Enaknya itu Menjadi Follower

Banyak orang berebut jabatan. Sepertinya mereka membayangkan enaknya jadi pemimpin. Padahal enaknya itu ya menjadi follower. Bagaimana bisa?

Setelah terakhir di Nutrifood, aku berkesempatan lagi berbagi dan melatih The Dancing Leader para kader muda PT. Pembangkit Jawa Bali di Waduk Cirata. Ketika di kontak Rima, aku sudah diberitahu kalau Cirata berada di tengah hutan. Tetap saja begitu tiba di Waduk Cirata, agak terkesima dengan lokasinya yang jauh dari pemukiman dan persis di kaki gunung. Pantes saja aku disarankan menginap di Bandung. Meski agak nyesal juga sih karena pemandangan Waduk Cirata cakep banget. Lihat saja foto-foto dibawah ini:

Kembali ke topik…..

Orang membayangkan menjadi pemimpin itu enak. Setidaknya pemimpin punya banyak fasilitas. Padahal paling enak itu jadi follower. Apa saja enaknya?

Pertama, follower bebas curhat. Ketika jadi staf di kantor, kita bisa bebas curhat di ruang kerja maupun di kantin. Ketika jadi pemimpin? Jadi terbatas. Pemimpin gak bisa curhat ke bawahan. Bisa merusak citra diri.

Kedua, follower bebas ngomong. Mau ngomongin apa saja relatif bebas. Ketika jadi pemimpin? Omongan harus diatur jangan sampai menjadi bumerang yang membahayakan jabatan.

Ketiga, follower bebas mendapat informasi terutama informasi yang tidak dibicarakan di pertemuan formal. Ketika jadi pemimpin? Semua orang termasuk bawahannya akan mengatur pola komunikasinya. Semua informasi sudah diproses dan disaring. Pemimpin jarang mendapat informasi apa adanya.

Keempat, follower tidak perlu nyuruh orang. Semua bisa dilakukan sendiri. Ketika jadi pemimpin? Apa-apa harus nyuruh orang. Iya kalau orang-orang nurut dan ngikuti. Kalau ada yang membantah atau melipir, pemimpin jadi emosi alias marah yang ujung-ujungnya ke penyakit jantung, darah tinggi dan stroke.

Kelima, follower tidak perlu pusing mau dibawa kemana sebuah organisasi. Follower tinggal mengikuti arahan. Ketika jadi pemimpin? Harus menentukan arah. Harus memperjelas misi. Dan ironisnya, apapun arah dan misinya selalu ada orang yang menilai negatif.

Keenam dan yang terpenting. Adanya follower membuat ada pemimpin. Tanpa ada follower, pemimpin bukanlah pemimpin. Sementara, ada pemimpin atau tidak ada pemimpin tetap saja ada follower. Kesediaan kita menjadi follower yang membuat seseorang jadi pemimpin.

Karena itu kualitas seorang pemimpin ditentukan oleh kita sebagai follower. Kualitas pemimpin yang bagus ditentukan oleh kualitas pilihan follower. Oleh karena itu bila ada ide beda atau aneh yang keren, jangan ragu untuk tentukan pilihan dan memberikan dukungan. Pilihan follower yang membuat kehidupan menjadi lebih baik.

Mau jadi follower atau pemimpin? 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?