Serial Anak-Anak Mamak

Kemarin liburan akhir tahun kemana? Aku membaca buku cerita anak yang keren, Serial Anak-anak Mamak. Kamu sudah baca? 

Akhir tahun bertepatan dengan waktu liburan anakku, Damai (9 tahun). Jadilah akhir tahun mengantar Damai ke rumah neneknya di Wlingi. Apa saja aktivitas seru selama liburan sudah ditulis Damai di blognya, AyundaDamai.com. Di sela-sela menemani Damai itulah aku membaca buku cerita anak, Serial Anak-anak Mamak.

Aku tertegun ketika pertama berjumpa dengan buku Amelia di sebuah toko buku. Aku belum pernah mendengar penulisnya, Tere Liye. Aku baca halaman belakang dan langsung terpikat. Beberapa saat kemudian aku baru sadar Amelia adalah satu dari empat buku Serial Anak-anak Mamak. Aku belikan semua buku dari dari Serial Anak-anak Mamak untuk anakku Damai, dengan harapan bisa jadi bacaan berbobot.

Damai, seperti biasa, langsung tuntas membaca keempat buku ini dan menuliskannya menjadi sebuah tulisan blog. Aku sendiri sempat membaca Amelia tapi terhenti dan baru menyelesaikannya selama liburan akhir tahun ini.  Awal membaca buku Amelia, aku punya dugaan ini buku anak-anak banget yang tidak asyik buat dibaca orang dewasa. Tapi setelah menuntaskannya aku menyimpulkan akhirnya ada bacaan anak-anak yang dengan indah menyajikan problem-problem sosial di Indonesia.

Serial Anak-anak Mamak bercerita mengenai empat anak. Setiap anak jadi satu buku sendiri, Pukat, Burlian, Eliana dan Amelia. Karena berasal dari satu keluarga maka ada kesamaan pengalaman yang diceritakan dalam setiap buku. Meski sama tapi diceritakan dengan sudut pandang berbeda sehingga bisa mengejutkan pembaca. Semisal, urusan membereskan rumah diceritakan dari sudut pandang Eliana sebagai anak sulung dengan Amelia sebagai anak bungsu. Betapa repotnya anak sulung yang harus mengatur adik-adiknya, disisi lain betapa repotnya anak bungsu yang diatur-atur oleh sang kakak. Sama-sama repot ternyata :D

Setiap tokoh mempunyai tantangan besar yang harus diselesaikan. Semisal, Eliana yang tak kenal takut menghadapi pengusaha tamak yang ingin menguras pasir di sungai di kampungnya. Amelia dengan ketekunannya menjelaskan pada warga kampung mengenai pentingnya mengganti tanaman kopi dengan bibit unggul yang didapatkannya di dalam hutan. Meski demikian, ada tantangan yang selalu muncul pada setiap buku yaitu menyadari betapa besarnya cinta Mamak pada mereka. Dan setiap kali membaca bagian ini, setiap kali pula aku terharu

Meski tinggal di kampung dengan segala kondisi yang terbatas dan beragam persoalan yang dihadapi, tapi anak-anak tetaplah anak-anak yang menghadapi hidup dengan penuh kegembiraan. Mereka menjalani kehidupan di kampung terpelosoknya sebagai sebuah petualangan seru. Usilnya anak-anak yang seringkali bikin orang dewasa senewen. Pengalaman usil yang pasti menyenangkan buat pembaca anak. Pasti mereka berpikir, oh aku ternyata ada temannya :P

Imajinasi, keusilan, kemauan keras berbaur dengan kepekaan hati, pelajaran budi pekerti hingga kecintaan pada tanah kelahiran tersaji dengan indah. Membaca Serial Anak-anak Mamak itu seperti membaca Mallory Tower dan Lima Sekawan-nya Enid Blyton. Para tokoh menghadapi persoalan hidup yang nyata, yang dihadapi oleh anak-anak Indonesia pada umumnya. Mulai urusan makan nasi kecap, urusan membeli sepeda yang tertunda, urusan teman sekelas yang usil hingga persoalan birokrasi pendidikan, persoalan guru jujur yang ditelantarkan, persoalan bangunan sekolah yang ambruk, hingga persoalan lingkungan hidup.

Berikut ini adalah beberapa kutipan dari serial ini yang saya bagikan di Facebook.

Apa harta paling berharga kampung ini, Pukat? Itu bukan tentang berjuta ton batu bara yang terpendam di bawah tanah kami, beribu kilogram emas dan perak, ribuan hektar hutan-hutan kami yang kini dibabat habis untuk lahan kelapa sawit. Harta karun paling berharga kampung adalah anak-anak  Pukat, Serial Anak-anak Mamak

“Tidak ada yang paling menyedihkan di dunia ini selain kehilangan kejujuran, harga diri dan martabat. Kita sudah kehilangan semuanya. Bapak kau pergi selama-lamanya. Harta benda, kebun ladang, pendidikan, semuanya. Berjanjilah Kiba, berjanjilah walau hidup kita susah, sebutir beras pun tidak punya, kau tidak akan pernah mencuri, tidak akan pernah merendahkan harga dirimu demi sesuap nasi,” kata Ibu pada Kiba kecil dalam Pukat, Serial Anak-anak Mamak

“….jika kalian tidak bisa ikut golongan yang memperbaiki, maka setidaknya, janganlah ikut golongan yang merusak. Jika kalian tidak bisa berdiri di depan menyerukan kebaikan, maka berdirilah di belakang. Dukung orang-orang yang mengajak pada kebaikan dengan segala keterbatasan,” kata Nek Kiba di Eliana, Serial Anak-anak Mamak

Pendidikan anak-anak jauh lebih penting. Dengan pendidikan yang baik, merekalah yang akan memastikan seberapa lama kita bertahan menghadapi kerakusan orang-orang kota. Eliana, Serial Anak-anak Mamak

Dunia orang dewasa tidak selurus dunia anak-anak yang lima menit bertengkar, lima menit kemudian sudah kembali main bersama. Kau tahu, dunia orang dewasa bagai sebutir bawang merah, berlapis-lapis oleh ego, keras kepala oleh argumen, bertumpuk pembenaran dan hal-hal yang boleh jadi tidak akan kau pahami sekarang. Amelia, Serial Anak-anak Mamak

Tidak akan pernah rugi membeli buku yang baik, Amel. Berapa pun harganya. Kata Bapak pada Amelia. Amelia, Serial Anak-Anak Mamak.

Serial Anak-anak Mamak 2 Processed with Moldiv

Serial Anak-anak Mamak 1

Buku ini memberi warna baru dalam khasanah buku cerita anak-anak di Indonesia. Buku yang menceritakan  Indonesia apa adanya, manis pahitnya Indonesia. Buku yang ringan dan menyenangkan dibaca anak-anak sekaligus mengundang anak-anak untuk berpikir lebih jauh lagi. Buku yang membumi pada kenyataan, sekaligus melangit pada imajinasi.

Kamu sudah baca Serial Anak-anak Mamak?

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

9 thoughts on “Serial Anak-Anak Mamak”

  1. Saya sulit sekali mendapatkan Tom Sawyer versi terjemahan awal (Djokolelono?). Di lapak bekas juga blm dapat. Yang terjemahan baru habis di penerbit dan toko online. Akhirnya dapat yang versi Gramedia (Seri Kancil 1978), tapi itu versi “retold by Marie Coghill, diterjemahkan oleh Agus Setiadi.

    Buku anak-anak berlaku untuk anak-anak dan bekas anak-anak :D

    1. Iya paman, berlaku juga untuk buku klasik yang bermutu tinggi lainnya
      Karena itu, kalau ada di toko buku langsung kubeli.

      Buku anak yang bagus ya bagus untuk semua
      Seru……menumbuhkan jiwa kanak-kanak dalam diri kita :D

    1. iya pernah lihat dulu di SCTV, ceritanya seru, semacam keluarga cemara, emm.. istilahnya membumi ya, ga kayak sinetron2 yang lain, sayang sekali ga berlanjut, nonton ga sampe 2 minggu

  2. Tere liye salah satu penulis favorit saya mas. Bukunya tdk pernah “kosong”, selalu ada pesan moral yg disisipkan disitu. Monggo dibaca buku2 beliau lainnya… Saya tunggu share nya

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.