search

#KelasInspirasi: Berkumpul, Bersenang-senang Bersama

Kelas Inspirasi adalah sebuah pemberontakan, pemberontakan terhadap keadaan tanpa harapan. Membongkar batas imajinasi. 

Awalnya membaca linimasa twitter mengenai kelas inspirasi dan tertarik dengan idenya. Setahun yang lalu. Iya setahun yang lalu. Saya memperhatikan banyak tweet dan foto yang menunjukkan keceriaan kelas inspirasi di berbagai sekolah di Jakarta. Setahun kemudian, kelas inspirasi tidak hanya di Jakarta, tapi juga menyebar di 5 kota lainnya, termasuk Surabaya.

Saya pun mendaftarkan diri untuk menjadi pengajar di kelas inspirasi. Mengapa? Pertama, tantangan! Saya biasa menghadapi orang dewasa, memfasilitasi pertemuan orang dewasa untuk mencapai tujuan. Bagaimana kalau saya memfasilitasi anak-anak? Tantangan yang mengeluarkan saya dari zona nyaman, terjun bebas di zona belajar.

Kedua, saya ingin berbagi harapan dengan anak-anak Indonesia. Dalam keadaan apapun, selalu ada harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik. Bahwa selalu ada pilihan lain, diluar pilihan-pilihan yang saat ini tersedia, atau tepatnya disediakan lingkungan. Sejenak melonggarkan batas imajinasi agar bisa melihat cahaya cita-cita yang akan dituju.

Ketika mengisi lembar pendaftaran online, saya mengalami kebingungan. Apa profesi saya? Saya tweetkan pertanyaan ini, dan benar saja jawaban dari follower beraneka ragam. Tambah bingung. Sampai muncul pertanyaan, masih relevankah profesi di abad ke-21 ini ketika kita bisa multiprofesi hehe. Ah aneh-aneh pikiran saya itu haha

Saya pun memutuskan tampil berprofesi sebagai fasilitator. Pertimbangannya, saya senang jadi fasilitator dan profesi itu yang saya tampilkan di Linkedin. Apa itu? Makanya masuk ke kelasku di kelas inspirasi :D ……Baiklah, bila ingin tahu apa itu fasilitator bisa baca tulisan saya disini.

Singkat cerita, saya melengkapi lembar pendaftaran online dan menanti pengumuman penerimaan sebagai pengajar di kelas Inspirasi. Alhamdulillah, saya diterima dan kemudian mengikuti proses selanjutnya yaitu briefing pengajar. Saya mendapat penugasan di SDN Tambakwedi 508. Ujung dunia saudara-saudara. Saya di Sidoarjo, selatannya Surabaya, sementara sekolahnya di ujung utara, tepat di kaki Jembatan Suramadu.

Dari briefing tersebut sudah mulai terasa, kelompok saya tidak sesolid dibandingkan kelompok lain yang terlihat begitu kompak. Setelah briefing, komunikasi kelompok via email tapi tidak sempat untuk survey bersama ke sekolah maupun mengadakan pertemuan. Koordinasi hati *halah

Saya siapkan desain belajarnya begitu selesai briefing yang mengacu pada hasil obrolan Bu Darwati, guru SDN Tambakwedi 508. Dari desain belajar itu teridentifikasi peralatan yang harus disiapkan. Buatlah daftar belanja peralatannya. Ya harapannya biar segera disiapkan. Tapi kesibukan menerbangkan daftar belanja itu dari hari ke hari. Ujung-ujungnya belanja sehari sebelum pelaksanaannya. Lumayanlah…peralatan dan buku sebagai hadiah.

Peralatan Kelas Inspirasi

Sehari sebelum pelaksanaan itu pula, saya baru membahas desain belajarnya dengan rekan fasilitator, Ken Sasmita. Ngobrol sana, ngobrol sini, tertumpuk dengan beberapa rapat sampai akhirnya selesai pembahasannya.

Datanglah hari itu, hari pelaksanaan. Berangkat pagi, menjemput Ken di gerbang tol Gunungsari dan melanjutkan lagi perjalanan menuju lokasi. Ditengah jalan baru sadar, saya mempunyai pakem tersesat kalau ke Suramadu. Ternyata pakem itu tidak semata-mata yang benar saudara, tersesat pun ada pakemnya :D

Sampailah kami di lokasi yang langsung disambut para guru dan koordinator lokasi Kelas Inspirasi. Setelah ngobrol sana-sini, datanglah waktunya buat beraksi. Ketika pengajar kelas lain tenang-tenang, kami tergopoh-gopoh. Fasilitator ternyata kayak artis. Kami ganti kostum, menyiapkan peralatan audio, barulah kami siap beraksi.

Jeng jeng…….dua sosok mendekat kelas dengan merunduk-runduk. Tas ransel di pundak, seorang memegang kotak peralatan, orang lainnya membawa peralatan audio. Terdengarlah musik Gembira Berkumpul…….Ayo kawan ayo kawan berkumpul, berkumpul  bersenang-senang semuanya….

Seisi kelas pun mulai pecah konsentrasinya. Tiba-tiba sebagian murid menjerit, iya ada sosok aneh muncul di jendela kelas mereka yang langsung menghilang. Tapi muncul lagi, dan hilang. Muncul dan hilang. Ketika seisi kelas sudah memperhatikan deretan jendela, akhirnya dua sosok itu masuk kelas yang diiringi jeritan dan tawa. Keras sekali

Ken Sasmita kemudian mengambil alih kelas dan mengajak anak-anak buat bernyanyi bersama. Setelah itu, saya mengajak anak-anak buat yel-yel, mulai dari yang biasa sampai berirama seiring dengan kecepatan tangan. Ganti kembali Ken beraksi mengajak bernyanyi apa kabar kawan. Kelas penuh berisi suara tawa, nyanyian dan yel-yel.

Setelah itu, mulailah saya bercerita mengenai cita-cita dan cara mewujudkannya. Mulailah terasa tantangan memfasilitasi anak-anak. Rentang perhatiannya jauh lebih pendek dibandingkan orang dewasa. Bercerita harus sering-sering dikombinasikan dengan pemikat perhatian. Entah bertanya, entah yel-yel.

Tantangan berikutnya, mengajak anak-anak untuk menyadari cita-citanya, dan menantang untuk menggambarkan cita-citanya. Ini adalah tantangan kedua dalam memfasilitasi anak-anak. Ketika memfasilitasi orang dewasa, begitu diawal diajak keluar dari zona nyaman dan masuk ke zona belajar, mereka akan bertahan di zona belajar lebih lama. Ketika memfasilitasi anak-anak, lebih cepat untuk kembali ke zona nyaman.

Ini saya rasakan ketika anak-anak mulai menggambar. Kertas dipegang, mulailah anak-anak menggambar. Dan krayon yang kami sediakan tidak disentuh. Mereka mengambil pensil dan penggaris untuk membuat garis di sekeliling kertas. Ekspresi anak-anak mulai berubah dari senang menjadi serius, seolah mengerjakan tugas. Banyak bertanya untuk memastikan tidak melakukan kesalahan. Tangan pun tidak lancar menggambar, lebih banyak berpikir dari pada menggambar. OooO kesalahan fasilitator…….

Cita-cita Kelas Inspirasi

Kami pun segera mengubah strategi. Kami menarik kertas lama, mengedarkan kembali kertas gambar baru dan mengulang instruksi. “Ayo dilihat krayonnya, ambil krayon yang kamu sukai! Gunakan krayon itu untuk menggambar cita-cita teman-teman”. Ketika stimulus berbeda, responnya pun berbeda. Sebagian besar mulai menikmati menggambar sebagai aktivitas bersenang-senang. Kami pun berputar kelas, ngobrol dengan anak-anak dari meja ke meja. Memberi apresiasi pada mereka yang sudah lancar. Meneguhkan mereka yang ragu-ragu. Menguatkan mereka yang tidak percaya diri. Baik dalam hal menggambar, maupun dalam hal cita-citanya.

Tantangan bagi kami adalah menemukan sudut pandang yang memberdayakan, apapun yang digambar oleh anak, bagaimanapun kualitasnya. Kami harus melepaskan standar normatif, dan menukik pada inti positif dari sebuah gambar. Mungkin bukan kualitas gambarnya, tapi bisa jadi idenya menarik, bahkan ide yang mungkin belum tertuang pada gambarnya. Kami memuji idenya, menguatkan anak untuk mengembangkannya.

Sedih rasanya melihat anak-anak yang dipenuhi rasa khawatir salah. Bahkan ada celetukan, “tidak apa-apa digambarkan teman, yang penting bagus”. Meski demikian, ada setitik harapan, anak-anak masih bersedia mencoba hal baru, mencoba cara baru, menantang kekawatirannya sendiri. Perilaku anak-anak adalah buah dari cara orang dewasa memperlakukan mereka.

Setelah selesai menggambar, kami mengundang anak-anak buat bercerita mengenai cita-citanya. Satu demi satu anak maju buat bercerita. Selesai satu bercerita, kami mengulasnya, memberi tambahan wawasan. Selesai anak-anak bercerita, gantian kami bercerita mengenai profesi kami sebagai fasilitator. Iya simpel, pekerjaan fasilitator adalah apa yang anak-anak saksikan dan kerjakan dari awal tadi. Kami tinggal merangkai testimoni dari anak-anak untuk melukiskan apa pekerjaan seorang fasilitator.

Tidak terasa, 1,5 jam berlalu. Kami pun mengakhiri dengan permainan dan bernyanyi kembali. Waktu habis, kelas diakhiri dengan foto bersama.

Foto Bersama Kelas Inspirasi

Selesai sesi pertama itu, kami diundang Bu Kepala Sekolah buat makan siang bareng. Kejutan! Makan di pondok terapung, pondok diatas kolam yang terletak di belakang sekolah. Wah menyenangkan….suasana maupun makanannya, bayangkan siang dengan sayur asem, sambel, ikan goreng, pepes ikan dan banyak lagi…..

Makan Siang Kelas Inspirasi

Selesai sesi break, kami pun beraksi kembali. Dan baru sadar kemudian, hanya kami yang mengisi kelas dua kali, kelas pagi dan siang. Niat banget ya haha

Kalau kelas pagi tadi, kami memfasilitasi kelas 5, maka kelas siang ini kami memfasilitasi kelas siang. Secara umum prosesnya sama, hanya saja kami tambahkan di awal dengan aktivitas menemukan hobi atau kesenangan. Setelah anak-anak menemukan hobi atau kesenangannya, baru kami mengkaitkannya dengan cita-cita. Meski begitu, hasilnya jauh sekali berbeda. Ketika berbicara langsung pada cita-cita maka yang muncul kebanyakan adalah cita-cita normatif. Tapi ketika diawali dengan hobi atau kesenangan, lahirlah cita-cita yang kreatif, seperti pengusaha laundry, pengusaha tas, dan koki.

Kelas inspirasi tidak saja sebuah pemberontakan anak-anak terhadap keadaan tanpa harapan. Kelas inspirasi juga pemberontakan terhadap zona nyaman kami, menjadi pendobrak kenyamanan kami. Kami bukan saja senang telah berbagi kesenangan dengan anak-anak, namun juga bersyukur telah mendapatkan banyak pelajaran dari anak-anak. Belajar prinsip dasar fasilitasi, belajar memahami anak-anak, dan belajar untuk melupakan rasa malu :D

Mungkin hanya sebentar kontribusi kami buat anak-anak itu, tapi kami berharap apa yang sebentar itu membekas lama di hati mereka. Bukan untuk mengingat kami, tapi mengingat bahwa selalu ada harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Terima kasih buat Bu Darwati, Bu Kepala Sekolah dan keluarga besar SDN TambakWedi 508 Surabaya yang telah menjadi tuan rumah yang menyenangkan. Kami jadi tersadarkan bahwa profesi guru SD merupakan tantangan dan pengabdian yang luar biasa. Semoga terus diberi kekuatan untuk mengapresiasi & menstimulasi anak-anak Indonesia bagaimanapun kemampuan mereka.

Terima kasih Kelas Inspirasi dan seluruh relawan yang telah memberi kesempatan pada kami untuk berkumpul dan bersenang-senang bersama anak-anak. Kelas Inspirasi menjadi pengalaman bagi kami untuk keluar dari zona nyaman dan masuk ke zona belajar.

Masukan saya buat program Kelas Inspirasi tahun mendatang adalah penguatan ikatan emosional kelompok pengajar. Ketika pengajar telah berjumlah besar, penguatan ikatan kelompok akan menguatkan program dan kontribusi pada anak-anak.

Menurut kamu, apa kira-kira dampak bagi anak-anak setelah mengikuti Kelas Inspirasi ini? 

Catatan: Foto-foto akan dilengkapi kemudian begitu mendapat kiriman foto dari fotografer program

Incoming search terms:

Tags: , ,

19 Comments

  1. Posted February 20, 2013 at 10:33 pm | Permalink

    Mantap nih kisah kelas inspirasinya Pak Bukik! :D
    Cepat sekali ditulisnya hehe. Kisah saya sendiri masih menunggu foto yg ada di tangan fotografer *alasan prokrastinasi ngeblog :p*

    Menanggapi pertanyaan:
    “Menurut kamu, apa kira-kira dampak bagi anak-anak setelah mengikuti Kelas Inspirasi ini?”
    Saya sendiri mengamini kata-kata dari surat Pak Anies sebagai berikut:
    “Secara fisik kehadiran Anda cuma sehari, tapi bekasnya bisa langgeng. Ya, cerita Anda, pengetahuan, inspirasi, semangat dan pencerahan dari Anda bisa hadir secara amat permanen dalam hati dan mimpi mereka.”
    Viva #KelasInspirasi!

    • Posted February 22, 2013 at 12:45 pm | Permalink

      Hahaha ayo nulis…..
      Amin…semoga anak-anak merasakan inspirasi dan manfaat dari kita ya

  2. Posted February 21, 2013 at 7:31 am | Permalink

    wah.. mantap pak…
    sebentar tapi meninggalkan kesan. itu yang berharga.

  3. Posted February 21, 2013 at 7:38 am | Permalink

    Nyesel saya tidak ikutan….
    Terimakasih berbaginya disini. kelak kalau ada lagi mau ikut ah…..

    • Posted February 22, 2013 at 12:46 pm | Permalink

      Iya nyesel…..banyak belajar dari anak-anak

  4. Rizal Satria D
    Posted February 21, 2013 at 7:50 am | Permalink

    Saya suka metode thinking outside of the box karena pada ulasan awal anda menemukan kesulitan memadukan tim anda. Itu mengispirasi saya. Makasih….:))

    • Posted February 22, 2013 at 12:47 pm | Permalink

      Sama-sama….semoga bermanfaat ya

  5. dwi
    Posted February 21, 2013 at 9:37 am | Permalink

    membayangkan…
    pergi ke sekolah adalah hal yang dinanti-nanti setiap pagi oleh anak-anak Indonesia…

    …because it is FUN to go to school..

    • Posted February 22, 2013 at 12:48 pm | Permalink

      Hahaha iya….kegembiraan perlu ditumbuhkan di sekolah-sekolah…..sebagai motivasi utama anak belajar

  6. Posted February 21, 2013 at 10:51 am | Permalink

    Jadi kangen ngajar anak2 lagi…

  7. andy ardian
    Posted February 21, 2013 at 12:05 pm | Permalink

    mas bukik untuk di medan ada tidak ya kegiatannya. kalau ada mau ikutan nih, berbagi buat anak indonesia.

  8. Posted February 24, 2013 at 3:00 pm | Permalink

    Kelasnya pak Bukik seruuu… ngajar anak SD itu susah ternyata ya, salut kepada ibu guru SD! ini ceritaku waktu ngajar Kelas Inspirasi: http://deviseftia.wordpress.com/2013/02/24/bersenang-senang-di-kelas-inspirasi/

  9. boeloek
    Posted February 25, 2013 at 3:40 pm | Permalink

    Iiiih…seru bangeeettt…*ternga-nga2x*

  10. Posted March 7, 2013 at 6:31 am | Permalink

    Keren mas.. emang kelas inspiratif harus begini yak. jangan kaku aja kayak pembahasna dikelas biasa..

  11. Posted March 11, 2013 at 11:48 pm | Permalink

    Harapannya sih banyak Pak Bukik, paling menonjol pastinya meningkatkan kreatifitas anak. Anak2 sekarang kalau dibiarkan banyak yang terjerumus ke teknologi, padahal semestinya belum diperkenankan. Contoh kecilnya kecanduan gaming, dari kecil secara tak langsung diajarkan tak bersosialisasi :)

  12. Posted March 22, 2013 at 10:49 pm | Permalink

    Sungguh inspirasi yang LuuarrBiasa. Salut.

One Trackback

  1. [...] Sebuah refleksi dari pengalaman sehari mengajar di Kelas Inspirasi  [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi