Inovasi Pendidikan India (3): Kisah Inovasi Orang Miskin

Profesor Anil Gupta, orang yang percaya bahwa orang miskin tidak miskin akal hingga bersedia berjalan kaki menemukan inovasi di masyarakat miskin.

Saya adalah seorang psikolog yang dididik untuk meyakini hierarki kebutuhan Maslow. Kebutuhan hidup seseorang dapat disusun menjadi piramida dengan kebutuhan fisiologis di bagian bawah dan kebutuhan aktualisasi di bagian atas. Hanya bila kebutuhan-kebutuhan di bagian bawah terpenuhi maka orang baru bisa melakukan aktualisasi diri. Hanya orang berkecukupan yang bisa melakukan inovasi.

Tapi keyakinan saya dibongkar habis oleh seorang profesor bijak dengan penampilan sederhana, Anil K. Gupta. Melalui presentasinya di TED.com, beliau mamaparkan kesimpulan kuat berdasarkan bukti-bukti meyakinkan bahwa orang yang miskin secara ekonomi, belum tentu miskin akal. Pemikiran yang tumbuh berkembang di daerah miskin bukanlah pemikiran miskin. Anda percaya pandangan itu? Hebat! Saya sendiri awalnya tidak percaya tapi berubah pikiran setelah menyimak presentasinya hingga akhir.

Orang yang miskin secara ekonomi, belum tentu miskin akal. Anil Gupta

Profesor Anil K Gupta bercerita pengalamannya di Bangladesh ketika menjadi penasehat pemerintah dan konsultan riset. Ia menemukan temuan yang menakjubkan bahwa orang-orang miskin menunjukkan kreativitas yang luar biasa. Ia kemudian menyadari hasil pekerjaannya sebenarnya berpijak pada pengetahuan orang-orang miskin. Hanya saja, kaidah dunia riset tidak mewajibkan peneliti untuk menyebutkan sumber pengetahuan yang tidak tertulis dari orang miskin. Subyek pengetahuan sesungguhnya dihapus dari literatur ilmiah dan hanya menyisakan orang bergelar yang tampil ibarat pahlawan (kesiangan).

Inovator sesungguhnya adalah para pelaku yang menghayati kehidupan sepenuh-penuhnya. Bukan orang yang berlimpah uang untuk membeli solusi-solusi yang memudahkan hidup. Orang miskin justru mempunyai prasyarat penting menjadi inovator: kondisi kepepet. Mereka tidak punya uang untuk membeli inovasi yang dilahirkan oleh lembaga riset yang ada di pusat perusahaan atau pemerintahan. Inovasi bagi mereka buat barang mewah untuk dibeli dan dipamerkan, tapi solusi yang “terpaksa” dibuat untuk bertahan hidup. Bagi orang di kota, inovasi adalah kemewahan. Bagi orang miskin, inovasi adalah kebutuhan.

Kesadaran yang menampar itu membuat Profesor Anil K. Gupta berpikir keras. Sampai suatu hari sepulang dari kantor, ia berjumpa dengan lebah-lebah yang sedang menyerbuki bunga-bunga, “Jika saya bisa seperti lebah, hidup akan menjadi indah,”. Lebah bekerja menyerbuki, mengambil nektar dari satu bunga, dan menyerbuki bunga yang lain. Bunga tidak merasa dirugikan oleh lebah, bahkan bunga mengundang lebah untuk datang. Beliau pun merumuskan filosofi lebah: setiap kali kita mendapatkan pengetahuan dari masyarakat maka kita harus berbagi dengan mereka menggunakan bahasa mereka.

Beliau pun membuat Honey Bee Network, jejaring para inovator dari kalangan masyarakat miskin. Tugasnya menemukan inovasi orang miskin, mengenalkan temuan dan karyanya, serta menyebarkan inovasi itu ke masyarakat miskin yang lain. Pengembangan komunitas miskin bukan dengan mendatangkan inovasi dari luar, tapi dari komunitas miskin itu sendiri. Inisiatif yang menghargai orang miskin sebagai manusia seutuhnya, bukan sebagai obyek yang dikasihani.

Menariknya, Profesor Anil Gupta bukan orang yang terpaku di dalam laboratorium inovasi. Beliau berjalan kaki dari kampung ke kampung untuk menemukan inovasi dari masyarakat miskin. Persis seperti lebah yang terbang ke sana ke mari untuk menemukan nektar bunga. Inisiatif Honey Bee Network kemudian mendapat dukungan pemerintah India dan berkembang menjadi National Innovation Foundation. Lembaga inovasi yang tidak terjebak pada keasyikan eksperimen dalam laboratorium, tapi memilih untuk menjadi bagian dari proses inovasi masyarakat miskin.

Anil Gupta inovasi 1

Saya beruntung bisa berjumpa dengan Profesor Anil Gupta. Pertemuan dengan beliau memang sudah diagendakan pada perjalanan ke India. Jadi setelah 3 hari di New Delhi, kami pun terbang ke selatan menuju Ahdedabad. Kami tiba di hotel jam 8 malam waktu setempat, dan terkenjut dengan kehadiran Profesor Anil Gupta yang menyambut kami. Orang yang murah senyum, rendah hati dan penampilannya sangat sederhana. Kami berkenalan dan saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk foto bareng. Nanti kalau tidak ada foto dibilang Hoax *eh

Anil Gupta inovasi 2

Selesai meletakkan barang di kamar hotel, saya meluncur turun untuk mencuri obrolan dengan Profesor Anil Gupta. Beliau menunjukkan sebuah makalah, dan isinya bukan lagi mengenai inisiatif awal Honey Bee Network, tapi penerapannya di bidang pendidikan. Inisiatif bernama Teacher As Transformers ini mengundang guru untuk mengirimkan inovasi pengajaran dan pendidikan mereka. Selama 2 tahun terakhir, inisiatif ini berhasil mengumpulkan 50 ribu lebih inovasi dengan kualitas yang bervariasi. Inovasi yang terkumpul dinilai oleh guru yang lain berdasarkan tingkat replikasinya di daerah lain oleh para guru.

Betapa tidak terkejut, saya mendengar inisiatif Teacher as Transformers ketika kami baru merintis inisiatif serupa bernama Komunitas Guru Belajar. Komunitas Guru Belajar meyakini setiap guru belajar dari siswa, dari praktek pengajaran sehari-hari dan dari kehidupan. Hanya saja selama ini guru dianggap sebatas “orang miskin” yang butuh dibantu, maka program guru selalu menempatkan guru sebagai obyek. Komunitas Guru Belajar percaya guru seharusnya menjadi subyek bersama dengan siswa sebagai subyek. Komunitas ini mempunyai forum bernama Temu Pendidik yang mengundang guru berbagi praktek cerdas pengajaran dan pendidikan. Dalam Temu Pendidik, setiap guru bisa menjadi guru bagi guru yang lain, tanpa batasan usia, jenis kelamin, kepangkatan maupun gelar.

Anil Gupta inovasi 3b

Obrolan dengan Profesor Anil Gupta terpaksa dihentikan karena Menteri Anies Baswedan sudah datang dan mengajak ke tempat makan malam. Awalnya, rekan-rekan KBRI sudah memesan tempat di restoran hotel, tapi rupanya beliau berdua lebih suka memilih tempat yang lebih sederhana, food court di mal sebelah hotel. Setelah memesan makanan, Menteri Anies dan Profesor Anil terlibat percakapan seru hingga lewat jam 11 malam, seolah berbincang dengan teman lama yang baru berjumpa kembali. Menjelang tengah malam, kami kembali ke hotel untuk istirahat menghadapi agenda hari ke-4 di India yang super padat.

Anil Gupta inovasi 5b

Setelah berkunjung ke Sekolah Riverside dan Ashram Gandhi, kami meluncur ke kampusnya Profesor Anil Gupta, Indian Institute of Management (IIM), yang terkenal dalam bidang manajemen inovasi. Bangunan kampus IIM tersusun dari batu merah sehingga tampak mencolok di siang yang panas. Tapi begitu masuk ke dalam kampus, hawa panas siang hari seolah tertahan oleh bangunan. Profesor Anil mengantarkan Menteri Anies Baswedan ke beberapa ruangan sambil terus bercakap-cakap. Kami masuk ke perpustakaan yang berisi ribuan buku di rak-rak yang berjajar dan ruang membaca dengan beberapa mahasiswa asing bercampur dengan mahasiswa India.

Anil Gupta inovasi 5

Pada akhir kunjungan, Menteri Anies Baswedan menyampaikan pidato “Reach Unreachble” yang dilanjutkan dengan dialog dengan kalangan akademisi, mahasiswa dan guru India. Waktu penerbangan yang mepet membuat kami tergesa meninggalkan kampus IIM dan segera meluncur ke bandara Ahmedabad untuk melakukan perjalanan pulang ke negeri tercinta, Indonesia.

Bagaimana pendapat anda mengenai inovasi oleh masyarakat miskin di Indonesia? 

Baca tulisan sebelumnya:

  1. Mengapa India? Mengapa bukan Finlandia?
  2. Kisah Tembok dalam Lubang
  3. Kisah Menghargai Anak-anak

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

7 thoughts on “Inovasi Pendidikan India (3): Kisah Inovasi Orang Miskin”

  1. Memang benar kata mas bukik, inovasi pendidikan yang cocok dikembangkan di tanah air boleh jadi ya dari India. semoga bisa diaplikasikan ya Mas…saya pernah mengajar di lembaga kursus, tapi rasanya ingin serius menggeluti dunia pengajaran nih.

    Salam pembelajar!

  2. salam, sangat beruntung Mas Bukik Setiawan bisa bertemu Guru Anil Gupta. Apa yang anda lihat benar dan luar biasa, saya juga pernah melihat kuatnya kemiskinan hingga membuat mereka kaya, tetapi bukan di India, tetapi di Bangladesh. Tetap semangat, Indonesia juga tidak kalah jago dan hebat, cuma mungkin belakangan sudah terlalu sering menonton film Amerika hehehe.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.