Kampus Guru, Impian Pendidikan yang Menumbuhkan

Ya pada akhirnya saya memilih berkarir di ibukota untuk memperjuangkan sebuah impian yaitu kampus guru yang keren. Impian yang banyak melahirkan konsekuensi.

Saya lahir di Jawa, tapi sejak TK sudah diajak orang tua untuk tinggal di Papua. Daerah pertama yang kami tinggali adalah Nimbokrang.  Awalnya kami tinggal di rumah di tepi hutan, jauh dari pemukiman penduduk. Hanya ada 3 – 4 rumah dinas. Tapi tidak berapa lama, kami pindah ke daerah pemukiman, tinggal di sebuah rumah yang berseberangan dengan sekolah saya. Tidak banyak yang saya ingat kecuali dua hal: ketakjuban menyaksikan helikopter mendarat di lapangan sekolah dan pelajaran mengeja “Ini Budi” :)

Dua tahun tinggal di Nimbokrang, bapak dipindahtugaskan untuk menjadi Kepala Unit Transmigradi di Koya Koso, yang kemudian berubah nama menjadi Koya Barat. Koya lebih dekat dengan kota kecamatan, Abepura, dibandingkan Nimbokrang tapi lebih dekat dengan perbatasan Papua New Gunea. Transportasi umum pun sudah menjangkau Koya, setidaknya pada siang hari. Pada tahun-tahun awal kami mengandalkan lampu minyak petromax, hingga datang bantuan mesin diesel yang digunakan menyalakan listrik di malam hari.

Saya bersekolah di SDN II Koya sejak kelas 2 SD. Hari-hari anak kampung yang sederhana dan penuh rasa gembira. Kehidupan berlangsung antara sekolah, rumah, masjid dan lapangan bola. Tak banyak hiburan hingga setiap keluarga harus kreatif menciptakan hiburannya sendiri. Saya beruntung karena bapak dan ibu kreatif mencari cara agar kami tetap beraktivitas gembira di rumah. Kami menghabiskan waktu mulai membaca buku, mendengar radio, berkebun, bermain permainan tradisional hingga bermain catur dan berbagai permainan kartu.

Sekitar 2 tahun kemudian, pemerintah membangun SMP Negeri yang berjarak 30 menit jalan kaki menyusuri jalan yang diapit hutan lebat dari rumah kami. Tahun-tahun awal bangunan SMP tersebut kosong tidak terpakai. Problem klasik pendidikan di Papua, tidak ada tenaga guru. Bapak berjuang bagaimana menghidupkan SMP tersebut termasuk beliau menjadi guru Bahasa Inggris, meski tidak punya latar belakang pendidikan keguruan. Jadi jangan tanya kualitas, ada guru di sekolah saja sudah menjadi berkah bagi kami, anak-anak di Papua.

Meski Bapak pernah menjadi “guru”, saya tidak pernah membayangkan di kemudian hari akan berkarir menjadi seorang dosen. Saya menjadi dosen di Fakultas Psikologi Unair selama 7 tahun hingga mengundurkan diri sebagai PNS Dosen pada tahun 2012 yang lalu. Setelah mundur sebagai PNS, saya bekerja untuk sebuah lembaga internasional sebagai fasilitator lepas. Selain itu, saya mengembangkan aplikasi pengembangan bakat anak, Takita. Aplikasi tersebut sampai diterima dalam program Indigo Incubator PT. Telkom yang membuat saya harus tinggal di Bandung selama 7 bulan.

Ketika kontrak sebagai fasilitator habis dan pengembangan Takita belum membuahkan hasil, saya pun tidak punya pekerjaan. Tapi karena tidak punya pekerjaan, justru saya berhasil menulis buku “Anak Bukan Kertas Kosong”. Setelah tertunda beberapa bulan, akhirnya buku Anak Bukan Kertas Kosong akhirnya terbit pada pertengahan Februari 2015. Buku terbit, perjuangan penulis buku berikutnya adalah melawan kutukan 3000 eksemplar.

Tidak mudah ternyata melawan kutukan itu, meski saya berhasil membangun jejaring Agen Buku ABKK di puluhan daerah di Indonesia mulai Aceh sampai Timika, bahkan hingga Australia. Berkat peran Agen Buku ABKK juga yang membuat buku akhirnya masuk cetakan kedua pada bulan april 2015. Selebihnya, saya tidak banyak melakukan upaya promosi selain di media sosial karena karena kehabisan energi akibat terlalu lama berada di titik nol :D

Ada beberapa penawaran untuk kerja sama tapi setelah memikirkan berbagai konsekuensi dan ngobrol dengan keluarga, akhirnya saya memilih kembali ke “sarang”, lembaga pendidikan. Sekitar awal April, saya diajak ngobrol dengan mbak Najeela Shihab mengenai berbagai peluang dalam membangun dunia pendidikan di Indonesia. Peluang paling menarik saya adalah inisiatif untuk mengembangkan kampus guru. Mengapa?

Kesamaan visi. Saya mengenal Najeela Shihab sebenarnya sudah lama tapi sebatas melalui email dan inisiatif pendidikan yang digagasnya. Ada kesamaan visi mengenai pendidikan sebagai proses menumbuhkan, bukan menanamkan. Kesamaan visi ini yang saya duga membuat beliau bersedia menuliskan testimoni untuk buku Anak Bukan Kertas Kosong.

Saya belajar dari Mbak Elaa bahwa “Jangan melihat pendidikan hanya dari aspek yang tangible, karena aspek yang intangible yang justru lebih menentukan”. Jangan melihat sekolah dari gedungnya, tapi bagaimana gedung itu digunakan. Jangan melihat kurikulum sebagai dokumen, tapi bagaimana kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) dipraktekkan sehari-hari. Mau contoh yang lebih nyata? Coba saksikan video ini. 

Berkreasi. Pengembangan kampus guru berarti kesempatan untuk berkreasi, menciptakan sebuah model pendidikan. Dibandingkan bicara di depan banyak orang, saya lebih nyaman berpikir dan merancang sebuah konsep. Tahap awal pengembangan kampus guru pasti akan banyak proses berpikir dan diskusi mengenai kurikulum, proses belajar, hingga membangun tim pendidik yang mempunyai kesamaan visi. Serangkaian proses yang membuat saya bersemangat, meski baru membayangkannya :)

Dunia lama, tantangan baru. Pengembangan kampus guru berarti saya kembali ke kampus, dunia yang pernah saya geluti sebelumnya, dengan sebuah tantangan baru. Saya pernah memimpin tim pengembangan Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi (MPPO) Unair hingga menjadi Ketua Program Studinya selama dua tahun. Ketika itu, saya berani menjanjikan pada mahasiswa MPPO bahwa mereka akan mengalami pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan program S2 yang lain di Indonesia. Pengalaman belajar yang menstimulasi mahasiswa untuk mengalami perubahan perilaku, bukan hanya penambahan pengetahuan. Saya yakin pengalaman tersebut bisa berarti banyak dalam pengembangan kampus guru.

Kontribusi pada pendidikan Indonesia. Agenda terpenting pendidikan Indonesia adalah peningkatan kualitas guru. Agenda yang melahirkan kebutuhan akan adanya kampus guru yang keren. Bukan hanya kampus guru yang membekali mahasiswa dengan berbagai pengetahuan dan keterampilan seorang guru, tapi kampus guru yang memfasilitasi mahasiswa untuk menjadi guru yang belajar sepanjang hayat. Kampus guru yang keren akan melahirkan guru yang bukan saja mahir menstimulasi muridnya belajar, tapi juga menstimulasi dirinya sendiri untuk terus belajar. Menjadi bagian dari upaya peningkatan kualitas guru adalah sebuah kehormatan bagi saya.

Jadi sejak 1 Mei 2015, saya bergabung di Lifelong Learner (LLE), School of Education, sebuah lembaga pengembangan guru yang awalnya adalah unit training guru di Sekolah Cikal. Hari senin, 4 Mei 2015 adalah hari pertama saya secara resmi berkantor di LLE yang terletak di Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Mengapa saya menyebut secara resmi? Karena saya penuh semangat sehingga sudah terlibat dalam sebuah program LLE yaitu Temu Pendidik yang diadakan pada 30 April 2015 yang lalu. Temu Pendidikan adalah forum bagi pendidik (guru dan kepala sekolah) untuk berbagi praktek baik dan merancang cara kreatif mendidik.

Mudik Temu Pendidik LLE Kampus Guru

Impiannya mudah disebutkan, kampus guru. Sebuah impian yang hanya terdiri dari dua kata. Meski begitu, impian akan kampus guru ini melahirkan banyak konsekuensi.

Penjualan buku Anak Bukan Kertas Kosong, yang selama ini saya tangani sendiri, harus dilimpahkan pada tim saya. Proses pendelagasian sudah dicoba dan sejauh ini lancar sehingga bila ada teman yang tertarik, jangan ragu untuk menjadi agen buku ABKK.  Saya pun harus pindah ke Jakarta, hidup berpisah dengan Mamski dan Memski. Meski teknologi sudah sangat memudahkan dalam berkomunikasi, tapi komunikasi secara langsung tetap tak tergantikan, apalagi rasa kangennya…….

Tapi sebagaimana pernah saya tulis di status FB, saya tidak pernah merencanakan karir saya. Saya menggengam sebuah impian mengenai pendidikan yang menumbuhkan sebagai pemandu karir. Selama keluarga mendukung, saya akan mengikuti ke mana pun impian itu memanggil.

Jadi buat teman-teman di Jakarta, kapan kita kopdar? :)

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

16 thoughts on “Kampus Guru, Impian Pendidikan yang Menumbuhkan”

  1. Sebagus apapun kurikulum, sesempurna appaun kurikulum, keberhasilan proses pendidikan tetap bergantung pada guru. Guru yang baik adalah guru yang dengan cara kreatifnya mampu menumbuhkan “curiosity” pada anak. Ini yang jarang ada pada guru jaman sekarang. Betapa banyak anak yang menaruh stigma negatif pada mata pelajaran kimia fisika matematika karena ketidakmampuan guru untuk menunjukan keindahan ilmu tersebut akibat penyampian materi yang masih konvensional.

    Pak bukik, saya mohon izin untuk memantau gagasan kampus guru ini, karena ini sangat menarik.

    -Salam
    Egy Adhitama (mahasiswa Pendidikan Fisika 2014)

  2. Yuk kopdar. Sambil tukeran rencana program jangka panjang. Siapa tahu ada yang bisa dikerjakan bareng. Saya kemarin pengen datang ke Cikal tanggal 30. Sayang, belum selesai packing untuk keluar kota besoknya.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.