search

Mengapa tidak ada yang menangis ketika tahu ada 30 juta penduduk miskin di Indonesia?

Kita kerap melihat atau mendengar data mengenai jumlah penduduk miskin Indonesia. Tidak jarang pula menyaksikan perdebatan mengenai akurasi data tersebut. Tapi mengapa kita tidak menangis ketika mengetahuinya? 

Dalam sebuah workshop, aku sempat melontarkan pertanyaan apakah pernah ada yang menangis ketika mengetahui ada 30 juta penduduk miskin Indonesia? Atau pernahkah melihat ada orang menangis haru “huhuhu 30 juta penduduk Indonesia masih miskin ternyata”? Seluruh peserta menjawab tidak tahu bahkan malah tertawa ketika aku simulasikan tangisan karena data itu. Atau sebaliknya, pernahkah menyaksikan orang tertawa terbahak-bahak ketika membaca tumpukan data?

Banyak orang yang meyakini manusia adalah makhluk yang rasional, makhluk yang bertindak berdasarkan pertimbangan dan alasan yang rasional, berusaha mencapai tujuan yang masuk akal. Keyakinan ini pula yang menjadi persamaan antara birokrat  maupun aktivis perubahan di negeri ini. Meski seringkali posisinya berlawanan tapi mereka mempunyai keyakinan yang sama: manusia adalah makhluk rasional.

Dalam sebuah sesi yang dihadiri para aktivis perubahan, aku menunjukkan sebuah video dan mengundang peserta melakukan sumbang saran ide-ide untuk melakukan perubahan perilaku orang dalam video tersebut. Apa ide yang paling banyak? Ide yang berpijak pada keyakinan rasionalitas manusia seperti menunjukkan data, menyampaikan manfaat, sampai memberikan himbauan atau nasehat.

Masih ingat bagaimana para pejabat negeri ini memberikan himbauan, menyampaikan manfaat atau memberikan himbauan? Informasi bahaya merokok di setiap bungkusny? Himbauan agar korupsi ditindak tegas? Menunjukkan manfaatnya tertib berlalu lintas?

Kenyataannya, manusia bertindak pada awalnya bukan karena sisi rasionalnya. Manusia berubah bukan karena tujuan rasional. Oleh karena itulah, kita tidak menangis haru ketika tahu ada 30 juta penduduk miskin. Kita tidak tersentuh karena ada banyak anak gizi buruk di Indonesia. Himbauan hanya masuk di telinga kanan dan keluar dari telinga kiri.

Kita lebih tersentuh dengan menggunakan gambar dari pada data, menggunakan cerita dari pada argumentasi

Manusia berubah tidak mengikuti alur “mengetahui, menganalisis dan berubah” tapi lebih mengikuti alur “melihat, merasakan dan berubah”. Sisi emosi dalam diri manusia bisa diibaratkan sebagai seokora gajah, sementara sisi rasional adalah pawang gajah tersebut. Untuk menggerakannya, pertama yang perlu dilakukan adalah menggerakkan gajahnya atau menyentuh emosinya, baru kemudian memberikan penjelasan rasional pada sang pawang atau pada sisi rasionalitas kita.

Kita tidak bisa berkomunikasi dengan “sang gajah” atau emosi itu dengan data dan penjelasan rasional. Karena data dan penjelasan rasional adalah bahasa “sang pawang”. Emosi kita tersentuh dengan bahasa visual dan dengan menggunakan cerita. Ceritalah yang menggerakan manusia.

Bagaimana menurutmu, apakah manusia makhluk yang rasional? 

Sumber Foto: Instragam @bukik | Jangan lupa follow ya

Tags: , , , , ,

24 Comments

  1. Posted June 25, 2012 at 2:47 pm | Permalink

    data saat ini hanya digunakan sebagaian orang sebagai bahan presentasi dan politik belaka.. kita tidak ada yang menangis untuk itu…. karena sudah 30 juta penduduk indonesia yang menangis… jadi buat apa menangis lagi… karena menangispun menjadi tidak ada gunanya. Yang diperlukan sekarang bekerja… salam.

    • Posted July 6, 2012 at 10:54 pm | Permalink

      apalagi data digunakan pada saat kampanye #duh rasanya

  2. boeloek
    Posted June 26, 2012 at 8:46 pm | Permalink

    Yes, kekuatan cerita bisa menyentuh hati dan pikir manusia..*antar manusia, tentunya* ^.^

  3. Posted June 28, 2012 at 10:58 am | Permalink

    Ah tulisan ini mengingatkanku pada peristiwa yang terjadi enam tahun silam.

    Waktu gempa jogja kala itu nyawa manusia direpresentasikan menggunakan angka. Mereka tidak lagi di data berdasar nama. Misal, “Berapa yang mati di kampungmu?” atau “Yang mati sekian ribu di Bantul!” Tak lagi berupa, “Pak anu selamat apa meninggal jadi korban?”

    Menarik, Bung! Lebih menarik lagi kalau anda sering2 nulis di blog ini :)

    • Posted January 1, 2013 at 5:28 pm | Permalink

      Siap!
      Ketika menjadi angka, kejadian menjadi kehilangan emosi. Tanpa emosi, kejadian tidak akan menggerakkan orang

  4. Posted June 30, 2012 at 12:53 am | Permalink

    Ada sorang temanku yang pernah bilang begini “Bagaimana cara menghabiskan kemiskinan di negeri ini? apa kita harus mengumpulkan orang-orang miskin disatu tempat lalu kita bom massal biar habis kemiskinan di Indonesia ini?”
    Menurutku, kita terlalu asik dengan urusan masing-masing. Kita gak usah tanya kemana pemerintah? Pemerintah sudah “berupaya” untuk menuntaskan kemiskinan, cuma kita belum melihat hasilnya secara nyata. Sebaiknya kita langsung action tanpa bertanya “kemana pemerintah?”

    • Posted January 1, 2013 at 5:29 pm | Permalink

      Beda urusannya. Pemerintah harus dikritik agar berpihak pada rakyat. Tapi solusi atas kemiskinan memang tidak harus menunggu pemerintah, setiap warga negara berhak untuk terlibat

  5. Posted June 30, 2012 at 10:09 am | Permalink

    kalo himbauan bahaya merokok di bungkus rokok itu, saya yakin banget emang kurang efektif Pak :D
    trus, sebenernya banyak juga gambar2 akibat negatif merokok, tapi ya tetep aja banyak penikmat rokok ya, pisss…
    mungkin ya itu tadi, kurang menyentuh sisi emosi pemirsa & pendengarnya :)

    • Posted January 1, 2013 at 5:30 pm | Permalink

      Ya himbauan gimana efektif. Selain hanya tulisan, disisi lain iklan rokok kan masih banyak, kreatif-kreatif pula

  6. Posted July 4, 2012 at 5:53 pm | Permalink

    hmmmm…. rasanya lebih akan bisa menangis kalau aku melihat sendiri satu orang yg bertahan hidup dengan keadaannya yg serba kekurangan seh mas.. daripada cuma mendengar data.. toh aku tdk pernah melihat mereka..

    • Posted January 1, 2013 at 5:31 pm | Permalink

      Iya berinteraksi akan membangun kedekatan emosional. Langkah pertama penyelesaian persoalan adalah dengan berinteraksi langsung dengan persoalan itu. Bukan dengan membaca data statistik.

  7. Posted July 6, 2012 at 6:44 pm | Permalink

    Ketika membaca ’30 juta penduduk miskin di Indonesia’ saya tak akan menangis, karena tak ada guna, toh tak ada yang bisa kita lakukan untuk mengubah hal itu, tapi di lain sisi, saya cuma berpikir indonesia sebenarnya apa, negara atau bukan?.

    • Posted January 1, 2013 at 5:31 pm | Permalink

      Hahaha pertanyaannya jleb banget….

  8. Posted July 11, 2012 at 11:02 pm | Permalink

    Dan kita sudah dibiasakan dengan pemandangan demikian, yang menjadi hal biasa, dan hebatnya dianggap biasa oleh ‘kaum pembesar’ :(

    • Posted December 18, 2012 at 1:14 pm | Permalink

      Dan dibicarakan dengan enteng di rapat di hotel bintang lima *eh

  9. Posted July 22, 2012 at 9:32 am | Permalink

    itulah anehnya orang indonesia …
    ada orang kesusahan gk ada yg mau tau ,,,,.

  10. Posted August 12, 2012 at 10:28 pm | Permalink

    Reblogged this on justclickado and commented:
    Why Always Empathy ?

  11. Posted September 4, 2012 at 3:51 pm | Permalink

    Janganlah menangis, lebih baik lakukan tindakan nyata, salah satunya adalah dengan blogging yang positif untuk membangun negeri….

    • Posted January 1, 2013 at 5:32 pm | Permalink

      Emosi adalah pintu yang melahirkan tindakan-tindakan positif

  12. bay
    Posted September 11, 2012 at 6:50 pm | Permalink

    Tulisan yang bagus.
    Menurut saya, angka “kemiskinan” di Indonesia, berapapun jumlahnya, apapun standarnya, hanyalah mainan politik belaka. Kita pada dasarnya tidak perlu menangis melihat saudara kita yang miskin, apabila mereka merasa berkecukupan.

    Tengoklah di desa2 yang masih asri, yang hidup dengan keaarifan lokalnya yang masih kental, seperti di tayangan Jelajah atau Ethnic Runaway. Hampir bisa kita pastikan orang2 lokal itu miskin, apapun standarnya, tapi lihat sinyum mereka terkembang, mereka cukup dengan apa yang mereka miliki, tidak menderita akan kekurangan. Kalau pun ada org miskin yang menderita, pasti karena tidak memiliki anak yang bekerja, atau seorah perantauan ke daerah urban yang lebih mahal, atau org mampu yang jatuh miskin.

    Pada akhirnya, kemiskinan bukanlah masalah, apabila sabar menghadapinya. Yang kaya pun tidak perlu menangis, anda hanya perlu menyumbang.

  13. bay
    Posted September 11, 2012 at 6:53 pm | Permalink

    Oiya, kadang kemiskinan juga merupakan nasib, bukan kesialan belaka. Orang2 yang malas untuk merubah keadaannya, maka nasibnya pun tidak akan berubah. Jangan terlalu tergantung pada Negara, mulai lah dari diri sendri.

  14. ayu
    Posted December 18, 2012 at 11:38 am | Permalink

    Saya sependapat dgn mas bukik tindakan tanpa sentuhan emosi hanyalah pura2. Namun untuk sebagian orang yang berada dlm garis kemiskinan tidak memerlukan tangisan dr orang2 yang lebih mampu. Mereka butuh support (baik scr emosi atau fisik). Asal dr mereka sndr jg ingin maju memperbaiki kehidupannya. Manusia tersentuh emosinya ketika melihat scr visual dr gambar atau langsung melihatnya bukan melalui data. Karena data bisa dikatakan hanya sebuah angka yang tidak bisa berbicara tanpa penjelasan kata2 dgn memberikan media visual untuk menyentuh emosi manusia.

    • Posted January 1, 2013 at 5:34 pm | Permalink

      Iya pokok tulisan ini adalah kritik terhadap pengambil kebijakan yang mendasarkan diri pada data, bukan pada empati terhadap persoalan. Tanpa merasakan langsung persoalannya, solusi apapun hanya akan menjadi perubahan diatas kertas

  15. dini
    Posted January 2, 2013 at 10:13 am | Permalink

    Ya tidak perlu ditangisi pak, saya setuju dg komentar dr bay dibawah, seberapa pun besar bantuan yg diberikan tidak akan menuntaskan kemiskinan, miskin tidaknya kita, kita sendiri yg menentukan, pemerintah tidak mgkn bs mengentaskan kemiskinan, tp usaha individu itu sendiri yg bs mengentaskan dirinya dr kemiskinan.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi