Inilah Cara Belajar Calistung ala Ki Hajar Dewantara

Ketika diundang menjadi narasumber di Mata Najwa Edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara, saya tertarik dengan cara belajar calistung ala KHD. 

Seperti yang sudah saya ceritakan di tulisan sebelumnya, email wawancara ternyata berujung pada undangan untuk hadir sebagai narasumber di Mata Najwa edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara. Ternyata bukan hanya berbagi pelajaran penting, saya juga mendapatkan inspirasi mengenai cara belajar calistung ala Ki Hajar Dewantara. Dan memang contoh belajar calistung yang diceritakan oleh cucu beliau menggambarkan prinsip pendidikan yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara.

Jadi Mata Najwa menghadirkan dua orang cucu Ki Hajar Dewantara yaitu Litasari dan Ganawati. Ada satu pengalaman yang diceritakan Ganawati yang sangat menarik tentang cara kakeknya mengajar calistung pada para cucunya. Ki Hajar Dewantara mengajak para cucu ke taman. Sambil mengamati bunga yang ada di taman, beliau menanyakan jumlah bunga yang ada di taman itu (Lengkapnya lihat di video di bawah ini). Jadi belajar calistung bukan menjejalkan rumus ke benak anak karena Anak Bukan Kertas Kosong. Belajar calistung dengan mengajak anak untuk mengalami dan menalar obyek yang bermakna bagi anak. Anak sebagai pembelajar menggunakan pikirannya untuk menemukan pengetahuannya sendiri.

Mata Najwa Edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara 1Mata Najwa Edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara 1Sumber: http://matanajwa.metrotvnews.com/video

Posted by Kampus Guru Cikal on Thursday, November 26, 2015

Belajar calistung ala Ki Hajar Dewantara sangat mudah, sederhana tapi berdampak besar terhadap tumbuh kembang anak. Mudah karena bukan hanya guru, orangtua pun bisa mengajar calistung ala KHD. Sederhana karena tidak butuh peralatan yang mahal, pendidik bisa memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya baik di rumah maupun di luar rumah. Meski mudah dan sederhana, tapi mempunyai arah yang berkebalikan dengan pelajaran calistung yang dipaksakan di banyak TK saat ini. Anak TK dipaksa belajar calistung dengan mengerjakan banyak soal di lembar kerja (worksheet).

Belajar calistung yang umum ditemui di TK saat ini mewakili aliran Pendidikan Menanamkan, yang menjejalkan rumus ke dalam diri anak. Padahal Anak Bukan Kertas Kosong, tapi makhluk pembelajar yang telah dibekali dengan kemampuan dan kemauan belajar sejak lahir. Karena Anak Bukan Kertas Kosong, KHD menggunakan Pendidikan Menumbuhkan yang memfasilitasi anak untuk menggunakan potensinya sehingga tumbuh berkembang secara optimal. Bukan dengan menanamkan pengetahuan, tapi menumbuhkan kemampuan berpikir mandiri untuk menemukan pemahaman.

Belajar Calistung Ki Hajar Dewantara Mata Najwa

Logika pendidikan menanamkan mempunyai implikasi yang lebih jauh lagi. Logika yang membuat pendidik memaksa anak untuk patuh pada instruksi, menerima pengetahuan begitu saja. Kepatuhan yang ditegakkan dengan sistem ganjaran dan hukuman (reward & punishment) yang manipulatif. Selaras dengan pendidikan menumbuhkan, Ki Hajar Dewantara pun mengkritik sistem ganjaran dan hukuman karena akan membuat anak kehilangan kemauan dan kemampuan berpikir mandiri.

Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa sistem ganjaran dan hukuman itu menghancurkan budi pekerti anak. Hah? Kok bisa? Secara sederhana, budi pekerti adalah perilaku baik yang berulang (pekerti) yang dilandasi oleh budi (kesadaran).  Anak yang berbudi pekerti adalah anak yang mampu membedakan baik dan buruk, benar dan salah. Anak yang memilih suatu tindakan berdasarkan hasil pemikirannya sehingga mampu dan mau menanggung konsekuensinya. Ketika sistem ganjaran dan hukuman diterapkan, anak bertindak baik bukan karena kesadarannya, tapi karena keterpaksaan. Tidak heran bila kemudian anak bertindak baik hanya ketika ada guru atau orangtua. Ketika orangtua atau guru tidak ada, maka anak bertindak semaunya sendiri.

Karena inilah budi pekerti anak Indonesia jadi rusak….Karena inilah budi pekerti anak Indonesia jadi rusak….Sering mengeluh anak bersikap seenaknya sendiri? Tidak mandiri? Belajar hanya kalau diawasi? Kurang inisiatif? Kurang bertanggung jawab? Tahukah Ayah Ibu apa penyebabnya??? Di MATA NAJWA, Bukik Setiawan penulis buku Anak Bukan Kertas Kosong mengutip pandangan Ki Hajar Dewantara tentang penyebab rusaknya budi pekerti anak-anak.Tonton ya Pendidikan harusnya menumbuhkan potensi dan kemauan dari dalam diri anakBukan menekan dengan paksaan, bukan menggoda dengan iming-iming hadiahPelajari prinsip Pendidikan yang Menumbuhkan untuk Pengembangan Bakat Anak. Dapatkan buku Anak Bukan Kertas Kosong di toko buku gramedia, agen buku di http://bit.ly/DaftarAgenABKK atau di http://buku.temantakita.com

Posted by Anak Bukan Kertas Kosong on Thursday, November 26, 2015

Pendidikan menanamkan adalah buah dari jaman industri yang menuntut pendidikan menghasilkan lulusan yang terstandar. Kritik terhadap pendidikan menanamkan bukan hanya berasal dari Ki Hajar Dewantara. Banyak tokoh pendidikan yang mengkritik baik tokoh yang hidup pada jaman dahulu maupun tokoh yang kekinian. Misal

Education is a natural process carried out by the child and is not acquired by listening to words but by experiences in the environment. Maria Montessori

What is the greatest sign of success for a teacher thus transformed? It is to be able to say, “The children are now working as if I did not exist”. Maria Montessori 

Dua kutipan tersebut mewakili pendidikan menumbuhkan sebagaimana yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Apakah kesamaan ini kebetulan? Tidak ada yang kebetulan. Ki Hajar Dewantara dan Montessori hidup pada jaman yang sama, jaman perlawanan terhadap dominasi negara bangsa dalam kehidupan bermasyarakat. Bahkan, Montessori pernah berkunjung ke Taman Siswa pada tahun 1940. Dua orang tokoh tersebut bersama Tagore dari India, yang berkunjung ke Taman Siswa sebelum Montessori, merupakan tokoh pendidikan dunia yang mengkritik keras terhadap sistem pendidikan barat yang memesinkan manusia. Perjuangan yang hingga kini masih jauh dari selesai. Belajar calistung berdasar pendidikan menumbuhkan masih dipinggirkan oleh pendidikan menanamkan yang mengkarbit anak untuk secepat-cepatnya mampu membaca.

Anda punya kutipan tokoh lain yang menggambarkan pendidikan menumbuhkan? Tulis di komentar ya

Foto: Stanley Ferdinandus

Video Lengkap Mata Najwa Edisi Belajar dari Ki Hajar Dewantara bisa dilihat di Facebook Kampus Guru Cikal.

Baca juga: Empat langkah belajar calistung ala Ki Hajar Dewantara

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?