Takita, Bercerita Telah Mendekatkan Kami

Aku bukan pendongeng. Aku hanya seorang ayah yang telah didekatkan kembali dengan sang buah hati berkat bercerita. 

Takita sayang,

Terima kasih buat surat Takita yang menyentuh. Tentang kesukaanmu mendengar cerita. Tentang mimpimu mengenai keluarga Indonesia yang bercerita. Isi suratmu itu mengingatkanku pada sebuah pengalamanku dengan Damai, putriku. Semoga kamu mau menyimak cerita sederhanaku ini.

Damai lahir pada sebuah pagi yang cerah, ibarat matahari pagi yang menghangatkan. Setelah semalaman menunggu, tangisnya yang nyaring memecah suasana ketegangan. Aku bersyukur mendapat karunia seorang putri. Doaku singkat, semoga jadi anak baik.

Masa awal kelahiran adalah masa yang indah. Ada kenangan-kenangan yang takkan terlupakan. Aku menggendong Damai sampai lelap tertidur. Bukan hanya menggendong. Tapi aku harus menggendong seirama dengan lagu Nidji. Lagu kesukaannya adalah Disco Lazy Time, sebuah lagu dengan irama cepat. Jadi aku harus mengayun gendonganku secepat irama lagu itu. Ketika Damai tertidur, aku pun basah kuyub dengan keringat. Meski begitu, aku senang sekali.

Waktu Damai lahir, kami orang tuanya masih belum memiliki rumah. Akibatnya, Damai harus kami titipkan di rumah neneknya di desa. Kami harus pulang pergi Surabaya ke desa untuk bertemu dengan Damai. Sejak saat itu, aku bertekad bekerja keras agar kebutuhan Damai tercukupi. Aku bekerja keras siang malam.

Tak terasa 3 tahun berlalu dengan cepat. Damai berubah. Ia tidak mau lagi dekat denganku. Bahkan, ketika kukecup menjelang tidur, Damai dengan cepat menghapus bekas kecupanku. Ia tidak lagi mencariku ketika aku tidak pulang ke rumah. Awalnya, aku abaikan tapi akhirnya aku merasa tidak enak dan terganggu.

Aku berpikir mengapa Damai bertingkah seperti itu. Setelah berpikir lama, akhirnya kusadari bahwa aku tidak menyediakan waktu yang cukup buat bersama Damai. Kalau pun ada waktu, itupun hanya pada hari minggu ketika kami keluar bersama. Tapi itu tidak cukup membangun kedekatan antara aku dan Damai.

Aku harus berubah! Aku mencari cara bagaimana aku bisa dekat lagi dengan Damai, putri kesayanganku. Waktu itu, aku tidak tahu banyak dunia anak. Aku cuma tahu bahwa aku suka membaca, aku punya buku. Aku bacakan sebuah buku, Toto Chan. Damai mulai mendengarkan. Tapi usahaku tidak cukup mendekatkan aku dengan Damai. Meski suka mendengarkan, Damai tetap menjaga jarak denganku. Sedih….

Aku mencoba ide lain. Aku bercerita tapi tidak dengan membaca buku. Aku bercerita bebas, sesuka hati dengan cerita yang terpikir di kepalaku. Aku menciptakan tokoh Jempi yang diperankan jari jempolku dan Keling yang diperankan oleh jari kelingkingku. Jempi bersuara besar dengan kesukaannya, ketiduran hihi. Keling bersuara nyaring dengan kesukaannya, belajar.

Aku mengubah tempat tidur menjadi panggung bercerita. Jempi dan Keling pun kemudian tampil bercerita. Bercerita apa saja. Ada cerita tentang kampung bebek. Ada cerita tentang raja laut. Tapi terkadang aku kehabisan cerita. Syukurlah ada web Indonesia Bercerita yang menyediakan banyak cerita anak. Aku ceritakan cerita yang ada di web itu.

Semenjak ada Jempi dan Keling, semenjak aku bercerita, Damai mulai berubah. Ia sering memintaku untuk bercerita. Ia mau lebih dekat denganku. Ia pun suka ketika kukecup menjelang tidur. Eh asal aku lagi habis potong kumis sih hehe

Begitu Takita ceritaku. Aku percaya dengan isi suratmu yang menyebut bahwa kasih sayang itu ada ketika ayah bunda bercerita. Bukan karena teori, tapi karena aku pernah mengalaminya sendiri. Bercerita telah mendekatkan aku dan Damai.

Begitu Takita ceritaku. Aku memang bukan pendongeng yang baik. Aku hanya seorang ayah yang bercerita pada putrinya. Meski begitu, aku berharap engkau suka ceritaku ini.

Terima kasih Takita telah mengirimkan surat buat aku. Semoga mimpi keluarga Indonesia yang suka bercerita pada buah hatinya terwujud ya.

Salam Sayang

Seorang ayah,

Bukik

Catatan: Aku menulis surat ini untuk menjawab Surat Takita, menjadi bagian dari orang-orang yang peduli akan masa depan anak Indonesia. Bila suka, posting ini boleh disebarkan via FB, twitter, Google plus atau email. Terima kasih

12 thoughts on “Takita, Bercerita Telah Mendekatkan Kami

  1. Pingback: Surat dari Takita: Mimpi-mimpi Takita - Blog Indonesia Bercerita

  2. applausr

    luar biasa ceritanya pak… saya memang selalu berusaha untuk bisa bertemu dengan anak saya setiap hari dan menghabiskan waktu bersamanya. Saya hampir setiap malam bercerita dengannya. Seru pasti tuh kondisi kamar anaknya ya pak. :) Thanks

    Reply
    1. Bukik

      Terima kasih……luangkan waktu buat anak, karena kesempatan tak datang dua kali
      Kamar? Hehehe hancur…..buat aksi bercerita yang rancak…..

      Reply
  3. niee

    waahh.. aku harus berfikir keras untuk mencari pekerjaan sebelum berhenti dari pekerjaan sekarang yak mas >_<

    etapi aku gak ngoyo kerja seh. jam pulang ya balik.. makanya gak mau jadi bos bos atas :P

    Reply
  4. Pingback: 5 Posting Paling Banyak Dibaca di Bukik Dot Com Selama 2012 | Bukik Ideas

Gimana komentarmu?