Perjalanan Panjang untuk Perjumpaan Singkat Temu Pendidik Sinjai

Sesuai menuntaskan agenda di Makassar yang padat, kami pun bersiap melakukan perjalanan panjang tengah malam menuju Sinjai. 

Tulisan ini lanjutan dari tulisan sebelumnya yang bisa dibaca di Temu Pendidik Makassar: Perpaduan Kutub Ekstrim 

Selesai makan malam, kami meluncur ke rumahnya Usman dengan sebelumnya mengantar pulang Wawan. Sampai di rumah Usman, kami berempat, saya, Usman, Nursam, dan Moeljadi merebahkan diri sejenak. Ada yang mandi, ada yang tidak mandi. Tidak perlu disebut siapanya ya :D

Kami menunggu kedatangan Wawan yang ganti baju dan membawa perlengkapan. Ngobrol sana ngobrol sini tidak terasa tengah malam menjelang. Wawan datang, kami pun bergegas berangkat berlima menembus kegelapan malam untuk menuju Sinjai.

Untungnya, perjalanan berangkat menggunakan rute yang ramai, jalan propinsi. Jadi meski ada bagian yang gelap, tapi secara umum sepanjang jalan cukup terang karena melalui beberapa kota dan perkampungan.

Bila Makassar berada di pantai sisi barat, maka Sinjai berada di pantai sisi timur dari Sulawesi Selatan. Jadi perjalanan kami seperti lintas Sulawesi Selatan.

Awal perjalanan menyenangkan karena selain ngobrol tentang pendidikan, Usman dan Wawan menceritakan kebiasaan dan tradisi masyarakat dari daerah yang kami lalui. Jadi bukan sekedar perjalanan, tapi juga pelajaran antropologi dan sosiologi :D

Perjalanan Temu Pendidik Sinjai 1a

Sampailah kami di Bantaeng. Saya mendengar banyak kisah menakjubkan tentang Bantaeng. Dari daerah yang kumuh hingga menjadi daerah yang rapi, asri dan bersih. Cerita itu terbukti dari apa yang saya lihat sepanjang perjalanan. Pohon-pohon sangat ramah menyambut kami dengan dahan dan daun yang memayungi sepanjang jalan.

Bahkan ada kisah, bila ada orang berkendara mobil melalui Bantaeng dan membuang sampah sembarangan maka orang tersebut akan dimarahi oleh masyarakat, bukan oleh aparat. Karena yang membersihkan sepanjang jalan tersebut adalah masyarakat sendiri. Saya sendiri tidak berani membuktikan kebenaran kisah tersebut, bukan mengapa, saya cuma tidak ingin membuang sampah sembarangan. :D

Tepat di tengah kota, kendaraan kami bermasalah dengan roda kanan depan. Roda terkunci oleh rem sehingga panas setengah mati. Kami singgah sebentar di Pantai Seruni sambil menunggu panas roda depan menurun. Setelah beberapa saat, kami berjalan lagi tapi rupanya roda depan kanan masih ngambek. Kami pun berhenti di pinggir jalan.

Rupanya agenda yang padat, perjalanan panjang dipadu dengan persoalan ban melelahkan semua Kami pun tidur bergelatakan. Ada yang di dalam mobil, ada yang tidur di bangku panjang di pinggir jalan.

Saya tidak bisa tidur nyenyak. Pikiran terus melayang mencari alternatif-alternatif menuju Sinjai. Tapi karena asing dengan daerahnya, saya tidak menemukan alternatif kecuali menunggu pagi, ke bengkel, memperbaiki kerusakan lalu melanjutkan perjalanan. Alternatif yang tidak membantu karena pasti terlambat mengikuti Temu Pendidik Sinjai yang rencana dilakukan pukul 10.00 WITA.

Perjalanan Temu Pendidik Sinjai 1

Setelah beberapa saat, kami melanjutkan perjalanan. Perlahan agar roda depan kanan tidak ngambek lagi. Saya terkantuk-kantuk sepanjang perjalanan hingga sampai masuk ke perbukitan Sinjai Barat. Pemandangan indah pagi hari menyambut kami. Eh habis itu roda depan kanan ngambek lagi.

Kami berhenti dua kali sebelum masuk ke Sinjai pada pukul 6 pagi. Kami berkendara pelan sambil menikmati keramahan kota kecil. Saya menghubungi Bu Hasniar, Penggerak Guru Belajar SInjai untuk menangakan lokasi rumah untuk kami mandi pagi. Sempat kesulitan mencari karena meski sama-sama mengacu pada pasar, ternyata saya dan Bu Hasniar membayangkan pasar yang berbeda di Sinjai.

Perjalanan Temu Pendidik Sinjai 2

Kami berjumpa Bu Hasniar yang menunggu di tepi perempatan. Dari situ, kami menuju rumah Bu Yuliani. Kami disambut oleh tuan rumah yang sangat ramah, meski mereka baru pertama kali berjumpa dengan kami. Segelas teh, dan sejumlah makanan menyegarkan kami yang terkuras energinya. Obrolan pagi kami diiringi kicau burung liar. Setelah perut terisi, kami pun mandi. Kali ini semuanya :D

Perjalanan Temu Pendidik Sinjai 4b

Setelah mandi, kami menuju sebuah rumah makan untuk sarapan pagi. Lagi? Iya nih, padahal sudah kenyang makanan kecil, sudah disambut makanan besar. Usai makan, kami pun menuju SMAN 1 Sinjai untuk menghadiri Temu Pendidik Sinjai. Di awal, saya menjelaskan tentang salah kaprah guru belajar dan tujuan Temu Pendidik sebagai media bagi guru untuk saling belajar.

Ketika bicara, saya tidak terasa mengantuk. Tapi begitu diam, kantuk gencar menyerang. Setengah mati saya menghadapi gempuran rasa ngantuk itu, berjuang agar tetap bisa menyimak kisah yang diceritakan oleh para guru narasumber lokal.

Perjalanan Temu Pendidik Sinjai 3

Guru Yuliani yang pertama bercerita bagaimana dirinya sebagai guru senior berjuang beradaptasi dengan tuntutan perubahan. Ia menceritakan pengalaman mengajar tentang bilangan dengan meminta anak melakukan simulasi memerankan bilangan yang akan dipelajari. Narasumber kedua, Guru Rifyal Mukarram yang bercerita tentang  pembelajaran teks dekriptif bahasa inggris melalui gambar sketch. Terakhir, Guru Hasniar yang bercerita pengalaman mengajar bahasa Jerman yang bermakna. Kisah lengkap Guru Hasniar ini bisa dibaca di Surat Kabar Guru Belajar Edisi Dua.

Perjalanan Temu Pendidik Sinjai 4

Usai sesi inspirasi, saya memfasilitasi peserta untuk berbagi pelajaran yag didapatkan. Dengan cara sederhana, para guru bisa riang gembira belajar.  Pukul 12 lewat, Temu Pendidik pun usai, ditutup dengan doa agar apa yang telah dilakukan memberi manfaat dan diadakan kembali di lain waktu.

Perjumpaan singkat ini pun dengan berat hati harus kami akhiri. Kami harus bergegas pulang mengingat roda depan kanan masih belum sepenuhnya pulih. Dengan harapan kami tidak bermalam di tepi jalan di tengah kegelapan.

Perjalanan pulang kami mengambil rute yang berbeda. Ini rombongan memang nekat. Kami mengambil rute yang melintasi Malino, daerah pegunungan sekaligus tujuan wisata. Jalannya berbeda jauh dengan rute berangkat. Bila berangkat jalannya lebar, lurus, halus dan ramai maka perjalanan pulang jalannya sempit, berkelok, terkadang terjal dan lebih didominasi hutan.

Perjalanan Temu Pendidik Sinjai 6

Setiap kelokan tajam selalu membawa kejutan. Tiba-tiba kendaraan muncul di hadapan kami. Bayangkan menghadapi kejutan itu dengan rem yang tidak berfungsi sempurna. Tak ayal kami pun harus berhenti lama di sebuah bengkel di tengah hutan untuk mendinginkan roda depan kanan.

Tapi semua lelah itu sirna ketika kami mulai memasuki Malino. Udaranya yang sejuk, pohon pinus yang dihiasi kabut sore hari, bikin lelah terusir pergi. Kami berhenti di seberang kawasan wisata Hutan Pinus. Kami makan makanan khas yang saya lupa namanya. Kombinasi lontong, ayam goreng, kuah sop dan semangkok sambal kecap yang disajikan secara terpisah.

Setelah perut terisi, kami mengelilingi kawasan Wisata Malino dan kemudian mampir di rumah saudaranya Usman. Kami mendapat hidangan sore yang sedap punya, secangkir kopi, sukun goreng dan obrolan yang renyah. Setelah rehat sejenak, kami melanjutkan perjalanan menuju Makassar yang masih juga diwarnai acara berhenti di tepi jalan. Alhasil kami sampai Makassar sudah cukup malam, sekitar jam 10.

Sebuah perjalanan panjang untuk perjumpaan singkat Temu Pendidik Sinjai…..

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?