Empat Hari Menjadi Orangtua Tunggal

Bila ingin bahagia, tinggallah bersama anak-anak. Itulah kesimpulan dari pengalaman empat hari menjadi orangtua tunggal untuk sementara. 

Tahun lalu saya gagal meyakinkan Memski, panggilan sayang untuk putri saya Ayunda Damai, untuk berkunjung ke Jakarta. Alasan eksplisitnya, ia tidak tertarik. Tapi dugaan saya, ia merasa khawatir akan merasa tidak nyaman ketika tinggal sementara bersama saya.

Namun kemarin berbeda. Pada saat itu, Memski baru saja batal ikut rombongan sekolah ke luar negeri. Saya pun menawarkan ke Memski untuk melakukan tur ke Jakarta. Saya ceritakan kemungkinan petualangan yang dapat dilakukannya. Kebetulan beberapa minggu kemudian, Sekolah Cikal, satu grup dengan tempat saya bekerja, mengadakan program liburan yang terdiri dari beberapa kelas bakat.

Saya tawarkan ke Memski untuk mengikuti program liburan itu. Memski, seperti sudah saya duga, sebagai seorang blogger anak memilih kelas jurnalistik, meski ia sudah pernah mengikuti pelatihan jurnalistik sebelumnya. Setelah diskusi beberapa hal, kami pun bersepakat mengenai teknis kunjungan Memski ke Jakarta.

Saya pun pulang ke Sidoarjo untuk menjemput Memski. Acara menjemput ini diwarnai dengan insiden salah ingatan. Pertama, saya ingatnya dapat tiket kereta ke Sidoarjo pada hari Jumat malam, ternyata hari Sabtu malam. Terpaksa menunda satu hari. Kedua, saya ingatnya dapat tiket kereta ke Jakarta hari Senin malam, ternyata hari Minggu malam. Parah hahaha

Akibatnya, saya sampai Sidoarjo hari Minggu pagi, dan kembali lagi ke Jakarta naik kereta Minggu malam. Fiuh……Capek? Gak usah tanya hahaha

Vlog-1 : Jakarta 😄 #vlog #jakarta #damaitojakarta #triptojakarta

A post shared by Ayda 👾 (@ayundadamai) on

 

Hari Minggu malam, kami naik kereta Argo Anggrek. Selama di kereta, Memski bermain menggunakan iPhonenya. Tidak mengherankan. Nah yang menakjubkan, setelah bermain beberapa saat, Memski justru lebih banyak membaca buku berbahasa Inggris. Saking asyiknya, saya pun sampai dicuekin…..bikin keki haha

menjadi orangtua tunggal membaca buku cerita bahasa inggris

Dua tahun yang lalu, saya sudah mulai membelikan buku cerita berbahasa Inggris. Bahkan ketika ke India, oleh-oleh yang saya bawakan adalah buku cerita berbahasa Inggris. Tapi sejak dibeli, saya melihat buku itu lebih sering berada di rak buku. Ketika saya tanya apa sudah dibaca, jawabannya terkesan enggan membaca. Saya sempat khawatir ia tidak terpapar Bahasa Inggris sehingga sempat muncul keinginan “memaksa” Memski buat membacanya. Tapi malam itu, saya kena batunya. Kini, ia justru asyik membaca buku berbahasa Inggris.

Orangtua hanya bisa menciptakan situasi yang nyaman dan aman buat belajar. Kapan proes belajar akan terjadi, pilihan sepenuhnya ada pada anak. Ini ngomong ke saya sendiri ya…..

Pagi sampai Stasiun Gambir, kami pun mengantar Ibu saya ke rumah adiknya di Karawaci. Setelah mampir sarapan, kami berdua pun menuju kos saya di daerah Serpong. Tidak terasa capek karena senang Memski akhirnya sampai di kos saya. Kamar kos harus sedikit dimodifikasi agar bisa ditinggali berdua. Maklum ya kos buat satu orang. Setelah beres, saya bilang ke Memski buat tidur sebentar untuk menghilangkan capek. Tapi dibawa tidur malah tambah melek.

Vlog-2 : Jakarta #triptojakarta #damaitojakarta #vlog

A post shared by Ayda 👾 (@ayundadamai) on

 

Agenda hari Senin berkunjung ke Dufan karena satu-satunya hari yang kosong seharian. Kami pun berangkat ke Dufan mengendarai Uber. Naik mobil dan kami pun gantian tidur :)

Pelajaran pentingnya: jangan berlibur di hari libur, terlebih bila memilih berlibur di lokasi yang umum dikunjungi orang. Kenapa? Tonton video di bawah ini :)

Vlog-3 : Jakarta "Jangan berlibur di hari libur!" 😂 #vlog #damaitojakarta #triptojakarta

A post shared by Ayda 👾 (@ayundadamai) on

 

Petang kami kembali ke kos di Serpong. Kalau pergi sendiri, saya bisa bebas mau makan malam apa dan kapan. Tapi karena bareng Memski, ya harus dipikir agar jangan sampai telat makan. Jadi orangtua gak boleh egois *eh

Karena kecapekan, kesehatan saya pun terganggu. Demam dan batuk. Lebih parah lagi, saya harus tidur di bawah karena tempat tidur hanya cukup untuk 1 orang. Setelah Memski tidur, saya mengusapkan balsem penghangat ke seluruh tubuh, minum vitamin dan obat batuk. Tidur.

Pagi bangun, kondisi kesehatan saya belum membaik. Tapi mau tidak mau ya harus bangun pagi, membantu Memski melakukan persiapan pagi mulai mandi dan sarapan. Setelah beres semua, kami berangkat ke Sekolah Cikal Cilandak, lokasi kelas jurnalistik yang diikuti Memski. Dan salah perhitungan dong. Serpong – Cilandak yang biasanya butuh 1 jam waktu perjalanan, tapi pagi itu tidak sampai 30 menit sudah sampai. Kami pun harus menunggu lama. Daripada bengong, kami pun bikin video yang ada di atas itu.

Damai masuk kelas jurnalistik, saya pun kembali menangani pekerjaan yang tertunda. Meski sudah libur, tapi tetap harus kerja karena saya belum menyelesaikan penyusunan Surat Kabar Guru Belajar yang harusnya terbit pertengahan bulan Desember 2016. Kondisi demam, terlambat dari jadwal, dan penggunaan aplikasi baru (inDesign) adalah kombinasi yang tepat untuk menguji kemauan kerja #halah

Karena masih demam tapi tetap harus ada petualangannya, maka saya menawarkan berkunjung ke tempat yang dekat saja. Ada dua alternatif yaitu Museum di Tengah Kebun di Kemang atau Museum Layang-layang. Ternyata hanya tempat terakhir itu yang buka pada hari Selasa. Setelah makan siang dan membeli alpukat, kami pun meluncur ke museum Layang-layang. Tiketnya murah, tempatnya teduh dan enak dilihat, dan ada pengalaman membuat layang-layang. Jadi tidak salah pilih tempat berpetualang pada hari itu.  Sudah pernah ke Museum Layang-layang?

 

Matahari masih terang, tapi kami sudah pulang. Saya istirahat. Memski membuat bubur Alpukat untuk jadi temannya membaca buku. Lagi

Hari Rabu semakin menantang karena selain mengantar Damai ikut kelas jurnalistik, saya kebetulan jadi petugas jaga di Pelatihan Dasar Guru Rumah Main Cikal dan Sekolah Cikal. Iya meski para guru sudah libur, tapi Kampus Guru Cikal mengadakan pelatihan buat guru baru. Karena durasinya 21 hari, mau tidak mau hanya bisa diadakan pada saat liburan antar semester. Setelah mengantar Memski, saya pun membantu para pelatih menyiapkan perlengkapan pelatihan.

Damai selesai kelas. Kami pun makan siang bersama tim pelatih Kampus Guru Cikal, Bu Unun dan Bu Reza. Makan siang bersama sih, tapi sebenarnya fokus perhatiannya ke Memski. Memski melulu yang diajak ngobrol. Tapi gara-gara obrolan itu, Damai diundang makan malam di rumah makan Korea.

Saya seharusnya bertugas sampai sore. Tapi karena ada Memski, saya minta ijin untuk meninggalkan pelatihan terlebih dahulu. Saya mengajak Damai ke tempat favoritnya. Iya mana lagi, toko buku Bahasa Inggris, Kinokuniya di Plasa Senayan. Dan benar saja, kami di sana sampai 3 jam. Memski melihat buku-buku cerita berbahasa Inggris. Dia bingung memilih buku. Banyak pilihan buku, anggaran terbatas hehehe.

Selesai urusan otak, ganti ke urusan perut. Kami meluncur ke jalan Senopati untuk memenuhi undangan makan malam dari Bu Unun di sebuah rumah makan Korea. Memski senang, habis banyak makannya :)

Hari Kamis adalah hari terakhir kelas jurnalistik-nya Memski. Seperti sebelumnya, selesai mengantar Memski, saya pun kembali mengerjakan Surat Kabar Guru Belajar. Saking asyiknya bekerja, saya sampat terlambat memenuhi undangan panitia kelas jurnalistik buat orangtua. Saya masuk ke kelas ketika kelompoknya Damai sudah selesai menampilkan hasil karyanya. Bapak apaan sih ini #toyorkepalasendiri

Vlog-6 : Jakarta Kelas Jurnalistik @sekolahcikal #triptojakarta #damaitojakarta #vlog

A post shared by Ayda 👾 (@ayundadamai) on

 

Dari kelas jurnalistik, Memski mendapat banyak sekali pengalaman. Ada beberapa materi yang sudah diketahui dari pelatihan jurnalistik yang pernah diikutinya. Tapi ia merasa lebih paham karena penjelasannya lebih runtut dan banyak praktiknya. Selain pengetahuan dan keterampilan, Damai dapat teman baru juga. Memski yang awalnya khawatir bakal tersisih, ternyata merasa terbantu dengan sikap teman-temannya yang mengajak bicara, bersahabat dan peduli dengan kesulitan teman. Memski jadi makin mantap melanjutkan SMP ke Sekolah Cikal Surabaya

 

Selesai kelas jurnalistik, kami makan siang dan melanjutkan petualangan. Damai meminta berkunjung ke Galeri Indonesia Kaya. Kami pun meluncur ke tengah kota. Di galeri ini, terlihat penggunaan peralatan digital untuk memberi pengalaman pada pengunjung mengenai budaya Indonesia. Memski sempat membuat batik secara digital dan hasilnya langsung menjadi kartu pos batik yang bisa langsung diambil di pintu masuk.

Kami pun pulang. Capek sudah bertumpuk-tumpuk. Memski langsung tidur di bahu saya. Langsung terasa enaknya jadi bapak :)

Mau unggah foto Memski lagi tidur di bahu, tapi pasti gak boleh

Sampai kos, istirahat dan mandi, kami pun meluncur ke bandara untuk menjemput Mamski, panggilan sayang untuk isteri saya dan mamanya Memski, yang baru bisa menyusul belakangan. Barusan berangkat, saya baru sadar kalau tidak membawa dompet. Kami kembali ke kos untuk mengambil dompet tapi ternyata tidak ada. Saya ingat-ingat dimana dompet saya. Tidak ketemu juga. Padahal semua kartu dan uang ada di dompet itu. Naik Uber bisa pakai kartu kredit, tapi bagaimana bayar tol ke bandara?

Saya buka lemari pakaian dan menemukan harta karun. Sekantong uang logam. Saya langsung ambil dan bawa kantong itu. Naik kendaraan Uber, kami pun menghitung receh untuk setiap pembayaran tol. Selesai mengurus recehan, saya mulai mengingat-ingat kapan terakhir membuka dompet. Dan dugaan terbesar, dompet terjatuh ketika pulang sore tadi. Saya membuka dompet untuk mengambil uang tol tapi tidak langsung saya kembalikan ke saku karena kesulitan dengan Memski yang tidur di bahu.

Saya pun menghubungi Uber melalui aplikasi maupun twitter. Ada dua kali telepon masuk tapi langsung mati ketika diangkat. Saya telepon balik, tidak ada jawaban, justru diarahkan untuk mengunjungi situs Uber. Malam itu, saya makan malam dengan gembira sekaligus bingung. Tetap ya, kebingungan tidak boleh mengganggu makan malam keluarga.

Di tengah kebingungan itu, saya harus finalisasi Surat Kabar Guru Belajar. Tengah malam selesai, langsung menyiapkan penyebarannya secara terjadwal melalui email dan media sosial.

Jumat pagi, kembali ke soal dompet. Saya blokir rekening untuk penerimaan gaji. Sementara kartu kredit dan dua rekening lain masih belum saya blokir karena masih dibutuhkan. Kartu kredit untuk naik Uber. Sementara rekening lain mau saya blokir langsung ke bank setelah mengambil uang tunai terlebih dahulu.

Saya beruntung Mamski sudah datang, yang artinya saya tidak lagi menjadi orangtua tunggal. Saya bisa berbagi tanggung jawab dengan Mamski untuk menjaga Memski. Saya pun pergi ke kantor polisi untuk mengurus surat kehilangan tanpa harus mengajak Memski. Tapi baru duduk lima menit, listrik mati. Mereka yang mau mengurus surat diminta kembali sore atau besok.

Bingung mau kemana. Saya memilih duduk menunggu dan kemudian dapat balasan di aplikasi Uber. Saya mendapat nomor telepon pengemudi yang mengantar pulang kemarin sore. Saya langsung telepon dan benar saja, dompetnya terjatuh di mobil. Sang pengemudi bingung mau menghubungi siapa karena kemarin saya dan dia tidak saling menelepon kemarin. Kami pun janjian ketemu di titik tengah. Saya pilih Citos karena searah dengan agenda kami sore itu yang akan ke Bekasi untuk menyaksikan GPMB (Grand Prix Marching Band), kompetisi marching band yang menjadi cita-cita Mamski sejak bertahun-tahun yang lalu :)

Ternyata Mas Rachmatullolah, sang pengemudi Uber, datang duluan. Ketika sampai, kami pun ketemu dan mendapatkan dompet dalam keadaan utuh. Terima kasih sekali! Saya tidak perlu mengurus KTP, SIM A, SIM C, kartu kredit, ATM, BPJS Ketenagakerjaan, dan NPWP. Semoga rejeki beliau berlimpah

Eh tapi kan rekening yang banyak uangnya sudah diblokir. Duh……..

Selesai urusan dompet, kami pun meluncur ke lokasi GPMB di Stadion Wibawa Mukti. Acara yang dibuka sehari sebelumnya, pada hari Jumat menampilkan babak final yang sayangnya mundur karena hujan lebat. Resiko mengadakan acara di luar gedung. Setelah hujan reda, final pun digelar meski ditengah sempat berhenti lagi karena hujan kembali mengguyur. Ini video salah satu finalis yang saya suka

Vlog-6 : Jakarta GPMB #vlog #jakarta #damaitojakarta #triptojakarta #gpmb #gpmb2016

A post shared by Ayda 👾 (@ayundadamai) on

 

Acara yang harusnya selesai jam 6 mundur sampai jam 8 malam. Akibatnya, agenda makan malam pun dibatalkan dan kami memilih langsung pulang. Terutama mengingat kondisi Damai yang sudah mulai bersin dan batuk.

Meski begitu, hari Sabtu tetap dengan agenda semula, berkunjung ke kota tua. Dan lagi-lagi, kota tua ramai sekali meski cuacanya panas terik.

 

Jalan-jalan di kota tua sampai jam 4 sore ketika lalu lintas sudah semakin ramai, cenderung macet. Pesan Uber, tarifnya sedang melangit. Pesan Go-Car, pesanannya tidak ada yang ambil. Saya pun mengajak mereka naik kereta dulu ke tengah kota sebelum naik Uber ke kos. Malam tahun baru kami di kos. Makan malam dan bercengkerama bertiga sebelum tidur. Karena minggu pagi, Mamski dan Memski pulang ke Sidoarjo dengan janji akan liburan lagi di Serpong semester depan.

Kembali ke topik tulisan, empat hari menjadi orangtua tunggal. Pengalaman berlibur 4 hari bersama Memski seperti penyegaran kembali arti menjadi orangtua. Satu setengah tahun tinggal di Serpong dan berpisah dengan keluarga, bagaimanapun, mengurangi peran saya sebagai seorang ayah. Meski teknologi sudah memudahkan komunikasi, tetap saja peran Ayah tidak bisa sepenuhnya difasilitasi teknologi.

Pertama, menjadi orangtua itu tidak boleh egois. Jangankan urusan cita-cita anak, urusan makan pun perlu untuk didiskusikan bersama anak. Begitu pula dengan mengatur agenda bersama. Orangtua perlu memahami kebutuhan anak, agar anak bisa belajar memahami kebutuhan orangtua.

Kedua, menjadi orangtua itu harus pandai akting. Ehm tepatnya harus pandai membagi mana yang perlu didiskusikan dengan anak dan mana yang perlu kita tanggung sendiri. Mau khawatir, mau bingung, mau ada masalah pekerjaan, mau kehabisan uang, harus tetap optimis ke anak. Kalau kita sebagai orangtua mudah mengeluh, anak akan melipatgandakannya.

Ketiga, menjadi orangtua tunggal itu tanggung jawabnya berat. Orangtua tunggal harus membagi perhatian pada pekerjaan dan anak dengan tetap mengurusi kebutuhannya sendiri. Saya menjadi orangtua tunggal sementara yang hanya empat hari saja setengah mati. Sampai sakit, sampai dompet jatuh. Salut sama Mamski yang satu setengah tahun menangani sendirian urusan kesehariannya Memski.

Keempat, jelas perbedaannya antara mengalami sebuah pengalaman sendiri dengan mengalami bersama ana-anak. Bersama Memski, atau bersama anak-anak yang lain, pengalaman kita akan jauh berbeda. Kita akan menjumpai sudut pandang baru, rasa ingin tahu dan semangat berlimpah.

Meski harus berbagi ego, meski berat, menjadi orangtua itu tetaplah berlimpah energi. Kalau malam, kalau anak sudah tidur, pandanglah wajah anak. Saya jatuh cinta berkali-kali ketika melihat wajah Memski yang sedang tidur pulas. Bila ingin bahagia, tinggallah bersama anak-anak.

Terus terang saya tidak kapok, malah ketagihan menjadi orangtua tunggal untuk sementara. Jadi harus mulai menabung untuk liburan semester depan :)

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?