Kisah Tentang Kucing dan Valentine

Saya kok ditanya soal pelarangan perayaan valentine. Lha wong melarang kucing masuk rumah saja gagal. Langit-langit rumah sampai jebol tiga kali 

Jadi gini ceritanya. Di rumah itu ada kucing kesayangannya Damai, namanya Lulu. Kucing cewek. Sejak beberapa waktu terakhir, ada saja kucing cowok datang ke rumah. Kucing yang paling rajin ya kucing tetangga, namanya Ali.

Foto diambil dari AyundaDamai.com

Kalau kucing tetangga ini, keriuhan yang ditimbulkan sebatas suara ngeong yang keras dan mengganggu. Tapi kalau diusir, ya pergi. Urusan selesai. Tapi dari kemarin ada dua kucing yang entah dari mana, si cokelat muda dan si hitam loreng. Dua kucing ini yang bikin ulah dari semalam.

Kucing cokelat muda mulai aksinya tadi malam. Masuk rumah dari belakang. Tapi ketika diusir sambil dibawakan sapu lidi untuk keluar, kucingnya malah menolak. Dia justru lari ke pintu depan. Di pintu depan, diusir ke belakang pun tidak mau, sampai manjat ke korden jendela. Terpaksa saya buka pintu depan.

Tadi pagi gantian kucing hitam loreng yang beraksi. Glodok glodok blaaar! Langit-langit di atas ruang tamu jebol. Hadeeeh…….saya tinggal ngurus ini dan itu. Tidak berapa lama, glodok glodk blarr……jebolnya tambah lebar. Haduh harus diatasi nih.

Saya naik ke atas untuk mengambil tangga. Ketika naik ada suara riuh, sampai atas saya lihat pembatas plastik pintu belakang jebol. Oalah le le……….saya perbaiki pembatas plastik, yang mudah duluan. Setelah itu, saya membawa tangga dan perlengkapan untuk memperbaiki langit-langit. Selesai…..

Di sela-sela itu, saya berkali-kali mengusir dua kucing itu. Tapi tetap saja kembali. Saya usir sampai naik ke atas genteng. Siram sana, siram sini. Kucingnya lari ke genteng bagian depan. Saya turun. Siram sana, siram sini. Pergi…..sebentar….

Pagi beranjang pergi. Si Ali dan Si Lulu dempet-dempetan dan menyelesaikan kebutuhan biologis mereka. Sementara, kucing hitam loreng melihat dari kejauhan. Saya pikir selesai, sudah jelas siapa kucing yang jadi pemenang…….

Selesai jumatan, saya sampai rumah dan menemui langit-langit sudah jebol lagi. Dan lebih parah, karena bekas paku yang lama dan bekas paku yang tadi pagi ikut jebol. Perbaiki lagi deh

Terakhir, saya siram lagi kucing hitam loreng dari atas genteng. Kucingnya menghindar tapi tidak turun dari atap rumah. Haduh. Saya siram seluruh genteng sampai kucingnya turun. Tapi turun pun masih beredar di depan pagar. Sudah selesai? Belum saudara. Sekarang meski hujan, masih ada kucing di atas genteng di bagian yang tidak terkena hujan.

Jadi, saya bingung bila ditanya soal pelarangan valentine. Saya melarang kucing ke rumah saya pun gagal.

 

Catatan kaki:¬†Saya lebih percaya pendidikan daripada pelarangan. Pelarangan membuat apa-apa jadi “larang” :P

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

8 thoughts on “Kisah Tentang Kucing dan Valentine”

  1. entah kenapa postingan kali ini benar2 menggambarkan kalau pak Bukik adalah benar2 seorang “bapak” yang peduli pada urusan remeh-temeh di rumah. huahahaha… piss pak.

    duh, saya mah takut sama yang namanya kucing. selucu apapun, megang aja ogah.

    jadi…selamat berjuang, pak! saya doakan dari jauh. haha

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.