Inovasi Pendidikan India (2): Kisah Menghargai Anak-Anak

Bagaimana bila sebuah sekolah menghargai anak-anak sebagai subyek dalam pendidikannya? Mari kita tengok sekolah Riverside 

Orang dewasa ibarat pengendara kendaraan yang bernama pendidikan. Mereka yang (merasa) tahu tujuan pendidikan dan rute untuk mencapai tujuan itu. Anak-anak adalah penumpang yang “cukup” duduk manis dan tenang selama perjalanan. Tak perlu banyak cakap, apalagi bertanya. Perjalanan istimewa sudah disiapkan, anak-anak tinggal menikmatinya.

Benarkah anak-anak menikmatinya? Kenyataannya, tujuan pendidikan seringkali didefinisikan dari sudut pandang orang dewasa seperti berprestasi, berkarakter, atau menjadi yang terbaik. Capaian-capaian yang diukur dari ukuran orang dewasa. Tujuan orang dewasa itu yang membuat pendidikan lebih menjadi beban, dibandingkan menjadi hal yang menyenangkan. Dalam sambutan di KBRI New Delhi, Menteri Anies menyebutkan kondisi pendidikan sekarang masih memprihatikan “anak berangkat sekolah dengan berat hati, merasa tertekan ketika sekolah, dan pulang sekolah dengan suka hati”.

Tapi gambaran itu berbeda sama sekali dengan pendidikan di Sekolah Riverside yang kami kunjungi pada hari rabu, hari terakhir di India. Sekolah Riverside terletak di pinggiran kota Ahmedabad, sebelah selatan New Delhi. Sampai di sekolah Riverside, kami disambut oleh Kiran Bir Sethi yang menyambut kami begitu ekspresif. Setelah sambutan, kami langsung berbincang bebas di beranda sekolah untuk mendengarkan penjelasan mengenai Sekolah Riverside.

Kisah Menghargai Anak-Anak 1

Sekolah Riverside mendesain pendidikan bukan untuk anak, tapi bersama anak. Anak-anak bukan obyek yang mengikuti perjalanan yang dirancang orang dewasa. Sebelum tahun pelajaran, guru berdiskusi bersama anak-anak menyusun agenda pelajaran setahun ke depan. Anak-anak menyampaikan materi pelajaran yang ingin dipelajari. Guru-guru menyampaikan materi yang harus dipelajari anak-anak. Dua sudut pandang itu kemudian didiskusikan menjadi desain pelajaran untuk setahun ke depan. Bukan hanya pelajaran, persoalan sekolah seperti perbaikan gedung pun didiskusikan bersama anak-anak. Bila ada persoalan pun, didiskusikan bersama anak-anak cara menyelesaikannya.

Tantangan terbesar dalam mendesain pendidikan bersama anak seringkali bukan berasal dari anak-anak, tapi dari cara pandang orang dewasa. Kiran Bir Sethi menegaskan tentang pentingnya guru menghargai siswa, bukan seperti yang diyakini saat ini, siswa harus menghargai guru. Pernyataan yang menohok tapi masuk akal. Bila guru menghargai siswa maka siswa bisa belajar menghargai guru. Aneh bila kita menuntut siswa memberi contoh cara menghargai guru :D

Kisah Menghargai Anak-Anak 2

Menghargai siswa sebagai manusia seutuhnya. Anak-anak bukanlah manusia yang belum lengkap. Hargai anak-anak dengan menyimak pendapatnya, sungguh-sungguh mendengar dan mempertimbangkannya. Hargai anak-anak dengan memberi kesempatan, berbuat keliru, merefleksikan dan memperbaikinya sendiri. Dan ketika kita percaya sepenuh-penuhnya, anak-anak bisa melakukan banyak hal dan mengejutkan orang dewasa.

Secara umum, saya mengenal beberapa sekolah swasta atau pendidikan komunitas yang sejiwa dengan Sekolah Riverside. Bedanya, Kiran Bir Sethi berhasil mengembangkan spirit sekolahnya menjadi sebuah gerakan yang diakui secara global, Design for Change. Jadi ia memulai dengan skala kecil di sekolahnya, kemudian memperluasnya di negara bagian lain di India hingga mengkampanyekannya di skala global hingga sudah digunakan di 35 negara.

Taman Gagasan Anak yang diinisiasi beberapa satuan pendidikan berencana mengadopsi Design for Change di Indonesia. Karena itu setelah bincang bebas, kami membicarakan beberapa poin teknis kerja sama antara Sekolah Riverside dengan Taman Gagasan Anak. Beberapa isu yang khas Indonesia dibicarakan untuk mendapat perspektif yang berbeda dalam menghadapinya. Isu-isu ini yang nantinya akan saya sampaikan pada pertemuan Taman Gagasan Anak setibanya saya di Indonesia.

Kisah Menghargai Anak-Anak 3

Setelah itu, tur berkeliling sekolah yang dipandu oleh siswa-siswa Sekolah Riverside. Rombongan dibagi menjadi tiga yang masing-masing dipandu oleh dua siswa, perempuan dan laki-laki. Seru juga ya……mereka menjelaskan atribut dan proses belajar di sekolahnya dengan menggunakan bahasa Inggris. Selama tur, ada tiga hal menarik: papan apresiasi, kotak rekomendasi buku dan papan tulis terstruktur.

Kisah Menghargai Anak-Anak 4

Papan apresiasi adalah media buat setiap orang menyampaikan apresiasi pada orang lain. Jadi papan itu berisi potongan kertas yang berisi komentar atau kalimat apresiasi pada orang lain atas dukungan, bantuan atau perhatian dari orang lain. Papan apresiasi bermanfaat menumbuhkan budaya saling mendukung sekaligus mengurangi sikap merendahkah yang sering berakhir menjadi perisakan (bullying). Sementara, kotak rekomendasi buku adalah kotak yang berisi buku yang direkomendasikan siswa pada guru atau siswa lain. Jadi menumbuhkan budaya baca bukan hanya dari orang dewasa, tapi juga dari siswa.

Kisah Menghargai Anak-Anak 5

Saya paling tertarik dengan papan tulis terstruktur sampai-sampai memeriksa beberapa kelas untuk memastikan papannya sama. Papan tulis di kelas kita seringkali polos. Papan tulis seperti itu tidak akan kita temui di Sekolah Riverside. Papan tulis mereka sudah ada struktur gambaran proses pembelajaran. Apa manfaatnya? Proses belajar di kelas mengikuti alur proses yang ada papan tulis terstruktur. Bila dilakukan berulang kali, maka proses belajar yang dilakukan akan membentuk pola pikir (bagaimana berpikir) bukan sebatas fokus pada apa yang dipelajari. Proses belajar pun jadi konsisten karena guru dan siswa mempunyai acuan yang sama.

Kisah Menghargai Anak-Anak 6

Sesi berikutnya, percakapan antara rombongan dengan siswa-siswa Sekolah Riverside. Tapi karena keasyikan melihat papan tulis terstruktur, saya terlambat mengikuti pertemuan ini. Intinya, pertemuan itu memfasilitasi para siswa untuk menjelaskan gambaran pembelajaran di sekolah Riverside ke Menteri Anies Baswedan. Jadi meskipun yang duduk di depan adalah pak menteri, tapi yang banyak bicara justru para siswa.

Kisah Menghargai Anak-Anak 7

Kunjungan diakhiri dengan makan kue khas India di rumahnya Kiran Bir Sethi. Maaf kuenya tidak saya tampilkan karena khawatir anda akan tergiur huehehe. Perjalanan dilanjutkan, nantikan ceritanya di tulisan selanjutnya. Oh ya kalau belum membaca tulisan sebelumnya, silahkan baca “Mengapa India? Mengapa Bukan Finlandia?” dan “Inovasi Pendidikan (1): Kisah Tembok dalam Lubang”.

Apakah ada hal sederhana dari kisah menghargai anak-anak yang sudah atau ingin anda coba di kelas atau sekolah anda?

 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

4 thoughts on “Inovasi Pendidikan India (2): Kisah Menghargai Anak-Anak”

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.