Cover Ino Yuwono

RIP Ino Yuwono: Ketika guru lain pergi, guru ini tetap bersama muridnya

Setiap orang punya guru, orang yang memberi pelajaran hidup, orang yang menginspirasi kita buat mengubah jalan hidup. Bagiku, Pak Ino adalah guru kehidupanku.

Aku seharusnya tidak diajar Pak Ino. Dulu aku mengambil peminatan psikologi sosial di Fakultas Psikologi Unair. Perjumpaan terjadi karena MPK (Model Pengambilan Keputusan) jadi matakuliah wajib yang harus diambil. Pak Ino adalah dosen PJMK untuk matakuliah itu. Dari ruang kelas itulah perubahan mulai terjadi

Aku masuk kelas itu sebagai seorang aktivis dengan kepongahan masa muda. Aktivis sosial yang punya pandangan minor terhadap dosen psikologi industri dan organisasi (PIO). Bahwa PIO adalah kapitalis, pemeras keringat rakyat. Pandangan itu mewarnai pertanyaan, tanggapan dan kritikanku terhadap beliau. Tanggapan beliau? Beragam, ada yang sependapat, tapi seringkali bertolak belakang, bahkan tidak jarang mengejek.

Pada akhirnya aktivis sosial itu, iya aku, mendapat pukulan telak ketika bicara mengenai misi hidup. Untuk apa hidup? Untuk apa kuliah? Dapat nilai bagus? Buat apa bekerja? Sekedar mengejar uang? Pertanyaan-pertanyaan yang tidak kusangka keluar dari seorang dosen PIO. Pertanyaan apa itu? Apa hubungannya sama matakuliah MPK? Absurd memang

Tapi pertanyaan dan diskusi tersebut yang meneguhkan aku untuk serius kuliah. Aku meninggalkan belajar dari fotocopy catatan teman, dan mulai membaca buku teks bahasa inggris. Aku bodoh bahasa inggris. Tapi berkat beliau aku bisa tahan baca buku tebal bahasa inggris, berulang-ulang. Iya berulang-ulang biar benar-benar paham. Pusing? Iya. Ngantuk? Jelas. Muak? Sering. Tapi memang inilah pilihanku, kuliah untuk belajar, bukan untuk mendapat nilai bagus.

Awalnya dari fotocopy catatan menjadi buku teks, selanjutnya dari buku teks ke berbagai bacaan lain mulai jurnal dan novel-novel bermutu. Aku merasa terus dikejar, terus ditantang oleh Pak Ino untuk selalu belajar melampui batas-batas normatif. Belajar bukan sekedar karena kuliah, tapi belajar karena kita hidup. Belajar apa saja, bukan sekedar apa yang diajarkan.

Mulailah petualangan intelektualku. Aku mengenal Capra dan Teori Fisika Kuantum berkat Pak Ino. Tidak puas dengan penjelasannya. Aku baca buku-bukunya Fritjof Capra hingga The Dancing Wu Li Masters dari Gary Zukav yang bahasanya sangat teknis. Aku mencoba belajar memahami konsekuensi penemuan Fisika Kuantum terhadap psikologi dan kehidupan.

Pak Ino mengajarkan psikologi bukan sekedar pengukuran kuantitatif terhadap perilaku manusia, tapi penghayatan terhadap pengalaman hidup. Buat yang mengenal Pak Ino terlebih dahulu, pandangan ini mungkin aneh karena Pak Ino adalah jagoan statistik, jagoan bikin alat ukur. Aneh memang kalau memandang Pak Ino dari kulit luarnya.

Pak Ino adalah paradoks. Ia mengubah orang dengan cara-cara yang ajaib. Bisa dengan cara positif, tapi bisa juga dengan cara negatif. Bisa dengan cara sopan, tapi bisa juga dengan cara kurang ajar dan kasar. Ia bisa memberi pujian, sebagaimana ia memberi kritik. Ia bisa memberi hadiah, sebagaimana ia memberi hukuman. Tujuannya? Agar orang belajar. Titik.

Pengaruh Pak Ino terlihat di skripsi dan tesisku. Bukan materi atau topiknya. Pak Ino tidak mendikte topik. Tapi pengaruhnya pada semangat belajar itu. Aku mengerjakan skripsi dengan topik Repertory Grid, topik asing di Indonesia. Aku belajar dari Google dan diskusi dengan banyak orang. Tesisku mengenai Appreciative Inquiry, sebuah pendekatan yang belum dikenal banyak orang pada waktu itu (tahun 2005). Aku belajar dari Google dan diskusi dengan banyak orang.

Pak Ino mendukung penuh semua orang yang mau belajar. Ketika awal aku mengembangkan Appreciative Inquiry, Pak Ino adalah supoter utama. Ia mendukung bukan hanya dengan omongan, tapi dengan tindakan. Ia memberi kesempatan padaku agar bisa menerapkan Appreciative Inquiry. Ia menemaniku belajar menjadi fasilitator workshop Appreciative Inquiry (SOAR). Iya menemani, beliau mendampingiku ke tempat workshop bahkan sampai Jakarta meskipun setelah itu beliau harus istirahat memulihkan staminanya selama beberapa hari.

Aku tidak pintar. Aku tidak kaya. Tapi aku punya semangat dan keyakinan untuk belajar. Semangat dan keyakinan yang dipicu oleh Pak Ino dengan beragam caranya. Pak Ino adalah pendukung ketika aku merasa ragu. Pak Ino adalah pengkritik terhebat ketika aku merasa puas diri. Ia tetap mendampingi muridnya meskipun tidak paham topik yang dipelajari murid. Ketika guru lain pergi, Pak Ino memilih tetap berada disamping muridnya.

Ino Yuwono 7

Ino Yuwono 6

Ino Yuwono 5

Ino Yuwono 3

Ino Yuwono 2

Ino Yuwono 4

Ino Yuwono 1

Beberapa tahun yang lalu, Departemen PIO memutuskan membuka program studi S2 Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi (MPPO). Pak Ino ingin MPPO bukan menjadi sekedar S2, tapi sebagai sebuah penanda keseriusan kami dalam mempelajari psikologi organisasi. Orang masuk MPPO bukan sekedar ingin mendapat gelar, tapi menghayati hidup dan mengalami perubahan nyata. Impian Pak Ino ini yang dengan susah payah kuterjemahkan dalam kurikulum dan proses belajar. Aku dan Pak Ino bergantian mendampingi perkuliahan meski diakhir pekan. Aku dan Pak Ino diskusikan mana yang sudah bagus dan mana yang perlu dikembangkan.

Mimpi Pak Ino menjadikan kampus sebagai tempat pembelajaran seumur hidup (Visi yang beliau sampaikan ketika di workshop Kusuma Agro Wisata). Tempat dimana orang-orang yang punya kemauan belajar bisa belajar terus. Tempat dimana para alumni kembali untuk berbagi pengetahuan dan belajar kembali. Tempat dimana orang-orang didalamnya mencintai belajar.

Ia mencintai kampus psikologi Unair lebih dari yang disadari kebanyakan orang. Ia punya bisnis di luar kampus agar bisa menyekolahkan anaknya sampai luar negeri. Tapi ia tidak pernah meninggalkan perkuliahan begitu saja. Bahkan ia tidak meninggalkan kampus ini meski beberapa orang, termasuk aku, memilih untuk meninggalkan kampus. Ia mencintai kampus dengan hati, jiwa dan raganya.

Keputusanku mengundurkan diri dari kampus pun disikapi secara paradoks oleh Pak Ino. Pada satu sisi, ekspresi wajahnya menunjukkan keberatan yang teramat sangat. Tapi disisi lain, ia terus mendorongku untuk mengikuti kata hati. Ikuti kata hatimu….Maaf Pak Ino, aku mengecewakanmu untuk satu urusan ini. Tapi semangat Pak Ino akan terus kubawa, belajar sepanjang hayat, baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang-orang disekitarku.

Sampai terakhir bertemu (sekitar 1 bulan yang lalu), Pak Ino masih menunjukkan kegelisahannya mengenai kualitas pendidikan di Indonesia. Masih ngomel-ngomel panjang lebar. Begitulah Pak Ino, orang yang peduli pendidikan yang ditunjukkan dengan cara-cara ajaib.

Masih banyak lagi pelajaran dan kenangan bersama Pak Ino. Tapi aku sudah tidak sanggup menuliskannya.

Terakhir, tadi malam Pak Ino masih memberi pelajaran terakhir padaku melalui Facebook (foto terlampir)

IMG_0797

Selamat jalan Pak Ino….Selamat Jalan Christophorus Daniel Ino Yuwono….

Mohon maaf buat semua kesalahanku. Aku akan berusaha memenuhi janjiku padamu, belajar bahasa Inggris dan belajar di luar negeri. Terima kasih buat persahabatan, perhatian, kata-kata keras, pencerahan dan semuanya. Terima kasih buat gorengan yang engkau bawakan pada sore-sore di ruang Cattel…

Buat teman-teman, maafkan semua kesalahan beliau dan mohon doanya agar beliau damai di sisi-Nya

Damai di bumi. Damai di hati

Murid, Anak dan Sahabat

Bukik

Berikut beberapa kutipan yang seliweran di twitter. 

“Ketika kamu berilmu, janganlah menjadi Tuhan untuk orang lain.” #InoYuwono (via @child_smurf)

Beliau mengajarkan tentang “berat”nya kata s.psi di belakang nama kita #InoYuwono (via @fikar_diansyah)

Simpan uang baik2 untuk anakmu. Jangan biarkan anakmu dididik sama orang-orang yang gak punya integritas pendidik #InoYuwono (via @ardinouv)

Tulisan lain mengenai Pak Ino yang rencananya akan dibukukan dapat dilihat di http://bit.ly/BukuIno | Beberapa komentar panjang di posting ini juga diseleksi untuk masuk dalam buku. 

Dulu lagu ini lagu penutup workshop Appreciative Inquiry (SOAR) bareng Pak Ino dan Mas Made

Incoming search terms:

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

54 thoughts on “RIP Ino Yuwono: Ketika guru lain pergi, guru ini tetap bersama muridnya”

      1. Saya bukan mhsiswa psiko unair, tp smpat tau Pak Ino.

        Saya termasuk ngefans sm Bapak ini yg sdh Ubanan tapi punya wibawa yg khas mnrt saya.

        Saya smpt mngikuti info berita duka beliau, mulai dari status FB yg diposting oleh slh 1 dosen yg mengabarkan berita duka tsb, note, blog dan twitter mengenai Rip Pak Ino. Sampai acara tutup peti hari ini di psiko.

        Awal tau beliau, pas ga sengaja lihat beliau pas lewat psikologi, wktu ada acr apa gitu di psiko (gedung lama). Di dpn pintu masuk lobby ada drum, nah pas lewat Pak Ino lagi main drum sambil ketawa2. Dlm hati : “gaulx tuh dosen, pasti dsenangi byk mhssiswanya. Pasti enakk ngajarnya.” *setelah baca bbrp blog, trnyata byk yg ketakutan ya, kalo saya mgkin jg bakal deg2serr jg seandainya diajar beliau..

        Kebetulan kk saya dosen psiko, dan krn sering ke psiko, jadi tau kalo yg kmrn saya lihat itulah Pak Ino.

        Pertemuan selanjutnya ketika pak ino datang ke sumut. Sempat foto bareng sama pak Ino, dirangkul lagi kemarin.hehe, bangga rasanya punya ksmpatan foto bareng Beliau (sosok yg dikagumi di psiko) *walaupun saya gak pernah lihat itu foto, ada atau gak, kebakar atau kehapus.haha..

        Kesan saya, walaupun cm berinteraksi sebentar dgn beliau, beliau itu ramah, energic dan inspiratif, rendah hati.
        Beliau punya spirit & style sndiri dlm caranya mengajar (after sy baca bbrp blog, note & postingan ttg beliau).

        Jadi pingin ngerasain diajar sm beliau (wlaupun sdh ga mungkin) dan sy jg terinspirasi tentunya lwt style beliau yg Bapak/Ibu & teman2 posting :’)

        Terimakasih,
        Semoga Bpk InoYuwono diterima disisi Tuhan..

        Dan smga visi misi beliau bisa dilanjutkan oleh generasi muda InoYuwono..

  1. Langsung mewek bacanya.. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    satu-satunya guru yg klo mau dicium tangannya malah balik cium tanganku.. Setiap salaman pasti cium tanganku.. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)

  2. Sangat inspiratif. Terhenyak, ketika sadar bahwa skrg kita telah kehilangan seorang maestro di dunia pendidikan psikologi. Selamat jalan Pak Ino. Belum pernah saya merasa kehilangan sebesar ini.

  3. Suatu sore, di saat mata sepet, badan lengket, mau kuliah kalo ga demi absen kayanya males bgt bagi mahasiswi bandel ky saya buat ngampus. Tapi ketika liat jadwal, “psi-kepri II”. Hmm, ketemu Pak Inoo. Somehow, setiap ikut kuliah beliau adalah biasa ketika timbul rasa deg2an, takut ktm, takut tugasnya salah dll. Tapii segenting apapun suasana kuliah nanti, pasti akan sanggup terkalahkan dgn antusiasme untuk mendengarkan beliau bercerita. Ya, cerita apapun itu selalu setia buat kudengarkan, gatau cerita ttg topik kuliah, pengalaman beliau pas kuliah, salah satu kegiatan harian beliau like “ditilang polisi, trs polisinya ngambek sm beliau :D” dst. Intinya segalak apapun, sekasar apapun, sesengak apapun beliau, saya selalu suka dgn kuliah beliau. Semangat itulah yg mendorong kakiku buat bergerak dan join ke kelas beliau. Back to topik kuliah Psi Kepribadian II, saya lupa saat itu membahas teori kepribadian apa. Yang paling mengena saat itu adalah topik pembuka kuliah, yaitu membahas tentang astrologi. “Kalian suka ga ngikutin ramalan bintang?” Yg cewe kompakan jawab Sukaaaak!!! “Trs bs ga ramalan bintang menunjukkan kepribadian sso?” Diemmlah kita “coba km, bintangmu apa?” Gemini Pak “sapa lagi disini yg bintangnya sama?coba skrg, gemini satu sama gemini dua, karakternya sama ga?” Iyayaa sambil nyinyir :D (gumam kita).
    Setelah melalui intro kuliah dgn topik tersebut, masuklah buat ngebahas teori kepribadian yang dijadwalkan, dan kalo ga salah itu tahun 2006 wajarlah kalo lupa pas itu lg ngebahas teori yang mana :D
    Di tengah2 kuliah beliau melontarkan pertanyaan kepada kelas “Sebenarnya apa sih gunanya belajar psi kepribadian?” Dan tau2 beliau menghampiriku. Dengan sotoynya kujawab “untuk memudahkan kita saling menghargai satu sm lain” beliau tdk membenarkan dan mengiyakan sih, cm mengulang jawabanku dan menambahkan kata “berhasil” di dlmnya. Maksudnya kalau kita sudah bs menghargai org lain, itulah baru bisa dibilang kita berhasil atau pencapaian dlm belajar psi kepri. Mungkin yg sy tulis skrg tidak sama persis dgn kejadian saat itu. Yang saya tahu, saya tahu itu tercipta dari momen saya dengan Pak Ino.
    And till now, itu bener2 nancep di otak dan hati saya, sampai sekarang dan detik ini :’) sebagai salah satu value hidup saya.
    Superb Thanks Sir! Nothing but thousand prays for you..

  4. Pak ino memberikan perubahan dlm diri saya mgkn bkn dg cara yg sopan..tapi keras bahkan kritikan tajam. Masih segar diingatan saya ketika hasil UAS mata kuliah teori organisasi saya diberi nilai D oleh beliau.. Beliau bilang “goblok kamu”.. kata2 tsb kemudian menjadi pemicu saya utk terus belajar.. Berawal dari mengulang 1 semester mata kuliah tsb, saya mulai belajar sungguh2 membaca text book yg tebal dan memahami isinya.. Dari proses tersebut saya baru merasakan “nikmat”nya proses belajar, bahwa membaca text book sama menyenangkan nya dg membaca novel..

    Terima kasih pak ino.. semoga bapak diberikan tempat terbaik disisi tuhan

  5. Santi,bikin kopi…santi bikin teh…santi fotokopi…kata pak ino waktu di lp3T…dipikir besok kamu kerja S1 gak bikin kopi…kubuat teh sambil ngomel…waktu berlalu,aku kerja di perusahaan asing eh ternyata vice presdirku juga sama…santi bikin teh…santi bikin kopi…santi fotokopi…dari hal sekecil itu justru aku jadi anak kesayangan bos,gak pernah kena marah krn dia tau bahwa apapun yg kita kerjakan akan mendapatkan hasil sekecil apapun itu…tengkiu pak ino,memberikan pelajaran apapun pekerjaan kita,sekecil apapun kerjaan kita pasti ada sesuatu yg lebih besar dibaliknya…

  6. Saya alumni angkatan S. Inggris ’90 Unair. Meski Pak Ino bukan dosen saya, saya terkesan dengan caranya menyapa saya duluan dan seulas senyumnya yang senantiasa bersahabat. Selamat jalan sang guru yang rendah hati…Ilmumu yang tanpa pamrih Insya Allah jadi penerang jalanmu ke hadirat Allah SWT. Amin

        1. maap smalem pake henpon wes males mindah2.. :(

          hufff semoga adek2 kelasku di psikologi bisa mnghayati, bahwa sarjana psikologi itu bukan cuma gelar akademis, tapi juga harus mengasah rasa di hati.. *nangis deh aku*

          dan aku bersyukur bisa menghayati itu, salah satunya karena yang mendidik psikologi kepribadiannya adalah pak Ino <3

  7. Mas Bukiiiikkk..pagi2 udah bikin airmata berderai :(

    Aku nggak pernah diajar pak Ino di kelasnya. tapi ada beberapa hal yang aku ingat…
    Ketika beliau baru pulang dari luar negeri, aku masih terhitung maba.aku bertanya2, siapa dosen yang jarinya patah itu…lalu ada juga kalau nggak salah hidungnya juga….guyonannya hanyalah, nyawanya ada banyak. jadi hal2macam itu nggak akan membuatnya mati.

    Beberapa semester setelahnya, baru kukenal beliau pas aku magang di lp3t. beliau sebagai penasihat, memberiku perintah ini itu. waktu itu deadline sangat ketat & aku tolak perintah beliau itu (tepatnya aku lupa). dan beliau langsung berkomentar pedas yang menyatakan kok bisa2nya aku ndak mau nuruti perintahnya. aku bilang,” lha bos saya bu antin.” Beliau langsuung tertawa keras & memanggil bu antin.”Sopo arek iki, Tin. jare anak buahmu”. Bu Antin hanya senyum2. Dalam hati saya sempat takut beliau marah. Beliau bertanya,” Kamu anak apa kok sy ngggak pernah lihat.” Saya jawab, saya anak perkembangan. Trus beliau bilang,” Pantesan kok sy nggak pernah lihat. Coba kamu anak PIO, pasti sudah saya ajar ya.”Tapi dari situlah beliau jadi beberapa kali memberikan topik yang ‘ajaib’ untuk diperdebatkan.

    Termasuk juga karena hari ulangtahun saya yang sama dengan beliau, beliau bilang,” Kamu harus traktir aku Haagen Daz kalau ulangtahun” Jaman itu (bahkan sampai sekarang) ice cream itu termasuk mahal di kantong. Jadi….maaf pak Ino..sampai sekarang saya belum bisa mentraktir bapak….

  8. Walau hanya 1 semester sy diajar mata kuliah Psíkologi Umum di psikologi ubaya,msh teringat kata2 beliau,saat sy pernah diusir krn datang terlambat. Bagaimana km bs mencintai & menghargai dirimu sendiri bila dg waktu saja kamu bisa melupakan,ingat îτϋ sàtu Şátü saat kamu akan ingat kata2 sy ini….
    Selamat jalan pak Ino,semua sangat kehilanganmu,tp Tuhan lbh mencintaimu…rest in peace

  9. Dulu wkt jd mahasiswa PIO,sy merasa waktu mengambil mata kuliah P Ino adalah hal yang plg menakutkan.karena itu sy sering duduk di bangku belakang,tp entah knp P Ino srg menyadari dan sy akhirnya mndpt pertanyaan,kalau g bs siap2 aja mndpt komentar pedas.smp akhirnya ketika sy ujian skripsi,p ino menjd penguji saya.memang beliau kpgn jd penguji sy dan sdh disampaikan jauh2 hari.untg sy bs menjawab pertanyaan bpk walaupun tegang.kalo diinget2 kegalakan P Ino g ada apa2nya ketimbang kejamnya dunia kerja.untg dl srg digalakin P Ino jd lbh tough ktk berhadapan dgn permasalahan pekerjaan dan lingk.kerja

  10. hmm,kayakna udah ga ada kata2 selain selamat jalan Pak Ino, bahagia disana. Dia ga cuman dosen yg ngajar mata kuliah ttt tp sangat menginspirasi banyak orang. saya merasa sangat terinsiprasi saat harga diri kita terkoyak. pertanyaannya nonjok bgt…Anita,menurut km aktualisasi diri ada ga sih??ya ada lah….bapak menjawab ga ada, itu cuma teori….begitulah suasana kelas mengalir apa adanya, qt lebih banyak tanya jawab ttg kehidupan ga cuman apa yg ada di diktat. bahkan dosen di kampus depok pun ga ada yg nyentrik kayak beliau, belum ada yg bisa menginspirasi sedemikian hebatnya..

  11. Pak Ino…sosok guru didalam maupun diluar ruangan kelas…beliau tidak hanya kaya akan ilmu pengetahuan tp jg ilmu kehidupan… Setiap kata yg beliau lontarkan bisa meninggalkan kesan tersendiri ataupun memberikan pelajaran yg sgt berarti bagi lawan bicaranya…
    Sosok jenius yg sangat rendah hati.. Mampu menyatu dgn berbagai kalangan… Dosen senior dgn byk ilmu yg masih mau sekedar menyapa, memulai percakapan sederhana, mengaajak diskusi ataupun bermain pingpong dgn mahasiswanya.. Sosok yg sangat berkarakter dan memberikan makna bagi banyak orang.. Meskipun mungkin slm menjadi anak didiknya saya tdk begitu byk melakukan interaksi dgn beliau.. Namun interaksi yg tidak banyak itu mampu memberikan pembelajaran yg cukup besar bagi saya dan membuat saya mengagumi beliau.. Selamat jalan pak Ino.. Smg bapak mendapat tempat terbaik disisiNya … Kami akan slalu mengenang jasa bpk dan menjadikan bpk sbg panutan.. Terimaa kasih utk semua ilmu dan teladannya..

  12. Kenangan tak terlupakan ketika diberi uang pak ino untuk membeli rujak manis, saya diajarkan bgmana cara mengolah hal kecil yg bisa menguntungkan, smpe beliau rela memberi modal smpe modal itu kembali…janji ke pak ino adalah memberikan rujak manis namun beliau mengganti dengan bakso dikampus….pak ino jg membantu sy memutuskn apa pkrjaan apa yg mnrt saya enjoy..beliau tdk mmksa yg pntg kerja cri uang dlu br stlh itu bgmn cr qt bs membuka lapangan kerja buat orng lain..

    Maafkan kesalahan saya slama ini pak ino
    Selamat jalan pak ino kenaganmu slama saya di psikology tdk akan terlupakan

  13. “wo wo… mbak2mu ayu ayu, tantemu ayu ayu, raimu kok uelek ngono…. lek sikapmu podo eleke koyok raimu yo percuma ae koen urip wo… kene, aku njaluk rokokmu…”

    Suwun Pak Ino, semoga sikapku bisa semakin baik setiap harinya, sehingga hidupku tidak percuma.

    Ashes to ashes… dust to dust… but your spirit keep remains within us. So long dear good Sir. Have a safe journey. :)

  14. Sebenarnya sejak awal kuliah, aku sudah banyak mendengar hal besar dari seorang Ino Yuwono. Namun rasa kagum dan salutku terhadap Pak Ino dimulai ketika aku join kuliah beliau pada 2 semester akhir masa perkuliahanku di Unair. Saat itu aku bukan anak PIO tapi justru karena rasa penasaran terhadap cara mengajar Beliau dan PIO, membuatku mengambil beberapa mata kuliah Beliau sambil mengerjakan skripsi.
    Ketika di kelas setiap kali Beliau selesai menerangkan, Beliau selalu bertanya kepadaku dengan gaya bahasanya yang khas : “wes ngerti, ndut?”. Jujur tidak pernah sekalipun aku tersinggung dengan panggilan-panggilan yang Beliau lontarkan apapun itu. Aku justru merasa Beliau memberikan perhatiannya kepada mahasiswa2nya…..
    Walau sebentar mengenal dekat sosok Beliau, namun tidak akan terlupakan semua hal yang Beliau ajarkan tentang kehidupan dan bagaimana Beliau menyentuh hidupku sebagai manusia.
    Selamat jalan Bapak….. Aku yakin Bapak sudah tersenyum tenang disana….
    Love u, Sir…..

  15. Petuah Yang Menguatkan……

    Pak Ino, masih saya ingat saat pak Ino mengajar kepribadian,dan menanyai saya,”pacaran berapa kali?aq jawab”1 kali pak”.kata pak Ino “Pacaran tu bbrpa kali,biar kamu tau kepribadian macam2 orang”…benar,stelah itu aku menjalani pacaran bbrpa kali dan lbh tau karakter dan kepribadian orang lain, Saya jadi tahu bahwa dunia ini luas,dan masih banyak yg bs kita lakukan selagi masih muda” dan jangan takut melangkah dan meninggalkan masa lalu yg tidak membuat kita bahagia”

    …trimakasih banyak atas petuahnya..
    masih saya ingat Petuah Pak Ino” Jadi Psikolog itu jangan merasa menjadi Tuhan,krn yang tau Nasib kita hanya Tuhan”

    Bapak, petuah dan kritikan bapak memang pedas,dan mungkin ada yg sampai takut,saat dikatakan “goblok” Gak becus dll,namun krn semua itulah..Kami bisa Memahami arti hidup yg sebenarnya, dan kami bisa memahami kepribadian dg cara yg lebih variatif.

    Saya segenap hati berterimakasih dan Berdo”a agar Pak Ino diterima di sisiNyA… Kami akan merindukan Petuah bapak……Untuk selalu menguatkan langkah kami.

  16. Berinteraksi pertama kali dengan Pak Ino ketika mengambil mata kuliah MPK (Metode Pengambilan Keputusan). Mata kuliah ini cukup menarik karena dua hal, selain buku ajar yang cukup menarik yang diulas oleh Kuntoro Mangkusubroto dengan gaya teoritis-sistematis, dosen pengajarnya adalah Ino Yuwono yang mengulas proses pengambilan keputusan secara praktis-filosofis. Maka pertanyaan Pak Ino pertama adalah “Apa itu masalah?”; seperti yang teman-teman lain alami serentetan percobaan jawaban dilontarkan hasil dari Pak Ino menunjuk satu-satu mahasiswa/i yang ikut dengan julukan ajaib “Ndut, opo jawabanmu!”, “Koen perek, opo iku masalah?”. Ketika tidak ada jawaban yang mendekati, maka pertanyaan selanjutnya “Kalian punya masalah atau tidak?”, “Apa masalahmu?” sampai pada “apakah masalah itu harus diselesaikan?” tanya beliau dengan gaya pongah dan menantang kognisi berpikir. Tidak sampai disitu, Pak Ino memiliki pendekatan dengan menurunkan contoh pada kasus unik. “Misale, bojomu impoten permanen utowo frigid, masalah ga?”, “yok opo nyeleseknoe?”, “apakah harus diselesaikan?” yang disusul dengan tertawa terbahak ala beliau sambil menghembuskan asap rokoknya..

    Interaksi yang lebih intesif di luar kelas dan kampus terjadi 12 tahun yang lalu, ketika beliau masih usia 40-an dan dengan Mitsubishi Lancernya.. Pak Ino sebagai trainer di sebuah perusahaan swasta. Selain Bu Yulistiani Rahayu, Bu Dyah Adzani Ambarwati dan Pak Endy Fatah Yusuf, gaya “semau gue” Pak Ino memberikan warna pada style saya di dalam kelas-kelas di perusahaan saya bekerja baik pada sesi training, sosialisasi, coaching, couseling maupun mentoring beberapa orang di tempak kerja -tentunya kapasitas kognitif saya sangat jauh dari mirip apalagi sebanding.. Sempat pada suatu waktu di 12 tahun yang lalu, Pak Endy menceletuk “wah, gayane wes koyo Pak Ino.”.

    Bertemu terakhir dengan Pak Ino tahun 2008 ketika saya ada kesempatan sharing session mengenai “Targeted Selection Interview” di kampus. Bertemu beliau kembali, saya haus akan filosofi praktis dari beliau. Selain filosofi masalah, kali ini saya berkesempatan “olahraga otak” mengenai “apa itu motivasi?”. Saya meringis saja pada waktu itu tanpa menjawab apa-apa ketika retoric question dilemparkan mengenai apa itu motivasi. Tidak lama kemudian pak Ino memberikan clue-nya. “Motivasi itu aku entuk opo!” itu filosofis menurut beliau. “Bener gak za?” seolah-olah meminta konfirmasi yang tidak perlu. “Nang kelas iku, mahasiswa diajarin jurus macem-macem tentang motivasi, tak takoni opo iku motivasi gak ono seng iso jawab..” Ketawanya memecah keheningan di ruangan khususnya – yang memiliki 2 exhaust untuk mengakomodasi asap rokok. Lebih dari 4 tahun tidak ketemu beliau, seolah-olah saya harus berani memikirkan sendiri hal-hal secara sederhana yang aplikatif di tempat kerja. Banyak teori yang sulit-sulit mampu dibahasakan dengan sederhana oleh beliau.. Kira-kira siapa yang bisa jadi pengganti beliau jadi perpustakaan praktis-filosofis mengenai manusia dan kehidupan?

    Hal lain yang saya amati mengenai Pak Ino ketika bertemu terakhir dan melihat di berbagai media sosial mengenai Pak Ino, beliau semakin humanis. Beliau menikmati sekali berinteraksi dengan siapa saja yang mampu memuaskan olahraga kognisinya atau setidaknya enak untuk dijadikan bahan ledekan..

    Obrolan mengenai beliau sempat saya lakukan dengan Prof. Djamaludin Ancok ketika saya mengambil mata kuliah beliau di UGM. “oh, kamu muridnya Ino?”, “Apa kabarnya Pak Ino?”. Kesan Prof. Ancok mengenai Pak Ino sangat baik, “dia itu pintar”. Mendapat predikat sebagai muridnya Pak Ino membuahkan hasil yang baik yaitu nilai A pada 2 mata kuliah Pak Ancok: Organizational Behavior dan Strategic Leadership. Dan tentunya, thesis juga A.

    In a nutshell, Pak Ino was one of my best mentors who coloring my life and career..

    Hope there will be thousands of Ino Yuwono soon after his leaving! You? You? You? You? You? You? You? You? You?

    Me? Sure!

    Your mentee,
    Mirza Abdillah

  17. TIGA PULUH TAHUN MERENDA PERSAHABATAN (I) :
    SANG JURAGAN SISIR

    Aku mengenal mas Ino, demikian biasa aku memanggil setelah tidak menjadi mahasiwinya lagi, di saat aku masih 18 tahun, sebagai mahasiswi Psikologi angkatan pertama tahun 1983. Persahabatan kami dimulai pada semester ke 2 melalui MK Statistik dan Aliran-Aliran Psikologi dan diteguhkan dengan nilai D dan E hampir seluruh kelas, yang saat itu berjumlah 60 orang. Maka muncullah julukan JURAGAN SISIR, saking banyaknya nilai E yang ditebarkan.

    Sebagai angkatan pertama, fasilitas tentu tidak semudah didapatkan. Tidak ada materi dalam bentuk hands-out, seperti teman-teman FISIP lainnya, tidak ada buku dalam bahasa Indonesia. Semua bahasa Inggris. Begitu sulit membaca buku filsafat Aliran-aliran Psikologi dalam bahasa Inggris, padahal ketika itu aku sdh mengantongi sertifikat lulus Book 1 – 6 dari LIA (Lembaga Indonesia Amerika – dibawah foundation Pemerintah Amerika). Sosok Ino Yuwono menjadi semakin menakutkan, karena setiap kami naik tingkat setiap itu pula beliau akan mengikuti. Tidak ada tempat untuk lari darinya, selain terpaksa mencintainya, bila tidak ingin molor kuliah.

    Semester 2, IP meluncur gara2 Statistik dan Aliran Psikologi. Pak Agus sebagai Dosen Wali membatasi pengambilan kredit, tapi aku memaksa mengambil lebih. Ada target belajar yang aku tetapkan, karena aku bukan anak orang berlebih. Pak Agus ragu-ragu memutuskan. Aku bilang : “ Bapak, Kewiraan aku target B”, Bahasa Inggris A”…… Ini semata-mata untuk memotivasi diriku sendiri. Juragan Sisir ternyata mendengar obrolan itu :
    IY : “ Sombongnya, berapa kau target untuk mata kuliahku ? Psikologi Belajar? Diagnostik?”. Merasa marah, tertantang, malu maka spontan aku menjawab “ B” dengan yakin.
    IY : “ Bener ya, ayo salaman. Kalau kau dapat nilai dibawah B kau harus traktir aku bakso, tapi kalau kau yang menang aku beri kau Rp. 10.000,- “
    Berapakah nilai Rp. 10.000 pada tahun itu? Banyak sekali. Sebagai gambaran uang semesteranku Rp.42.000,-

    Sebuah kegilaan menerima tantangannya, karena bersiaplah menerima akibatnya. Maka dimulailah pergulatan panjang, penderitaan belajar tiada henti, belajar bersama, diskusi bersama bagi yang menerima tantangan. Bagiku sendiri tambahannya ialah memberi les untuk membayar kuliah & beli buku, berantem dengan ibu karena aku sering pulang malam (jam 23.00) dan tidak membantu pekerjaan rumah . Ada lagi tugas yang menjengkelkan : menerjemahkan kode etik psikologi dari buku Anastesi DITULIS TANGAN !!!! Berlembar-lembar…ampun Inooooooooo, begitu berat tugasmu ketika itu.

    Disisi lain, tampaknya Beliau sendiri melakukan introspeksi dalam mengajar. Hanya beberapa orang yang berani mengambil MK nya. Maka dalam bentuk lingkaran, dimulailah membahas Psi Belajar juga Psi Diagnostik dengan mengacu HANYA 1 buku saja untuk tiap MK. Setiap dari kami WAJIB pegang 1 fotocopy buku, hasil menyisihkan uang jajan. Maka Sang Juragan mulai mengajari cara membaca buku texbook, lembar demi lembar, dijelaskan dengan analogi yang sederhana. Ani dan Faruq yang ketika itu memiliki ‘cerita’ menjadi sasaran empuk, ketika membahas teori Pavlov. Demikian pula Anita dan pak Ogah. Beliau selalu punya sasaran, siapa-siapa yang akan dijadikan korban percontohan. Perlahan-lahan kami mulai mengerti cara membaca buku, memahaminya. Kelas mulai hidup, kami mulai bisa menjawab, mulai bisa bertanya. Dan ??? Dalam 1 semester Sang Juragan hanya berhasil menyelesaikan 6 Bab dari 11 Bab (kalau tidak salah). Bukan sebuah prestasi kalau dilihat dari jumlah!

    Tapi apa yang terjadi kemudian…..??? Horeeeee……..kami bisa MEMBACA, sungguh-sungguh bisa MEMBACA. Ajaib. Tanyakanlah pada seluruh angkatan 83 bagaimana penderitaan itu dimulai dan bagaimana kami memetik hasilnya. Mulai dari saat itu kami melahap habis semua buku yang diberikan. Semuanya, tidak ada protes, tidak ada keluhan. Pada saat itu kami sudah kaya dengan koleksi buku, meskipun fotocopy. Kalau Prof. Maramis datang dari Amerika, beliau akan membawa buku bagus-bagus, maka kami akan mendaftarkan diri : aku…aku…aku, punyalah kami koleksi buku lagi. Ketika Pak Jangkung pulang dari Inggris membawa seabrek buku…makin kayalah diri kami. Suatu kali, sebelum beliau berangkat ke Amerika untuk studi S2 nya di perpustakaan peninggalan Alm. Lauw Tjiang Lok beliau bertanya : Kok kalian sekarang tidak ada yang protes diberi Pak Jangkung berapapun buku yang harus dibaca ???????
    ( Bukik, rasanya aku lebih beruntung darimu karena aku dapat ilmu membaca)

    Lalu bagaimana dengan perjanjianku ? Untuk 2 MK itu aku mendapat B. Bahagiaku luar biasa, dunia jadi milikku sepenuhnya. Maka dg yamaha bebek, aku membonceng Ani dan dengan scooter cokelat tua, Sang Juragan membonceng pak Jangkung. Kami makan bakwan Kalidami sepuasnya ….kurang dari 10.000 kukira, kenyanggggg, nikmat luar biasa !!! Sebuah perjanjian sederhana yang mewarnai kehidupanku selanjutnya hingga usia 48 tahun lebih.

    Itulah awal persahabatanku dengan Mas Ino Yuwono…sebelum kami merenda persahabatan bersama sepanjang 30 tahun, dalam tawa, kesedihan, airmata, ejekan terhadap diri sendiri, semangat pantang menyerah menjalani kehidupan yang kadang-kadang tidak bersahabat. Jadi ? Kalau ada orang yang bertanya padaku, kenapa aku bisa membaca buku bahasa Inggris, menerjemahkan dengan cepat ? Itu karena Sang Juragan Ino Yuwono. Kalau ada orang yang bertanya kenapa aku bisa membaca buku yang ‘berat-berat” itu karena Ino Yuwono. Kalau ada yang berkomentar bahasa tulisku bagus…itu juga karena dia…bahkan kegilaan-kegilaan dan semangat untuk tahan terhadap penderitaan. Juga semangat untuk rajin membaca. Maka begitulah, ketika mengenal Mirza Abdillah dan Faiz yang memborong semua bukuku, maka aku relakan dengan kalimat : Balikin, Cuma itu hartaku !!!

    Ketika anakku kemudian mendapat beasiswa AFS ke Amerika dan kemudian beasiswa Erasmus Mundus ke Turki, maka beliau adalah orang yang mendapat urutan untuk kubagi kebahagiaan dan keharuanku. Dia tahu dengan sesungguhnya, di atas kertas aku tidak mungkin menyekolahkan anakku ke LN. Tapi semangat itu, sikap tahan banting, kerja keras dan kejujuran serta integritas yang dicontohkannya padaku, kuwariskan juga pada anak-anakku. Ia mengajari kami untuk jujur, maka aku (dan kukira teman-teman angkatan 83 lainnya) tidak pernah mencontek selama masa kuliah. Tidak percaya ??? Silahkan tanya pada angkatan 83 yang anda kenal. Maka akupun mengajari anak-anakku untuk berlaku jujur : bukan hasil yang penting, proses belajar itulah yang penting !!!.

    Yulis, my mind, my soul sangat baik dan sehat, tapi kerandaku semakin tua dan lemah. Kalau Gusti Allah menghendaki, aku sudah siap. Yul, I’m still ok, so..so, don’t worry. Just feel tired. Begitu beberapa bunyi beritamu padaku. Tidak seorangpun tahu, barangkali dirimu memang sudah merasa begitu lelah dalam semangat dan pengabdianmu. Tapi Gusti Allah Maha Tahu karena itu telah menuntaskan tugasmu. Aku tahu kau tidak ingin aku menangisi kepergianmu berkepanjangan. Bukankah telah kau wariskan banyak hal kebaikan padaku? Badanmu hanyalah keranda akan, tapi pemikiran-pemikiranmu, sikapmu, segala ‘kedirian’mu akan tetap hidup di hati para sahabat-sahabatmu, juga di hatiku.
    Thanks GOD for letting you to be part of my life

    Yulis
    ( Mengenangmu : 6 Desember 2012)

  18. Saya sudah berhenti menangis, bukan berarti saya berhenti bersedih dan kehilangan. Tapi, saya mengambil kutipan dari sebuah film favorit saya, “jika kamu mencintai seseorang, ketika dia pergi untuk mendapatkan kebahagiannya, maka yang harus kamu lakukan adalah tersenyum dan mendoakan demi kebahagiannya…” (you are the apple of my eye, 2011). Saya yakin, hati ini sudah jatuh cinta dengannya sejak pertama bertemu, walaupun pada akhirnya raga ini menolak. Selamat jalan, Pak…. Semoga engkau selalu berbahagia disana. Saya akan mendoakanmu disini, dan mencintaimu sampai kapanpun… :)

    Ini tulisan saya tentang Pak Ino;
    https://www.facebook.com/notes/sekar-kirana-hermianto/inspirator-dari-inspirator-inspiratorku-farewell-mr-ino-yuwono/10151273609309526?comment_id=24264953&notif_t=note_comment

  19. Waktu ditelepon anakku aku lagi ngantor..
    “Ma, pak Ino meninggal…”
    Dan gak pake komando aku mbrebesmili… entah kenapa jadi sedih banget, nangiiss

    Padahal waktu kuliah aku gak terlalu akrab dengan beliau.. karena gaya kami gak “klop”
    Belakangan lewat anakku aku banyak mendengar cerita tentang pak Ino
    Hampir setiap pulang liburan Laras selalu cerita tentang pak Ino..pak Ino dan pak Ino
    Dan entah mengapa aku selalu mendorong Laras untuk ambil PIO, meskipun dia menolak keras dengan alasan ‘serem’ ketemu pak Ino..
    Perasaan yang 25 tahun lalu aku rasakan…

    Selamat jalan pak Ino..
    Kritikan pedasmu telah berbuah manis dalam perjalanan hidupku..
    Terima kasih telah mencambukku,
    Menantang egoku .. Dan menjadikan aku tangguh
    Semoga Tuhan memberikan tempat terbaik bagimu disisiNYA

  20. Seandainya saja saya bisa belajar langsung dari beliau, sangat disayangkan, mungkin saya terlalu awam hingga baru tau kalau ada orang seperti pak Ino justru setelah dia telah meninggal dunia, itupun karena saya kebetulan melihat twit twit dari om bukik dan akhirnya penasaran.

    Jujur saja, saya sangat menyukai psikologi, tapi sampai sebelum saya membaca artikel ini rasa suka terhadap ilmu satu ini masih hanya sebatas suka yang tidak pernah dibarengi dengan rasa penasaran yang kuat, barulah disaat menuliskan komentar ini, saya menyelipkan sebuah tekad untuk belajar tentang psikologi lebih baik lagi, mungkin bukan dibangku kuliah, mungkin saya hanya bisa belajar dari buku-buku saja, absurd. Naif.

  21. Innalillahi wainnalillahi radjiun… turut berduka cita,,semoga alm diterima disisi Nya.. amin,, saya hanya sekedar googling tadi,, membaca tulisan ini dan ternyata sosok Ino Yuwono membuat saya teringat akan beliau.. sempat kaget dengan kepergiannya.. meski saya bukan murid beliau tapi saya sempat beberapa kali ketemu. Saat saya menjadi panitia penyelenggara konsulting terkait hrd.. seingat saya beliau sangat ramah, supel, humoris dan sangat disiplin dalam mengajar,,, saya sempat diberi masukan dan video motivasi dari beliau… ditambah lagi beliau sangat menjaga kesehatan terutama dalam pola makan,, saya rasa setiap orang yang bertemu dengan beliau pasti senang..sekali lagi selamat jalan Bpk Ino.. rest in peace

Gimana komentarmu?