Pertanyaan untuk Anak SD itu Terlalu Mudah dan Menghina Nalar Anak-anak

Media sosial ramai karena ada dosen yang heran dengan pertanyaan pelajaran PKN anak kelas 4 SD karena dianggap terlalu sulit. Benarkah?

Saya awalnya membaca pertanyaan pelajaran PKN itu di twitter. Karena kesibukan, saya abaikan percakapan mengenai pertanyaan itu. Tapi pagi ini ulasannya di Brilio.net membuat saya ingin ikut berkomentar.

Persoalan pertanyaan pelajaran PKN lebih kronis dari sekedar “terlalu sulit”. Persoalannya lebih mendasar lagi. Apa persoalannya? Perhatikan pertanyaan-pertanyaan pada gambar yang saya ambil dari Brilio.net di bawah ini

soal-pkn

Pertanyaannya justru “terlalu mudah”, pertanyaan yang meremehkan, bahkan menghina kemampuan bernalar anak-anak.

Mari kita periksa. Apa kemampuan yang diuji dengan pertanyaan PKN tersebut? Kemampuan berpikir atau kemampuan menghafalkan?

Ya tepat, kemampuan menghafalkan. Semua jawaban dari pertanyaan itu tersedia di berbagai sumber pengetahuan, baik buku, blog maupun mesin pencari. Anak tidak perlu berpikir untuk menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang menguji kemampuan kognitif tingkat rendah.

Jadi bukan pertanyaan yang terlalu sulit tapi justru terlalu mudah.

Baiklah anda mungkin kurang yakin. Saya tambahkan argumen

Pertama, silahkan bandingkan pertanyaan PKN yang diajukan oleh guru, notabene orang dewasa, dengan pertanyaan yang diajukan anak-anak di situs “Anak Bertanya Pakar Menjawab”. Ada banyak pertanyaan, saya ambil contoh satu pertanyaan, silahkan kalau mau menjawabnya.

Mengapa Anak Sapi yang Baru Lahir Bisa Langsung Berjalan Sedangkan Bayi Manusia Tidak Bisa?

Jenis pertanyaan ini tidak menguji kemampuan menghafal, tapi menguji kemampuan berpikir. Kita harus membandingkan dua pola perilaku: anak sapi dan anak manusia. Pertanyaan anak-anak pun bisa lebih sulit dibandingkan pertanyaan orang dewasa yang diajukan ke anak-anak.

Kedua, Sugata Mitra, inovator pendidikan India, pernah mengatakan bahwa kunci pembelajaran adalah Pertanyaan Besar (big question). Pertanyaan yang merangsang rasa ingin tahu anak. Pertanyaan yang memicu anak untuk berpikir mendalam. Pertanyaan yang menstimulasi untuk mencari, menganalisis dan menyimpulkan jawabannya. Silahkan baca tulisan tentang kunjungan saya ke lokasi Eksperimen Tembok dalam Lubang oleh Sugata Mitra.

Contoh pertanyaan yang diajukan Sugata Mitra: Apabila ada bintang jatuh mengarah ke bumi, bagaimana kita bisa tahu bintang itu akan mengenai bumi

Saya pastikan anda tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan hafalan. Anda harus bertanya. Anda harus mencari. Anda harus berpikir.

Pertanyaan Besar yang sulit dijawab sebenarnya yang justru menstimulasi anak belajar. Bukan pertanyaan mudah seperti di pelajaran PKN itu. Pertanyaan Pelajaran PKN itu Terlalu Mudah dan Menghina Nalar Anak-anak. 

Lebih menghina lagi pertanyaan mudah itu dijadikan Pekerjaan Rumah. Apa yang terjadi di rumah? Apakah anak-anak berpikir menjawab pertanyaan itu? Tidak! Anak-anak dengan bosan menyalin jawaban dari buku ke lembar pekerjaam rumah.

Apa akibatnya bila anak-anak kita terlalu sering mendapat pertanyaan mudah

Pertama, kemampuan menghafal jadi meningkat tapi kemampuan berpikir jadi menurun, drastis.

Kedua, bosan belajar, bahkan sampai pada level muak belajar. Anak-anak suka berpikir, suka menjawab pertanyaan yang menarik, tapi mereka benci diuji, benci diremehkan dengan pertanyaan mudah.

Sebagaimana yang saya tulis di buku saya, Anak Bukan Kertas Kosong, kunci pertama pembelajaran adalah rasa ingin tahu. Jadi tanggung jawab kita sebagai pendidik, sebagai orang dewasa, adalah mengajukan pertanyaan yang menggugah rasa ingin tahu anak, memancing anak berimajinasi, mencari tahu, berpikir dan menyimpulkan jawabannya sendiri.

Jangan meremehkan, apalagi menghina kemampuan menalar anak!

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?