search

Mengapa saya membolehkan anak saya ngeblog?

Banyak yang membayangkan internet itu berbahaya buat anak. Tapi saya membolehkan anak saya ngeblog. Mengapa? 

Setelah ayahnya punya blog Bukik.com, mamanya punya blog WiwinHendriani.com, Damai pun minta dibuatkan blog. Akhirnya saya perkenalkan domain blog yang sudah saya siapkan sebelumnya, AyundaDamai.com, kepada Damai. Mulailah Damai menulis di blognya sendiri. Tulisan sederhana mengenai pengalaman, puisi, cerita dan buku yang dibacanya.

Saya tanya ke Damai mengapa dia suka ngeblog. Damai menjawab. Jawaban itu saya pasang di status FB. Setelah beberapa hari, status itu mendapat komentar dari Pak Ino. Saya belum sempat menjawab komentar itu sampai mendengar kabar Pak Ino meninggal dunia. Saya menulis ini sekaligus secara tidak langsung menanggapi komentar Pak Ino itu.

Mengapa Damai suka ngeblog?

Mengapa Damai suka ngeblog?

Thomas Friedman mengatakan dalam bukunya The World is Flat bahwa ada 3 gelombang globalisasi. Globalisasi 1.0 ketika negara mengglobal. Globalisasi 2.0 ketika perusahaan mengglobal. Globalisasi 3.0 ketika individu mengglobal. Iya, jaman sekarang setiap orang bisa mengglobal, karyanya bisa dikenal di seluruh penjuru dunia, tanpa tergantung dukungan dari negara atau perusahaan seperti jaman dulu. Globalisasi ini terjadi karena adanya media sosial yang memungkinkan setiap orang menjadi produsen, penyebar sekaligus konsumen.

Pembelajaran bukan mengkonsumsi pengetahuan, tapi justru memproduksi pengetahuan. Belajar itu mengunduh sekaligus mengunggah. Generasi digital senang belajar, senang memproduksi dan menampilkan pengetahuan yang dimilikinya. Mereka pun seolah dilahirkan dengan kemampuan menakjubkan untuk segera akrab dengan teknologi informasi.

Jadi, ngeblog adalah keharusan bagi generasi digital. Pilihannya, orang tua terlibat atau sepenuhnya diajari oleh lingkungan. Saya memilih untuk terlibat. Ada banyak manfaat ketika anak senang ngeblog.

Anak belajar mengeksplorasi diri & lingkungannya. Setelah menulis posting Membaca Buku Life of Pi, saya bertanya ke Damai, “kita jadinya kemana nih, nonton Life of Pi atau ke Taman Safari?”. Jawabannya Damai asyik, “Ke Taman Safari saja. Bisa kutulis di blog”. Jadilah tulisan “Berpetualang ke Taman Safari”. Ngeblog adalah proses eksplorasi minat, kesukaan, hobi, pengalaman yang disukainya saat ini. Dengan menuliskan, anak bisa belajar apa saja yang telah disukainya selama ini.

Anak belajar merefleksikan pengalamannya. Setelah menulis “Pengalaman bersama Papski”, saya bertanya ke Damai, “kamu bingung ya mau nulis yang mana?” Damai kontan mengiyakan. Pengalaman pasti banyak sekali. Memilih dan memilah mana bagian pengalaman yang akan dituliskan butuh suatu latihan yang bisa didapatkan dengan ngeblog. Proses ngeblog adalah belajar dalam diam.

Anak belajar mengartikulasikan pendapatnya. Saya senang membaca posting Damai mengenai buku yang telah dibacanya semisal “Aku dan Buku Oliver Twist”. Ia tidak memindahkan isi buku ke blog seperti mahasiswa memindahkan isi buku ke skripsi *eh. Ia menuliskan isi buku secara singkat sekaligus mengemukakan pendapatnya dengan kata-katanya sendiri.

Mengapa anak boleh ngeblog? Blog adalah media sosial yang “relatif aman” bagi anak. Setidaknya lebih aman dibandingkan Facebook. Ngeblog tidak mensyarakatkan pengguna mengisi data pribadi. Blog juga tidak menyediakan fasilitas pengiriman pesan personal. Semua informasi sifatnya terbuka untuk publik sehingga lebih mudah dipantau orang tua.

Catatan tambahan untuk keselamatan anak: ulang dan ulang kembali upaya mengingatkan anak untuk tidak menyebutkan alamat rumah, alamat sekolah dan no telepon di blog. Sebelum mempublikasikan, orang tua perlu membaca terlebih dahulu tulisan anak. Pastikan tidak ada pengalaman yang akan memalukan anak pada saat ini atau dikemudian hari.

Ketika generasi baru datang, kebiasaan baru tak terelakkan

Saya menyarankan menggunakan wordpress.com karena stabil dan mudah digunakan. Bila ingin terlihat keren, bisa beli domain dengan nama sendiri. Murah, hanya 100 ribu/tahun, kurang dari 9 ribu/bulan. WordPress memungkinkan 1 blog dikelola beberapa orang. Orang tua bisa menjadi administrator, sementara anak menjadi penulis blog.

Bagaimana mengajari anak ngeblog? Berilah contoh. Tunjukkan ngeblog itu menyenangkan, bukan beban. Ini bagian yang paling susah hehe.

Apakah setiap anak bisa menulis? Secara umum, anak bisa menulis. Menulis itu mudah selama kita mementingkan proses kreatifnya, bukan EYD atau ketepatan berbahasanya. Biarkan anak menjadi dirinya sendiri, menuliskan pikiran dan perasaannya. Biarkan tulisan anak menjadi cermin yang jernih memantulkan perkembangan kemampuan anak.

Orang tua seminimal mungkin memperbaiki tulisan anak. Tidak perlu melakukan perbaikan yang berlebihan hingga spontanitas anak-anak hilang dari tulisannya. Biar tulisannya sederhana dan apa adanya, orang tua patut bangga terhadap keberanian anak menggunakan kata-katanya sendiri. Contohnya bisa baca Belajar dari Miyuki.

Menulis itu mudah bila orang tua bersedia menjadi teman belajar anak. Ajak anak ngobrol mulai dari ide tulisan, isi tulisan, judul tulisannya hingga tulisan siap dipublikasikan.  Kadang anak butuh waktu sendiri untuk menulis. Kadang anak butuh bersama orang tua untuk bertanya-tanya. Orang tua perlu menjaga keseimbangan antara kemandirian anak dan kebersamaan dengan orang tua.

Kesimpulannya, ngeblog adalah aktivitas bersama anak dengan orang tua. Dan ini merupakan jawaban saya buat kepedulian Pak Ino yang ditunjukkan melalui komentarnya di status FB.

Oh ya sekarang Damai menggunakan media sosial yang khusus dirancang buat anak dan keluarga:TemanTakita.com. Tidak semua orang bisa mengakses media sosial itu. Orang tua yang memiliki akses bertanggung jawab membuatkan akun dan menyerahkan pada anak dengan kesepakatan-kesepakatan. Ada dua fitur menarik, pertama adalah timeline, pengguna bisa update status dan saling berkomentar status yang lain seperti di Facebook.

Profil Pengguna TemanTakita.com

Fitur kedua adalah Petualangan Cerita. Setiap bulan ada tantangan dengan tema yang beragam. Anak dan orang tua dituntut melakukan aktivitas offline bersama dan mengunggah foto aktivitas tersebut keTemanTakita.com. Ketika mengunggah foto, anak akan mendapatkan Pin yang bisa dikumpulkan untuk mendapatkan apresiasi dari Takita. Petualangan Cerita ini yang memfasilitasi orang tua dan anak mempunyai interaksi yang berkualitas. Teknologi yang mendekatkan keluarga.

Tertarik? Informasinya bisa follow @KataTakita di twitter dan Takita Pencerita di Facebook dan Pinterest.

Galeri Tantangan TemanTakita.com

Galeri Tantangan TemanTakita.com

Bagaimana pendapat anda mengenak anak-anak yang ngeblog? 

Klik untuk Langganan Bukik.com via Email

Tags: , , ,

13 Comments

  1. Posted January 19, 2013 at 6:44 am | Permalink

    suatu hari nanti,kami juga akan ngajar faris ngeblog..biar ia bisa bikin portfolio HS nya sendiri..:) postingannya “like this” pak bukik :) thanks

    • Posted January 19, 2013 at 6:47 pm | Permalink

      Asyiik…..nanti berteman di dunia blog ya….

  2. Posted January 19, 2013 at 8:22 am | Permalink

    Blog memang sarana yang paling aman untuk anak-anak, ya.

    ^^

    • Posted January 19, 2013 at 6:48 pm | Permalink

      Tidak aman sepenuhnya, tapi relatif aman dibandingkan media sosial lain

  3. Antyo R.
    Posted January 19, 2013 at 10:30 am | Permalink

    Idem ditto. Saya juga begitu. Membiarkan anak saya, termasuk membiarkan dia eh mereka meninggalkan blognya yang pakai domain khusus. Tentang privasi, berlaku juga untuk foto rumah, foto nomor rumah, foto pelat nomor mobil, dan informasi geografis lokasi dalam media sosial. Mereka paham.

    Prinsip saya, selama anak di bawah 17 tahun maka ortu masih berwenang untuk cawe-cawe. Dalam praktik sih saya gak prnh stalking anak saya di meda sosial, dan nimbrung di blog maupun halaman FB mereka pun gak pernah. Biarlah mereka punya dunia sendiri. Saya tahu posting blog anak saya pun krn diberitahu orang lain, dan seringkai saya nggak menengoknya.

    • Posted January 19, 2013 at 6:49 pm | Permalink

      Wah harus berguru nih sama paman……
      Iya selama masih anak, orang tua harus bertanggung jawab penuh

  4. fanoalfano
    Posted January 19, 2013 at 12:45 pm | Permalink

    Reblogged this on Pastel My Life…..

  5. Posted January 19, 2013 at 7:02 pm | Permalink

    Mantab, sy pun punya referensi bikin blog anak sy ceritazara.com krn info dari mas bukik ttg ayundadamai.com

  6. jeffreysatria
    Posted January 20, 2013 at 10:17 pm | Permalink

    “Ia tidak memindahkan isi buku ke blog seperti mahasiswa memindahkan isi buku ke skripsi *eh.”

    Dari blog anak diapresiasi ketika ia menuliskan sesuatu yang orisinil dari relung hati dan pusat pikirannya. Di masa depan kita punya banyak generasi pencipta, bukan generasi plagiat yang mau mudahnya sendiri.

  7. Posted January 22, 2013 at 5:25 pm | Permalink

    wah, perlu di tiru nih. Anak saya belum bisa ngeblog, jadi menyimak tip dan trik menjadi orang tua yang bijak saja.

  8. Posted January 24, 2013 at 5:03 pm | Permalink

    Reblogged this on Wiwin Hendriani.

  9. Posted January 30, 2013 at 5:56 pm | Permalink

    Jadi ‘mainan’ tersendiri dengan anak ya mas. bukannya malah anak main sendiri.

    Dan bener soal blog lebih aman dari FB. dia lebih terbuka dan secara personal satu arah.

  10. Posted September 25, 2013 at 10:58 am | Permalink

    Pak Bukik bisa aja nih, terahir2 nyerempet ke temantakita hehe anakku nant juga tak ajarin ngeblog ah…

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi