Menunggu Godot, Perjuangan Hidup di pandemi COVID-19

Tentang bagaimana rasanya berada pada penantian tak berujung.

Saya mendengar pertama kali Menunggu Godot dari majalah Tempo yang dibawa pulang ke rumah oleh Bapak di awal 1980-an. Pada masa remaja dan mahasiswa, idiom itu masih sempat terdengar (sepertinya baca di Majalah Hai) tapi setelah itu menghilang. Sampai suatu ketika sekitar 3 tahun yang lalu berkunjung ke sebuah toko buku di jalan kecil yang tumbuh pinus di tepiannya di Bandung, saya menemukan buku dengan judul Menunggu Godot.

Menunggu Godot adalah naskah drama Samuel Beckett yang dipentaskan di Paris tahun 1953 dan Bengkel Teater mementaskannya di Jakarta pada tahun 1969. Lawas banget ya :)

Minggu lalu saya diminta moderator RANSEL KGB Pekalongan untuk menentukan film yang menggambarkan suasana pandemi COVID-19. Pada kesempatan itu, saya menjawab dengan film Cast Away, Tom Hanks yang terdampar di sebuah pulau terasing selama 4 tahun.

Tapi semalam membuka kembali bukunya, saya merasa Menunggu Godot lebih tepat menggambarkan suasana psikologis kondisi pandemi ini.

Suasana berharap datangnya Godot. Kabar demi kabar datang menjanjikan kedatangan Godot, yang segera berubah menjadi kabar kosong karena tidak menjadi nyata. Dialog demi dialog, perdebatan demi perdebatan, umpatan demi umpatan, menyalahkan demi menyalah. Tapi semua tetap berada pada penantian, penantian yang panjang. Penantian yang tak berujung.

Siapakah Godot? Orang semacam apa Godot itu? Apakah dia orang baik? Apakah Godot akan membawa solusi sebagaimana yang dikabarkan? Sampai akhir cerita, tidak pernah ada jawabannya. Godot berhenti pada bahan pembicaraan absurd di tengah penantian yang absurd.

Bila Sisyphus, berusaha keras mendorong batu ke puncak gunung yang terjatuh kembali untuk didorong lagi, maka Menunggu Godot lebih absurd. Tantangannya bukan pada apa yang bisa dikerjakan atau yang bisa diselesaikan. Tantangannya pada menunggu itu sendiri.

Perkara menunggu mungkin bukan perkara manusia. Jangankan menunggu godot, menunggu antrian 5-6 orang di supermarket saja sudah menimbulkan kegelisahan. Menunggu sesuatu yang terlihat mata saja, adalah sebuah derita, apalagi Menunggu Godot yang belum pernah ditemui dan mungkin tidak pernah ditemui sebagaimana pada naskahnya.

Dalam sebuah pertemuan, saya mendengar Gus Dur yang menyebut penyakit kiri kekanakan, untuk gejala usaha yang tidak disertai kesabaran menunggu. Penyakit yang membuat banyak orang terjatuh pada pragmatisme, jalan pintas, cara mudah, untuk mencapai hasil seolah-olah.

Pada perkara menunggu itu daya hidup diuji, daya juang ditantang. Karena cita-cita kehidupan yang diidamkan pada dasarnya tidak pernah terlihat. Seringkali jemu dan merasa semua usaha tidak mendekati sedikit pun ke arah cita-cita.

Pada Menunggu Godot, terletak perjuangan hidup. Menunggu dengan tetap merawat daya hidup tidak meredup kemudian mati, tapi tetap menyala, tetap membara.

Begitulah lebaran tahun ini buat saya. Sendiri di tengah isolasi dan ujung proses terminasi. Pandemi COVID-19 mengungkap kembali, Menunggu Godot pada akhirnya berarti perjuangan hidup.

Selamat lebaran!
Maaf bila tidak ada kata yang menghibur

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

One thought on “Menunggu Godot, Perjuangan Hidup di pandemi COVID-19”

  1. Menunggu godot, melanjutkan juang. Menunggu pandemi yang entah kapan usai, namun tetap melanjutkan juang. Ini pesan yang saya dapat kan. Makasi pak bukik inspirasi nya.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.