Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar: Di Balik Layar

Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar versi pertama akhirnya diluncurkan setelah berdialektika selama lima tahun.

Tujuan awal saya bergabung ke Kampus Guru Cikal adalah mengembangkan pendidikan tinggi keguruan. Tantangan yang menarik karena bisa mendesain dan menyelenggarakan pendidikan keguruan sejal awal. Dari nol :)

Meski sudah lama menjadi dosen, tapi tetap saja pendidikan keguruan adalah dunia yang berbeda. Saya mulai belajar dari nol. Saya ikut Pelatihan Dasar Guru Sekolah Cikal (foundation training) yang pada saat ini masih diadakan 15 hari. Belajar banyak banget karena ternyata praktik pendidikan di Cikal melampui apa yang saya bayangkan. Lebih memanusiakan anak, sekaligus lebih kompleks.

Saya melakukan wawancara dengan sejumlah tokoh di bidang pendidikan maupun psikologi. Saya mengulik esensi dari pendidikan keguruan, tantangan yang dihadapi guru hingga kompetensi yang penting dikuasai lulusan pendidikan keguruan. Lagi-lagi saya belajar banyak. Apa pekerjaan terasyik selain pekerjaan yang membuat kita belajar?

Tantangan berikutnya, mengurus dokumen untuk perijinan pendirian sekolah tinggi keguruan. Ternyata banyak sekali dokumen yang harus disiapkan, termasuk dokumen-dokumen akreditasi. Saya cari dan pelajari dokumen-dokumen pendidikan keguruan yang lain. Dokumen kurikulum hingga dokumen akreditasinya. Mules lah saya :)

Sayangnya, inisiatif untuk mendirikan sekolah tinggi keguruan terpaksa ditunda. Pertama karena ada moratorium perijinan pendidikan keguruan. Kedua karena ingin fokus pada strategi mengembangkan komunitas guru yang dinilai bisa berdampak lebih luas dan intensif.

Eh saya mau cerita apa sih? Oh ingat, saya mau cerita tentang kurikulum pendidikan guru. Sebelum ditunda saya sudah memimpin sejumlah pertemuan untuk membahas kurikulum pendidikan keguruan yang sudah ada dan menyusun kurikulum keguruan Cikal. Meski belum final, tapi profil lulusan, tujuan pendidikan, alur dan struktur mata kuliah sudah selesai disusun.

Mari kita tinggalkan sejenak urusan dokumen kurikulum.

Pada sisi lain, strategi pengembangan komunitas guru mendapat sambutan positif dari guru. Komunitas Guru Belajar yang diluncurkan pada Temu Pendidik Nusantara 2015 ini terus meluas. Guru dari berbagai daerah bergabung bukan sebagai anggota tapi sebagai guru penggerak, guru yang berkomitmen melakukan perubahan pendidikan. Dimulai dari 8 daerah, Komunitas Guru Belajar pada tahun 2019 telah ada di lebih 145 daerah. Sekarang bahkan Komunitas Guru Belajar telah berdiri sebagai organisasi profesi guru yang mandiri. (Ikuti akun instagramnya di @komunitasgurubelajar)

Suasana Temu Pendidik Nusantara 2019

Ada banyak kegiatan yang kami lakukan untuk mengembangkan Komunitas Guru Belajar mulai temu pendidik sebagai forum berbagi praktik baik pembelajaran, pelatihan beragam topik pembelajaran, hingga penerbitan buku dan Surat Kabar Guru Belajar. Pengalaman mendampingi Komunitas Guru Belajar sungguh berharga. Ada banyak pelajaran yang saya dapatkan, langsung dari guru, pelaku di lapangan. Pada tataran taktis, pelajaran dari para guru langsung digunakan untuk melakukan perbaikan kegiatan dan program kami. Pada tataran strategis, pelajaran dari para guru berdampak pada cara pandang dan pendekatan yang kami percaya.

Setelah Komunitas Guru Belajar berubah menjadi organisasi profesi guru yang mempunyai pengurusnya sendiri, kami mulai memikirkan kembali kurikulum pendidikan guru (in service) untuk guru yang telah mengajar. Tentu dengan pendekatan yang sama sekali berbeda dengan kurikulum untuk lembaga pendidikan keguruan yang ditujukan pada calon guru.

Pendidikan calon guru mengasumsikan ada masa khusus untuk mempelajari kompetensi sebagai seorang guru. Pembelajaran dapat bersifat utuh dan kompleks. Sementara pendidikan guru harus berdesakan dengan pekerjaan sehari-hari guru. Pembelajarannya dituntut luwes tapi tidak kehilangan keutuhannya. Tantangan banget :)

Proses pengembangan kurikulum ini pun sebenarnya tidak dilakukan dalam suatu momen khusus. Proses pengembangan kurikulumnya seiring dengan refleksi proses pendampingan Komunitas Guru Belajar. Semisal, bagaimana menentukan cakupan suatu modul/topik tidak langsung bisa mendapatkan hasil finalnya. Kami seringkali menerapkan semangat “jalan dulu aja”. Terapkan, refleksikan, perbaiki.

Contoh, topik manajemen kelas banyak mengalami perubahan dibandingkan 5 tahun yang lalu. Dulu kami menggunakan topik disiplin positif, yang pelatihannya bisa 2-3 hari dengan cakupan mulai makna disiplin, kesepakatan kelas, miskonsepsi sogokan dan hukuman, strategi penguatan, strategi refleksi dan konsekuensi, strategi komunikasi, tata ruang kelas, dan strategi pengelompokkan, rutin dan prosedur hingga budaya kelas. Banyak sekali cakupannya :)

Dulu semangatnya mengajarkan banyak hal sehingga guru bisa memilih cakupan yang bisa menjadi solusi terhadap persoalan yang dihadapi di kelasnya. Namun, kenyataannya semakin banyak cakupan justru semakin melumpuhkan semangat guru untuk menerapkannya. Karena itu dalam perjalanannya kami memangkas dan menyederhanakan. Itu pun tidak langsung ketemu formula yang tepat. Perlu upaya beberapa kali hingga kami merasa yakin bahwa suatu cakupan bisa membantu guru.

Ide radikal lainnya adalah meninggalkan pelatihan berjenjang dan menggantinya dengan pendekatan modular yang lebih luwes dan memfasilitasi guru merancang personalisasi pengalaman belajarnya. Pada pendekatan modular, ada modul kunci yang kami wajibkan, selebihnya guru dapat menentukan modul belajar yang sesuai kebutuhannya. Berbeda dengan pengertian mata kuliah wajib pada pendidikan keguruan yang jadi mayoritas. Modul wajib di sini memang hanya modul inti, kurang dari 5% jumlah modul dalam kurikulum pendidikan guru.

Pada tanggal 17 Agustus 2020, Kampus Guru Cikal meluncurkan halaman Pembelajaran Merdeka Belajar yang berisi solusi dan Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar. Sesuai namanya, merdeka belajar menjadi tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kurikulum tersebut. Merdeka Belajar adalah kompetensi untuk mengatur tujuan, cara dan refleksi belajar. Pelajari lebih lanjut pada tulisan: Merdeka Belajar bukan Jargon.

Halaman Pembelajaran Merdeka Belajar sendiri adalah suatu alur yang membantu guru menemukan persoalan pembelajaran beserta solusinya. Program unggulannya adalah Obrolan Guru Merdeka Belajar yang mengandung 3 komponen utama yaitu Beasiswa Program Pembelajaran Merdeka Belajar, Obrolan Lepas yang berisi obrolan beragam topik sesuai kebutuhan guru dan Obrolan LIVE yang berisi obrolan berkala dengan sejumlah narasumber untuk membahas persoalan dan topik kekinian dalam pembelajaran.

Setelah 5 tahun belajar, pada akhirnya kami bisa merumuskan kerangka dasar kurikulum pendidikan guru yang telah teruji bukan hanya di Sekolah Cikal tapi juga dibuktikan ribuan guru dari ribuan sekolah di berbagai penjuru nusantara.

Jadi tunggu apalagi? Silahkan kunjungi halaman Pembelajaran Merdeka Belajar, saksikan video pengantar dan dokumen kurikulumnya. Beri komentar dan masukan ya

Karena sebagaimana semangat awal hingga kini, kami belum berhenti untuk belajar.

Sekali merdeka, tetap merdeka belajar!

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

2 thoughts on “Kurikulum Pembelajaran Merdeka Belajar: Di Balik Layar”

  1. Trimksih P.Bukik,
    Uraian Bpk bisa mencerahkan kembali harapan para Guru U/mempuxai energi lebih menjadi lebih berdaya,
    Super sekali & sangat menginspirasi, Guru2 saat ini memang sangat membutuhkan dukungan, motivasi yg mudah direalisasikan. Bukan sekedar teori yg sulit U/diaplikasikan sbg penguatan dlm mnjalani profesi kebanggaanxa sebagai GURU.
    Smg kampus Guru Cikal bisa memberikan kesempatan luas pada para Guru seNusantara melalui pelatihan2 & magang di Kampus Cikal dg biaya yg trjangkau. Kami tunggu inovasi2 pembelajaran lanjutanxa Pak Bukik… Sekali merdeka ttap merdeka belajar, Smg ALLAH Izinkan & Mudahkan semuanya

    1. Terima kasih telah berkunjung dan berkomentar.
      Kita belajar dan berjuang barengan ya. Karena sesungguhnya semangat guru belajar adalah sumber utama semangat kami melakukan inovasi. Merdeka!

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.