring menyingkat banyak waktu. Dari sebelumnya 20 jam perjalanan 2 jam belajar, menjadi 2 jam belajar 0 jam perjalanan. Terinspirasi dari beberapa daerah yang lain, Guru Takdir Kahar, penggerak Komunitas Guru Belajar Sinjai, menginisiasi Nonton Bareng Temu Pendidik Daring di Aula SMAN 1 Sinjai. Ruangan yang sama dengan ruangan Temu Pendidik Sinjai tahun lalu. Peran saya pun saya seperti dulu, sekarang saya selaku moderator juga bisa memfasilitasi tanya jawab antara guru-guru di Sinjai dengan narasumber di Jakarta.

Sinjai sebenarnya bukan daerah pertama yang mengadakan Nobar Temu Pendidik Daring. Sebelumnya, Penggerak Komunitas Guru Belajar sudah mengadakan nobar Temu Pendidik Daring di Bandung, Pekanbaru, Semarang, Makassar, Jakarta Selatan dan Talakar. Tapi pada kisah Sinjai, saya mengalami sendiri makna teknologi meringkas ruang dan waktu berkat Temu Pendidik Daring.

Belajar sendiri bisa, tapi belajar barengan itu lebih seru! Begitu juga menyaksikan Temu Pendidik Daring, nobar membuat belajarnya lebih seru! Selesai nobar, peserta bisa melanjutkan diskusi, membangun komitmen beraksi, serta mendapatkan umpan balik hasil dari aksi di kelas. Selain lebih seru, nobar membuat problem koneksi relatif bisa diatasi karena diatasi barengan. Tidak perlu setiap guru mengeluarkan uang atau setidaknya menanggung sendiri beban mendapatkan akses internet. Jadi tunggu apalagi? Kapan mau bikin nobar Temu Pendidik Daring? :)

Apakah Benar Temu Pendidik Daring Melintasi Batas?

Dari nobar Temu Pendidikan Daring yang diadakan di berbagai daerah sebenarnya bukti nyata bahwa Temu Pendidik Daring melintasi batas. Belajar terjadi serempak di berbagai daerah baik pada saat bersamaan maupun pada saat yang berbeda ketika video rekamannya disaksikan setelah siaran langsungnya selesai. Dari komentar yang masuk pun menunjukkan penonton Temu Pendidik Daring berasal dari berbagai daerah. Bahkan komentar pertama pada Temu Pendidik Daring – Guru Merdeka Belajar berasal dari Pulau Nias yang juga sudah menyaksikan edisi sebelumnya.

Tapi mari kita lihat statistik demograsi penonton Temu Pendidik Daring yang disediakan oleh Facebook. Data ini menunjukkan penonton yang menyaksikan langsung ke Facebook Kampus Guru Cikal, tidak termasuk penonton yang menyaksikan melalui nobar atau menonton melalui video yang sudah diunduh terlebih dahulu.

Daerah Asal Penonton Temu Pendidik Daring Kedua
Daerah Asal Penonton Temu Pendidik Daring Ketiga

Daerah asal penonton Temu Pendidik Daring bisa berasal dari banyak daerah semisal ada Penggerak Komunitas Guru Belajar Papua di Timika yang juga menonton, tapi bila dipersentase jumlahnya maka daerah asal mengerucut pada 10 daerah. Daerah di Jawa masih mendominasi 5 besar baik pada yang kedua maupun ketiga. Menariknya pada Temu Pendidik Daring Ketiga posisi Jakarta turun dari pertama menjadi ketiga.

Usia dan Jenis Kelamin Penonton Temu Pendidik Daring Kedua
Usia dan Jenis Kelamin Penonton Temu Pendidik Daring Ketiga

Guru pada rentang usia 25 – 34 tahun menjadi bagian penonton terbesar yang disusul rentang usia 35 – 44 tahun. Data yang berkesesuaian dengan pandangan bahwa usia muda cenderung diasosiasikan dengan keterbukaan pikiran yang lebih besar. Menariknya, penggunaan teknologi justru memfasilitasi guru perempuan untuk belajar di Temu Pendidik Daring. Artinya, berbeda dengan keyakinan selama ini bahwa teknologi cenderung menghambat akses perempuan. Teknologi memerdekakan siapa saja untuk belajar.

Jadi tunggu apalagi, ayo lintasi batas. Bikin nonton bareng Temu Pendidik Daring. Kami tunggu bulan Maret di Facebook Kampus Guru Cikal ya :) 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?