search

Mengapa kebaikan sering memaksa?

Masuk sekolah? Masuk kerja? Adalah hal baik setidaknya menurut pandangan banyak orang. Tapi mengapa banyak orang yang memaksa orang lain untuk melakukan hal baik itu?

Gara-gara tadi pagi baca berita tentang upaya FPI untuk melarang pementasan Lady Gaga, aku terbersit pikiran yang menjadi judul posting ini. Belajar, sekolah, kerja, beribadah, tertib lalu lintas, buang sampah pada tempatnya, dan banyak kebaikan lagi yang menjadi alasan orang untuk memaksa orang lain. Apakah karena legitimasi bahwa itu kebaikan maka dibenarkan adanya pemaksaan?

Bahkan dalam beberapa workshop yang pesertanya aktivis sosial, aku menemui pola sikap yang kurang lebih sama. Karena atas nama rakyat, maka aktivis sosial bersikap “memaksa” agar tuntutannya dipenuhi pihak lain. Bila tidak, maka akan ada konsekuensi negatif yang diberikan.

Apa dampaknya ketika kebaikan digunakan untuk memaksa? Kebaikan menjadi dijauhi oleh orang-orang. Kok bisa? Secara alami, orang enggan dipaksa. Pemaksaan mungkin akan diterima secara eksplisit tapi secara implisit tetap menolak pemaksaan tersebut. Contoh, anak yang dipaksa sekolah akan masuk sekolah tapi sikapnya disekolah mencerminkan keengganan bersekolah.

Sebaliknya dengan apa yang dinilai oleh sebagai keburukan yang justru jarang menggunakan pemaksaan. Mengapa tidak ada training korupsi? Karena orang belajar korupsi secara alami dan organik. Tidak perlu ada reward & punishment.

Apa yang terjadi ketika keburukan jarang memaksa? Orang menjadi lebih nyaman dan akrab dengan keburukan. Keburukan berteman dengan orang-orang, bukan memusuhinya. Keburukan memahami orang-orang, bukan mengajarinya.

Manusia pada dasarnya tetaplah anak kecil. Ketika disuruh seperti dilarang, ketika dilarang seperti disuruh. Anak kita malas makan? Iming-iming dengan makanan dan laranglah ia makan. Anak kita malas gosok gigi? Tunjukkan asyiknya gosok gigi dan laranglah.

Mau terus memaksa atau memaksa diri untuk lebih kreatif dalam menyebar kebaikan?

Incoming search terms:

Tags: , , , , ,

11 Comments

  1. Posted June 4, 2012 at 8:27 am | Permalink

    selamat datang di negeri dagelan. yang serius dianggap guyon, yang guyon dianggap serius. maka kemudian guyonan akan menjadi keseriusan yang baru

    • Posted June 4, 2012 at 8:29 am | Permalink

      Nah!
      Itu dia……dan keseriusan adalah guyonan genre baru hehe

  2. Posted June 4, 2012 at 10:15 am | Permalink

    Yang terbaik untuk ini mungkin adalah: memberikan kesempatan kepada semua untuk mengetahui banyak hal… mulai dari banyak persepsi, banyak cara, banyak jenis, dan banyak-banyak yang lain. karena dengan mengetahui banyak hal ini maka manusia secara mandiri akan menempatkan dirinya pada pilihanya. Pemaksaan memang sering kali akan menjadi batu sandungan. melakukan sesuatu tiba-tiba merupakan beban.

    • Posted June 4, 2012 at 12:58 pm | Permalink

      Sayangnya, persepsi sendiri adalah jebakan. Orang mengajak melihat dari berbagai sudut pandang selama sudut pandang itu sesuai dengan “kebenaran” atau “kebaikan” yang diyakini benar hehe
      Setuju bahwa pemaksaan membuat sesuatu tiba-tiba merupakan beban….

  3. Posted June 4, 2012 at 10:58 pm | Permalink

    hehehehe iya ya betul sekali itu… di larang malah seperti di perintah sedangkan disuruh belu tentu mau dikerjakan… saya hafalin ah… biar kalau ada masalah di test ke orang orang..

  4. Posted June 5, 2012 at 5:36 pm | Permalink

    jadi anak gak boleh sikat gigi dan makan mas? asal anaknya pinter aja klo kelaparan minta makan.. fufufu ;)

    • Posted June 5, 2012 at 5:40 pm | Permalink

      Aku lebih suka menganggap anakku pintar dari pada menganggap anakku bodoh hehehe

  5. Posted June 11, 2012 at 8:49 am | Permalink

    bagus sekali, teruslah berkarya

  6. Posted June 18, 2012 at 8:38 am | Permalink

    Wah, tumben nulis lagi di sini ;)
    Tapi meski singkat, tulisan ini bermakna dalam… aku jadi ingat motto pendidikan di sekolahku dulu, SMA Kolese De Britto Yogyakarta yaitu, “bebas bertanggung jawab”

    Ketika rambut gondrong dibebaskan di sana, awal-awalnya kami bagai kuda dilepas, liar dan gondrong abis2an supaya tampak beda dengan anak-anak SMA lainnya.

    Tapi uniknya, menjelang naik kelas tiga, banyak dari kami mulai potong rambut, malah cepak dan gundul. Alasannya? “Bosen gondrong!” atau “Gondrong dijauhi cewek-cewek” sama sekali tak ada alasan, “Karena gondrong dilarang”.

    Tampaknya pemerintah harus banyak belajar dari sekolahku dan.. blog ini :)

    • Posted June 26, 2012 at 10:27 am | Permalink

      Hehehe contoh yang keren……sudah ada banyak kejadian, ada banyak contoh, tapi tetap tak terlihat karena keyakinan buta bahwa kebaikan harus menang, segera, saat ini juga

  7. mawar aisura
    Posted November 4, 2012 at 3:51 pm | Permalink

    saya mau tanya,,,kalau pengemis itu memaksa,dan akhirnya saya beri uang,,,bagaimana hukumnya dan apa yang harus saya lakukan?karena dia sering datang dan meminta terus,dan juka tidak diberi dia marah..
    terimakasih atas jawaban yang diberikan ,,

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi