search

Personal Brand: Mengapa Misi Lebih Bermanfaat daripada Visi?

Orang lebih banyak membicarakan visi dibandingkan misi. Padahal misi lebih bermanfaat daripada visi. Mengapa?

Pernah nonton Sang Pemimpi, serial Laskar Pelangi? Masih ingat kata-kata bermimpilah, karena tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu? Keyakinan bahwa ketika kita mempunyai impian maka jalan takdir akan membuka diri untuk impian itu.

Pernah mengikuti training motivasi? Pernah mendengar kata-kata motivasi untuk berani bermimpi? Bukan sekedar impian biasa, tapi harus impian yang luar biasa. Keyakinan bahwa mimpi akan menghasilkan motivasi yang melahirkan tindakan seseorang.

Pernah membaca buku The Secret? Masih ingat ajakannya untuk memvisualisasikan impian kita dalam bentuk yang nyata. Bermimpi punya mobil maka visualisasikan impian itu sejelas mungkin. Keyakinan bahwa pikiran positif akan menarik energi positif dari alam semesta.

Pernah menyimak debat kandidat dalam pemilihan kepala daerah? Masih ingat seruan umum bahwa kandidat harus punya visi yang jelas mengenai daerah yang akan dipimpinnya? Keyakinan bahwa pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mempunyai mimpi mengenai daerahnya (sembari lupa bahwa wargalah yang paling berhak bermimpi mengenai daerahnya :D).

Pernah terlibat dalam penyusunan visi misi di perusahaan? Masih ingat berapa banyak waktu dan energi untuk membahas visi, dan hanya seadanya untuk membahas misi? Keyakinan bahwa visi lebih penting dalam menentukan masa depan perusahaan.

Apa yang salah dengan impian atau visi? Tidak ada. Saya juga meyakini bahwa imajinasi memandu tindakan-tindakan kita. Sampai kemudian, saya tertohok ketika menyaksikan film Cita-Citaku Setinggi Tanah (CCST). Saya tahu film itu ketika menyaksikan Endah n Rhesa di Social Media Festival dan membeli album musiknya yang dijual disekitar panggung. Lagunya menarik. Akhirnya saya pun mengajak Damai buat nonton filmnya.

Film CCST bercerita mengenai Agus, anak desa dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja di pabrik tahu. Ibunya pandai memasak tahu bacem. Pagi makan tahu bacem. Siang makan tahu bacem. Malam pun makan tahu bacem. Ketika teman-temannya bercita-cita setinggi langit, Agus bercita-cita “hanya” makan di rumah makan padang. Kontan saja murid sekelas mentertawakan impian Agus itu.

Agus pun bimbang. Sampai Mbah Tapak memberi petuah, “Mimpi itu bukan untuk ditulis, tapi diwujudkan”. Agus pun yakin kembali dengan cita-citanya. Ia berjuang keras mewujudkan cita-citanya tersebut. Dengan segala macam pengorbanaan dan cobaan, Agus berhasil mewujudkan impiannya. Tapi jawaban Agus menarik pada dialog diakhir film. Agus berujar dengan polosnya “Buat apa bermimpi bila itu membuat aku lupa dengan teman-temanku”. JLEB!

Ketika banyak orang bermimpi jadi kaya, jadi orang sukses, jadi artis terkenal. Ketika banyak orang tua berkata pada anak-anak, bermimpilah setinggi langit. Agus yang hanya bercita-cita setinggi tanah sudah merasa mengabaikan teman-temannya. Apalagi kalau bercita-cita setinggi langit?

Apa yang dikatakan Agus persis menukik pada watak dasar impian, visi atau cita-cita yaitu egosentris. Impian bersumber dari dalam diri, kesadaran diri mengenai yang tidak ada. Watak ini pun terlihat pada pernyataan visi organisasi. Perhatikan bagaimana pernyataan visi itu menjelaskan organisasi itu sebagai sesuatu yang unggul, sukses, berhasil. Pernyataan yang memuji diri sendiri.

Apakah salah bermimpi? Apakah keliru mempunyai visi? Apakah berimajinasi dilarang? Sama sekali tidak. Mimpi itu indah. Mimpi itu meninabobokkan, berpotensi memutus hubungan dengan orang-orang disekitar kita. Seperti Agus di film CCST yang sepenuh hati berjuang tapi ia kehilangan waktu bermain dengan teman-temannya. Jadikan mimpi sebagai awal, jangan terjebak pada kenikmatan mimpi, segera rumuskan misi, segera beraksi.

Apapun pekerjaanmu, adanya misi membuat hidup jadi lebih baik

 

Visi adalah citra atau bayangan mengenai masa depan. Visi bukik berarti bayangan bukik mengenai keadaan masa depan yang diidamkannya. Manfaat visi adalah memotivasi, memandu tindakan, dan menyelaraskan tindakannya. Kriteria visi yang efektif:

  1. Menantang: Keadaan yang memberikan tantangan, bukan yang biasa
  2. Inspiratif: Menyentuh emosi kita maupun orang lain
  3. Memberi Arah: Kejelasan visualisasi masa depan

Misi adalah pernyataan yang menggambarkan bagaimana konstribusi kita pada kehidupan. Misi menjawab mengapa kita ada, mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Misi menjelaskan manfaat kita pada orang lain dan masyarakat. Kriteria misi yang efektif adalah:

  1. Spesifik. Penyataan yang menggambarkan peran kita secara langsung & eksplisit
  2. Solutif. Pernyataan yang menggambarkan solusi yang kita tawarkan
  3. Singkat. Pernyataan misi tidak lebih dari 8 kata

Jadi, visi adalah keadaan kita di masa depan, misi adalah konstribusi yang kita tawarkan saat ini. Misi yang kita lakukan secara konsisten akan mengarahkan terwujudnya visi kita. Visi bicara tentang diri kita, misi bisa tentang manfaat kita. Visi bermanfaat buat diri kita. Misi bermanfaat bagi kita dan orang lain. Misi membuat orang lain bisa mengetahui manfaat yang bisa mereka peroleh dari diri kita.

Sebuah misi tidak saja dibutuhkan organisasi, tapi juga oleh setiap orang, terlebih oleh mereka yang ingin membangun personal brand (Baca lebih lanjut mengenai personal brand). Misi adalah pemberi arah personal brand. Misi mengorganisasikan passion, gaya, dan kemampuan kita menuju suatu arah yang spesifik. Misi membuat hidup kita bermakna.

Ingin menemukan misi personal brand kamu? Ikuti beberapa langkah berikut ini:

  1. Siapa kelompok penerima manfaat dari personal brand anda? Siapa yang ingin anda layani? Jawaban berupa kata benda yang menunjukkan segmen/kelompok orang tertentu
  2. Bagaimana cara anda membantu kelompok penerima manfaat dari personal brand anda? Jawaban berupa kata kerja yang menggambarkan peran anda
  3. Apa sasaran yang anda tawarkan pada kelompok penerima manfaat dari personal brand anda? Jawaban berupa kriteria keberhasilan

Contoh misi personal brand saya sebagai fasilitator adalah Memfasilitasi (poin 2) perubahan kreatif (poin 3) pada komunitas dan organisasi (poin 1). Mengapa saya mempunyai misi ini? Visi saya adalah jawabannya. Saya ingin menyaksikan Indonesia impian di tahun 2045. Saya ingin melihat orang-orang yakin dengan kekuatan diri sendiri, menghargai kekuatan orang lain dan bangsanya, berkolaborasi dalam relasi yang menghargai keragaman untuk mewujudkan impian bersama.

Berani mencoba merumuskan misi personal brand anda? Silahkan tulis di kolom komentar, saya akan memberi masukan buat misi anda.

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email

Incoming search terms:

Tags: , , , , ,

7 Comments

  1. Posted January 28, 2013 at 10:43 am | Permalink

    Mimpiku cuma satu, anakku bermanfaat bagi orang lain. Haha…. sederhana banget.

    Saya selalu teringat kata kata ipo sentosa, bahwa untuk meraih mimpi, lebih cepat jika mimpi (do’a) itu bersayap.

  2. Posted January 28, 2013 at 3:21 pm | Permalink

    misiku adalah berkarya sejalan dengan hati nurani dimanapun dibutuhkan.

  3. Posted January 29, 2013 at 12:59 pm | Permalink

    tulisan yang luar biasa…. tapi kalimat buat apa bermimpi kalau harus meninggalkan teman, itu juga luar biasa.

    memiliki visi tidak seharusnya berorientasi kepada kesuksesan diri sendiri. Banyak orang salah dalam membuat visi karena terlalu self oriented sehingga kurang inspiratif. Maka terjadi teman terutama orang terdekat sering merasa ditinggalkan.

    • Posted January 29, 2013 at 1:14 pm | Permalink

      Andai saja banyak orang berpikiran demikian pasti tidak ada yg merasa sendiri..!!! Dan semua akan merasakan kesuksesan bareng-bareng..!!! Ibarat sepak bola bukan..?!
      Sent from my BlackBerry® via Smartfren EVDO Network

  4. Posted February 7, 2013 at 7:52 pm | Permalink

    bukannya misi adalah kegiatan untuk mendukung sebuah visi mas? Jadi mereka berdua tidak dapat dipisahkan gitu. Dan bisa saja kita membuat misi yang tetep terasa kekeluargaannya dan tidak melupakan teman namun tetap mencapai visi yang diinginkan.

    tapi kalau aku seh gak punya visi hidup mas. Jelek emang, mungkin kalau dapat hal besar baru aku jadikan itu visi hidupku, hehehe

  5. Posted March 13, 2013 at 5:46 pm | Permalink

    Artikel ini menarik dan mencerahkan saya tentang Visi dan Misi..jadi mulai memikirkan visi dan merumuskan misi…*lagi* untuk ke depanya:)

  6. rereniku
    Posted June 28, 2013 at 5:09 pm | Permalink

    Visi saya : semua penduduk indonesia bisa dicover asuransi kesehatan baik itu oleh pemerintah ataupun swasta.
    untuk itu saya masih harus terus belajar tentang sistem asuransi kesehatan di indonesia dan menciptakan sistem yang pas untuk indonesia

2 Trackbacks

  1. By Visi Misi VivifGRD « kisah guru on February 21, 2013 at 9:25 pm

    [...] saya kali ini terinspirasi oleh tulisan Mas Bukik mengenai visi dan misi. Sejujurnya untuk manusia yang berpikir serba praktis, saya tidak pernah ambil pusing dengan visi [...]

  2. [...] Orang lebih banyak membicarakan visi dibandingkan misi. Padahal misi lebih bermanfaat daripada visi. Mengapa? Pernah nonton Sang Pemimpi, serial Laskar…  [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi