Perjalanan dan Pelajaran Safari Disiplin Positif Jawa Timur

Disiplin positif sebenarnya konsep lama tapi tetap asing padahal sangat relevan untuk menjawab banyak persoalan pendidikan hari ini. Ibarat ramuan nenek moyang yang dilupakan padahal manjur menyembuhkan penyakit kronis. 

Awalnya 

Berawal dari ramainya obrolan kasus guru yang dipidanakan di media sosial khususnya Facebook. Kasus tersebut menimbulkan pro kontra. Kebanyakan opini di media sosial menyerang orangtua yang melaporkan guru ke polisi. Meme yang menyudutkan anak yang jadi korban kekerasan tersebar luas. Berbagai poster dan pesan yang berisi pesan “ajar sendiri anakmu kalau tidak mau kami didik dengan cara kami” pun laris manis disebarkan.

Sebagaimana perdebatan di media sosial lainnya, isu guru dipidanakan menghasilkan berbagai bias. Semisal, bila tidak setuju kekerasan anak berarti setuju memanjakan anak. Bila membela hak-hak anak berarti setuju guru dipidanakan. Perdebatan tak berujung. Ironisnya, meski banyak perdebatan tapi minim solusi.

Bila penggunaan kekerasan dalam pendidikan masih jadi perdebatan, maka tidak heran angka kekerasan di sekolah masih tinggi. Riset Plan Indonesia dan ICRW menunjukkan 84% anak mengalami kekerasan di sekolah (Kompas, 27/2/2015). Penghapusan kekerasan anak tidak bisa hanya mengatur penanganan kekerasan anak, tapi harus dimulai dari perubahan cara mendidik yang menempatkan anak sebatas sebagai obyek.

Kepedulian terhadap kondisi tersebut, maka Kampus Guru Cikal menawarkan penyelenggaraan safari seminar Disiplin Positif kepada komunitas dan lembaga pendidikan. Disiplin positif menjadi penting karena merupakan sebuah pendekatan dalam manajemen kelas. Bila kelas tidak dikelola secara efektif, metode dan upaya apapun tidak akan efektif dilakukan. Lebih jauh lagi, ketidakmampuan mengelola kelas yang seringkali membuat guru bersikap emosional dan terjerumus dalam tindak kekerasan terhadap anak.

Awalnya safari seminar disiplin positif tersebut dilaksanakan sebatas di area Jabodetabek yang mendapat sambutan antusias. Di tengah pelaksanaannya, ada seorang donatur yang ingin mengadakan kegiatan serupa di daerah Jawa Timur. Kami pun mulai menyusun rute yang realistis tapi bisa menjangkau wilayah yang luas sekaligus beragam. Setelah menyepakati rute yaitu Bojonegoro, Kediri, Malang, Jember dan Surabaya, kami pun menghitung anggaran yang dibutuhkan. Penyelenggara di Jember dan Surabaya sudah pasti yaitu Komunitas Guru Belajar di kedua daerah tersebut. Sementara tiga daerah yang lain belum ada komunitas guru belajarnya.

Kami pun membuka penawaran terbuka di Facebook Kampus Guru Cikal kepada komunitas dan lembaga pendidikan di Bojonegoro, Kediri dan Malang yang bersedia menjadi penyelenggara Safari Seminar Disiplin Positif di Jawa Timur. Diskusi dengan kandidat penyelenggara cukup hangat karena ada beberapa hal yang kurang sesuai kebiasaan. Pertama, tidak ada sertifikat buat peserta. Kedua, tidak ada proposal kegiatan yang dijilid rapi. Ketiga, tidak ada biaya penyelenggaraan. Saya berusaha meyakinkan setiap pihak bahwa Safari Seminar Disiplin Positif sepenuhnya dilakukan secara gotong royong, setiap pihak berkontribusi, agar para guru mendapat kesempatan belajar. Ada kandidat yang mengundurkan diri, meski begitu akhirnya setiap daerah tetap ada penyelenggaranya.

Perjalanan 

Singkat cerita, saya berangkat dari Sidoarjo hari Senin pagi (22/08) menggunakan mobil menuju Sekolah Cikal Surabaya untuk menjemput Bu Ratih dan Bu Dewi. Dari sana, kami langsung meluncur ke Bojonegoro. Kami bertiga ternyata belum pernah ada yang Bojonegoro sehingga menemukan lokasi yang dekat alun-alun pun tidak ketemu. Setelah menunggu beberapa saat, Guru Hery, dari Komunitas Gusdurian Bojonegoro, datang menjemput dan mengantar kami ke Gedung Kerukunan Umat Beragama, lokasi Safari Disiplin Positif Hari Pertama.

Seminar Disiplin Positif hari pertama ini diadakan sambil duduk lesehan di ruangan dengan kipas angin. Sekitar empat puluh guru berdatangan satu per satu baik dari Bojonegoro maupun dari daerah lain seperti Lamongan dan Tuban. Karena seminar mulai jam 13.30 WIB, kami awalnya khawatir udara panas akan mengganggu proses belajar. Tapi ternyata sampai akhir para guru tetap semangat dan mengikuti proses belajar secara seksama. Pada sesi tanya jawab pun, para guru banyak yang mengajukan pertanyaan konstruktif mengenai penerapan disiplin positif di kelas.

Disiplin Positif B 1

Disiplin Positif B 2

Seminar yang selesai pada 16.00 WIB ini membuat kami lumayan kehausan. Bagaimanapun, udara panas lebih cepat membuat haus, apalagi bila berbicara terus sepanjang acara. Kami pun meluangkan waktu untuk duduk di alun-alun Bojonegoro sambil melakukan refleksi. Beberapa catatan ditulis Bu Dewi seperti pembahasan harusnya mencakup semua jenjang pendidikan dan masih perlu tambahan pembahasan mengenai motivasi internal dan eksternal. Setelah magrib, rombongan pun meluncur ke Kediri melalui rute yang membelah hutan jati. Rute yang awalnya ramai berubah sepi ketika kami mulai memasuki hutan jati. Lumayan deg-degan sih :)

Disiplin Positif B 3

Sampai di Kediri sekitar pukul 9 malam, kami langsung mengantar Bu Ratih dan Bu Dewi ke hotel. Dari sana, saya dan Pak Sopir menuju lokasi Seminar Disiplin Positif Hari Kedua, Sekolah Alam Ramadhani. Sampai di lokasi ternyata masih banyak orang yang sedang menyiapkan tempat untuk acara besok. Persiapan dilakukan sore hingga malam hari karena pagi hari ruangan dipakai sekolah. Mampir sebentar, kami pun diantar Naim, aktivis taman baca Mahanani, untuk makan malam. Lapar euy! Soto khas Kediri pun ludes :D

Selesai makan malam, kami kembali ke lokasi semula. Kami diantar ke tempat menginap yaitu sebuah kamar di panti asuhan. Belum….belum tidur. Saya terlibat obrolan dengan Naim dan Mas Narno mengenai berbagai praktik pendidikan di Indonesia dan India, dinamika pendidikan kekinian hingga masa depan pendidikan. TIdak terasa pukul setengah dua, saya pun memutuskan untuk tidur. Ngantuk gak ngantuk harus tidur :)

Karena seminar baru dilaksanakan sore hari, maka pagi dan siang hari jadwal kami masih longgar. Saya pun kembali ke laptop, dan mengerjakan beberapa pekerjaan dan janji yang harus diselesaikan. Suasananya menyenangkan, udara sejuk, tanaman yang cukup rimbun, segelas kopi, sarapan pecel kediri, dan ada akses internet. Apalagi? Dari Kediri, saya pun tetap bisa bekerja dan berkomunikasi dengan rekan-rekan di Jakarta dan Surabaya.

Disiplin Positif K 1

Siang hari, saya menjemput Bu Ratih dan Bu Dewi di hotel. Kami ngobrol sebentar untuk persiapan acara sore nanti. Sampai lokasi, Bu Ratih dan Bu Dewi disambut Mas Narno yang menjelaskan tentang Sekolah Alam Ramadhani. Para guru pun mulai berdatangan. Ada yang datang sendiri atau berdua, ada pula yang datang berombongan lengkap dengan seragamnya. Ada yang di Kediri, ada juga yang dari daerah lain seperti Jombang, Nganjuk, dan Tulungagung. Karena jumlah pendaftar melebihi kapasitas aula, maka seminar rencananya diadakah di tempat terbuka. Tapi sebagaimana acara gratis, jumlah pendaftar dan jumlah yang hadir selalu selisih. Dan ini terjadi di semua daerah yang kami datangi.

Safari Seminar Disiplin Positif pada hari kedua pun dimulai sekitar pukul 15.30 di pendopo. Kami bersama sebagian besar peserta duduk lesehan, sementara ada sebagian peserta yang duduk di kursi. Setelah pengantar dari tuan rumah, saya pun memandu perkenalan dan aktivitas pembentukan kelompok. Setelah itu, peserta diajak masuk ke aula untuk menyaksikan cuplikan film. Berbeda dengan bayangan semula, ternyata semua peserta bisa duduk nyaman di aula. Kami pun mengubah rencana dengan melanjutkan proses belajar di Aula.

Disiplin Positif K 2 Disiplin Positif K 3

Karena jumlah peserta lebih dari 100 orang, saya pun memilah peserta menjadi 3 kelompok besar dan berbagi tugas dengan Bu Ratih dan Bu Dewi untuk memandunya. Adanya improvisasi membuat kami cukup keteteran berkoordinasi, saya pun melewati satu dua tahapan belajar. Beruntung, Bu Ratih dengan sigap mengembalikan proses seperti rencana semula. Proses belajar cukup efektif dan peserta bisa menemukan poin-poin pembelajaran penting sampai ketika saya membahas mengenai bahaya dari reward dan punishment. Topik yang sensitif di semua daerah.

Menjelang magrib, seminar pun selesai dengan banyak pertanyaan yang belum sempat diajukan. Rasa penasaran yang bagus karena mendorong beberapa peserta untuk menanyakan tindak lanjut. Saya pun melontarkan gagasan membentuk Komunitas Guru Belajar Kediri, sebagai wadah berbagi praktik cerdas pengajaran dan pendidikan di kalangan pendidik.

Setelah itu, rombongan Safari Disiplin Positif berpisah jalan. Bu Ratih dan Bu Dewi kembali ke Surabaya dengan mengendarai mobil jemputan dari Sekolah Cikal Surabaya. Saya sendiri akan melanjutkan perjalanan ke Malang. Tapi sebelumnya, saya bersama tuan rumah terlebih dahulu makan malam. Buat bekal perjalanan yang lebih lama menuju Malang.

Saya sampai di Malang tengah malam. Saya menginap di hotel yang baru saya pesan di tengah perjalanan. Letak hotel di tepi jalan utama Malang Surabaya, sehingga tidak heran ada pokestop di dekat hotelnya. Jadinya…..

Pagi harinya, saya meluncur ke Psikologi Fisip Universitas Brawijaya. Jalan dari hotel menuju kampus relatif mudah, apalagi ada bantuan peta. Tapi peta tak cukup berguna begitu memasuki kampus. Kami tetap harus bertanya sana sini untuk menemukan gedungnya. Sampai lokasi parkir, saya menuju gedung dan bertanya pada seorang petugas di sana. Selesai bertanya, eh ketemu panitia yang langsung mengantar ke ruangan di lantai 6.

Disiplin Positif M 1 Disiplin Positif M 2

Pada Safari Seminar Disiplin Positif hari ketiga ini, saya didampingi Bu Tari, Direktur Akademik Cikal, yang langsung terbang dari Jakarta menuju Malang. Nasibnya serupa, lancar menuju kampus, berputar-putar dulu di kampus sebelum menemukan gedung. Setelah bertemu, kami pun melakukan diskusi singkat di tengah waktu yang mepet untuk  penyesuaian proses belajar agar bisa dilakukan di ruangan yang disediakan. Karena berbeda dengan dua hari sebelumnya, ruangan kali ini berbentuk teater yang megah.

Safari Seminar Disiplin Positif hari ketiga yang dimulai pukul 10.30 dihadiri lebih dari 100 guru yang berasal dari Malang Raya. Meski sama-sama Malang, tapi pada guru menempuh puluhan kilometer dari berbagai pelosok Malang seperti Kepanjen hingga Dampit. Bentuk ruangan menjadi tantangan tersendiri. Meski begitu, keaktifan peserta cukup membantu kami dalam memandu jalannya proses belajar. Lumayan buat panitia yang harus naik turun mengantarkan mikropon ke peserta dari pojok ke pojok yang lain.

Karena acaranya pagi sampai siang, maka siang hingga sore cukup longgar. Kami bersama panitia pun makan siang di bakso bakar. Nyussss…..selesai makan siang, rombongan berpisah. Panitia kembali ke kampus, Bu Tari menuju Surabaya, sementara saya melanjutkan perjalanan ke Jember. Setelah diskusi dengan Pak Sopir, saya memutuskan melalui jalur selatan menuju Jember. Saya sempat mampir sebentar di alun-alun Malang. Lumayan banyak Pokemon langka *eh

Jalur selatan Malang – Jember lebih pendek 30 km dibandingkan jalur utara, tapi medannya lebih menantang. Berliku dan naik turun sebagaimana kawasan selatan pulau Jawa. Jalannya cukup lapang untuk dua mobil berpapasan, tapi karena banyak truk yang melintas maka jalan tetap terasa sempit. Ketika posisi mobil di belakang truk, maka kita pun dituntut untuk lebih menikmati pemandangan sekitar :D

Disiplin Positif M 3

Tak terasa pemandangan senja pegunungan cepat berganti menjadi gelap. Dan justru ketika membelah hutan lebat, kami melaluinya di kegelapan malam. Hutan masih alami dengan suara-suara malam hutan, berbeda dengan hutan jati yang kami lalui dalam perjalanan Bojonegoro – Kediri. Bedanya lagi, kami kali ini beriringan dengan beberapa truk dan mobil di depan dan sebuah mobil di belakang. Jadi lumayan lah mengurangi rasa khawatir. Hutan telah dilewati, kami masuk ke perkampungan dan semakin lama semakin ramai. Kami melintas Lumajang menuju Jember.

Masuk ke batas kabupaten Jember, bukan berarti sudah sampai karena masuk ke arah kota masih butuh satu jam. Kami tiba sekitar pukul sembilan malam di Doho homestay yang telah dipesankan oleh Pak Riyadi, penggerak Komunitas Guru Belajar Jember. Tempatnya tidak terlalu luas, tapi bersih dan banyak tanaman yang tertata rapi. Saya meletakkan barang kemudian keluar lagi menuju Ropang Club buat ngobrol bersama Pak Riyadi, Umar, dari Rangkul Keluarga Kita dan Cak Oyong, aktivis Akademi Berbagi Jember. Tak terasa hampir tengah malam, obrolan bubar dan saya kembali ke penginapan.

Disiplin Positif J 1

Safari Seminar Disiplin Positif Keempat dilaksanakan di aula SMAN 1 Jember, yang dekat sekali dengan penginapan. Saya meluncur ke lokasi dan masuk ruangan yang dipenuhi oleh hasil karya para pelajar. Senang sekali bisa melihat karya, lebih menyenangkan dibandingkan melihat piala. Seminar diawali dengan paduan suara pelajar SMAN 1 Jember dan pembacaan puisi oleh Bu Umi. Selepasnya, saya memandu lebih dari 100 guru untuk belajar disiplin positif. Diawal, kami melakukan aktivitas membentuk kelompok sekaligus merefleksikan praktik disiplin positif, kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok mengenai pengertian disiplin. Ceramah singkat dilanjutkan dengan tanya jawab. Dan terakhir, tentu saja foto bersama.

Disiplin Positif J 4 Disiplin Positif J 5

Selesai seminar, perut saya terasa keroncongan. Beruntung di depan SMAN 1 Jember ada penjual gado-gado yang katanya terkenal enak. Kami pun memesan gado-gado. Tapi saya heran kenapa penjual gado-gado juga berjualan soto. Saya tanyakan, dan Pak Endut menjawab bahwa mereka juga berjualan gado-gado soto. Saya pun langsung mengubah pesanan, pesan gado-gado soto satu porsi. Rasanya seru, manis berpadu dengan gurih. Perut kenyang, kami pun melanjutkan petualangan,

Kami menuju Kampoeng Baca, salah satu pusat gerakan literasi di Jember. Lokasinya benar di dalam kampung yang hanya bisa dilalui motor dilanjutkan dengan jalan kaki. Dari kampung ke lokasi, kami melewati jembatan kecil. Saya jadi teringat dengan kastil yang dikeliling parit. Dan memang, jembatan itu menjadi penanda beda dua dunia. Kami masuk disambut Pak Iman Suligi, seorang pensiunan guru yang merupakan inisiator Kampoeng Baca. Saya sudah kagum dengan berbagai aktivitas beliau yang diunggah di Facebook dan semakin kagum ketika berjumpa langsung. Dua kegiatan menarik Kampoeng Baca adalah menjajakan buku yang bisa dibaca di alun-alun setiap minggu pagi dan wisata literasi buat TK dan SD.

Disiplin Positif J 6

Dari Kampoeng Baca, kami meluncur ke rumah Pak Riyadi yang sekaligus sekretariat Berbagi Happy dan Alam Raya. Berbagi Happy adalah gerakan yang ingin membawa perubahan nyata bagi anak-anak Jember yang hidup dalam lingkaran kemiskinan. Sementara Alam Raya menyediakan pendidikan anak dan keluarga untuk mencintai alam. Rumahnya sejuk dan ditata secara terbuka, berbeda dengan rumah kebanyakan yang tertutup pagar. Duduk sejenak di dalam rumah, kami pun pindah ke pondok mungil di pinggir sawah untuk ngobrol tentang buku saya yang kedua, Bakat Bukan Takdir. Obrolan eksklusif yang langka. Kapan lagi ngobrol buku di pinggir sawah?

Disiplin Positif J 7

Selesai ngobrol buku, kami menikmati anak-anak yang bernyanyi dan bermain di tepi sawah. Tak terasa waktu cepat berlalu. Kami pun harus segera pamitan untuk kembali ke Sidoarjo. Tidak ada yang istimewa dalam perjalanan pulang, rutenya pun rute biasa yang memang jalur utama. Tengah malam, saya sampai kembali di rumah. Berangkat senin pagi, sampai rumah kamis tengah malam. Lumayan capek tapi seru, seperti habis konser keliling Jawa Timur *eh

Safari Disiplin Positif Kelima diadakan pada hari Jumat bertempat di Sekolah Cikal Surabaya. Selepas jumatan, saya meluncur ke Surabaya dan datang mepet banget dengan waktu mulainya. Saya bersama Bu Tari, Bu Dewi, Bu Novy dan Pak Bagus bergantian memandu proses belajar. Selesai acara, para guru menikmati makanan kecil. Saya sendiri memilih makan mie ayam traktiran ulang tahunnya Bu Ratih, maklum lapar belum makan siang. Duh kok lapar melulu hehe

Disiplin Positif Sb 1 Disiplin Positif Sb 2 Disiplin Positif Sb 3

Safari Disiplin Positif Keenam dilaksanakan di Sidoarjo, hasil kerja sama SD Muhammadiyah 2 dan SD Pembangunan Jaya 2 Sidoarjo. Awalnya, saya membayangkan guru Sidoarjo akan bergabung ke Surabaya, tapi ya kok di “rumah sendiri” tidak diadakan. Jadilah seminar disiplin positif Jawa Timur yang terakhir di adakan di aula SD Pembangunan Jaya 2 yang terletak di Gedangan, Sidoarjo. Ada sekitar 60 guru yang hadir dan bersenang-senang belajar cara menumbuhkan disiplin tanpa kekerasan.

Disiplin Positif Sd 1 Disiplin Positif Sd 2 Disiplin Positif Sd 3

Pelajaran

Berakhirlah satu putaran Safari Disiplin Positif Jawa Timur. Enam hari, enam daerah, satu semangat guru belajar. Apa pelajaran yang saya dapatkan selama enam hari perjalanan ini?

Pertama, guru malas belajar itu mitos. Saya menemui banyak guru yang jauh-jauh hadir sepenuhnya untuk belajar. Tidak ada uang transport, uang saku, bahkan tidak ada sertifikat. Mereka hadir memang dengan satu tujuan, belajar. Pada dasarnya, guru mau dan gemar belajar, selama ada kesempatan belajar yang sesuai kebutuhan belajarnya. Karena guru belajar pada dasarnya mendapat insentif internal, dari dalam dirinya. Karena guru berani belajar maka guru siap mengajar. Karena guru berani belajar maka guru bisa bahagia dengan profesinya.

Kedua, banyak guru (orangtua dan pengambil kebijakan juga) yang menjadikan patuh sebagai tujuan pendidikan. Mereka senang ketika berhadapan dengan anak yang patuh, yang bersikap manis kepada orang dewasa. Patuh sebagai tujuan membuat para guru cenderung ingin mengontrol anak-anak. Guru menjadi subyek yang mengendalikan anak sebagai obyek. Padahal relasi kontrol ini lah yang melahirkan persoalan kedisiplinan. Anak-anak, sebagaimana orang dewasa, tidak suka dikendalikan dan benci kehilangan kendali terhadap diri sendiri.

Pada sisi lain, patuh sebagai tujuan pendidikan juga membahayakan anak-anak. Tujuan tersebut memandu anak-anak untuk belajar bersikap pasrah dan menerima apa saja. Apa jadinya anak-anak yang telah terlatih patuh mendapat kesempatan untuk bebas dan berjumpa dengan orang yang membawa pengaruh buruk? Ya mereka akan kehilangan kontrol diri seperti di kasus kelas tanpa guru. Ya mereka akan patuh menerima pengaruh buruk. Dengan patuh sebagai tujuan pendidikan, semakin berhasil sebuah pendidikan, semakin membahayakan anak-anak.

Bila bukan patuh, lalu apa tujuan sebenarnya dari pendidikan? Kemandirian. Mandiri berarti anak mampu mengelola informasi, berpikir dan mengambil keputusan sendiri, serta bertindak dengan daya upayanya. Anak-anak yang mandiri akan mempertimbangkan tindakan yang efektif ketika menghadapi berbagai situasi. Anak-anak yang mandiri anak memikirkan baik-buruk dan benar-salah dari tawaran yang didapatkannya. Anak menjadi lebih tahan godaan dari siapapun, termasuk dari kita.

Ketiga, kebanyakan guru langsung menerima gagasan mendidik tanpa kekerasan. Disiplin positif dalam artian disiplin berdasarkan kesadaran bisa diterima. Tapi beberapa guru jadi sensitif ketika mendengar disiplin positif tidak boleh menggunakan ganjaran dan hukuman. Seolah tanpa ganjaran dan hukuman, guru kehilangan alat untuk mengendalikan kelasnya. Penting membekali para guru dengan alat-alat pendidikan yang beragam agar tidak khawatir kehilangan ganjaran dan hukuman. Ada banyak alat-alat pendidikan, karena itulah pendidikan menjadi disiplin ilmu tersendiri.

Keempat, satu istilah pendidikan yang sama, bisa jadi beda maknanya, terutama ketika tujuan pendidikan yang diyakini berbeda. Dalam sebuah kesempatan, ada seorang guru yang mengakui telah mengajak bicara siswa sebagaimana yang saya sarankan. Tapi setelah saya gali, ternyata meski istilahnya sama “mengajak bicara siswa” tapi maknanya berbeda. Dalam pengertian guru tersebut, mengajak bicara siswa berarti mengajukan pertanyaan tertutup agar anak mengakui kesalahan dan guru lebih banyak bicara tentang perilaku yang benar. Siswa menjadi pihak yang lebih banyak diam mendengarkan.

Sementara dalam disiplin positif, karena tujuannya anak menjadi pembelajar mandiri maka tugas guru lebih banyak bertanya dan mendengarkan. Siswa menjadi pihak yang lebih banyak bicara mengungkapkan perasaan dan pikirannya. Anak bukan kertas kosong, tapi pembelajar sejati sejak lahir. Karena itu, penting bagi anak mengungkapkan perasaan dan kebutuhannya, memikirkan tindakan dan konsekuensinya, dan menemukan sendiri solusi yang efektif buat kebutuhannya. Jadi, apa yang dipikirkan seseorang tentang suatu istilah lebih penting daripada istilah itu sendiri.

Kelima, guru belajar adalah guru yang seringkali merasa sendirian. Ketika ada kesempatan seminar, mereka mendapat kesempatan berjumpa dengan guru lain yang mempunyai semangat belajar yang sama. Antusiasme perjumpaan tersebut yang pada akhirnya mendorong para guru mengajukan diri untuk membentuk komunitas guru belajar di daerah mereka. Bahkan di Jember yang telah ada Komunitas Guru Belajar sebelumnya, para guru langsung beraksi nyata. Dua hari setelah seminar, Bu Umi sudah bercerita bagaimana para guru berkunjung ke kelasnya untuk belajar. Ia pun tidak segan berkunjung ke sekolah lain untuk belajar.

Jadi meski banyak guru yang mengatakan safari seminar disiplin positif waktunya kurang, tapi banyak manfaat yang bisa didapatkan para guru dari pertemuan yang singkat tersebut. Sebuah kegembiraan buat kami, Kampus Guru Cikal, bisa menjadi bagian dari kegembiraan belajar para guru.

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?