Mengapa India? Mengapa Bukan Finlandia?

Mengapa ke India? Mengapa bukan Finlandia? Atau mengapa bukan Arab Saudi?

Dari sejumlah orang yang saya temui di India pun, kebanyakan menjawab, bila tidak terpaksa atau punya pilihan lain, mereka tidak akan memilih tinggal di India. Lalu mengapa saya mau datang ke India ikut rombongan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI? Atau lebih jauh lagi, mengapa Kemdikbud RI memilih India sebagai negara pertama yang dikunjungi?

Pertanyaan serupa sebenarnya sudah saya lontarkan ke Pak Iwan Pranoto lebih dari setahun yang lalu ketika beliau memilih India untuk jadi negara penempatannya sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan. Ketika ngobrol di sebuah cafe di Bandung, Pak Iwan menjelaskan dua poin: kemiripan masyarakat India dengan Indonesia dan banyaknya inovasi pendidikan global lahir dari India.

Bila ditanya, mana negara dengan pendidikan terbaik? Kebanyakan orang akan menjawab Finlandia. Tapi Finlandia berbeda sama sekali dengan Indonesia dari segi sosial politik ekonomi budaya. Penting belajar dari Finlandia, tapi tidak kalah penting belajar dari negara yang kondisinya mirip dengan negara kita. Keberhasilan sebuah solusi bukan semata ditentukan karakterstik solusi itu, juga karakteristik konteks dimana solusi itu digunakan.

Berbeda dengan Finlandia, India mempunyai banyak kemiripan dengan Indonesia. Keragaman budaya dan agama. Kondisi sosial ekonomi yang masih banyak menengah ke bawah. Jumlah penduduk yang besar dan luasnya wilayah geografis. Kemiripan itu pun terasa sekali ketika saya sampai India. Contoh sederhana, perilaku di jalan raya sehingga lalu lintas jadi semrawut. Solusi pendidikan yang berhasil di India sudah teruji oleh keadaan yang mirip dengan keadaan Indonesia.

Pada sisi lain, berbagai inovasi pendidikan dari India sudah banyak diakui secara global. Ada Anil Gupta, seorang profesor, penggagas the Honey Bee Network, yang sering berjalan kaki untuk menemukan inovasi di masyarakat akar rumput. Ada Bunker Roy, pendiri Barefoot College, dengan berbagai inisiatif yang melatih jutaan anak dan orang miskin menjadi lebih mandiri dengan cara yang sederhana dan menjamin keberlangsungan lingkungan hidup.

Ada Sugata Mitra yang melakukan eksperimentasi Hole in The Wall untuk menyelesaikan dua masalah mendasar sekaligus: banyaknya anak yang tidak terjangkau pendidikan dan minimnya kualitas guru. Ada Kiran Bir Sethi dengan inisiatif Design for Change yang meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara memberi kepercayaan pada anak untuk menyelesaikan persoalan masyarakat. Contoh, bagaimana anak-anak mengajar membaca pada orang dewasa yang masih buta huruf.

Kalau dipelajari lebih jauh, inovasi pendidikan yang lahir dari India bertujuan menyelesaikan persoalan yang juga dihadapi oleh Indonesia. Inovasi pendidikan itu yang menarik dipelajari, bukan untuk dijiplak, tapi bagaimana menginspirasi Indonesia untuk menemukan cara baru menyelesaikan persoalan Indonesia. Inovasi India adalah hentakan yang bisa membuat kita bisa keluar dari tempurung cara-cara lama.

Saya sendiri sudah mempelajari Inovasi India meski masih sebatas belajar dari internet. Saya menulis satu bab khusus di buku Anak Bukan Kertas Kosong untuk menceritakan eksperimen Sugata Mitra dan pengaruhnya hingga di Meksiko. Saya terlibat dalam inisiatif Taman Gagasan Anak yang terinspirasi dari Design for Change yang digagas oleh Kiran Bir Sethi.

Ketika sudah terlibat dalam suatu gagasan, maka tawaran untuk berkunjung ke India menjadi berkah. Saya diundang oleh Pak Iwan selaku Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI New Delhi dan disetujui oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk menjadi untuk menjadi anggota rombongan yang berangkat ke India pada tanggal 5 – 10 September 2015.

Menurut anda, mengapa kita perlu belajar dari India? 

Bagaimana kisah perjalanan mempelajari Inovasi India? Simak tagar #Inodia di twitter atau simak tulisan saya berikutnya:

  1. Kisah Lubang dalam Tembok
  2. Kisah Menghargai Anak-anak
  3. Kisah Inovasi Orang Miskin 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

7 thoughts on “Mengapa India? Mengapa Bukan Finlandia?”

  1. Aku melihat sendiri betapa kerasnya hidup di India. Dulu hanya sebatas dengar dialog semacam ini, “penduduk kami sangat banyak, jika saya tidak menonjol, maka saya bukan siapa-siapa” ujar salah seorang mahasiswa.

    Ternyata pas sampe di sana, memang begitu adanya. Orang seperti terus berlomba untuk menjadi lebih baik.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.