search

Mengapa Riset Kualitatif itu Perlu dan Menyenangkan?

Riset kualitatif itu lebih mudah dari statistik? Buang jauh pikiran itu. Riset kualitatif itu menyenangkan tapi tidak lebih mudah dari statistik.

Saya sebenarnya tidak banyak melakukan riset kualitatif. Tapi karena saya tidak banyak melakukan riset, ya akhirnya riset yang saya lakukan ya kebanyakan riset kualitatif. Judul-judul yang masih saya ingat Studi Eksplorasi Kepribadian Wirausahawan Menggunakan Role Construct Repertory Test (Rep Test), Dinamika Psikologis Golongan Putih, Strategi Membuang Sampah pada Masyarakat Surabaya, Pemetaan Inti Positif Pembelajaran, Psikografi Walikota Surabaya & Gubernur Jawa Timur (Kerjasama dengan Kompas Jawa Timur).

Sejak mundur dari dosen, saya tidak melakukan riset kualitatif secara formal. Tapi dalam pekerjaan sebagai fasilitator, saya menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry yang membutuhkan kerangka berpikir riset kualitatif. Sisi lain, isteri saya sedang mengambil disertasi yang menggunakan riset kualitatif ya gimana-gimana saya menjadi teman diskusinya. Berbeda dengan saya, isteri saya jauh lebih telaten menyelusuri jejak-jejak riset kualitatif dalam berbagai literatur.

Saya jatuh cinta dengan riset kualitatif sejak saya kenal. Awalnya, saya melihat riset kualitatif sebagai alternatif dari ketidaksukaan saya terhadap upaya kuantifikasi perilaku manusia dalam psikologi. Tapi setelah berkenalan lebih jauh, riset kualitatif memang menyenangkan.

Semangat pagi! #hellogram #bukikpaint

A photo posted by Bukik Setiawan (@bukik) on

Melumas sendi | #bukikpaint #hellogram

A photo posted by Bukik Setiawan (@bukik) on

Lebih dari menyenangkan, riset kualitatif itu perlu dipelajari buat menjaga kesehatan perkembangan pengetahuan. Riset kualitatif itu punya peran yang sama dalam memajukan ilmu pengetahuan sebagaimana riset kuantitatif. Cek saja riset-riset besar psikologi seperti yang dilakukan Piaget dan Maslow.

Apa saja yang membuat riset kualitatif itu perlu dan menyenangkan?

  1. Riset kualitatif itu mengasah rasa ingin tahu dalam memahami hal-hal menarik dalam beragam konteks kehidupan. Kita akan mendapatkan banyak kejutan dari temuan-temuan tidak terduga di lapangan.
  2. Riset kualitatif memberi kesempatan pada kreativitas periset dalam merumuskan penjelasan terhadap berbagai kejadian unik, tidak tergantung pada jumlah kejadiannya. Satu kejadian pun bisa jadi fokus riset kualitatif
  3. Riset kualitatif itu ibarat belajar langsung dari sang guru yang paham dan mempraktekkan suatu pengetahuan. Pak Ahimsa pernah berkata melakukan riset kualitatif itu seperti kita pergi ke suatu desa, belajar dari orang desa tersebut mengenai topik yang ingin kita pelajari. Belajar dari sang guru berarti juga tidak mempermasalahkan berapa banyak orang yang terlibat dalam riset kita. Lebih penting kualitas guru daripada jumlah guru yang mengajari kita.
  4. Riset kualitatif melatih fleksibilitas kita dalam menghadapi temuan tidak terduga di lapangan. Proposal/desain riset kualitas bisa disesuaikan atau diubah sesuai dengan temuan lapangan. Jadi periset punya keleluasaan dalam mengikuti rasa ingin tahu terhadap fokus risetnya
  5. Riset kualitatif melatih kita memahami fenomena secara utuh dan apa adanya, tanpa kacamata yang membatasi pandangan. Bayangkan indahnya berkenalan dengan orang baru secara tulus, tanpa prasangka, tanpa praduga.
  6. Riset kualitatif itu pembelajaran terus-menerus. Lakukan penggalian data, analisis data, hasil analisis, kemudian penggalian data kembali. Proses penggalian data kembali semakin tajam sesuai dengan hasil analisis data dari penggalian data sebelumnya. Ada proses iteratif yang memungkinkan kita belajar terus-menerus.
  7. Riset kualitatif itu mengasah kepekaan kita terhadap fenomena yang kita hadapi. Dalam riset strategi membuang sampah misalnya. Saya perlu membaca dan membaca ulang hasil wawancara sampai menemukan insight ragam strategi membuang sampah yang dilakukan masyarakat. Ada “Aha” yang kita rasakan dalam melakukan riset kualitatif. Beda tipis dengan Sherlock Holmes hehe
  8. Riset kualitatif membuat kita bisa menulis laporan riset secara naratif. Penulisan laporan riset kualitatif lebih mengandalkan kekuatan naratif. Jadi buat yang berbakat jadi sastrawan, laporan riset kualitatif itu sebuah tantangan menarik.Kita punya kesempatan melukiskan sebuah fenomena dengan kata-kata yang luwes dan indah.
  9. Riset kualitatif membekali kita cara berpikir yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Riset kualitatif mengajarkan kita untuk hati-hati dan bijak dalam menilai orang-orang yang kita temui.

Ah sudahlah….sudah terlalu banyak poin. Buat yang tidak suka poin, bisa simak cerita saya mengenai pembelajaran riset kualitatif di Stasiun Gubeng. Cerita ini berdasarkan pengalaman plus ditambahi imajinasi untuk menutup bagian yang sudah terlupa atau memang ingin saya tambahkan hehe

Jadi dulu ketika mengajar kelas tunggal mata kuiah riset kualitatif, saya mengajak mahasiswa berkunjung ke stasiun Gubeng. Mengapa? Setahu saya tidak banyak mahasiswa saya yang akrab dengan stasiun kereta api. Beruntungnya dulu pengunjung masih bisa masuk ke dalam stasiun, berbeda dengan sekarang. Selain itu, stasiun Gubeng relatif dekat dari kampus sehingga tidak banyak memakan waktu kuliah.

Mau kemana?

A photo posted by Bukik Setiawan (@bukik) on

Mencarinya

A photo posted by Bukik Setiawan (@bukik) on

Setelah masuk dalam stasiun, saya minta mahasiswa menyebar ke berbagai penjuru stasiun yang menarik menurut mereka. Tugasnya adalah mengamati keadaan stasiun, memilih satu orang yang menarik dan melakukan wawancara pada orang itu. Hasil akhirnya, mahasiswa menulis dengan gaya bebas mengenai stasiun gubeng dari sudut pandang “orang dalam”.

Selagi mahasiswa melakukan observasi dan wawancara, saya duduk ngopi di cafe…..uenak tho hehe. Sambil ngopi, saya memberikan penjelasan tambahan bila ada mahasiswa yang bingung dengan hasil temuannya. Dan benar saja, meja ngopiku tidak pernah kosong dari yang namanya mahasiswa. Ada saja yang bertanya.

Hasilnya menakjubkan. Mahasiswa jadi pandai menulis. Tulisan mereka tidak kering, tidak sekedar merangkai kalimat-kalimat normatif. Kebanyakan tulisan bisa menggambarkan stasiun Gubeng secara detail sekaligus pemaknaannya bagi orang-orang yang ada di stasiun. Semakin berkualitas informasi yang didapatkan, semakin berkualitas tulisan yang dihasilkan.

Pada kuliah minggu berikutnya, saya membahas tulisan-tulisan mahasiswa itu. Tidak semua. Beberapa tulisan menarik, baik yang kurang bermutu maupun yang sangat bagus, saya bahas dikelas dan dikaitkan dengan riset kualitatif. Apa tema-tema tentang stasiun Gubeng yang mereka temukan? Apa tema yang ada dalam tulisan yang bisa dijadikan topik riset kualitatif? Bila dilakukan riset, siapa lagi yang perlu diwawancarai? Apa lagi data yang perlu digali agar lebih paham mengenai topik riset? Apa ciri-ciri gaya penulisan laporan riset kualitatif yang baik?

Pengalaman mengajar matakuliah pada tahun tersebut (saya hanya mengajar dua tahun) adalah salah satu pengalaman mengajar saya yang paling menyenangkan. Ya karena riset kualitatif itu menyenangkan.

Screen Shot 2012-12-19 at 9.51.56 AM

Sayangnya, riset kualitatif di ranah psikologi dalam 10 tahun terakhir tidak banyak mengalami kemajuan. Orang cenderung menganggap mudah riset kualitatif. Riset kualitatif cukup dipelajari dalam 1 mata kuliah yang hanya 2 sks. Sementara riset kuantatif diajarkan lebih dari 6 mata kuliah yang total 12 sks. Akibatnya, waktu belajar yang terbatas membuat lahirnya banyak salah kaprah dan salah paham terhadap riset kualitatif.

Semisal, riset kualitatif dianggap sebagai metode riset. Istilah “metode riset kualitatif” adalah reduktif dan menyesatkan. Kata Pak Ahimsa, tidak ada itu riset kuantitatif atau riset kualitatif. Kuantitatif atau kualitatif itu datanya, bukan risetnya. Jadi adanya itu riset positivisme, fenomenologis, grounded research, psikoanalisis, etnografi dll. Nah sekarang beragam riset itu direduksi hanya menjadi dua kategori: riset kuantitatif & riset kualitatif. Padahal setiap ragam riset itu mempunyai asumsi dan metodenya masing-masing.

Semisal, riset kualitatif itu lebih mudah dari pada riset kuantitatif karena tidak menggunakan statistik. Kalau ada yang bilang riset kualitatif itu lebih mudah dari statistik, itu pasti dia begitu benci sama statistik hehe. Riset kualitatif punya kerumitannya sendiri sebagaimana riset kuantitatif. Susah atau mudah itu bukan karena pilihan metode risetnya. Susah atau mudah itu karena kita suka dan mau belajar sebuah metode riset.

Semisal, langkah dalam riset kualitatif dianggap linear sebagaimana riset kuantitatif. Proposal, penggalian data, analisis data, penulisan. Padahal proses riset kualitatif sifatnya iteratif. Setelah wawancara, analisis data, wawancara lagi dengan pertanyaan baru, atau malah melompat mundur ke penyusunan ulang proposal. Proses riset kualitatif berorientasi pada tujuannya: pemahaman yang lebih terang mengenai suatu fenomena.

Semisal, analisis data riset kualitatif itu langkahnya adalah open coding, axial coding, selective coding. Padahal langkah coding (distance comparison) tersebut hanya dilakukan kalau kita memilih menggunakan grounded research. Kesalahpahaman ini dijumpai di beberapa buku mengenai riset kualitatif (baik buku asing maupun Indonesia). Buat mahasiswa S1, saya sangat menyarankan menggunakan teknik analisis tematik dari Boyatzis yang langkahnya lebih simpel dan lebih jelas.

Sayang sekali kalau riset kualitatif yang pelu dan menyenangkan itu dipelajari setengah-setengah. Ada banyak riset “besar” di psikologi adalah riset kualitatif, sebagai contoh risetnya Piaget yang melahirkan teori perkembangan kognitif dan risetnya Maslow yang melahirkan piramida kebutuhan manusia. Sudah selayaknya kita menghargai riset kualitatif sebagaimana kita menghargai riset kuantitatif.

Mulailah dengan konsekuen terhadap pilihan metode riset kita. Pilih riset kualitatif karena suka dan sesuai dengan fokus risetnya, bukan karena benci statistik. Belajar lebih dalam dan berdiskusi lebih sering mengenai riset kualitatif. Kalau mau diskusi via blog bisa berkunjung kesini.

Menurutmu, apa yang menyenangkan dari riset kualitatif? 

Incoming search terms:

Tags: , , , ,

20 Comments

  1. momo
    Posted December 18, 2012 at 9:21 pm | Permalink

    Wah..jadi semangat nggarap skripsi..saya jg mau pake tematik boyatzis pak..mantaabb!!! suwun sanget :D

  2. Visi
    Posted December 19, 2012 at 6:37 am | Permalink

    menurut saya, yang asik adalah saat bertemu subjek dan mereka menjawab hal-hal yang diluar dugaan. jadi punya sudut pandang baru pak :D

    • Posted December 19, 2012 at 7:03 am | Permalink

      Bener banget…….mereka adalah guru. Guru yang memberi wawasan baru

  3. Posted December 19, 2012 at 8:05 am | Permalink

    Yang menyenangkan dari riset kualitatif adalah terkadang sebagai peneliti kita memperoleh temuan2 yang menakjubkan, yg tidak diprediksi sebelumnya. Berbeda dgn riset kuanitatif, yg pengumpulan datanya menggunakan kuisioner tertutup dan kerangka analisisnya sudah ditentukan dari awal.

    jadi pengen belajar riset pada Pak Bukik :D

    • Posted December 19, 2012 at 10:24 am | Permalink

      Iya setuju karena sebagai periset kualitatif kita menjadi pembelajar, menjadi anak-anak yang mencari tahu keajaiban hidup

  4. Yoen
    Posted December 19, 2012 at 9:40 am | Permalink

    Kalau sudah dari sononya berdarah pendidik, diluar sekolah dan diluar kampuspun seorang pendidik itu tetaplah pendidik. Bravo, Mas Bukik. Terima kasih utk selalu berbagi dan memberikan pencerahan.

    • Posted December 19, 2012 at 10:23 am | Permalink

      Hehehe terima kasih Bu Yoen……semoga ada manfaatnya

  5. Posted December 19, 2012 at 10:18 am | Permalink

    “Riset kualitatif itu lebih mudah dari statistik?”

    kalo kualitatif kan mestinya dibandingkan dg kuantitatif bro. atau jangan-jangan difahami bahwa statistik itu selalu kuantitatif? :)

    • Posted December 19, 2012 at 10:23 am | Permalink

      Hahaha iya ceritanya belum kutulis. Banyak kejadian, orang memilih riset kualitatif semata karena tidak suka statistik

  6. Posted December 19, 2012 at 5:18 pm | Permalink

    Bagi awam seperti saya, ini soal rumit.
    Bahkan dari riset kuantutatif pun, tahap setelah pengumpulan data — yakni pengolahan, penyajian, analisis, dan interpretasi — itu tambah rumit. :D
    Tapi apa yang kemudian disimplifikasikan sebagai “kualitatif” juga membingungkan bagi saya. Unsur mode tampaknya juga ada. Bukankh dulu sempat ada “participatory action research” segala? :-)
    Moral cerita, serahkan saja ke ahlinya, misalnya Pa Bukik dan Bu Bukik. Sebagai pembaca executive summary, saya tak mempertanyakan metodologi karena kapasitas saya tak menggapai skeptisme positivistik. Urusan saya personal banget, karena saya percaya Pak Bukik maka saya percaya kesimpulan Pak Bukik.
    Hahhaha, ini yang namanya korban efek scientistic bukan scientific :))))))

    • Posted December 19, 2012 at 5:42 pm | Permalink

      Hahaha iya paman, bahasa postingnya nanggung. Terlalu rumit buat yang awam. Terlalu renyah buat yang ahli. Tapi biarin lah….hitung-hitung menambah konten riset di dunia blog hehe *alesan

  7. Posted December 19, 2012 at 6:05 pm | Permalink

    Reblogged this on Wiwin Hendriani.

  8. Dzulfikar
    Posted December 19, 2012 at 8:25 pm | Permalink

    Reblogged this on Just Share and commented:
    Ilmu berharga nih :)

  9. Dzulfikar
    Posted December 19, 2012 at 8:27 pm | Permalink

    Ada saran buku bagus ttg riset kualitatif untuk org awam?

    • Posted December 21, 2012 at 10:00 am | Permalink

      Handbook of Qualitative Research, Norman K. Denzin & Yvonna S. Lincoln
      Basics of Qualitative Research: Techniques and Procedures for Developing Grounded Theory,
      Juliet Corbin & Anselm Strauss

      • Dzulfikar
        Posted December 21, 2012 at 10:30 am | Permalink

        Wedew serius nih bacaannya berat

        • Posted December 21, 2012 at 10:49 am | Permalink

          Cuma buku pertama yang berat, tebel banget soalnya. Tapi karena kumpulan artikel, bisa baca yang sesuai kebutuhan

  10. Posted December 24, 2012 at 12:04 pm | Permalink

    setuju, riset kualitatif memang membuat kita lebih berpikir bebas dan menemukan hal-hal baru yang tidak terduga sebelumnya, tidak sekadar “menguji validitas” :)

  11. Posted January 4, 2013 at 11:42 pm | Permalink

    Kapan ya bisa meguru pada pak guru Bukik & bu guru Wiwin? Sangat membutuhkan pencerahan (sambil ngopi di stasiun juga boleh..wkwkwk)

  12. Posted March 6, 2013 at 3:12 pm | Permalink

    Dear,

    Saya ingin memperkenalkan software yang membantu kita mengerjakan dan mengelolah riset serta penelitian dengan metode kualitaitf, yaitu NVivo.

    Kami PT. Advanced Technology Solution ialah sebuah perusahaan pendistribusi software dan hardware. Dengan ini kami ingin menyampaikan bahwa produk software pengolahan data Kualitatif, NVivo sudah bisa di dapatkan lisensi nya melalui perusahaan kami. Kami selaku keagenan NVivo di indonesia menyediakan :

    – Student License ( Sekali untuk seumur hidup)
    – Site License (Menerima update versi terbaru)
    – Guidebook
    – In-house training
    – Seminar
    – Guest Lecture

    Apa itu NVivo?
    – NVivo adalah perangkat lunak yang mendukung penelitian kualitatif dan metode campuran. Ini memungkinkan Anda mengumpulkan, mengatur dan menganalisa konten dari wawancara, diskusi kelompok, survei, audio – dan sekarang di NVivo 10 – media sosial dan halaman web. Dengan NVivo Anda sangat dapat menganalisis data anda yang langsung terhubung dengan link digital, dan ditunjang dengan kemampuan visualisasi. Menambah wawasan dan ide-ide saat Anda bekerja, mempermudah mendapatkan informasi yang akurat dan mudah bagi pekerjaan Anda.

    Untuk informasi silakan menghubungi divisi NVivo di perusahaan kami.

    Terimakasih atas Perhatian anda.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi