Menjadi Startup Produk yang Simpel Berasal dari Hidup yang Simpel

Menjadi Startup: Produk yang Simpel Berasal dari Hidup yang Simpel

Produk yang simpel jadi langkah awal startup menghadapi keadaan yang tidak pasti. Sayangnya, menghasilkan produk yang simpel ternyata tidak simpel. 

 

Hidup di Bandung itu beneran mempraktekkan belajar itu kosong. Kosong, tidak tahu apa-apa tentang Bandung. Kalau pun tahu, hanya sekelumit ketika memandang Bandung dari ruang-ruang pelatihan di hotel. Jadi kosong masih jadi tema tulisan serial Menjadi Startup kali ini hehehe

Ketika mengikuti Boot Camp Indigo Incubator, tim TemanTakita.com masih mendapat fasilitas penginapan tapi selepas itu kami harus mencari sendiri penginapan. Satu-satunya penginapan yang terjangkau di kantung untuk menginap selama satu bulan adalah apartemen mewah kamar kos. Ya pada akhirnya anak kos kembali lagi jadi anak kos. Hidup seperti roda, kadang-kadang dibawah, tapi kadang kala tetap dibawah, bannya bocor :D

Jadi mulai hari kedua Boot Camp Indigo Incubator, kami sudah mulai melakukan petualangan mencari kamar kos. Dengan bekal pengetahuan kosong sama sekali mengenai daerah Geger Kalong. Jalan dulu pokoknya. Dan ketika baru berjalan 200 meter, ada iklan kamar kos di jalan Budi Luhur. Dengan bantuan map di iPhone, kami berjalan kaki ke kamar kos impian *tsaah

Jangankan apartemen mewah, mencari kamar kos pun ternyata tak mudah. Dari Budi Luhur ketemu dua kamar kos, terus kembali ke Setiabudi, jalan kaki sedikit keatas, bertemu dengan empat tempat kos lagi. Pencarian pun dilanjutkan esok harinya ke daerah Cipedes dan Picung, sekitar 5 tempat kos. Ada sedikit pencerahan tapi masih belum sepenuhnya sreg. Padahal itu sudah sabtu malam dan hari minggu siang kami sudah harus keluar dari penginapan.

Produk yang Simpel Berasal dari Hidup yang Simpel

Semangat pantang menyerah. Minggu kami bergegas pagi-pagi untuk mencari bubur ayam, eh maksudnya mencari kos. Bubur ayam cuma selingan sih :D

Pencarian ini sekarang terfokus ke daerah atas, melalui gang kecil kami menembus ke daerah KPAD. Ada satu dua temuan tapi entah kenapa tetap bandel jalan kaki. Kami menyusuri jalan Pak Gatot sampai gerbang KPAD, belok kembali ke Geger Kalong Hilir dan naik ke atas di Geger Kalong Tengah. Kami sempat masuk ke daerah yang masih lebat, seolah di tengah hutan tapi pemiliknya tidak ada. Kami terus naik ke atas dan berjumpa dengan sebuah rumah kos. Setelah bertanya-tanya, kami terduduk di depan rumah kos itu. Terpekur. Termangu. Dan waktu yang memaksa kami segera mengambil keputusan.

Pada akhirnya untuk memutuskan 1 kamar kos, kami mendaftar sekitar 15 kamar kos dan berkunjung ke lebih banyak lagi kamar kos. Jadi kalau mau mencari kamar kos di daerah sini, hubungi saja kami :D. Apakah lebih banyak pilihan jadi lebih simpel? Kenyataannya tidak. Semakin banyak pilihan itu semakin rumit dan menghabiskan energi. Kami sendiri ketika pada tahap akhir hanya membandingkan dua kamar kos dan memilih satu diantaranya. Lho dimana 13 kamar kos yang lain? Kami hapus dari daftar agar prosesnya menjadi lebih simpel.

Psikolog sosial Barry Schwartz menyebutkan bahwa terlalu banyak pilihan justru membuat kelumpuhan dalam proses pengambilan keputusan. Kesimpulan dari risetnya yang mematahkan pandangan umum bahwa semakin banyak pilihan, semakin mudah mendapat jodoh kehidupan yang lebih baik. Semakin banyak pilihan bisa membuat hidup kita jauh dari bahagia. Hidup yang simpel seringkali justru lebih bahagia.

Kembali ke menjadi Startup. Produk yang simpel menjadi langkah awal startup dalam menghadapi ketidakpastian. Produk yang simpel berarti sebuah produk hanya memiliki fitur esensial yang harus ada agar produk tersebut bisa memenuhi apa yag sudah dijanjikan pada pengguna. Jumlah fitur esensial itu antara 1 – 3 fitur.

Menjadi Startup Produk yang Simpel Berasal dari Hidup yang Simpel

Jumlah fitur yang sedikit membuat biaya pembuatannya pun lebih bisa ditekan, tidak banyak membuang waktu, energi dan uang. Produk yang simpel itu ditawarkan ke pasar dan pelajari bagaimana responnya. Bila memang produk yang simpel itu kurang diterima sehingga harus melakukan perubahan strategi (pivot), startup masih punya cukup energi, waktu dan uang untuk sebuah lompatan. Bayangkan bila belum-belum membuat produk dengan fitur yang seabreg. Bisa-bisa, sebuah startup kehabisan nafas duluan.

Produk yang simpel pun lebih mudah dikomunikasikan ke masyarakat. Masyarakat pun lebih mudah mengingat mengenai produk yang simpel itu. Mau contoh? Cobalah masuk ke toko Apple. Kita hanya di dihadapkan pada pilihan produk yang sedikit. Ketika menyentuh produknya, kita bisa merasakan sendiri desain yang simpel dan cantik itu. Bandingkan masuk ke toko gadget yang lain. Bandingkan masuk ke toko gadget yang lain, pilihan produknya bisa sampai 30 jenis…..dan kalau mau memilih kita harus tahu betul spesifikasi dan perbedaan antar jenisnya….

Sayangnya, produk yang simpel itu tidak simpel. Hahaha. Simpel adalah puncak kerumitan. Produk yang yang simpel tidak lahir begitu saja. Produk yang simpel berasal dari cara berpikir dan hidup yang simpel pula. Kalau kita membiasakan diri dalam hubungan yang complicated hidup yang rumit maka kebiasaan itu akan membentuk cara berpikir yang rumit. Cara berpikir yang rumit akan termanifestasikan dalam produk yang rumit pula. Jadi bila ingin menciptakan produk yang simpel pada suatu saat nanti, mulailah bangun kebiasaan hidup yang simpel hari ini.

Mau contoh sulitnya hidup yang simpel? Perhatikan berapa banyak makanan buka puasa yang kita siapkan pada awal-awal puasa………susah kan ngeremnya :D. Pengen ini pengen itu tapi kenyataannya tidak habis dimakan. Tapi ketika puasa masuk minggu kedua, jadi lebih mudah menjalani hidup yang simpel. Betul, berpuasa bisa melatih hidup kita untuk hidup yang simpel. Hidup secukupnya, syukur sebanyak-banyanya.

Catatan: Tulisan ini dibuat ketika proses memikirkan desain applikasi mobile (iOS dan Android) TemanTakita.com yang simpel. Padahal masih mikir rancangannya saja sudah rumit, belum lagi untuk menemukan programmer yang bisa mewujudkannya. Jadi tulisan ini tidak bertendensi kami sudah mahir membuat produk yang simpel. Lha wong mencari kos saja masih rumit *nyengirkuda

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

2 thoughts on “Menjadi Startup: Produk yang Simpel Berasal dari Hidup yang Simpel”

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.