Mengapa Generasi Muda Selalu Salah dan Generasi Tua Selalu Benar?

Apakah karena generasi tua lebih bermoral? Atau memang karena generasi muda lebih hancur moralnya?

“Anak-anak jaman sekarang senang akan kemewahan, mereka tidak sopan, benci akan aturan, mereka tidak menghormati orang yang lebih tua, dan mereka suka berbicara sendiri ketika mengerjakan latihan. Anak-anak jaman sekarang cenderung kasar dan tidak lagi dapat dikendalikan oleh keluarga. Saat ini anak-anak tidak lagi berdiri ketika ada orang yang lebih tua memasuki ruangan. Mereka menentang orang tua, berbicara sendiri di depan tamu, melahap semua makanan yang ada di meja, suka menyilangkan kaki di depan orang tua, dan melawan guru mereka.” (Sumber: IDP-Europe)

Apakah pernah mendengar kalimat semacam itu? Apakah anda setuju dengan pernyataan itu bahwa generasi muda sekarang mengalami dekadensi moral? Kalau iya, anda bukan orang pertama. Pandangan serupa setidaknya sudah diungkapkan Socrates yang hidup pada masa 469 – 399 sebelum Masehi. Bukan hal baru ternyata…….

Socrates, juga kita, sebagai perwakilan generasi tua cenderung memandang negatif generasi muda. Padahal ketika sebagai individu, semisal sebagai ayah, maka kita cenderung memandang anak kita secara positif, bahkan berlebihan positifnya. Mengapa berbeda sikap kita sebagai individu dengan sikap kita sebagai “kelompok” generasi tua?

Dua kelompok orang diajak melakukan sejumlah aktivitas menyenangkan selama seminggu di lokasi terpisah. Mereka kemudian diminta memutuskan nama dan identitas kelompok masing-masing. Setelah itu, sebut saja kelompok A dan kelompok B, dikumpulkan pada lokasi yang sama. Meski berkumpul tapi kedua kelompok berkerumun secara terpisah, dan terlihat pandangan dan kata-kata negatif terhadap kelompok lain. Ketika kedua kelompok melakukan aktivitas kompetisi, tingkat agresivitas meningkat.

Serangkaian aktivitas tersebut menunjukkan ketika berada dalam kelompok maka orang akan memandang kelompok lain negatif dan cenderung bersikap agresif. Berbeda bila berjumpa dengan kelompok lain secara personal, kita cenderung bersikap positif dan bekerja sama. Begitulah kesimpulan eksperimen yang dilakukan oleh Muzafer Sherif dkk, selengkapnya bisa anda baca di The Robbers Cave Experiment.

Pandangan negatif generasi tua terhadap generasi muda lahir sebagai perilaku kelompok dibandingkan kenyataan yang ada pada generasi muda. Dan ketika generasi tua punya pandangan negatif, maka generasi tua akan mengingat fakta negatif dan mengabaikan fakta positif dari generasi muda. Kecenderungan yang membenarkan dan menguatkan kesimpulan generasi tua itu sendiri. Tak heran bila kemudian generasi tua merasa selalu benar dan generasi muda selalu salah.

Generasi Muda Selalu Salah

Dengan atau tanpa kita sadari, cara pandang tersebut melandasi cara generasi kita membangun sistem pendidikan. Pendidikan menjadi cara generasi tua untuk mengatur moral generasi muda. Generasi tua sebagai pihak yang bermoral menjadi subyek yang memantau, mengatur dan mengendalikan generasi muda yang tidak atau kurang bermoral. Generasi tua merasa absah untuk menjejalkan pesan moral, mendisiplinkan, dan bila perlu menghukum generasi muda.

Teknologi canggih berupa monitor CCTV di ruang kepala sekolah untuk mengawasi perilaku murid di kelas adalah bentuk primitif kecurigaan generasi tua terhadap generasi muda. Ujian terstandar yang menentukan kelulusan murid jadi upaya sistematis dan terstruktur untuk memaksa dan memastikan generasi muda untuk belajar. Upaya yang berdasarkan ketidakpercayaan bahwa generasi muda mampu dan mau belajar sendiri tanpa adanya paksaan. Dan apa dampaknya? Seperti yang saya tulis di buku Anak Bukan Kertas Kosong, kita menyaksikan banyak “telur” potensi generasi muda pecah di ruang kelas akibat pemaksaan yang dilakukan oleh generasi tua.

Fenomena “telur pecah” tersebut dijumpai juga oleh Kiran Bir Sethi, seorang desainer India, ketika anaknya pulang sekolah dan mengucapkan “aku tidak becus”. Bayangkan bagaimana rasanya orangtua, ketika anak yang berangkat sekolah dengan mata berbinar-binar penuh optimisme tapi ketika pulang justru berwajah lesu dan bersikap pesimis. Alih-alih menerima nasib, Kiran justru membangun sekolah Riverside dengan niat untuk mengembangkan pendidikan yang mendidik anak untuk percaya diri dalam melakukan perubahan. Anak yang yakin menyatakan “Aku Bisa”, dengan kepercayaan diri kreatif.

Tak berhenti dengan Sekolah Riverside, Kiran menyebarkan virus “Aku Bisa” dari India ke berbagai negara di seluruh dunia melalui gerakan Design for Change. Virus “Aku Bisa” sudah menyebar ke 35 negara. Pada akhirnya, penyebaran virus Aku Bisa sampai ke Indonesia dengan kehadiran Kiran. Bagaimana keseruan aktivitas Kiran di Indonesia? Nantikan posting berikutnya: Taman Gagasan Anak: Menebar Virus Aku Bisa.

 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

5 thoughts on “Mengapa Generasi Muda Selalu Salah dan Generasi Tua Selalu Benar?”

  1. Generasi tua cenderung mengandalkan masa lalu, yang sudah terjadi dan terbuktikan. Saya termasuk itu. Tentu ketika muda saya merasa memiliki masa depan dan berani menjemputnya meskipun belum tahu bentuk dan hasilnya :D

  2. Jadi inget pengalaman survei ke sekolah di sebuah daerah di ujung utara Indonesia kemarin. Di ruang kepala sekolah ada monitor CCTV plus seperangkat teknologi lainnya. Enggak cuma aktivitas guru di kelas yang diawasi, murid juga.

    Pas ada murid yang berbuat nggak baik slash enggak terpuji (deg-degan nulis kata ‘nakal’ di sini) di kelas, kepsek langsung memanggil si murid ke kantornya dan nunjukkin video yang diputar ulang. Katanya, harapannya, si anak sadar akan tingkah lakunya.

    Meringis aja dengar penjelasan kepsek hehe :D

    Tapi, pengakuan dosa juga .. kalau ada anak-anak ABG berisik pas CFD-an, foto-foto gengges, kehebohan nggak jelas, aku pun sensi juga aaaak xDD

    1. Efek CCTV? Anak jadi sadar bahwa perilakunya diawasi melalui CCTV. Akhirnya jadi sadar harus menghindar dari sorotan CCTV kalau mau melakukan yang tidak disukai guru/kepala sekolah. Ehm bahkan belajar memanipulasi CCTV

      “Aku bisa” bukan berarti berbuat semaunya. Justru dengan aku bisa anak belajar hubungan logis antara perilaku dengan konsekuensinya. Kalau memang sensi, boleh kok mengatakan bila terganggu dengan perilaku mereka

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.