Menjadi Guru Itu…Curhat Setelah Pelatihan Guru 15 Hari

Belajar itu butuh energi. Tidak heran bila mengikuti pelatihan bisa menguras energi kita. Bagaimana kalau mengikuti pelatihan menjadi guru 15 hari? 

Dalam posting sebelumnya, saya bercerita kepindahan saya ke Jakarta untuk mengembangkan kampus guru. Sebagai manajer baru di grup Cikal, saya harus mengikuti masa orientasi yang salah satu aktivitasnya adalah mengikuti pelatihan dasar Cikal (Foundation Training) yang diadakan oleh LLE. Tidak tanggung-tanggung, pelatihannya berlangsung 15 hari, bersama guru dan karyawan baru Sekolah Cikal.

Pada satu sisi, mengikuti pelatihan menjadi guru ini adalah keharusan tapi pada sisi lain adalah kebutuhan. Sebagai manajer pengembangan Kampus Cikal, saya harus tahu pengetahuan dasar, dan bahkan lebih jauh lagi memahami dunia guru. Mosok mau bikin kampus guru tapi asing dengan dunia guru, bisa-bisa kampusnya di awang-awang. Jadi meski jadi peserta paling tua senior, saya dengan suka hati mengikuti pelatihan menjadi guru ini.

Pada awalnya, tantangan yang saya hadapi dalam mengikuti pelatihan menjadi guru ini adalah jarak dan waktu. Saya kos dekat kantor pusat Cikal, sehingga saya kalau ke kantor cukup jalan kaki 2 menit. Tapi tempat pelatihannya diadakan di Sekolah Cikal Cilandak yang jaraknya nanggung, hanya 2,4 km, 1000 meter jarak kos ke jalan raya dan 1.400 meter jarak dari titik di jalan raya ke lokasi pelatihan.

Pertanyaannya, naik apa ke lokasi pelatihan? Mau naik ojek, mahal. Ada Go-Jek pun waktu itu ada program “Rush Hour” yang membuat biayanya lebih mahal dari ojek biasa. Sempat tiga kali naik ojek maupun Go-jek sewaktu kondisi kepepet. Saya masih sayang dengan uang di saku :D

Mau naik Kopaja? Tetap saja saya harus jalan kaki 1000 meter dan menyebrangi jembatan penyebrangan yang panjangnya selebar 10 ruas jalan raya (4 jalan biasa, 6 jalan tol). Sesampai di seberang, saya menunggu Kopaja lewat dan pada pagi hari situasinya ngeri, penuh sesak sampai berdiri di pintu. Ketika pulang pun, Kopaja tidak lebih baik karena kombinasi macet dan panas. Pernah sekali naik Kopaja, kurang 200 meter dari tujuan eh Kopaja balik arah kemudian masuk tol. Saya pun turun di tengah jalan tol di lokasi terdekat titik tujuan.

Pada akhirnya, saya memilih berjalan kaki baik berangkat maupun pulang ke kos. Ketika jalan kaki baru terasa banget kualitas trotoar mempengaruhi kenikmatan berjalan kaki. Trotoar sepanjang Jalan TB Simatupang itu buruk sekali. Banyak trotoar yang rusak bahkan di satu sisi saking rusaknya sudah tidak berbentuk trotoar lagi. Di mana keadilan? Jalan kaki pulang jam 15 sore jadi ajang kreatif, saya harus menemukan cara jalan kaki yang membuat lupa terik matahari huehehehe. Tapi keputusan untuk jalan kaki pada akhirnya sangat bermanfaat, pada akhir pelatihan saya pun jadi lebih langsing :D

Trotoar Jakarta Selatan Jalan kaki 2,4 km dari kos ke Sekolah Cikal

A post shared by Bukik Setiawan (@bukik) on

Pelatihan diadakan pada bulan puasa, sementara kecenderungan saya pada bulan puasa adalah mengantuk. Meski tidur itu ibadah tapi tidak mungkin kan saya tidur di kelas. Jadi mau tidak mau harus berjuang melawan kantuk. Standarnya begini, saya kalau mendengar ceramah 20 menit pasti mengantuk. Untungnya, sebagian besar materi pelatihan sangat menarik dan proses belajarnya atraktif. Sebagian besar sesi menuntut peserta untuk terlibat aktif dalam proses belajar, jadi bukan hanya duduk, diam, dengar dan pulang….

Apakah pernah mengikuti pelatihan kontradiktif, pelatihan yang mengajarkan suatu metode tapi pelatihan itu sendiri tidak menggunakan metode itu? Semisal pelatihan menjadi guru yang mengajarkan metode pengajaran berpusat pada siswa (student centre) tapi justru penyampaian materinya berpusat pada pelatih (teacher centre). Jadi bukan peserta pelatihan yang aktif, tapi pelatih yang memonopoli forum dengan ceramah panjang lebar. Saya pernah mengikuti dan sering melihat pelatihan menjadi guru yang kontradiktif.

Beruntungnya pelatihan menjadi guru yang 15 hari saya ikuti ini bukan termasuk pelatihan yang kontradiktif. Pelatihannya justru menggunakan metode yang diajarkan. Jadi semisal sesi pelatihan mengajarkan strategi mengajar diferensiasi (beragam) maka penyampaiannya pun menggunakan strategi tersebut. Jadi saya sebagai peserta bisa mengetahui sekaligus mengalami metode yang saya pelajari tersebut. Konsistensi ini memancing ketertarikan dan partisipasi peserta sepanjang proses pelatihan. Jadi mengantuk atau tidak mengantuknya peserta pelatihan bukan hanya dipengaruhi kondisi fisik peserta, tapi justru ditentukan oleh materi dan proses pelatihannya.

Begitu ceritanya……jadi pelatihan menjadi guru ceritanya hanya soal ngantuk, jalan kaki dan menjadi langsing? Sabar masih panjang cerita. Bikin kopi atau teh dulu gih :p

Biar tidak terlalu panjang, tulisan saya pisah menjadi dua. Silahkan baca lanjutannya di Tiga +1 Ciri Guru Keren

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

7 thoughts on “Menjadi Guru Itu…Curhat Setelah Pelatihan Guru 15 Hari”

  1. Saya pernah jd guru SMK dan sekarang jd buruh konstruksi.. Setidaknya bisa mengajari murid saya dalam bekerja yg sebenarnya..

  2. OOT: Bagi pejalan kaki dan pengguna angkutan umum, sangat terasa bahwa kota masih belum beradab.
    Tak hanya itu. Akses keluar-masuk pada gedung dan blok tertentu pun tak ramah kepada pejalan kaki. Di SCBD sebelah Polda Metro Jaya ada trotoar yang cuma semester.

    Makin banyak kelas menengah rezeki soal trotoar dan sebagainya makin bagus. Masalahnya hal seperti yang dialami Pak Bukik hanya bisa dipahami oleh yang naik angkot dan jalan kaki. Kelas menengah atas dan kelas atas Indonesia itu mengenal Pelestarian dan transportasi publik saat di… Luar Negeri. #aneh #ironis

    Eh lupa. Selamat datang di rimba ibu kota. Baru tahu kalau Pak Bukik di Jakarta :D

    1. Iya paman…….para pengambil kebijakan bukan bagian dari kaum pejalan kaki soalnya
      Dan bukan hanya Jakarta, di Sidoarjo pun juga begitu. Pernah jalan kaki dari alun-alun ke rumah, hanya dapat trotoar 1/4 perjalanan……..

      Terima kasih. Kapan kita ngopi-ngopi lagi? Sudah lama tak jumpo…….

Gimana komentarmu?