RIP Ino Yuwono: Ketika guru lain pergi, guru ini tetap bersama muridnya

Setiap orang punya guru, orang yang memberi pelajaran hidup, orang yang menginspirasi kita buat mengubah jalan hidup. Bagiku, Pak Ino adalah guru kehidupanku.

Aku seharusnya tidak diajar Pak Ino. Dulu aku mengambil peminatan psikologi sosial di Fakultas Psikologi Unair. Perjumpaan terjadi karena MPK (Model Pengambilan Keputusan) jadi matakuliah wajib yang harus diambil. Pak Ino adalah dosen PJMK untuk matakuliah itu. Dari ruang kelas itulah perubahan mulai terjadi

Aku masuk kelas itu sebagai seorang aktivis dengan kepongahan masa muda. Aktivis sosial yang punya pandangan minor terhadap dosen psikologi industri dan organisasi (PIO). Bahwa PIO adalah kapitalis, pemeras keringat rakyat. Pandangan itu mewarnai pertanyaan, tanggapan dan kritikanku terhadap beliau. Tanggapan beliau? Beragam, ada yang sependapat, tapi seringkali bertolak belakang, bahkan tidak jarang mengejek.

Pada akhirnya aktivis sosial itu, iya aku, mendapat pukulan telak ketika bicara mengenai misi hidup. Untuk apa hidup? Untuk apa kuliah? Dapat nilai bagus? Buat apa bekerja? Sekedar mengejar uang? Pertanyaan-pertanyaan yang tidak kusangka keluar dari seorang dosen PIO. Pertanyaan apa itu? Apa hubungannya sama matakuliah MPK? Absurd memang

Tapi pertanyaan dan diskusi tersebut yang meneguhkan aku untuk serius kuliah. Aku meninggalkan belajar dari fotocopy catatan teman, dan mulai membaca buku teks bahasa inggris. Aku bodoh bahasa inggris. Tapi berkat beliau aku bisa tahan baca buku tebal bahasa inggris, berulang-ulang. Iya berulang-ulang biar benar-benar paham. Pusing? Iya. Ngantuk? Jelas. Muak? Sering. Tapi memang inilah pilihanku, kuliah untuk belajar, bukan untuk mendapat nilai bagus.

Awalnya dari fotocopy catatan menjadi buku teks, selanjutnya dari buku teks ke berbagai bacaan lain mulai jurnal dan novel-novel bermutu. Aku merasa terus dikejar, terus ditantang oleh Pak Ino untuk selalu belajar melampui batas-batas normatif. Belajar bukan sekedar karena kuliah, tapi belajar karena kita hidup. Belajar apa saja, bukan sekedar apa yang diajarkan.

Mulailah petualangan intelektualku. Aku mengenal Capra dan Teori Fisika Kuantum berkat Pak Ino. Tidak puas dengan penjelasannya. Aku baca buku-bukunya Fritjof Capra hingga The Dancing Wu Li Masters dari Gary Zukav yang bahasanya sangat teknis. Aku mencoba belajar memahami konsekuensi penemuan Fisika Kuantum terhadap psikologi dan kehidupan.

Pak Ino mengajarkan psikologi bukan sekedar pengukuran kuantitatif terhadap perilaku manusia, tapi penghayatan terhadap pengalaman hidup. Buat yang mengenal Pak Ino terlebih dahulu, pandangan ini mungkin aneh karena Pak Ino adalah jagoan statistik, jagoan bikin alat ukur. Aneh memang kalau memandang Pak Ino dari kulit luarnya.

Pak Ino adalah paradoks. Ia mengubah orang dengan cara-cara yang ajaib. Bisa dengan cara positif, tapi bisa juga dengan cara negatif. Bisa dengan cara sopan, tapi bisa juga dengan cara kurang ajar dan kasar. Ia bisa memberi pujian, sebagaimana ia memberi kritik. Ia bisa memberi hadiah, sebagaimana ia memberi hukuman. Tujuannya? Agar orang belajar. Titik.

Pengaruh Pak Ino terlihat di skripsi dan tesisku. Bukan materi atau topiknya. Pak Ino tidak mendikte topik. Tapi pengaruhnya pada semangat belajar itu. Aku mengerjakan skripsi dengan topik Repertory Grid, topik asing di Indonesia. Aku belajar dari Google dan diskusi dengan banyak orang. Tesisku mengenai Appreciative Inquiry, sebuah pendekatan yang belum dikenal banyak orang pada waktu itu (tahun 2005). Aku belajar dari Google dan diskusi dengan banyak orang.

Pak Ino mendukung penuh semua orang yang mau belajar. Ketika awal aku mengembangkan Appreciative Inquiry, Pak Ino adalah supoter utama. Ia mendukung bukan hanya dengan omongan, tapi dengan tindakan. Ia memberi kesempatan padaku agar bisa menerapkan Appreciative Inquiry. Ia menemaniku belajar menjadi fasilitator workshop Appreciative Inquiry (SOAR). Iya menemani, beliau mendampingiku ke tempat workshop bahkan sampai Jakarta meskipun setelah itu beliau harus istirahat memulihkan staminanya selama beberapa hari.

Aku tidak pintar. Aku tidak kaya. Tapi aku punya semangat dan keyakinan untuk belajar. Semangat dan keyakinan yang dipicu oleh Pak Ino dengan beragam caranya. Pak Ino adalah pendukung ketika aku merasa ragu. Pak Ino adalah pengkritik terhebat ketika aku merasa puas diri. Ia tetap mendampingi muridnya meskipun tidak paham topik yang dipelajari murid. Ketika guru lain pergi, Pak Ino memilih tetap berada disamping muridnya.

Ino Yuwono 7

Ino Yuwono 6

Ino Yuwono 5

Ino Yuwono 3

Ino Yuwono 2

Ino Yuwono 4

Ino Yuwono 1

Beberapa tahun yang lalu, Departemen PIO memutuskan membuka program studi S2 Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi (MPPO). Pak Ino ingin MPPO bukan menjadi sekedar S2, tapi sebagai sebuah penanda keseriusan kami dalam mempelajari psikologi organisasi. Orang masuk MPPO bukan sekedar ingin mendapat gelar, tapi menghayati hidup dan mengalami perubahan nyata. Impian Pak Ino ini yang dengan susah payah kuterjemahkan dalam kurikulum dan proses belajar. Aku dan Pak Ino bergantian mendampingi perkuliahan meski diakhir pekan. Aku dan Pak Ino diskusikan mana yang sudah bagus dan mana yang perlu dikembangkan.

Mimpi Pak Ino menjadikan kampus sebagai tempat pembelajaran seumur hidup (Visi yang beliau sampaikan ketika di workshop Kusuma Agro Wisata). Tempat dimana orang-orang yang punya kemauan belajar bisa belajar terus. Tempat dimana para alumni kembali untuk berbagi pengetahuan dan belajar kembali. Tempat dimana orang-orang didalamnya mencintai belajar.

Ia mencintai kampus psikologi Unair lebih dari yang disadari kebanyakan orang. Ia punya bisnis di luar kampus agar bisa menyekolahkan anaknya sampai luar negeri. Tapi ia tidak pernah meninggalkan perkuliahan begitu saja. Bahkan ia tidak meninggalkan kampus ini meski beberapa orang, termasuk aku, memilih untuk meninggalkan kampus. Ia mencintai kampus dengan hati, jiwa dan raganya.

Keputusanku mengundurkan diri dari kampus pun disikapi secara paradoks oleh Pak Ino. Pada satu sisi, ekspresi wajahnya menunjukkan keberatan yang teramat sangat. Tapi disisi lain, ia terus mendorongku untuk mengikuti kata hati. Ikuti kata hatimu….Maaf Pak Ino, aku mengecewakanmu untuk satu urusan ini. Tapi semangat Pak Ino akan terus kubawa, belajar sepanjang hayat, baik untuk diriku sendiri maupun untuk orang-orang disekitarku.

Sampai terakhir bertemu (sekitar 1 bulan yang lalu), Pak Ino masih menunjukkan kegelisahannya mengenai kualitas pendidikan di Indonesia. Masih ngomel-ngomel panjang lebar. Begitulah Pak Ino, orang yang peduli pendidikan yang ditunjukkan dengan cara-cara ajaib.

Masih banyak lagi pelajaran dan kenangan bersama Pak Ino. Tapi aku sudah tidak sanggup menuliskannya.

Terakhir, tadi malam Pak Ino masih memberi pelajaran terakhir padaku melalui Facebook (foto terlampir)

IMG_0797

Selamat jalan Pak Ino….Selamat Jalan Christophorus Daniel Ino Yuwono….

Mohon maaf buat semua kesalahanku. Aku akan berusaha memenuhi janjiku padamu, belajar bahasa Inggris dan belajar di luar negeri. Terima kasih buat persahabatan, perhatian, kata-kata keras, pencerahan dan semuanya. Terima kasih buat gorengan yang engkau bawakan pada sore-sore di ruang Cattel…

Buat teman-teman, maafkan semua kesalahan beliau dan mohon doanya agar beliau damai di sisi-Nya

Damai di bumi. Damai di hati

Murid, Anak dan Sahabat

Bukik

Berikut beberapa kutipan yang seliweran di twitter. 

“Ketika kamu berilmu, janganlah menjadi Tuhan untuk orang lain.” #InoYuwono (via @child_smurf)

Beliau mengajarkan tentang “berat”nya kata s.psi di belakang nama kita #InoYuwono (via @fikar_diansyah)

Simpan uang baik2 untuk anakmu. Jangan biarkan anakmu dididik sama orang-orang yang gak punya integritas pendidik #InoYuwono (via @ardinouv)

Tulisan lain mengenai Pak Ino yang rencananya akan dibukukan dapat dilihat di http://bit.ly/BukuIno | Beberapa komentar panjang di posting ini juga diseleksi untuk masuk dalam buku. 

Dulu lagu ini lagu penutup workshop Appreciative Inquiry (SOAR) bareng Pak Ino dan Mas Made

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?