Berjuang Melawan Kutukan 3000 Eksemplar

Seberapa sering orang berkunjung ke toko buku? Satu minggu sekali? Saya kok lebih percaya kebanyakan orang (di perkotaan) berkunjung ke toko buku hanya sekali dalam sebulan, bahkan lebih dari satu bulan. Bisa jadi hanya berkunjung ke toko buku tiga bulan sekali. Jadi sebuah buku baru kemungkinan dilihat orang satu kali dalam tiga bulan. 

Padahal dalam teori marketing, melihat satu kali belum tentu orang akan membeli. Satu kali melihat baru melihat sekilas. Dua kali melihat baru mulai memberi perhatian. Tiga kali, empat kali baru ada intensi membeli. Untuk membeli? Perlu melihat beberapa kali. Karena itu, penting untuk menempatkan buku pada rak depan dan bagian atas yang peluangnya lebih besar untuk dilihat. (Beberapa penulis melakukan usaha tertentu agar bukunya tetap dilihat)

Bagaimana nasib buku baru? Kebanyakan penerbit mencetak buku untuk pertama kali dalam jumlah 3.000 buah. Jumlah buku segitu dipantau oleh penerbit (dan toko buku) dalam waktu tiga bulan. Buku pertama masuk di rak buku baru, setelah itu akan masuk ke rak buku sesuai tema. Bila ada sejumlah pembelian, buku tetap akan bertahan. Bila dalam tiga bulan, sepi pembelian akan dipertimbangkan untuk diganti. Lebih dari itu, entah bagaimana nasih buku itu.

Pada akhir tiga bulan, kebanyakan penerbit akan menghitung jumlah penjualan dari seluruh toko buku. Bila jumlah cetakan pertama, 3.000 buah, habis terjual maka penerbit akan melakukan cetak kedua (biasanya 5.000). Pola serupa terulang dengan jumlah cetakan berikutnya yang juga meningkat.

Sekarang bayangkan.
Kebanyakan pembeli berkunjung ke toko buku tiga bulan sekali.
Penerbit melakukan evaluasi penjualan buku tiga bulan sekali.

Seberapa peluang buku dari penulis PEMULA akan dilihat orang dalam jangka waktu tiga bulan? Satu kali mungkin.
Seberapa peluang buku dari penulis pemula akan dibeli orang dalam jangka waktu tiga bulan? Mendekati nol
Seberapa peluang buku mendapat evaluasi bagus dalam jangka waktu tiga bulan? Sangat kecil……..mendekati nol.

Jadi peluang buku bagus dilihat dan dibeli oleh orang yang membutuhkan memang sangat kecil sekali. Inilah mungkin jawaban atas keresahan Hindraswari Enggar D​ dalam statusnya:

Buku-buku bagus di Indonesia jarang yang bertahan lama, umumnya cepat berpindah ke rak obral atau tak dicetak ulang

Karena itu, beberapa orang menyebutkan tentang “kutukan 3000 eksemplar” (silahkan digoogling sendiri :D ). Jadi tantangan bagi penulis pemula adalah menembus kutukan tersebut, buku terjual 3.000 paling lambat dalam waktu tiga bulan. Dan tantangan semakin sulit, karena dukungan penerbit untuk berpromosi bagi penulis pemula sangat kecil (lah belum pasti laku kok….)

Mengapa saya perlu berjuang melawan “kutukan 3000 eksemplar”? Pertama, jelas seperti yang pernah saya tulis di blog berjudul Tidak Punya Pekerjaan, Akhirnya Saya Jadi Penulis :) . Penulis adalah pilihan profesi, artinya jalan untuk menghidupi diri dan keluarga. Kedua, saya mempunyai mimpi buku Anak Bukan Kertas Kosong membawa perubahan cara berpikir orang tua Indonesia (bahkan dunia?), menghargai keistimewaan anak dan mampu mengembangkan keistimewaan tersebut. Lalu bagaimana bisa berdampak bila dalam tiga bulan sudah tersingkir ke rak buku obral?

kutukan 3000 eksemplar anak bukan kertas kosong

Bagaimana saya berjuang melawan “kutukan 3000 eksemplar”? Seperti yang disarankan oleh mas Bambang Trim​ dalam sebuah tulisan di blognya, saya mempromosikan dan menjual sendiri buku saya. Ada beberapa hal yang saya lakukan untuk mempromosikan, tentu sesuai kemampuan saya yang cekak. Beberapa hal tersebut lengkapnya akan saya ceritakan di lain waktu (hanya bila terbukti sukses :D ). Salah satu yang saya lakukan adalah membuat situs Buku.TemanTakita.com dan laman Facebook Anak Bukan Kertas Kosong​. Semua informasi mengenai buku saya mulai gambaran isi buku, testimoni, kutipan buku, seminar, bedah buku dan aktivitas lainnya akan diinformasikan pada situs dan laman tersebut.

Semoga perjuangan melawan kutukan 3000 eksemplar menemukan titik terang

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

12 thoughts on “Berjuang Melawan Kutukan 3000 Eksemplar”

    1. Komunitasnya lebih sedikit lagi……dan dari sedikit berapa banyak yang butuh buku panduan orang tua? Peluangnya sama kecilnya. Jadi belum bisa jadi pengganti, tapi lebih sebagai alternatif ketika jalan utama gagal

  1. Baru dengar istilah ini, ‘kutukan 3000’ (saya belum pernah menulis), sepertinya merepotkan juga ya (utamanya bagi penulis pemula). Oya, itu pertanyaan kedua maksudnya ‘dibeli’ kah? Terima kasih untuk info 3000-nya. :)

  2. beberapa kali saya membeli buku secara online macam di nulisbuku.com, bukabuku.com, bentang pustaka, dll.
    seringkali saya juga tidak perlu ke toko buku dan melihat dulu display di “new release” atau “best seller” untuk memutuskan membeli sebuah buku.
    2 tahun terakhir saya cukup rajin saja mengamati sliweran info buku di medsos (khususnya twitter), grup buku, lalu menumbuhkan alasan dari dalam diri kenapa saya perlu beli buku itu, kemudian belanja online-lah saya :)))
    pun saya belum melihat buku pak Bukik di toko buku, tapi saya sudah memutuskan akan segera membelinya, gara2 teman2 pada heboh dan melihat promo2nya di twitter. salim.

    *ah, panjang sekali ni komentar*

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.