Guru Belajar Sorowako, Semangat Belajar yang Berkobar di Temu Pendidik

Komunitas Guru Belajar Sorowako, semangat belajar yang berkobar dari pelosok yang tak pernah padam. Bagaimana cara mereka saling belajar? Apa serunya?

Sorowako, sebuah desa yang diapit danau terdalam di Indonesia dengan pegunungan batu. Tempat yang tenang bila kita ingin mencari inspirasi dan menghabiskan waktu untuk menulis buku. Meski desa tapi namanya populer, lebih populer dibandingkan nama kecamatan dan kabupatennya. Perkenalan saya dengan Sorowako terjadi pada beberapa bulan sebelumnya. Begini ceritanya

Pada suatu hari, sebuah email datang dari Bu Hesty di Sorowako yang berisi niat untuk menjadi Agen Buku Anak Bukan Kertas Kosong. Saya sempat kesulitan menentukan ongkos kirim karena tidak menemukan kode pos Sorowako. Selidik punya selidik ternyata kode pos mengikuti kabupatennya, Luwu Timur. Untuk ukuran desa, Sorowako cukup ramai dan termasuk daerah dengan tingkat penjualan buku Anak Bukan Kertas Kosong yang masuk kategori tertinggi.

Ketika Lifelong Learner School of Education menggagas Komunitas Guru Belajar dengan aktivitas inti Temu Pendidik, Bu Hesty dan rekan guru dari Sorowako termasuk yang paling antusias. Awalnya obrolan-obrolan di Grup Facebook Komunitas Guru Belajar, berlanjut ke komunikasi yang lebih mendalam dan akhirnya mencapai kesepakatan untuk mengadakan Temu Pendidik di Sorowako pada 19 September 1015. Sempat menanti kepastian beberapa lama, tapi akhirnya rekan-rekan guru di Sorowako memastikan pelaksanaan Temu Pendidik.

Persiapannya cukup alot. Saya sudah sempat memesan hotel tapi kemudian saya batalkan karena rekan-rekan guru di Sorowako berhasil mendapatkan penginapan buat saya. Begitu juga dengan transportasi, saya sudah siap untuk naik bis 12 jam dari Makassar ke Sorowako untuk menghemat biaya. Tapi H-3 dapat kepastian tempat di pesawat, satu-satunya pesawat yang menerbangi rute Makassar – Sorowako pergi pulang.

Sorowako guru belajar 1

Akhirnya pada hari Kamis, 17 September, pukul 12.15 saya bersiap terbang menuju Sorowako dari Makassar. Saya sudah naik bis di bandara yang akan mengantar ke pesawat tapi tidak berapa lama disuruh turun dan kembali ke terminal karena ada kerusakan radar. Setelah menunggu lebih dari satu jam, saya akhirnya naik pesawat dan terbang naik pesawat dengan baling-baling. Penerbangannya seru, penumpang bisa menyaksikan keindangah bumi Sulawesi selama penerbangan, dan menjelang mendarat Sorowako bisa menyaksikan 3 danau purba dari ketinggian.

Saya mendarat di Sorowako disambut oleh Bu Hesty dan Pak Darma. Karena pesawat mengalami keterlambatan, rencana kami berubah, tidak jadi menemui Kepala Dinas Pendidikan Luwu Timur yang berkantor di ibukota kabupaten Luwu Timur, Malili. Saya pun diantar ke penginapan untuk beristirahat. Ditinggal bukannya istirahat, saya langsung berjalan ke tepi Danau Matano, yang konon merupakan danau terdalam di Asia Tenggara, dan terdelapan ke-8 di seluruh dunia. Malam harinya, saya bertemu dengan penggerak Komunitas Guru Belajar Sorowako untuk membahas rencana kegiatan di Sorowako.

Sorowako guru belajar 2

Hari jumat pagi, kami meluncur ke barat, menuju Kecamatan Wasuponda untuk bicara di depan forum Ikatan Guru TK Indonesia (IGTKI) dengan peserta guru dan orangtua. Ruangan sudah hampir penuh peserta ketika kami datang. Kami pun tergopoh-gopoh menyiapkan peralatan pentas seminar dengan tema Menumbuhkan Kegemaran Belajar. Sesuai dengan permintaan saya mengulas apa sebenarnya yang perlu dipelajari balita di TK, menumbuhkan kegemaran belajar hingga salah kaprah calistung. Selesai presentasi dan tanya jawab, kami pun meluncur kembali ke Sorowako buat sholat Jumat.

Sorowako guru belajar 10

Selesai makan siang dan sholat Jumat, agenda berikutnya berbicara di depan guru dan orangtua TK YPS dengan tema sama tapi sedikit modifikasi untuk menyesuaikan kebutuhan peserta. Saya menambahkan dengan materi mengenai siklus pengembangan bakat anak. Sama seperti agenda pagi, peserta pada siang hari pun memadati ruangan seminar. Hingga sore hari saya pun mulai kehabisan energi dan suara, waktunya istirahat. Seperti kemarin, saya diantar ke penginapan buat istirahat. Dan sama seperti kemarin juga, saya justru berjalan kaki menuju Pantai Ide. Bukan, bukan pantai laut, pantai di sisi Danau Matona yang berbeda. Makan bakso eh penjualnya dari Wlingi :D

Sorowako guru belajar 3

Hari Sabtu, acara inti dari misi saya ke Sorowako, Temu Pendidik yang diadakan oleh Komunitas Guru Belajar Sorowako. Seperti agenda-agenda sebelumnya, peserta sudah mulai berdatangan lebih cepat dari jadwal. Temu Pendidik yang mulai tepat waktu dengan dipandu oleh Pak Guru Mahmuddin ini dihadiri lebih dari 60 guru baik guru sekolah swasta maupun sekolah negeri. Beliau mencairkan suasana dan menjelaskan secara singkat tujuan pertemuan. Setelah itu, saya tampil untuk menceritakan mengapa penting guru belajar dalam sebuah komunitas baik dengan pelatihan maupun Temu Pendidik.

Sorowako guru belajar 5

Kini sudah waktunya berubah, guru belajar untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Guru yang bisa menumbuhkan kegemaran belajar anak. Guru yang membuat sekolah menjadi taman belajar. Guru belajar tidak menunggu perintah dari pusat, tapi inisiatif dari beragam daerah. Guru belajar bukan hanya dari ahli melalui pelatihan, tapi juga dari rekan guru melalui berbagi praktek cerdas. Guru belajar tidak terbatas di ruang kelas, tapi seluas kehidupan nyata. Terakhir saya mengucapkan terima kasih pada para guru di Sorowako yang telah menunjukkan saya, anda, dia, kami, mereka adalah kita, yang berjalan dan belajar bersama.

Sorowako guru belajar 6

Tiga orang guru kemudian bercerita satu per satu mengenai praktek cerdas yang mereka lakukan di kelas. Presentan pertama, Pak Guru Emanuel Randa yang bercerita caranya membangun komunikasi dan relasi dengan siswa-siswanya. Tantangan pertama yang dihadapinya adalah pemberontakan para murid karena masih menganggap guru sebagai orang asing. Ia pun bercerita upayanya untuk merebut hari para siswa. Ia menghapus jarak psikologis antara guru dan murid untuk membangun kepercayaan. Kutipan yang saya suka, “Nak, meski pun semua orang meninggalkanmu, aku tetap di sampingmu. Teruslah perjuangkan mimpimu! Emanuel Randa.

Sorowako guru belajar 7

Presentan kedua adalah Pak Guru Fadli Herman yang dengan lugas menyebutkan bahwa persoalan mendasar murid-murid kita adalah kepercayaan diri. Mereka takut disalahkan guru atau ditertawakan oleh temannya sehingga memilih diam di kelas. Karena itu, beliau masuk kelas pertama kali tidak langsung menyampaikan pelajaran tapi mengajak bicara murid mengenai cara belajar yang tepat. Dengan memahami cara belajar diharapkan murid menjadi yakin dan mau terlibat aktif dalam proses belajar. Selanjutnya, presentan ketiga adalah Pak Guru Rahman Patiwi yang sering mencairkan suasana dengan gayanya yang asyik. Menurut beliau, guru ketika pertama kali masuk kelas harus melakukan apersepsi, melontarkan stimulus agar siswa menjadi lebih santai. Setelah itu yang perlu diperhatikan, durasi konsentrasi siswa rata-rata hanya bertahan 10 menit. Karena itu, guru perlu menarik perhatian siswa setiap 10 menit sekali.

Sorowako guru belajar 9

Setelah 3 presentan bercerita mengenai praktek cerdas, Pak Guru Mahmuddin memandu peserta mengikuti sesi inspirasi. Pada sesi inspirasi, peserta membentuk kelompok dan berbagi inspirasi yang didapatkan dari sesi sebelumnya. Setelah itu, kelompok menyusun rencana aksi untuk dilakukan di kelas masing-masing. Datang ke Temu Pendidik, pulang membawa banyak inspirasi dan rencana aksi. Begitulah kelebihan Temu Pendidik, singkat hanya 2 jam, berbagi tips praktis dan membawa pulang rencana konkret. Temu Pendidik ditutup oleh Pak Mahmuddin dengan harapan para guru terlibat dalam Temu Pendidik selanjutnya yang rencananya diadakan berkala dua bulan sekali. Dan terakhir, foto bareng :)

Sorowako guru belajar 11

Selesai Temu Pendidik, saya dan penggerak Komunitas Guru Belajar Sorowako menuju ke sebuah rumah sederhana di seberang kantor Babinsa Sorowako. Kami makan siang dengan makanan khas Luwu, Kapurung. Saya langsung ingat dengan Papeda yang terakhir saya nikmati ketika masih tinggal di Papua. Kapurung itu semacam bubur sagu dibentuk bola-bola yang dipadu dengan sayur dan ikan dengan berbagai pilihan. Saya memilih ikan bolu, yang ternyata adalah ikan bandeng. Rasanya? Gurih, pedas dan asam-asam segar. Habis satu porsi langsung banjir keringat. Rasanya lezat, gizinya lengkap. Kalian harus mencobanya :)

kapurung guru belajar

Selesai makan siang, kami meluncur ke lokasi Seminar Menumbuhkan Kegemaran Belajar Anak yang diselenggarakan oleh PGRI Nuha. Lebih dari 400 orang memadati ruangan hingga harus menambah kursi. Ada sebuah pernyataan yang bikin terhenyak dan sempat mendapat protes keras dari seorang guru. Pernyataan itu bisa dilihat di gambar poster di bawah ini. Bagaimana menurut anda?

Hukuman Merusak Budi Pekerti guru belajar

Selesai seminar tersebut, Pak Darma menemani saya berputar mengelilingi Sorowako dan mengantar ke penginapan. Dua hari yang padat agenda di Sorowako usai lah sudah. Saya menyaksikan guru dan orang tua yang punya semangat belajar berkobar. Kenyataan yang membuktikan bahwa jarak tidak bisa memadamkan semangat belajar.

Hari minggu pagi, saya bangun jam 4 untuk bergegas naik pesawat menuju Sorowako pada pukul 06.30 WITA. Setibanya di Makassar, saya menulis tulisan ini sambil menunggu jawaban WA dari kawan blogger Makassar, Ipul. Belum selesai menulis, saya dapat balasan WA dan langsung meluncur ke rumahnya sambil menunggu pesawat menuju Jakarta.

Sampai jumpa Sorowako…….saya ingin kembali karena masih penasaran dengan segarnya jus Dengen :D

Oh ya tertarik untuk mengembangkan Komunitas Guru Belajar di daerah anda? Silahkan bergabung dengan Grup Facebok Komunitas Guru Belajar. Kunjungi juga GuruBelajar.org

Catatan: Foto lain, video presentasi dan video testimoni menyusul ya

Sorowako Guru Belajar 12
Foto bersama Penggerak Komunitas Guru Belajar Sorowako

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

6 thoughts on “Guru Belajar Sorowako, Semangat Belajar yang Berkobar di Temu Pendidik”

  1. Dear Pak Bukik:
    Nama Saya : I.B. Darmatika, yang jemput Bapak di Bandara Sorowako, tertulis Pak Made, jadi nama saya buka Made tapi Darmatika…hehehe

  2. Acaranya sangat menarik pak. Terlebih lagi benar – benar menginspirasi. Melihat dokumentasi dari foto – fotonya cukup bagus. Semoga acara seperti itu dapat diadakan lagi di lain kesempatan pak. :)

  3. Acaranya sangat menarik pak. Terlebih lagi benar – benar menginspirasi. Melihat dokumentasi dari foto – fotonya cukup bagus. Semoga acara seperti itu dapat diadakan lagi di lain kesempatan pak. :)

Gimana komentarmu?