Taman Gagasan Anak: Menebar Virus Aku Bisa

Taman Gagasan Anak berkolaborasi global dengan Design for Change untuk menebar virus Aku Bisa. 

Saya tahu nama Kiran Bir Sethi sekitar dua tahun yang lalu dari sebuah video presentasinya di TED.com. Pada presentasi itu, Kira bercerita betapa luar biasanya anak-anak ketika mendapat kepercayaan penuh dari orang dewasa. Bagaimana anak-anak terasah empatinya dan kemudian bergerak mengajar membaca pada masyarakat yang masih buta huruf. Mereka berjalan dari rumah ke rumah meyakinkan orang-orang pentingnya membaca. Anak-anak belajar langsung menghadapi persoalan masyarakat, belajar untuk diri sendiri sekaligus membelajarkan orang lain.

Kiran Bir Sethi, seorang desainer, awalnya resah ketika menyaksikan kepercayaan diri anaknya hancur usai sekolah. Ia pun menyadari bahwa ada pikiran subversif dibalik sistem pendidikan, anggapan bahwa anak tidak berdaya dan tidak bisa dipercaya. (Baca bagian pertama tulisan ini: Mengapa Generasi Muda Selalu Salah?). Keresahan itu mendorong Kiran Bir Sethi menggagas gerakan global Design for Change, sebuah gerakan yang mengkampanyekan pentingnya anak-anak merasa percaya diri. Setiap anak sebenarnya mempunyai kekuatan super “Aku Bisa” untuk melakukan perubahan pada lingkungan sekitarnya.

Ketakjuban sebatas ketakjuban karena apa mau dikata, Kiran Bir Sethi, berada nun jauh di India. Sampai kemudian pada awal 2014, Pak Iwan Pranoto, yang baru saja menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan New Delhi menawarkan gagasan untuk menerbitkan buku Design for Change dan menghadirkan Kiran Bir Sethi ke Indonesia. Bersama beberapa orang, saya bergabung di grup WA Design for Change Indonesia. Anggota grup sempat melakukan pertemuan yang tidak bisa saya hadiri karena waktu itu saya masih tinggal di Sidoarjo. Tapi tak lama, aktivitas grup tersebut menurun dan hampir tak terdengar suaranya.

Pergerakan terjadi lagi di awal 2015, Pak Iwan membuat pertemuan kecil yang diikuti oleh saya, Bu Tutuk dari penerbit Nourabooks – Grup Mizan, Kreshna dari Bincang Edukasi dan Monika Irayati dari Erudio School of Art. Pertemuan yang memicu semangat kembali. Kami pun mulai menawarkan pada beberapa penggiat pendidikan untuk terlibat. Dan saya bersyukur karena beberapa satuan pendidikan bersedia terlibat yaitu Lazuardi GIS, Sekolah Gemala Ananda, Sekolah Cikal, Sekolah Kembang dan Makedonia.

Saya awalnya terlibat secara individual, tapi sungguh bersyukur, Sekolah Cikal, satu grup dengan kantor tempat saya bekerja, bersedia terlibat dalam inisiatif ini. Seperti satuan pendidikan lain yang terlibat, Sekolah Cikal mempunyai keyakinan dan proses belajar yang mirip dengan Design for Change. Kami mempunyai Service Learning, yaitu proyek belajar yang memberi kesempatan pada anak untuk belajar sekaligus berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan sosial. Anak-anak terjun langsung ke masyarakat, mengamati, melakukan wawancara, hingga merumuskan dan mengerjakan solusi.

Ide awal menerbitkan buku Design for Change dan menghadirkan Kiran Bir Sethi berkembang menjadi tekad untuk membangun sebuah gerakan pendidikan. Kami melakukan serangkaian pertemuan mulai dari penentuan nama gerakan, workshop singkat berpikir desain yang difasilitasi oleh Imanzah “Iboy” dari Makedonia, hingga pertemuan persiapan teknis. Pertemuan biasanya mulai sore hingga malam hari di Ratu Prabu 1, di ruang kantor penerbit Mizan. Tempat pertemuan yang dekat tempat kos membuat saya tidak bisa mangkir selalu hadir di setiap pertemuan.

Taman Gagasan Anak 0

Setelah diskusi panjang, para inisiator bersepakat memberi nama gerakan pendidikan ini sebagai Taman Gagasan Anak, disingkat TaGA. Taman sebagai peneguhan semangat Ki Hadjar Dewantara bahwa satuan pendidikan harusnya menjadi tempat yang nyaman buat anak untuk menjadi dirinya sendiri. Sesuai namanya, Taman Gagasan Anak harapannya menjadi tempat bagi anak-anak untuk menggagas berbagai solusi untuk kehidupan yang lebih baik.

Tantangan buat kami adalah waktu pelaksanaan yang mepet. Awalnya kami berusaha untuk menjadwalkan kehadiran Kiran Bir Sethi sekitar bulan Oktober, tapi karena jadwalnya padat maka kalau diundur harus mundur hingga tahun depan. Jadi mau tidak mau harus pada 29 Agustus 20015. Tim yang baru terbentuk, jadwal mepet, koordinasi kelembagaan dengan Kementrian dan rangkaian acara yang padat jadi jamu yang pas buat kami pontang-panting. Setiap hari di minggu-minggu terakhir, notifikasi di grup Telegram Taman Gagasan Anak mencapai angka ratusan, lengah sedikit maka sudah ketinggalan informasi.

Persiapan kegiatan sangat terbantu berkat dukungan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Berbeda dengan era sebelumnya, kementrian saat ini mengambil peran sebagai fasilitator bagi inisiatif dari lembaga dan komunitas pendidikan. Ide awalnya dari kami, yang terwujud berkat dukungan dari lintas direktorat jenderal, dalam hal ini Balitbang, Dikdasmen dan Sekretariat Jenderal. Pola komunikasinya menyenangkan, kami dari komunitas merasa didengarkan dengan tetap menjaga rambu-rambu yang memang harus dipatuhi.

Dan pada akhirnya, hari yang telah dinantikan pun tiba. Kiran Bir Sethi hadir di Jakarta pada Rabu untuk melakukan serangkaian kegiatan mulai jamuan makan bersama Menteri Anies Baswedan dan sejumlah penggiat pendidikan, wawancara media, pertemuan dengan beberapa tokoh, berkunjung ke SDN Cilandak Barat 17 dan workshop Design for Change. Agendanya padat, saya sendiri hanya sempat terlibat dalam pertemuan tim Taman Gagasan Anak dengan Kiran dan Seminar #AkuBisa. Saya paling sayang sebenarnya tidak bisa ikut Workshop Design for Change karena pada saat yang sama mengarahkan gladi bersih Seminar………

Taman Gagasan Anak 00

Sampailah pada hari Sabtu, 29 Agustus 2015, hari pelaksanaan Seminar #AkuBisa sekaligus peluncuran buku dan gerakan Taman Gagasan Anak. Saya bangun jauh lebih pagi dari biasanya dan meluncur ke tempat pelaksanaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Saya menyelesaikan beberapa peralatan yang belum siap hingga mengarahkan briefing pagi buat tim Taman Gagasan Anak. Tak dinyana, peserta sudah pada berdatangan, jauh lebih cepat dari perkiraan kami. Seminar harusnya mulai jam 09.00 WIB, tapi peserta sudah hadir jam 08.00 WIB. Semakin bikin deg-degan……

Taman Gagasan Anak 1

Ujian awal seminar, saya harus memastikan penampilan pembuka dan kehadiran Menteri Anies Baswedan berkesesuaian waktunya. Penampilan pembuka adalah permainan akustik siswa Sekolah Gemala Ananda yang hanya disiapkan untuk bermain satu lagu. Jadi sekali waktu harus koordinasi dengan staf menteri, petugas yang mengantar menteri ke tempat duduk, pembawa acara sekaligus dengan koordinator tim Sekolah Gemala Ananda. Meski sudah dipersiapkan, tapi tetap saja berdebar pada saat pelaksanaannya. Ujian pertama lulus…….perkusi selesai, Menteri datang, tim perkusi berganti dengan tim orchestra dari Lazuardi GIS dan pembawa acara meminta hadiri berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya. Pas…..

Taman Gagasan Anak 2

Selesai Orchestra Lazuardi memainkan dua lagu tambahan, Menteri Anies Baswedan membuka Seminar Aku Bisa. Beliau menegaskan bahwa tugas utama pendidik bukanlah menilai dan menguji tapi membuat anak menjadi tak ternilai.  Pendidikan harus memberikan kesempatan dan tantangan pada anak agar potensinya berkembang optimal. Selesai pembukaan, serah terima cindera mata antara Menteri Anies, Kiran Bir Sethi dan pak Iwan Pranoto mewakili KBRI New Delhi. Dan akhirnya improvisasi terjadi, peluncuran buku Aku Bisa dilakukan lebih cepat dari jadwal. Begitu lah hidup, jangan selalu lempeng *eh

Taman Gagasan Anak 3

 

Taman Gagasan Anak 7

Selanjutnya presentasi dari Kiran Bir Sethi tentang inisiatif Design for Change. Pemaparannya memukai, kombinasi antara bercerita dengan penggambaran melalui 6 video. Ia bukan hanya memberitahu, tapi menunjukkan langsung bagaimana hebatnya anak-anak ketika mendapat kesempatan untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bukan menjadi pemenang lomba, anak-anak itu justru menciptakan solusi yang menyelesaikan persoalan masyarakat. Design for Change dilakukan melalui 4 langkah sederhana, Feel, Imagine, Do & Share. Pada tahap feel, anak tidak diajak melakukan analisis, tapi merasakan langsung suatu persoalan sehingga anak bisa membayangkan sudut pandang mereka yang bermasalah. Setelah berempati, anak mengimajinasikan solusi-solusi yang mungkin. Berbagai kemungkinan didiskusikan dan dilakukan pada fase Do. Setelah itu, anak diminta berbagi cerita untuk menyebarkan manfaat pada masyarakat yang lebih luas. Anak bisa mengirim cerita ke situs Design for Change.

Taman Gagasan Anak 4

Begitu Kiran turun panggung, siswa Sekolah Cikal dengan sigap menaiki panggung untuk memainkan gerak dan lagu Setinggi Langit (penyanyi pertama: Naura). Musik yang menghentak dengan lirik yang pas dengan judul seminar, Aku Bisa. Coba perhatikan liriknya: Aku bisa jadi apa saja/ setinggi langit di angkasa yang tak ada batasnya/ aku bisa jadi apa saja, kalau aku mau/ cita-cita dan mimpiku setinggi langit. Dan bener setinggi langit, begitu lagu selesai, anak-anak itu berlari dan melompat di depan panggung, dan mendarat tepat di baris pertama pengunjung, alias di depan Menteri Anies, Kiran dan Pak Iwan Pranoto.

Taman Gagasan Anak 5

Presentasi Kiran berganti dengan presentasi dua anak kelas 1 Sekolah Kembang, Alka dan Ariette. Dengan langkah malu-malu menaiki panggung, mereka berdua memukau hadirin dengan pengalaman mereka menjadi pahlawan super penyelamat air. Mereka bercerita pengalaman mereka melalui langkah-langkah Design for Change mulai berjalan berkeliling sekolah menemukan persoalan, mengenali pengalaman sendiri ketika kehabisan air, berimajinasi menciptakan solusi untuk menyelamatkan air hingga membuat poster penyelamatan air untuk anak-anak TK.

Taman Gagasan Anak 6

Giliran Pak Iwan menyampaikan pidato singkat, lebih singkat dari jadwal yang sudah singkat. Meski singkat tapi telak. Semangat “Aku Bisa” bukanlah tentang bisa-nya, tapi perubahan subyek pendidikan dari orang dewasa menjadi anak-anak. Beliau menyampaikan pesan penting itu dengan sebuah gambar yang mengena, gambar Mahatma Gandhi berjalan dipandu oleh seorang anak kecil. Ya pendidikan yang dipandu oleh anak.

Taman Gagasan Anak 8

Presentasi terakhir usai, seminar dilanjutkan dengan acara pamungkas, peluncuran gerakan Taman Gagasan Anak. Siswa Sekolah Kembang naik ke panggung  bersama dengan Monika Irayati dari Erudio School of Art (ESOA) selaku koordinator TaGA dan Kiran Bir Sethi. Mereka kemudian menyanyikan lagu “We Can”.  Aware, feel It/ Enable, Imagine/ Empower, And do it/ We can make a better world. Ditengah nyanyian seluruh personel berdiri ikut bernyanyi bersama.

Taman Gagasan Anak 9

Selesai? Belum lah……seluruh orang di ruangan foto bersama sambil meneriakkan “Aku Bisa”.

Taman Gagasan Anak 10

 

Jadi pastikan anda terlibat dalam keseruan gerakan Taman Gagasan Anak, bersama kita menebarkan virus “Aku Bisa”. Follow @Taga_ID di twitter atau like Facebook Taman Gagasan Anak. Poster mengenai Design for Change dalam bahasa Indonesia dan poster tentang Taman Gagasan Anak bisa diunduh di blog Taman Gagasan Anak. Pastikan juga mendapatkan buku Aku Bisa di toko buku terdekat atau beli online di Mizan Store.

Pada akhirnya, terima kasih buat semua anggota tim yang sudah bekerja keras siang malam sebagai relawan. Kepuasan atas keseruan ini tak ternilai harganya. Terima kasih buat KBRI New Delhi dan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan buat kesediaannya mendengat dan mendukung penyebaran virus Aku Bisa. Mari kita lanjutkan…

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

10 thoughts on “Taman Gagasan Anak: Menebar Virus Aku Bisa”

  1. But How? jika sekolah belum tersentuh semacam ini pak? masih konvensional..
    Lalu, what i must to do.. bagaimana peran orangtua yang tepat?
    bisa dijelaskan dengan contoh sederhana kah pak seperti apa sih wujud nyata anak menjadi bagian Aku Bisa!!

    1. Di atas kan sudah ada dua contoh. 1. Anak-anak mengajar membaca pada orang dewasa yang buta huruf. 2. Anak-anak SD menjadi penyelamat air dengan membuat poster kampanye untuk anak TK. Atau saksikan video di awal tulisan ini

      Jika sekolah belum tersentuh, beli buku Aku Bisa atau unduh dan cetak poster Design for Change pada tautan di atas, berikan ke sekolah :)

      Orangtua juga bisa terlibat kok. Detil langkah-langkahnya ada di buku

      1. Iyah pak, baca yg contoh menjadi penyelamat air.. penasaran cerita detilnya.. how come.. anak TK hebat sekali..
        siap pak, mas Alma sepertinya sudah pesen pak..
        sip.. tenkyuw penjelasannya..

        1. Caranya mengikuti alur FIDS: Feel, Imagina, Do dan Share. Jadi beri kesempatan anak untuk merasakan suatu persoalan, ajak anak berimajinasi tentang kemungkinan solusi, fasilitasi anak untuk bisa melakukan tindakan solutif.

          Feel, Imagine dan Do adalah yang paling sering diabaikan dalam pendidikan kita. Kalau lihat video di atas, untuk feel sampai anak-anak menjadi pekerja anak untuk merasakan sendiri.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.