search

Mengapa kita mudah menyusun rencana perubahan tapi kesulitan mengeksekusinya?

Banyak organisasi menyusun berbagai rencana perubahan, sebanyak organisasi yang kesulitan mengeksekusi rencana itu. Mengapa demikian? 

Slogan “Perubahan atau Mati” sudah diterima oleh banyak orang. Secara alami, lingkungan kita terus berubah, baik orang, sosial politik ekonomi, teknologi, dan alam. Bila tidak selaras dengan perubahan pada lingkungan, maka cepat atau lambat organisasi akan mengalami keruntuhan. Meski demikian, perubahan tetap menjadi hal yang sulit bagi banyak organisasi. Banyak rencana dibuat, tapi sedikit eksekusi.

Banyak organisasi berencana menggunakan Balanced Scorecard (BSC) untuk peningkatan kualitas organisasi. Karyawan dikirim mengikuti workshop. Konsultan dipanggil. Workshop penyusunan BSC dilakukan. Semua tampak baik-baik saja, sampai kemudian pelaksanaannya baru terasa sulitnya melakukan implementasi.

[instagram url=http://instagram.com/p/TTSmC7qFup/ width=600]

Ada organisasi yang menyusun rencana strategi. Pengumpulan data dilakukan selengkap mungkin. Pembahasan selama beberapa hari untuk menyepakati tujuan strategis dan program kerja. Apa yang terjadi? Tujuan strategis baru seringkali diabaikan. Orang tetap asyik dengan apa yang biasa dilakukannya.

Ketika kita menyusun rencana, seringkali kita terjebak pada asumsi bahwa orang dan kondisi bisa diatur agar sesuai rencana. Karyawan? “Ah tinggal perintah, gak nurut yang tinggal pecat”. Pekerjaan? “Ah kan tinggal disesuaikan sana-sini”. Ada arogansi bahwa orang dan urusan sehari-hari bisa diatur untuk mewujudkan rencana.

Sayangnya, anggota organisasi adalah manusia yang punya hati dan aspirasinya sendiri. Bukan robot yang patuh mengikuti saja semua instruksi. Orang merespon rencana perubahan dengan beragam sikap mulai dari aktif mendukung, pasif mendukung, pasif resisten hingga aktif resisten. Dalam organisasi apapun, ada beragam responnya.

Kenyataannya, urusan yang ditangani anggota organisasi bukan sekedar rencana perubahan. Setiap anggota organisasi tiap harinya harus dan terbiasa mengerjakan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Tidak mudah anggota organisasi untuk berpindah fokus pada rencana perubahan. Ketika mau fokus, dering telepon berbunyi dari penyedia (supplier), ada permintaan tolong dari rekan kerja, ada perintah dari atasan, ada keluhan dari pelanggan. Banyak “lalat-lalat” urusan sehari-hari yang berterbangan dan mengganggu konsentrasi kita dalam mengeksekusi rencana perubahan.

Kenyataannya, kita banyak berencana tapi tidak memikirkan eksekusinya. Kita menyusun rencana perubahan tapi tidak pernah menyusun manajemen perubahan. Akibatnya, organisasi tidak siap mengantisipasi hal-hal yang bisa menghambat pelaksanaan dari sebuah rencana. Siap dengan rencana perubahan, siap pula dengan manajemen perubahannya.

Bagaimana organisasi anda menyusun dan mengeksekusi sebuah rencana perubahan?

Incoming search terms:

Tags: , , , ,

6 Comments

  1. Posted December 18, 2012 at 11:39 am | Permalink

    kalau berdasarkan pengalaman saya dalam mengimplementasi perubahan pada beberapa perusahaan. Letak permasalahannya ada di pemimpin tertingginya. Seperti apa komitmen yang diberikan terhadap rencana perubahan tersebut.

    Jadi kalau saya biasanya langsung menginterview pemimpin tertingginya dan mencari pandangannya. dan tidak jarang saya juga browing di google. :)

    Kalau dia orang yang berkomitmen tinggi pasti sukses deh…

    • Posted December 18, 2012 at 1:07 pm | Permalink

      Setuju bahwa pemimpin puncak adalah kunci perubahan. Tapi saya belum membahas mengenai itu, masih pada apakah organisasi sudah mengantisipasi tantangan dalam mengeksekusi rencana perubahan. Banyak yang tidak menyiapkannya

  2. Posted December 18, 2012 at 1:33 pm | Permalink

    wawasan, bila perusahaan (karyawannya juga) memiiki wawasan yang luas, saya yakin untuk perubahan bisa cepat berubah, jadi sejak dini sebaiknya ada momen atau kesempatan untuk menambah wawasan dulu. Karena dari wawasan itulah muncul banyak keinginan atau ide

    • Posted January 1, 2013 at 5:24 pm | Permalink

      Iya bisa jadi seperti itu, tapi wawasan bawahan tergantung juga pada wawasan atasannya. Semakin luas wawasan atasan, semakin luas wawasan bawahan

  3. Posted April 8, 2013 at 8:33 pm | Permalink

    Bgus pendpt tersbut

  4. @awanyulianto
    Posted June 9, 2013 at 5:28 am | Permalink

    Kok gambarnya tdk bisa di klik?

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi