Mengapa saya mendukung Guru Lany dari Komunitas Guru Belajar?

Saya mengenal Lany pertama kali berkat buku pertama saya, Anak Bukan Kertas Kosong. Dari obrolan kemudian berlanjut ke kerja sama distribusi buku tersebut ke Timika. Dari kerja sama itu kami menemukan kesamaan visi tentang pendidikan yang menumbuhkan anak, bukan yang menjejali anak. Hingga kemudian bertemu kembali di Komunitas Guru Belajar.

Tugas dari Kampus Guru Cikal untuk merintis Komunitas Guru Belajar mempertemukan kembali saya dengan Lany.  Spirit komunitas guru tersebut disambut Guru Lany dengan antusias. Ia segera menyatakan diri bersedia menjadi Penggerak Komunitas Guru Belajar dan dalam perjalanannya, menjadi salah satu penggerak yang paling aktif.

Guru Lany menjadi penulis yang rajin menulis praktik cerdas pengajaran dan pendidikan untuk diterbitkan di Surat Kabar Guru Belajar. Ia penuh semangat mencari berbagai kesempatan sekecil apapun untuk bisa membagikan kegemaran belajarnya pada anak-anak maupun guru yang lain. Setiap kesempatan adalah kesempatan yang baik untuk menularkan kegemaran belajar.

Sampai kemudian Guru Lany memulai suatu aktivitas yang saya sebut sebagai “kegilaan”. Ia mempunyai gagasan mengisi liburan ke daerah pelosok, bukan untuk jalan-jalan tapi mengadakan pendampingan intensif bagi guru dan relawan pengajar. Gagasan berjumpa kesempatan sehingga terciptalah kegilaan tersebut.

guru-lany

Beberapa rekannya, yang selama ini intens berdiskusi online, mengundangnya untuk berlibur di Wamena. Dengan menggunakan uang pribadi, ia pun mengubah liburan menjadi pelatihan. Ia menggunakan pengalaman dan pelajaran dari Komunitas Guru Belajar untuk mendampingi guru dan relawan pengajar. Bayangkan, seorang guru dengan dana pribadi bisa mengubah liburan menjadi bagian dari upaya meningkatkan pendidikan di daerah pelosok.

Apakah cuma itu “kegilaan”nya?

Masih ada lagi kegilaannya. Semoga Anda masih penasaran dan melanjutkan untuk membaca.

Poin kegilaannya sebenarnya sudah saya tuliskan di kegilaan Guru Lany berikutnya yang bisa Anda baca di https://kitabisa.com/gurulany

Saya mau menceritakannya lebih detil. Pelatihan yang diadakan Guru Lany pada dasarnya menyebarkan pola belajar yang dikembangkan di Komunitas Guru Belajar. Artinya, pola-pola itu telah dibuktikan efektivitasnya para guru belajar di lebih dari 36 daerah di Indonesia. Pola belajar apa sih?

Guru Lany, sebagaimana Komunitas Guru Belajar, meyakini bahwa belajar adalah kenikmatan. Guru belajar pada dasarnya tidak butuh iming-iming. Siapa yang berhasrat belajar bisa ikut pelatihannya Guru Lany. Terlibat karena ingin merasakannya nikmatnya belajar, bukan karena ingin mendapat uang transport, per diem atau pun sertifikat.

Pelatihan yang diadakan Guru Lany diperkuat oleh teori maupun praktik yang dilakukan para guru di Komunitas Guru Belajar. Karena sebagus apapun teori, menjadi tak bermakna bila belum berhasil diterjemahkan menjadi praktik. Berbagi praktik antara para guru belajar justru menjadi sumber belajar di Pelatihan yang dilakukan Guru Lany.

Tantangan bagi guru di setiap daerah adalah adanya keragaman kepentingan dan konteks yang dihadapi. Mengajar bukan berarti menerapkan mentah-mentah materi dan proses belajar yang datang dari “langit”. Guru Lany bertindak sebaliknya. Proses belajar yang dipandu Guru Lany berpijak dari konteks lokal, dari apa yang dimiliki oleh para guru di Wamena. Pelatihan bukan membuat guru menjadi merasa tak berdaya, tapi menjadi percaya diri dengan apa yang ada.

Pelatihan yang diadakan Guru Lany tidak menuntut kesempurnaan pada saat pertama kali mencoba. Guru, sebagaimana kita, perlu kesempatan mencoba, keliru, memperbaiki kekeliruan, dan mencoba lagi, tanpa dihakimi.

Banyak yang percaya kompetisi bisa membangun semangat belajar. Kenyataannya, kompetisi membuat semangat belajar hanya ketika ada kompetisi. Karena itu, Guru Lany bertindak sebaliknya, ia justru mengundang peserta pelatihannya untuk berbagi dan berkolaborasi. Dengan kolaborasi, setiap peserta bisa bangga berkontribusi sesuai potensi, kelebihan dan pengalamannya.

Pelatihan di Wamena membuat  rekan-rekan Jaringan Pendidikan Komunitas Masyarakat Adat (JaPKA) berminat mengundang Guru Lany “berlibur” ke Jambi. Mereka memandang pendekatan yang dilakan Guru Lany yang tepat untuk memahami kebutuhan lokal dan memperkuat kekuatan masyarakat adat. Pendekatan yang memerdekakan guru maupun anak dalam belajar.

Guru Lany menunjukkan bahwa siapapun, seorang individu pun, bisa memulai perubahan mendasar pendidikan dari langkah kecil, mengisi liburan menjadi pelatihan di daerah pelosok. Saya tahu bahwa tanpa inisiatif ini pun, Guru Lany tetap melakukan “kegilaannya”, tapi saya tidak ingin membiarkan Guru Lany sendiri. Karena itu saya mendukung, dan mengundang Anda untuk mendukung inisiatif Guru Lany.

Anda ingin lebih yakin? Silahkan pelajari tulisan Guru Lany di Surat Kabar Guru Belajar:

Edisi 1: http://bit.ly/SKGuruBelajar1
Edisi 2: http://bit.ly/SKGuruBelajar2
Edisi 3: http://bit.ly/SKGuruBelajar3
Edisi 4: http://bit.ly/SKGuruBelajar4
Edisi 5: http://bit.ly/SKGuruBelajar5
Edisi 6: http://bit.ly/SKGuruBelajar6

Anda peduli? Anda ingin perubahan mendasar pendidikan? Dukung Guru Lany. Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan

  1. Menjadi donatur untuk inisiatif Pelatihan Guru Lany dengan klik di https://kitabisa.com/gurulany
  2. Membuat tulisan seperti ini atau tentang pentingnya perubahan mendasar pendidikan dan mencatumkan tautan (link) ke halaman kampanye Pelatihan Guru Lany di https://kitabisa.com/gurulany
  3. Atau setidaknya, Anda bisa menyebarkan tautan (link) tulisan ini di media sosial Anda

Perubahan mendasar pendidikan tidak terwujud melalui sekali langkah raksasa, tapi langkah kecil yang berulang kali.

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?