Berkuasa

Kekuasaan tidak selalu sebesar yang dibayangkan. Ia bukan perkara jabatan atau kekuatan yang luar biasa. Kuasa beroperasi pada urusan sehari-hari. Berkuasa adalah dorongan untuk menentukan obyek-obyek di sekitarnya. Orang-orang biasa pun bermain kekuasaan, mencari panggung agar berkuasa, yang seringkali menutupi ketidakberdayaan yang dirasakannya.


Berkuasa hadir di ruang kelas ketika guru mengarahkan ketidakmampuannya menentukan nasib sendiri dengan menjadi penentu tunggal nasib murid-muridnya. Berkuasa hadir di rumah ketika orangtua menyalurkan kegagalan obsesinya pada anak-anaknya.

Berkuasa hadir dalam relasi dua orang ketika salah satu atau kedua belah pihak gagal menyepakati jalah tengah. Berkuasa hadir di media sosial ketika menulis status yang menafikkan pandangan yang berbeda. Berkuasa hadir di jalan raya ketika solusi transportasi berubah menjadi sirkuit balapan.

Apakah dorongan berkuasa kita gunakan untuk menguasai diri agar lebih berdaya atau menguasai orang lain agar ketidakberdayaan kita tertutupi?