search

Mengapa orang lebih jijik pada pengemis dibanding pada koruptor?

Jumat malam setelah menyelesaikan pekerjaan, aku melihat linimasa twitter yang ternyata sudah ramai dengan percakapan #saveKPK. Ramai sekali hingga sabtu pagi.

Banyak sekali tweet dukungan terhadap KPK mulai dari tokoh hingga orang-orang biasa, mulai dari datang ke Gedung KPK hingga yang mentweet atau meretweet. Gerakan anti korupsi menemukan musuh yang kuat hingga menarik banyak simpati dari masyarakat.  Kisruh ini bukan yang pertama, dan bukan pula yang terakhir. Upaya pemberantasan korupsi masih butuh proses panjang.

Apa sih sulitnya memberantas korupsi? Mungkin ada yang menjawab korupsi berlindung dibalik kekuasan. Mungkin ada yang bilang memberantas korupsi itu menghadapi jejaring yang kuat. Beberapa teman memberikan jawaban seperti dibawah ini:

Tapi entah kenapa tiba-tiba tadi pagi terlintas ide tentang kira-kira mengapa sulit memberantas korupsi. Sayangnya, jawaban itu juga berupa pertanyaan hehe. Apa? Ya judul posting ini lah. Mengapa orang lebih jijik pada pengemis dibanding pada koruptor?

Dalam benak kita, koruptor itu lebih diterima dari pada pengemis secara alami. Karena lebih diterima, maka kita lebih sulit menolak/menghindari koruptor dari pada menolak/menghindari kehadiran pengemis di dekat kita. Koruptor disini dimaknai sebagai personifikasi dari korupsi, bentuk konkret dari korupsi yang bisa kita lihat.

Dibawah ini contohnya. Kira-kira bagaimana respon kita menyikapi orang pada dua foto dibawah ini?

Foto @SiKreshna

Bayangkan ya, kita lagi duduk di bangku halte. Kemudian orang semacam pada foto pertama datang dan duduk di sebelah kita. Mata kita sudah dimanjakan dengan penampilannya. Ketika bersebelahan, hidung kita dimanjakan harum badannya.

Sekarang bayangkan, kita lagi duduk di bangku halte. Kemudian orang semacam pada foto kedua datang dan duduk disebelah kita. Sejak awal aja sudah bikin sepet mata. Pas duduk sebelahan, hidung kita langsung terserang bau tak sedap.

Kira-kira pada kesempatan mana kita lebih mungkin menggeser duduk atau bahkan menghindar? Ya. Secara alami, lebih besar kemungkinan pada kejadian kedua.

Selain itu, koruptor adalah orang yang berseragam. Kita lebih mudah menerima kehadiran dan perintah dari kalangan yang berseragam, bahkan ketika perintah tersebut sebenarnya tidak kita setujui.  Seragam adalah simbol otoritas. Kita mengasosiasikan pengguna seragam sebagai pemegang otoritas yang diterima secara umum. Jadi seragam itu menimbulkan kesan yang cenderung positif pada penggunanya.

Seringkali seragam ini diperkuat dengan kata-kata “kebenaran”. “Kebenaran” yang berasal dari pendapat umum, dari undang-undang, bahkan dari kitab suci. Kombinasi seragam dan kata-kata kebenaran itu tampak pada film keren berjudul Kita vs Korupsi: Aku Padamu.

Belum lagi kalau kita berbicara koruptor punya banyak uang yang memungkinkannya mengakses tempat dan fasilitas mewah yang relatif dipandang oleh masyarakat.

Pada akhirnya, sekarang bayangkan kita sebagai orang yang berada dalam “sistem” dan berinteraksi langsung dengan mereka yang kita sebut “koruptor”. Jangan-jangan kita juga masih lebih jijik pada pengemis dibanding pada mereka. Selama kita masih nyaman dekat dengan koruptor maka koruptor pun masih nyaman untuk menjalankan aktivitas sehari-harinya, korupsi.

Belajar dari kasus “Pemberantasan Korupsi di Italia”, setidaknya ada 3 agenda pemberantasan korupsi:

  1. Pemimpin nasional yang berkomitmen melakukan pemberantasan korupsi
  2. Lembaga pemberantasan korupsi yang kuat (Itulah pentingnya #SaveKPK)
  3. Gerakan sosial dan pendidikan untuk menghentikan kebiasaan mengidolakan koruptor dan mencari idola-idola baru dari kalangan yang bersih

Aku pribadi akan mengambil peran pada gerakan pendidikan, gerakan yang mengembangkan anak yang berkarakter sesuai pohon karakter, sehingga bangga pada kemampuan diri sendiri dan jijik untuk melakukan korupsi.

Bagaimana cara agar lebih jijik pada koruptor dibanding pada pengemis?

Cara yang aku usulkan bisa dibaca disini 

Incoming search terms:

Tags: , , , , , , ,

23 Comments

  1. Posted October 8, 2012 at 3:14 pm | Permalink

    nah, pada bidang pendidikan sendiri aku pernah menyaksikan korupsi dana bantuan. saat kulaporkan ke M. Nuh,seolah tak mengejutkan, ia menyadari bahwa mafia proyek berkuasa pada departemennya. bagaimana kita harus bersikap?

    jika sebuah sekolah melaporkan ketidakjujuran dalam proyek2 pendidikan, bantuan maupun ujian, pasti sekolah tersebut terancam.

    apa yg harus kita perbuat?

    • Posted October 8, 2012 at 3:46 pm | Permalink

      Siapkan strategi! Setidaknya, kumpulkan bukti, kenali dan bangun jejaring anti-korupsi, siapkan tindakan yang sesuai dengan bukti dan jejaring itu.

  2. Posted October 8, 2012 at 3:36 pm | Permalink

    Tulisannya bagus, judulnya bikin penasaran. Merasa terhenyak setelah baca tulisannya

    • Posted October 8, 2012 at 3:47 pm | Permalink

      Terima kasih…..
      Aku tadi pagi terhenyak juga ketika dapat idenya
      Merasa diri dungu
      Hehe

  3. Posted October 8, 2012 at 10:27 pm | Permalink

    Saya hny berani merasa tertohok dgn judul dam isinya.

    • Antyo R.
      Posted October 8, 2012 at 10:28 pm | Permalink

      Mmaf ada kata terlewat, seharusnya maaf sy hny berani *komen*..

    • Posted October 8, 2012 at 10:29 pm | Permalink

      Ah paman…..saya tidak niat menohok lho
      Hehehe

  4. Posted October 8, 2012 at 11:58 pm | Permalink

    buat memberantas korupsi itu hanya dengan cara revolusi sistem UUD, jika memang seorang pejabat terbukti korupsi (di hukum mati), dengan begitu penjara juga tidak akan penuh dan para pejabat akan takut untuk melakukan korupsi, mungkin itu ide gila saya,,maaf kalau agak ngawur dan sadis :D

    • Posted November 7, 2012 at 9:50 am | Permalink

      Mungkin efektif, tapi apa mungkin orang-orang menyetujuinya?

  5. Posted October 9, 2012 at 9:00 am | Permalink

    Bagaimana cara untuk lebih jijik pada koruptor ketimbang pada pengemis? Tanggalkan dulu kemanusiaan kita.. barangkali setelah kita tak berkaitan dengan keduaniawian kita dan kedagingan kita, kita baru bisa memandang demikian.

    Tapi kapan? After-death? :) Too late! :)

    • Posted November 7, 2012 at 9:50 am | Permalink

      Hehehe ekstrimsnya gitu
      Tapi di Italia ada gerakan sosial yang membuat malu para koruptor. Ndorokakung yang nulis. Linknya ada di posting ini

  6. Posted October 10, 2012 at 10:40 am | Permalink

    Tulisanya keren Pak, membuka mata hati dan bikin jlebb..
    Untuk dunia pendidikan, bagaimana mau jijik pada korupsi sedangkan anak2 sekolah pada umumnya sudah terbiasa dengan ketidakjujuran? saat ulangan misalnya..

    • Posted November 7, 2012 at 9:52 am | Permalink

      Mulailah ajarkan malu
      Malu melakukan cara yang tidak benar
      Mulailah ajarkan untuk bangga
      Bangga dengan kerja keras meski target tidak tercapai

  7. Posted October 12, 2012 at 5:30 pm | Permalink

    memang tidak mudah untuk merasa jijik kepada koruptor.. khan lebih wangi dan lebih cantik dan ganteng. Itu adalah profesi yang terlihat lebih dibandingkan pengemis.

    Tulisannya luar biasa…

    • Posted November 7, 2012 at 9:52 am | Permalink

      Hehehe iya….
      Harus ada gerakan sosial yang luar biasa

  8. Posted October 12, 2012 at 9:08 pm | Permalink

    Yang perlu ditekankan itu budaya dan padangan masyarakat kali ya mas..

    yang kedua tentu dr pemimpinnya. karena menurut pengalaman aku.. percuma aja pemimpin dimedia bilang gak boleh ini itu tapi dibelakang dia sendiri melakukan apa yg dia ucapkan tidak boleh tersebut.. ya anak buahnya kebanyakan pasti ngikutin jadinya..

    • Posted November 7, 2012 at 9:53 am | Permalink

      Iya setuju
      Mengubah pandangan masyarakat, termasuk dengan menulis posting ini kan hehe

  9. Posted October 16, 2012 at 11:32 am | Permalink

    Bukti dunia sudah terbalik,…. kebanyakan kita masih mengagungkan harta sekalipun mereka kotor,… itu kenyataan kan Pak Bukik? :)

    • Posted November 7, 2012 at 9:53 am | Permalink

      Iya kenyataan yang kita ciptakan dalam praktek keseharian
      Kenyataan yang bisa kita ciptakan ulang

  10. dantarsuit
    Posted October 16, 2012 at 1:25 pm | Permalink

    Korupsi ini kan sudah jadi budaya. Sedikit sharing soal pencegahan dalam konteks yang ringan alias konteks pribadi saja dulu kita mulai. Bukan apa-apa, terkadang budaya seperti mengambil sedikit makanan, sabun, sampo, menyimpan uang kembalian orang meski hanya Rp500 dan mengambil hal kecil lainnya “tanpa permisi” dan “karena hanya nafsu kepingin banget” bisa jadi langkah kecil sebelum melakukan korupsi. Bukan apa-apa, kalaulah saja kita sudah permisi, kan bisa jadi sebuah branding. Orang pun menaruh sedikit/banyak penghargaan kalau kita permisi gitu.

    Kebetulan pun pak Mario Teguh pernah bilang, kalau anak kita memetik bunga di taman, terus kita bilang bunganya bagus dan mari dibawa pulang. Maka anak itu bisa tumbuh menjadi pribadi yang mengambil hak orang lain tanpa memperdulikan orang lain.

    Hm, padahal hal kecil. Mungkin hal kecil bagi yang kenafsuan untuk mengambilnya.

    Nah, soal pemberatasan, mungkin bagi yang punya otoritas dan pendukung lainnya bisa langsung go big. :)

    • Posted November 7, 2012 at 9:54 am | Permalink

      Terima kasih buat komentarnya yang mantap

  11. pita
    Posted October 29, 2012 at 12:05 pm | Permalink

    Pengemis adalah jelmaan Tuhan yang sedang ingin mencobai hamba_Nya. Kalo koruptor, ya gitu deh :D

    • Posted November 7, 2012 at 9:55 am | Permalink

      Lah kok gak dilanjutkan kalimatnya……

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi