search

Teknologi dan Pendidikan, Kisah dari SD Kupu-kupu

Teknologi dalam pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Kemanapun akan menghindar, penggunaan teknologi akan berpengaruh pada pendidikan. Pilihannya, apakah kita akan lari sia-sia atau mengelola penggunaan teknologi dalam pendidikan? 

Tanpa sekolah mengajari, murid-murid datang ke sekolah dengan membawa telepon genggam. Tanpa sekolah mengajari, murid-murid sudah bisa mengoperasikan peralatan digital. Tanpa sekolah mengajari, murid-murid mengakses media sosial untuk bersosialisasi. Dengan atau tanpa sekolah, murid-murid mengenal, mempelajari dan menggunakan teknologi.

Sayangnya, teknologi bukanlah sekedar aksesoris, bukan cuma tempelan. Murid yang mengakses teknologi akan lebih banyak mendapatkan informasi. Terlepas dari kualitas informasinya, yang jelas murid mempunyai informasi pembanding. Guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi bagi murid. Murid bukan lagi botol kosong yang bisa diisi begitu saja.

Contoh beberapa hari yang lalu mendapat mention di twitter. Orang tua mengeluh mengenai penjelasan guru yang tidak tepat. Awalnya, anak tidak setuju penjelasan guru, ia lalu mencari di internet, mendapat informasi yang berbeda, dan menceritakannya pada orang tua. Orang tua pun datang ke sekolah menyampaikan keluhan sang anak.

Alur pengalaman belajar murid berbeda dengan jaman dahulu. Dulu murid mendengar di kelas sehingga menjadi tahu terhadap sebuah topik. Sekarang, murid mendengar di kelas, mencari tahu di internet, dan bila informasinya sesuai barulah murid “merasa” tahu terhadap sebuah topik. Bila informasinya berbeda atau sebaliknya, murid menjadi bertanya-tanya. Jadi ada perbedaan proses mendapatkan dan mengolah informasi yang dialami oleh para murid jaman sekarang.

Penggunaan teknologi dalam pendidikan bukanlah sebuah pilihan, tapi sebuah keniscayaan. Ketika fenomena sosial berkembang dengan sendirinya menjadi tuntuan bagi dunia pendidikan buat menyesuaikan diri. Kita menghadapi sebuah jaman yang berbeda dengan jaman kita bersekolah dulu. Sudah sewajarnya bila kita belajar, dan meski mengalami kesulitan, akan dapat menyesuaikan dengan jaman baru ini.

Blog Ayunda Damai

Ketika Teknologi & Pendidikan Sinergi, Seorang Anak Pun Bisa Menulis Blog. Contoh: AyundaDamai.com

Apa dampaknya bila teknologi dalam pendidikan tidak kita kelola secara efektif? Pertama, relasi guru dan murid yang timpang akan melahirkan distorsi dalam pembelajaran. Kedua, penggunaan teknologi yang salah kaprah dalam pendidikan. Fasilitas internet hanya digunakan untuk main FB atau games online. Ketiga, proses pembelajaran yang tidak sehat. Contoh: mencari dan menjiplak bahan dari internet untuk tugas.

***

Pertanyaan berikutnya, bagaimana guru dan sekolah menggunakan teknologi dalam konteks pendidikan? Secara umum, teknologi digunakan untuk mempermudah proses belajar-mengajar. Semisal, guru membuat slide presentasi untuk mengajar. Teknologi dianggap sebagai peralatan teknis yang bisa digunakan untuk memenuhi tujuan manusia.

Bentuk penggunaan yang lain, teknologi sebagai sumber informasi. Semisal, guru memberi tugas murid yang perlu mencari bahannya di internet. Teknologi dianggap sebagai sumber informasi alternatif dalam proses belajar mengajar. Peran teknologi bukan mempermudah, tapi memperkaya informasi yang digunakan dalam pembelajaran.

Teknologi sebagai metode dan jejaring belajar, terbuka atau tertutup. Metode & jejaring belajar tertutup bila guru menggunakan aplikasi untuk memfasilitasi pembelajaran secara internal. Seperti penggunaan Moodle, Edmodo atau Lore. Guru mempunyai kelas virtual untuk pembelajaran bersama murid-muridnya. Jejaring belajar terbuka bila guru menggunakan aplikasi yang bisa diakses siapa saja yang ingin belajar. Seperti penggunaan blog atau wikipedia.

Teknologi sebagai metode & jejaring belajar, bukan sekedar mempermudah atau mengembangkan proses belajar. Teknologi telah mengubah proses belajar. Teknologi menjadi platform pembelajaran yang menuntut perubahan perilaku belajar secara mendasar. Guru dan murid menjadi mitra belajar yang berkolaborasi melakukan pembelajaran.

Penggunaan teknologi dapat memainkan 1, 2 atau ketiga peran itu sekaligus. Tapi yang sering terjadi, penggunaan teknologi terjadi secara bertahap dari peran 1 hingga semua peran. Penggunaan teknologi pada peran 1 relatif lebih mudah diadopsi oleh guru maupun murid.

Sebenarnya sudah ada banyak sekolah atau guru yang mengadopsi teknolosi dalam konteks pendidikan. Salah satu yang menarik adalah klub sains di SD Kupu-kupu. Saya sempat berbicara dengan Pak Joy, guru pembimbing klub sains itu dan merasa kagum dengan komitmennya. Setiap minggu, Pak Joy mengadakan pertemuan klub sains dengan topik yang beragam. Salah satu yang kemarin dibicarakan adalah Perahu Tok-tok.

Ada yang masih ingat Perahu Tok-tok? Atau jangan-jangan dulu suka memainkannya waktu kecil dulu. Iya, perahu Tok-tok adalah perahu mainan yang dimainkan di baskom dengan menyalahkan sumbu dalam perahu itu. Setelah sumbu menyala, perahu akan berjalan dengan mengeluarkan bunyi “otok-otok-otok”. Permainan tradisional ini memang sederhana tapi di tangan Pak Joy bisa menjadi media belajar yang menyenangkan sekaligus bermanfaat.

Awalnya Pak Joy akan menjelaskan sebuah topik sebagai pengantar. Setelah itu, murid akan melakukan beragam aktivitas mulai dari mencari informasi di internet, membuat sebuah obyek, sampai melakukan pengamatan baik di kelas maupun di lapangan. Setelah itu, murid diminta menuliskan hasil kegiatannya tersebut. Mau lebih jelasnya? Saksikan video ini

Teknologi dalam pendidikan adalah sebuah keniscayaan. Upaya mengabaikan peran teknologi dalam pendidikan seringkali justru menimbulkan efek negatif. Dunia pendidikan harus melek teknologi, baik dengan menggunakan teknologi dalam proses pembelajaran maupun dengan mendidik murid-murid menggunakan teknologi secara bijak.

Bagaimana pengalamanmu menggunakan teknologi untuk pendidikan?

Catatan: Tulisan ini disusun atas kerjasama Bukik.com dan Intel Indonesia

Incoming search terms:

Tags: , , , ,

9 Comments

  1. Posted March 12, 2013 at 4:46 pm | Permalink

    Anak saya sekarang kelas 4 SD. Sedari umur 4 tahun sudah terbiasa dengan komputer, laptop dan handphone karena memang gadget itu media yang saya gunakan sehari-hari. Setelah masuk SD, anak saya senang sekali menggunakan internet untuk mencari atau melengkapi tugas2 sekolahnya. Katanya, penjelasan dari guru kurang lengkap dan jawabannya tidak semuanya ada di buku paket. Padahal soal-soal bersumber dari LKS murid. Atau, pernah juga anak saya mengikuti ekskul sains di kelasnya dengan harapan akan mendapatkan praktek2 sains. Tapi anak saya mengeluh guru2nya hanya memberikan teori saja. Dan dia mencari info2 tentang pelajaran IPA, sains dari internet, karena memang dia suka dan penasaran. Akhirnya setelah mid semester, anak saya pindah ke ekskul gambar. Sebaiknya , para guru2 lebih memanfaatkan internet untuk mendapatkan pengetahuan untuk dibagikan atau metode belajar yang menyenangkan anak2. Itu juga untuk pembelajaran bagi anak, bahwa internet itu bukan hanya media bermain atau media sosial, tapi juga banyak ilmu pengetahuan di dalamnya. Makasih mas bukik, bahasannya menarik :)

    • Posted March 12, 2013 at 5:08 pm | Permalink

      Hehehehe pengalaman menarik. Bahwa internet sebagai sumber pengetahuan bagi anak/murid sudah menjadi kenyataan, bukan lagi trend yang akan terjadi. Terima kasih sudah berbagi pengalaman

  2. Posted March 12, 2013 at 8:53 pm | Permalink

    Wah dulu aku suka banget ama perahu tok tok… Keren gitu… Tapi pas beli dan nyoba dirumah punyaku ga jalan trus ngambek. hahaha… :P

    Teknologi emang ada sisi positif dan negatifnya ya… Tetapi selama pemanfaatan dilakukan secara baik tentunya akan memberi dampak positif.

    Kalau saya dulu semasa kuliah memanfaatkan teknologi untuk berbagai keperluan. Mulai dari berbagi slide presentasi baik antara dosen ke mahasiswa maupun antara sesama mahasiswa. Dan yg paling bermanfaat adalah adanya ebook di internet, sehingga tidak perlu membeli buku yg harganya mahal ratusan ribu. Cukup mendownload dan isinya pun sama.
    Bisa paperless juga untuk mengurangi dampak penebangan hutan secara liar :D

    • Posted March 12, 2013 at 9:13 pm | Permalink

      Wahaha pas umur berapa itu nyoba beli?
      Aku dulu sempat main tapi waktu masih TK :D
      Iya teknologi bukan sekedar pisau. Pisau bila tidak digunakan akan tetap ada di tempatnya. Sementara, teknologi bila tidak dipakai tetap akan menggilas kita
      Jadi mending dipakai sekalian hehe

      • Posted March 13, 2013 at 5:29 pm | Permalink

        aku waktu itu main pas kelas 3 SD kalo ga salah… tapi susah banget bikin tuh perahu jalan hahaha :P

  3. Posted March 13, 2013 at 12:39 am | Permalink

    Tapi bagaimana jika teknologi ternyata menjauhkan anak dari dunia nyata pak? Dalam beberapa kasus contohnya ketika terlalu terpaku dengan kemegahan dunia maya, tak sedikit anak yang akhirnya susah beradaptasi dengan dunia nyata mereka. Misalnya saja, daur hidup beberapa organisme, sangat ringkas dan elegan bila disajikan dalam video. Namun pada kenyataanya, ada jeda panjang antara tiap tahap dan tidak sebersih yang di tampilkan dalam video juga.

    • Posted March 13, 2013 at 8:24 am | Permalink

      Sayangnya, kekhawatiranmu itu terjadi dengan atau tanpa kita mengajarkan teknologi pada anak. Tanpa mengajarkan justru kita tidak bisa terlibat mempengaruhi dampak teknologi terhadap anak. Hanya dengan mengajarkannya, kita bisa menyeimbangkan antara pengalaman dengan teknologi digital dengan pengalaman nyata

      • Posted March 13, 2013 at 8:31 am | Permalink

        semoga ke depan ada keseimbangan antara dunia nyata dan maya ya pak :)

  4. Posted March 17, 2013 at 10:35 am | Permalink

    Pengawasan dan support orang tua tentunya, yg bisa memanfaatkan teknologi menjadi positif, karena pada dasarnya anak2 mempunyai rasa ingin tau yg sgt tinggi #terbang terus kupu2 hehehe

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi