Inovasi Pendidikan India (1): Kisah Lubang dalam Tembok

Apa itu Lubang dalam Tembok? Apa manfaat Lubang dalam Tembok untuk menyediakan akses pendidikan pada anak-anak marjinal?

Kita seringkali melihat anak-anak kecil begitu cepat belajar menggunakan gawai.  Tanpa diajari, mereka seolah tahu apa yang harus dilakukan untuk menggunakan sebuah gawai. Fenomena tersebut yang mengusik rasa ingin Sugata Mitra. Apakah anak-anak orang kaya punya bakat luar biasa sehingga terampil dalam menggunakan gawai? Apakah bakat itu hanya dimiliki anak-anak orang kaya atau juga dimiliki anak-anak orang miskin?

Rasa penasaran membuat Profesor Sugata Mitra melakukan eksperimen kecil. Ia meletakkan sebuah komputer dalam sebuah tembok di sebuah perkampungan miskin di dekat kantornya di New Delhi. Anak-anak bisa mengakses komputer itu melalui layar, papan ketik dan tetikus, tapi tidak bisa mengambil komputer itu. Eksperimen yang disebutnya sebagai Lubang dalam Tembok (Hole in the Wall). Sugata Mitra takjub karena anak-anak di perkampungan miskin itu belajar sama cepatnya dengan anak-anak orang kaya dalam menggunakan komputer.

Sugata Mitra menaruh kecurigaan, meski tinggal di perkampungan miskin tapi bisa jadi anak-anak itu sudah tertular pengetahuan mengenai komputer. Ia ulangi eksperimen Lubang dalam Tembok di kampung yang jaraknya ratusan kilometer dari New Delhi. Ternyata hasilnya sama saja, anak-anak kampung itu bisa belajar sama cepatnya dalam menggunakan komputer.

Hasil eksperimen tersebut membuat Sugata Mitra tertantang untuk menguji dugaan yang lebih menantang lagi. Apakah anak-anak kampung yang tidak bisa berbahasa Inggris bisa belajar mikro biologi dari materi berbahasa Inggris yang tersedia di Lubang dalam Tembok? Sugata Mitra merancang desain eksperimen dengan memiliah 3 kelompok anak yaitu anak-anak kampung menggunakan Lubang dalam Tembok tanpa dukungan dari orang dewasa, anak-anak kampung menggunakan Lubang dalam Tembok dengan dukungan dari orang dewasa yang tidak menguasai pelajaran mikro biologi, dan anak-anak sekolah swasta kaya yang belajar mikro biologi dengan dukungan seorang guru yang menguasai pelajaran itu.

Hasilnya menakjubkan! Kelompok pertama bisa mencapai nilai diatas 50% dari kelompok ketiga. Kelompok kedua bisa mencapai rata-rata yang setara dengan kelompok ketiga. Dengan dukungan minimal, anak-anak dari kelompok pertama membuktikan mereka bisa mendapatkan hasil yang sama baiknya dari kelompok anak kota. Bagaimana mungkin? Bukankah belajar pelajaran seserius mikro biologi butuh seorang guru profesional yang terlatih khusus?

Sugata Mitra menyatakan bahwa anak-anak kampung itu memperagakan self-learning (belajar mandiri). Mereka melakukan pengorganisasian diri untuk belajar. Belajar mandiri terjadi ketika (a) anak-anak mengakses komputer secara berkelompok; (b) setiap kelompok anak mengakses “komputer mereka”; (c) anak-anak dibiarkan untuk berbagi informasi antar anggota kelompok maupun antar kelompok; (d) tidak perlu ada guru, yang dibutuhkan cukup mediator yang melakukan tindakan minimal untuk menguatkan semangat anak-anak. (Laporan riset bisa dibaca di sini, kalau malas baca laporan riset, saksikan video presentasinya di Hole in the Wall 1, Hole in the Wall 2, School in the Cloud).

Saya takjub ketika pertama mengetahui eksperimen Lubang dalam Tembok oleh Sugata Mitra ini. Eksperimen yang membuktikan bahwa anak bukan kertas kosong, tapi makhluk pembelajar yang mampu belajar secara mandiri. Tapi selama ini saya mengetahui eksperimen Lubang dalam Tembok hanya dari internet, sampai kemudian saya diajak bergabung dalam tim Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan yang berkunjung ke India.

Lubang dalam Tembok 4

Pada hari pertama tiba di India, Menteri Anies Baswedan bersama Tim Kementrian berjumpa dengan Sugata Mitra yang didampingi 3 orang perwakilan lembaga Hole in the Wall. Pada pertemuan itu, Sugata Mitra menceritakan keprihatinannya tentang sulitnya anak-anak marjinal mendapat akses pendidikan. Anak-anak butuh guru berkualitas. Sayangnya, kebanyakan guru yang mengajar anak-anak marjinal seringkali adalah guru yang kualitasnya terbatas. Ketika ditingkatkan kualitasnya, mereka justru jadi enggan mengajar anak-anak marjinal. Karena itu, menurut Sugata Mitra, butuh terobosan cara belajar agar anak-anak marjinal dapat mengakses pendidikan yang berkualitas.

Pertemuan dengan Sugata Mitra begitu asyik sehingga sampai melebihi jatah waktu yang dijadwalkan. Tujuan tim kementrian mempelajari eksperimen Lubang dalam Tembok adalah menjajaki kemungkinan metode ini digunakan untuk menyediakan akses pendidikan pada anak-anak marjinal baik secara geografis maupun sosial ekonomi. Pertemuan menyepakati kunjungan tim Kementrian ke lokasi eksperimen Lubang dalam Tembok dan menjajaki kerja sama lebih lanjut. Seusai pertemuan, Sugata Mitra diundang untuk menghadiri jamuan makan malam di KBRI New Delhi.

Lubang dalam Tembok 1

Sore keesokan harinya, Menteri Anies Baswedan dan tim Kementrian pun berkunjung ke lokasi eksperiman Lubang dalam Tembok di sebuah perkampungan kumuh di tengah kawasan elit di New Delhi. Kunjungan yang didampingi oleh Dr Hota, wakil dari lembaga Hole in the Wall tersebut menyaksikan bagaimana anak-anak menggunakan komputer pada Lubang dalam Tembok, memeriksa teknis penempatan komputer sekaligus mempelajari perkampungan kumuh, tempat Lubang dalam Tembok berada.

Lubang dalam Tembok 2

Lokasi Lubang dalam Tembok mengingatkan kondisi yang banyak di temui di perkotaan di Indonesia. Kampung kumuh di tengah kawasan elit yang anak-anaknya banyak tidak terjangkau akses pendidikan. Anak-anak kampung kumuh seperti itu seringkali mengidap budaya bisu (meminjam istilah Paulo Freire), kecenderungan untuk diam karena tidak percaya diri dengan kemampuannya. Tapi anak-anak yang kami temui di Lubang dalam Tembok tidak menunjukkan budaya bisu itu.

Anak-anak di Lubang dalam Tembok justru dengan asyik menceritakan apa yang mereka lakukan ke kami, meski harus berusah payah karena mereka hanya tahu sedikit istilah dalam bahasa Inggris. Mereka tidak peduli yang mereka hadapi itu orang biasa atau pun seorang menteri. Mereka percaya diri dan bangga dengan pengetahuan yang mereka pelajari secara mandiri. Konten dan aplikasi yang ada pada komputer Lubang dalam Tembok sangat sederhana. Tapi justru itu, Lubang dalam Tembok bukan tentang konten pelajaran yang kompleks dan mewah, tapi tentang pengetahuan yang dipelajari anak-anak secara mandiri.
Lubang dalam Tembok 3

Saya berharap pihak Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan segera merealisasikan ide melakukan eksperiman Lubang dalam Tembok di Indonesia. Bila eksperimen di Indonesia menunjukkan kesimpulan serupa dengan eksperimen di India, maka sepantasnya metode Lubang dalam Tembok digunakan untuk menyediakan akses pendidikan pada anak-anak marjinal di Indonesia. Terlebih lagi, metode Lubang dalam Tembok jauh lebih murah dan mudah untuk diwujudkan di daerah terpencil. Karena murah dan mudah, inisiatif ini sebenarnya tidak harus menunggu gebrakan pemerintah, bisa dilakukan juga oleh komunitas pendidikan.

Ada kah komunitas pendidikan yang tertantang mencoba Lubang dalam Tembok untuk menyediakan akses pendidikan pada anak-anak marjinal?

Catatan Tambahan:

  • Kisah Lubang dalam Tembok ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya “Mengapa India? Mengapa bukan Finlandia?”
  • Eksperimen Lubang dalam Tembok bisa dieksplorasi di webnya. Sugata Mitra sendiri menggabungkan konsep Lubang dalam Tembok dengan internet sehingga melahirkan inisiatif Sekolah di Awan. Ingin mencoba mewujudkan? Unduh Panduan Sekolah di Awan.
  • Ada yang bertanya di twitter seperti ini: “Bisa ceritakan alur belajar mandiri anak2 yg menggunakan Lubang Tembok? Pd awalnya, motif apa yg membuat mereka antusias?”. Saya jawab di bagian ini. Pada model Lubang dalam Tembok ada 4 tahap proses belajar: Pertanyaan Besar (big question), Kesempatan Mengakses Pengetahuan tanpa intervensi, Self-organizing dan Penguatan dari mediator (Sugata Mitra tidak menggunakan istilah guru, tapi mediator karena bukan jadi sumber pengetahuan). Jadi prosesnya, anak-anak dipancing rasa ingin tahunya melalui Pertanyaan Besar, rasa ingin tahu yang membuat anak mencari jawabannya melalui kesempatan mengakses pengetahuan tanpa intervensi, hasil pencariannya didiskusikan dalam kelompok dan ada penguatan dari mediator terhadap upaya belajar anak. Kesemuanya bisa dibaca di Panduan Sekolah di Awan. 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

13 thoughts on “Inovasi Pendidikan India (1): Kisah Lubang dalam Tembok”

  1. Menarik sekali, Mas. saya tunggu gebrakan dari kementerian pendidikan ya. Terima kasih atas liputannya…

    Btw, paragraf ke-8 itu harusnya “membuktikan” ya bukan “membutuhkan” pada kalimat, “Saya sungguh takjub ketika mengetahui eksperimen Lubang dalam Tembok oleh Sugata Mitra ini. Eksperimen yang membutuhkan bahwa anak bukan kertas kosong, tapi…”

    Salam pembelajar!

Gimana komentarmu?