Personal Rebranding: Mengapa Sekali Salah Selalu Dianggap Salah?

Kalau sudah mendapat “cap” negatif, sekali salah selalu dianggap salah. Mengapa demikian? Bagaimana cara mengubahnya? 

Pernah ada seseorang yang datang berkonsultasi. Ia mengeluh bahwa “apapun yang saya lakukan, selalu dianggap tidak benar oleh orang-orang”. Saya tanya bagaimana awal mulanya dulu dia bekerja di tempat itu. Ia mengaku dulu waktu awal masuk memang tergolong teledor dan sering melupakan janji. Banyak orang yang protes terhadap sikapnya itu. Protes dari orang-orang itu yang memaksanya untuk berubah. “Saya sudah berusaha keras buat berubah. Tapi mereka tidak pernah memberi kesempatan. Saya tetap dianggap sama seperti dahulu” katanya.

Ada yang pernah mengalami atau merasakan kejadian serupa?

Baiklah. Saya akan bercerita sebuah kisah yang lain. Dulu waktu SMA, ada seorang murid yang tergolong murid nakal. Rekor 40 hari membolos dalam satu semester. Nilai pun tidak tanggung-tanggung, 6 angka merah. Ranking? Posisi yang memungkinkan semua orang di kelas bisa bangga bahwa masih ada murid lain dibawah mereka urutannya. Tahu kan maksudnya..

Saking nakalnya, murid tersebut tidak naik ke kelas tiga, yang membuatnya sangat tertekan dan menyesal waktu itu. Ia sudah bersusah payah masuk ke SMA idaman, eh tapi begitu masuk malah menyia-nyiakan kesempatan. Alhasil, ia pun dihijrahkan ke SMA di pulau Jawa. Dalam hati, ia bertekad untuk berubah, menjadi murid baik. Tapi apa yang terjadi?

Pengalaman selama setahun dicap sebagai murid nakal tidak mudah dilupakan. Ketika kerja bakti, ia berusaha melakukan apa yang memang harus dilakukan. Ia membersihkan halaman, menyiangi rumput dan semacamnya. Nah ketika kerja bakti itu, terngiang dalam benaknya, “Ngapain kamu melakukan itu? Buat apa? Kayak kamu murid baik saja..?!” Ia merasa kerja bakti seperti ditertawakan, oleh diri sendiri.

Ada yang pernah mengalami hal tersebut?

Dua pengalaman tersebut sebenarnya menunjukkan kekuatan interaksi sosial dalam membentuk diri seseorang. Kita tidak bisa semena-mena menentukan siapa diri kita. Siapa saya bukan hanya didefinisikan oleh diri saya sendiri, tapi oleh orang-orang lain yang berinteraksi dengan saya. Diri adalah kontruksi sosial. Bahkan dalam kasus kedua, konstruksi sosial yang sudah berubah (pindah SMA) pun tetap hadir dalam benak individu.

Segelap apapun, percayalah selalu ada cahaya

Kekuatan konstruksi sosial itu paling terasa dalam sebuah kelompok, baik itu sekolah, tempat kerja atau komunitas bisnis, yang berinteraksi dalam jangka waktu lama. “Si Bos X itu mesti seenaknya sendiri. Susah punya bos seperti dia”. “Ah Si A ya gitu itu kelakukannya. Biarin aja. Gak mungkin berubah”.

Awalnya orang terkejut tapi lama kelamaan menjadi biasa dan cuek terhadap Si A atau Bos X. Lahirlah “cap” terhadap Si A atau Bos X. “Cap” itu akan digunakan untuk menilai semua perilaku orang. Perilaku positif dinilai berdasarkan “cap” negatif akan menghasilkan kesimpulan negatif. Akibatnya, orang yang salah selalu dianggap salah di sebuah lingkungan sosial.

Apakah kita pasrah begitu saja dicap negatif meski kita telah bertindak benar? Atau kita harus pindah ke tempat kerja baru? Atau kita harus meninggalkan bisnis lama dan membuka bisnis baru?

Memang lebih mudah mengubah “cap” negatif dengan pindah lokasi (sekolah, tempat kerja atau bisnis baru0. Tapi pindah lokasi bukanlah tanpa biaya. Lagi pula, tidak ada jaminan di sekolah, tempat kerja atau bisnis yang baru kita tidak mengalami kejadian serupa. Hukum konstruksi sosial berlaku dimana saja.

Apa yang bisa kita lakukan? Personal rebranding, mengubah citra diri di mata orang-orang, baik di sekolah, tempat kerja atau lingkungan bisnis. Awali dengan perubahan kesadaran diri. Kita bukan sekedar seekor lalat yang tak berdaya dalam jebakan jaring laba-laba. Kesadaran diri sebagai lalat akan pasrah dengan apa yang dikatakan lingkungan sosial, meskipun itu merugikan dirinya. Kita juga adalah laba-laba yang terlibat dalam menyulam jaring-jaring sosial. Kita bukan hanya obyek perubahan, tapi juga pelaku perubahan, yang bisa menyulam jaring-jaring personal brand baru yang lebih baik.

Tidak cukup dengan melakukan perbuatan baik. Tidak cukup dengan menunggu kebaikan orang lain. Kita harus merebut kesempatan untuk membangun personal brand kita. Bagaimana caranya?

1. Meminta masukan

Bahkan namanya teman pun tidak semuanya bisa tegas menyampaikan penilaiannya terhadap diri kita. Kebanyakan menyimpan penilaian itu dalam hati dan memberikan pemakluman. Oleh karena itu, penting untuk meminta masukan kepada orang-orang yang terkait dengan pekerjaan atau bisnis kita. Jangan hanya orang dekat, tapi juga orang yang jauh atau jarang berinteraksi dengan kita. Terkadang kejauhan membantu orang melihat sesuatu dengan lebih jelas.

Tanyakan pada mereka 5 hal yang perlu diubah dan 5 hal positif dari diri kita. Dengarkan, tidak perlu klarifikasi atau mengkoreksi masukan. Cukup mendengar dan mencatat. Cermati semua masukan. Identifikasi 1 poin penting dari 5 hal yang perlu diubah. Tanyakan pada diri, apa 1 perilaku baru yang perlu saya lakukan? Identifikasi 1 poin penting dari 5 hal positif.  Tanyakan pada diri, apa 1 perilaku positif yang perlu saya perkuat? Praktekkan kedua perilaku itu.

2. Lakukan tindakan luar biasa

“Cap” sosial itu mempunyai kekuatan luar biasa. Untuk mengubahnya tidak cukup dengan tindakan biasa-biasa saja. Lakukan tindakan yang luar biasa. Kerjakan sebuah proyek atau tunjukkan prestasi yang luar biasa. Bila berubah, lakukan perubahan yang bisa mengejutkan semua orang. Lakukan perubahan yang menuntut perubahan konsep diri.

Contoh, murid nakal tadi langsung aktif di majalah sekolah. Dan ketika tidak ada yang mengajukan diri menjadi pemimpin umum, ia pun nekat mengajukan diri. Konsekuensinya ia harus belajar dan bekerja keras. Ia melakukan apapun agar menjadi pemimpin umum yang baik. Hasilnya, orang-orang sesekolah memandangnya sebagai pemimpin umum majalah sekolah, bukan sebagai murid tidak naik kelas yang dibuang ke sekolah itu. Setidaknya, ia berhasil menghancurkan citra murid nakal di benaknya sendiri.

3. Konsisten dengan perilaku baru

Rebranding bukan pemilu yang sehari selesai. Rebranding itu seperti menenun kain tenun raksasa dengan jarum citra baru. Perlu energi dan waktu yang tidak sebentar. Tantangannya, konsisten dengan perilaku baru, dengan citra baru. Bagaimana bisa konsisten? Citra baru yang akan diciptakan harus sesuai dengan kata hati kita. Bukan tipu muslihat, bukan basa-basi, tapi dari dasar hati.

Kita adalah anyaman-anyaman sosial. Siapa kita bukan sepenuhnya kewenangan kita untuk mendefinisikannya. Tapi kita bisa menenun ulang anyaman sosial itu agar lebih bermanfaat bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain. Setidaknya, itu yang saya praktekkan untuk membebaskan diri dari “cap” sebagai murid nakal yang tidak naik kelas.

Menurut anda, Mengapa Sekali Salah Selalu Dianggap Salah?

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?