Keterbatasan Bukan Alasan Untuk Malas, Tapi Justru Untuk Berinovasi Tanpa Batas

Keterbatasan tidak pernah meruntuhkan semangat belajar guru dan pendidik Maluku. Pelajaran yang saya dapatkan dari Temu Pendidik Maluku. Simak….. 

Keterbatasan seringkali jadi bahan keluhan guru dan pendidik dalam banyak percakapan, baik offline maupun di grup Facebook. Kami tidak punya peralatan sehingga kami tidak bisa mengajar dengan baik. Kami tidak punya laboratorium sehingga siswa kami tidak bisa belajar dengan baik. Kami tidak ada anggaran sehingga kami tidak mampu ikut pelatihan yang baik.

Padahal kalau memang malas, kondisi apapun bisa jadi alasan. Karena kenyataannya, keluhan-keluhan tentang keterbatasan bisa berasal dari mana saja. Tidak peduli guru di kota besar maupun di daerah terpencil. Tidak peduli guru di sekolah mahal maupun di sekolah murah. Selalu ada alasan untuk malas.

Saya mendapatkan kesimpulan berbeda mengenai keterbatasan ketika berkunjung ke Ambon dalam rangka Temu Pendidik yang menjadi rangkaian acara Festival Pendidikan Maluku. Begini ceritanya…….

Sebenarnya berkunjung ke Ambon adalah agenda lama. Saya mengenal Stanley dan Heka Leka sejak menerbitkan buku Anak Bukan Kertas Kosong. Cerita-cerita Stanley membuat saya tertarik untuk ngobrol lebih jauh di Ambon. Tapi niatan masih tetap jadi niatan karena saya batal mengadakan rangkaian bedah buku di berbagai daerah di Indonesia.

Pada sisi lain, mimpi besar Heka Leka untuk mengadakan Festival Pendidikan Maluku beberapa kali mengalami kendala. Tapi semangat Stanley perlahan menyingkirkan kendala itu satu demi satu. Hingga akhirnya memberi undangan untuk berkolaborasi mengadakan Temu Pendidik sebagai rangkaian Festival Pendidikan Maluku. Undangan yang disanggupi Kampus Guru Cikal sehingga saya pun dikirim berangkat ke Ambon.

Sampailah pada hari saya berangkat ke Ambon. Pagi saya ke kantor Kampus Guru Cikal untuk menyelesaikan beberapa urusan. Setelah itu, saya pun berangkat ke bandara. Entah capek atau saya memang tukang tidur, naik kendaraan langsung tidur pulas. Bangun-bangun sudah di Cengkareng tapi teringat mau naik Batik Air, jadi ragu, bukankah terbangnya dari Halim. Saya pun panik, dan meminta sopir balik arah. Jeng jeng……sambil mencari putar balik, saya cek tiket digital. Pak sopir sudah balik arah, baru sadar kalau di tiket memang menyebutkan terbang dari Soekarno-Hatta. Hehehe jadi balik lagi deh

Sampai bandara, saya telepon rekan-rekan dari Ganara Art Studio yang berencana berangkat bareng untuk berbagi bagasi peralatan belajar yang banyak. Ketemu dan kami pun langsung masuk. Awalnya tenang sampai jeng jeng, kami ditolak masuk karena dianggap terlambat. Kami pun tertinggal pesawat. Sesaat kemudian, kami berempat duduk termangu menyesali nasib.

Keterbatasan Temu Pendidik Maluku Ambon Pantai Liang 2

Singkat cerita, kami pulang untuk kembali, terbang menggunakan penerbangan tengah malam. Kami berangkat jam 12.30 WIB dan tiba di Ambon jam 06.00 WIT. Saya berpisah dengan tim Ganara karena berbeda lokasi dan agenda. Saya bergegas ke hotel yang jaraknya satu jam perjalanan. Mandi dan makan secara kilat lalu meluncur ke lokasi acara tepat pukul 08.00 WIT. Briefing yang harusnya malam hari, terpaksa dilakukan satu jam sebelum acara.

Saya diminta panitia melakukan briefing kepada 4 guru yang akan menjadi narasumber Temu Pendidik, di tengah briefing peserta bertambah satu guru. Saya awali dengan perkenalan dengan menceritakan aktivitas mengajarnya di kelas.

“Bapa, saya guru IT tapi di sekolah tidak ada komputer”

“Betul itu, sekolah kami terbatas. Tidak ada laboratorium kimia”

Saya mendengar cerita mereka. Setelah itu, saya ajukan pertanyaan, “Wah susah juga ya ngajar di daerah. Lalu apa yang bapak ibu lakukan?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata mengungkap banyak cerita menarik yang akan saya ceritakan nanti. Setelah briefing usai, kami pun persiapan untuk memulai Temu Pendidik. Acara dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan Maluku. Setelah pembukaan, giliran saya memberikan penjelasan mengenai latar belakang dan tujuan Temu Pendidik. Saya sebenarnya hanya menjelaskan apa yang sudah tertulis di buku mini Komunitas Guru Belajar.

Saya menyampaikan sebuah cerita yang mengilustrasikan lima salah kaprah pengembangan kualitas guru berikut ini:

  1. Salah kaprah pertama: Guru malas belajar, tanpa insentif tunjangan atau hadiah.
  2. Salah kaprah kedua: Guru dipandang hanya bisa belajar dari pakar pendidikan.
  3. Salah kaprah ketiga: Penentuan materi dan standar pembelajaran mengabaikan konteks dan tujuan.
  4. Salah kaprah keempat: Guru dapat belajar dan berubah, tanpa waktu.
  5. Salah kaprah kelima: Proses pengumpulan dan interpretasi data kompetensi yang saat ini dilakukan bersifat individual, tanpa mempertimbangkan konteks ekosistem dan tingkat otonomi.

Setelah penjelasan dari saya, sampailah pada acara inti Temu Pendidik. Empat guru lokal berbagi cerita #PraktikCerdas yang mereka lakukan untuk mengatasi keterbatasan.

Keterbatasan Temu Pendidik Maluku Ambon Pantai Liang 3

Franky Wattimuri, guru TIK SMA 3 Salahutu, bercerita #praktikcerdas dalam mengatasi keterbatasan laboratorium komputer di sekolahnya. Ia menggunakan telepon genggam sebagai media belajar bagi pelajar dalam mempelajari manajemen file.

Dessy J. Mayaut, Guru Kimia SMA 3 Salahutu, yang bercerita #praktikcerdas dalam mengatasi keterbatasan bahan dan peralatan praktik kimia. Ia menggunakan cuka, detergen, dan berbagai bunga dan buah untuk mengenali indikator asam dan basa.

Wutmaili Romuty, SMK Negeri 3 Ambon, yang bercerita tentang keterbatasan alat praktik di SMK. Daripada mengeluh, ia justru mengajak pelajarnya untuk membuat peralatan sendiri. Selain bisa digunakan belajar di sekolah, pengalaman membuat alat tersebut membuat pelajar setelah lulus bisa membuat sendiri peralatan yang dibutuhnya dalam bekerja.

Imanuel Lawalata, guru PAUD Lounno – HekaLeka, yang menceritakan pengalamannya mengajar anak usia dini di daerah pedesaan Maluku dengan segala keterbatasannya. Mengapa mewarnai di kertas, bila Saparua mempunyai pasir putih yang bagus untuk anak usia dini belajar mewarnai?

Setelah sesi berbagi, selanjutnya saya memandu sesi refleksi. Saya meminta mereka membentuk kelompok dengan cara yang seru. Setelah terbentuk, setiap kelompok mendiskusikan pertanyaan yang saya lontarkan, “Apa #praktikcerdas yang menginspirasi anda? Apa alasannya?”. Saya meminta kelompok untuk berbagi jawabannya, peserta kebanyakan salut dengan pilihan Adi alias Imanuel Lawalata untuk mengajar di daerah pelosok meski punya kesempatan berkarir di kota besar. Bahkan sempat tercetus gagasan agar para guru ikut mengajar daerah-daerah pelosok di Maluku.

Setelah dua putaran pertanyaan, saya memberi kehormatan kepada Adi alias Imanuel Lawalata untuk memimpin peserta menyanyikan lagu gembira sebagai penutup Temu Pendidik.

Temu Pendidik, singkat maksimal 2 jam, berbagi tips praktis dan diakhiri dengan ide/rencana konkret untuk diterapkan di kelas.

Keterbatasan Temu Pendidik Maluku Ambon Pantai Liang 5

Tertarik mengadakan Temu Pendidik? Jadilah Penggerak atau bergabunglah bersama Komunitas Guru Belajar. Mari belajar! Karena hanya dengan berani belajar, guru menjadi lebih siap mengajar.

Setelah selesai Temu Pendidik, saya didampingi Adi dan Henny makan siang ikan bakar. Kejutan menggembirakan ketika Steven, pengelola situs ulasan buku berkualitas, H23BC.com. Obrolan singkat pas makan siang berlanjut dengan janji untuk ngopi kopi Kenari. Oh ya menu makan siang bisa dilihat di foto di bawah ini.

Keterbatasan Temu Pendidik Maluku Ambon Pantai Liang 1

Selesai makan, kembali ke hotel dan saya pun langsung pulas sampai sore. Dering telepon berulang kali dari Steven. Rupanya dia sudah lama menunggu. Secepat kilat saya mandi, sesaat kemudian sudah meluncur ke Rumah Kopi Sibu-Sibu. Saya memesan kopi kenari susu madu. Minuman kopi yang ditaburi serpih kenari. Rasanya? Ya seperti kopi, bedanya jadi gurih ketika kita mengunyah kenarinya. Setelah itu, saya coba kopi kenari tanpa susu madu dan tanpa gula. Buat pecinta kopi, rasanya lebih maknyus. Sehabis dua gelas kopi, dua potong kue labu dan setumpuk obrolan, saya dan Steven berjalan kaki menyusuri jalan menuju hotel.

Keterbatasan Temu Pendidik Maluku Ambon Pantai Liang kopi kenari 6

Sampai di hotel, istirahat sebentar, datang jemputan dari kawan-kawan Heka Leka yang mengajak makan malam. Makan malam di pinggir jalan tapi rasanya bikin tidak tahan. Nasi kuning Ambon seperti foto di bawah. Apa yang menarik dari masakan ini? Nasi kuning pakai menu ikan. Kopi kenari dan nasi kuning adalah contoh nyata agar kita melihat sisi kelebihan, dibandingkan sisi keterbatasan kita. Bila tidak ada daging sapi, ya jangan maksa bikin nasi kuning pakai dendeng. Pakai ikan yang berlimpah.

Keterbatasan Temu Pendidik Maluku Ambon Pantai Liang 4

Apa hal paling berharga yang saya dapatkan dari Maluku? Keindahan pantai Liang? Ya saya menikmatinya, tapi yang paling berharga adalah pelajaran bahwa  Keterbatasan Bukan Alasan Untuk Malas, Tapi Justru Untuk Berinovasi Tanpa Batas. Terbatas seringkali karena kita membandingkan dengan suatu standar, tapi bila standar itu dihapus maka kita akan menyaksikan berbagai kelebihan. Contoh, standarnya anak TK mewarnai di kertas. Ketika kertas diabaikan, maka terlihatlah pasir putih yang berlimpah sebagai media mewarnai.

Bila merasa kasihan dengan guru di Maluku atau daerah pelosok lainnya, maka tidak perlu anda membantu. Karena kasihan hanya untuk orang malas. Dan Guru Maluku bukanlah orang malas. Tapi bila anda salut dan peduli dengan perjuangan mereka, anda bisa memberikan dukungan dengan menghubungi HekaLeka.org.

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?