Sharing The Dancing Leader di @Nutrifood
Sebuah keistimewaan mendapat kesempatan untuk berbagi tentang The Dancing Leader di perusahaan keren seperti Nutrifood. Simak cerita serunya. Read more
Oct 20
Sebuah keistimewaan mendapat kesempatan untuk berbagi tentang The Dancing Leader di perusahaan keren seperti Nutrifood. Simak cerita serunya. Read more
Tradisi mempersembahkan #KadoMerdeka sudah dimulai 2010. Tahun ini, #KadoMerdeka yang kupersembahkan adalah buku-e The Dancing Leader. Semoga menginspirasi orang muda Indonesia. Read more
Nov 15
: Serial Insert The Dancing Leader
Saya pernah menyaksikan bagaimana seorang karyawan yang diangkat menjadi pimpinan sebuah organisasi. Dia tiba-tiba sering menyuruh bawahannya. Tanpa diskusi langsung mengambil sebuah keputusan. Benar saja, semua orang keberatan akan keputusan itu tapi hanya berani mengeluh di belakangnya. Mungkin dia masih perlu belajar arti menjadi pemimpin. Read more
Nov 15
: Serial Insert The Dancing Leader
Apa artinya bekerja? Teman saya menjawab, bekerja itu adalah melakukan apa yang harus kita lakukan alias menjalankan perintah. Heh masak sih? Kalau mau jujur itulah jawabannya. Semua waktu kita di kantor habis untuk menjalankan apa yang harus kita lakukan. Kita dilarang kan untuk bersenang-senang di kantor. Jangankan bersenang-senang, facebook saja diblokir. Bagaimana menurut anda?
Banyak dari kita memaknai kerja sebagai menjalankan keharusan untuk mencapai target yang sudah ditetapkan. Apabila target tercapai, maka kita akan mendapat reward sebagai apresiasi atas upaya kita. Pola ini merupakan peninggalan era revolusi industri, sebagaimana tercermin dari pernyataan Henry Ford: Ketika kita sedang bekerja kita harus bekerja. Ketika sedang bermain kita harus bermain. Tak ada gunanya mencampur keduanya”.
Sayangnya, pola itu terus berulang dan berubah menjadi mekanis. Kita tenggelam dalam pola itu, seolah-olah pola itu yang harus dilakukan. Apa dampaknya? Kita kehilangan kreativitas dalam bekerja. Kita bekerja seolah sebuah robot. Kehilangan keluwesan dalam menghadapi perubahan. Penurunan daya adaptasi terhadap hal atau orang baru. Dampak ini menyulitkan kita menghadapi kompetisi yang semakin ketat dan perubahan dinamis yang terjadi.
Dalam jaman globalisasi 3.0, perusahaan dotcom semisal Google sadar pentingnya keseimbangan bekerja dengan bermain. Bekerja yang mengasah otak kiri, bermain yang mengasah otak kanan. Berbagai fasilitas bermain dan bersenang-senang disediakan di kantor Google. Perusahaan yang lain menyediakan 30% waktu karyawannya untuk mengerjakan proyek pribadi, proyek yang ingin dilakukannya. Semuanya itu tujuannya menciptakan kegembiraan dalam bekerja. Bermain itu bekerja, berkonstribusi terhadap pekerjaan dengan cara yang berbeda.
Menjadi The Dancing Leader menggunakan seluruh kapasitas dirinya dalam memainkan tarian perubahan. Ia bekerja sekaligus bermain. Ia serius sekaligus bergembira. Dengan bermain, ia mendapatkan ide segar yang inovatif. Dengan bekerja, ia mengeksekusi ide-ide tersebut.
Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda, “Kapan anda bermain penuh kegembiraan yang berkonstribusi positif pada pekerjaan?”
Ikuti terus dengan follow @bukik di twitter
: Serial Insert The Dancing Leader
Dulu ketika kecil, saya mengangankan menjadi orang pintar. Kata orang tua, “Biar tidak ditipu sama orang”. Rajin belajar. Rajin membaca buku. Rajin mendengarkan petuah guru. Apapun selama itu membuat saya jadi lebih pintar.
Setelah tua begini baru tobat. Ternyata semakin saya tahu, semakin saya menjadi bodoh. Semakin saya tahu, semakin saya tahu mana yang benar mana yang salah. Semakin saya sadar banyak yang tidak beres terjadi. Semakin saya tahu banyak hal yang bisa saya lakukan. Semakin saya berharap banyak hal terjadi. Semakin sering saya mengalami kegagalan. Semakin sering saya menemui kekecewaan.
Banyak pengetahuan itu ibarat anak desa yang tengah membawa air dalam timba. Awalnya merasa yakin, semakin banyak air yang dibawa maka semakin cepat ia menyelesaikan tugasnya. Padahal, semakin banyak air maka semakin berat beban yang dipikulnya. Semakin lambat menempuh perjalanannya. Semakin banyak air yang dibawa maka semakin sering ia harus berhenti, meletakkan timba airnya. Coba kita dengarkan kisah ini.
Apa yang anda tahu tentang Jember? Sangat mungkin jawabannya. Petani. Sarungan. Santri. Agraris. Konflik Pertanahan. Atau kalau Tukul bilang “Ndeso”. Tapi seorang Dynand Fariz, yang entah tidak tahu atau pura-pura tidak tahu, mendeklarasikan Jember sebagai pusat fashion dunia. Bagaimana bisa?
Dynand Fariz mengadakan Jember Fashion Carnival (JFC) tiap tahun, sampai tahun ini telah menginjak tahun kedelapan. Hebatnya, Dynan Fariz mengubah pengetahuan kita tentang Jember. Event itu telah menyedot perhatian dunia sebagai catwalk terpanjang di seluruh dunia. Bagaimana tidak, 450 orang di jalanan sepanjang 3,6 kilometer, ditonton oleh 300 ribua dan diliput berbagai media internasional.
Menjadi The Dancing Leader itu memandang dunia melalui mata anak seorang kecil yang lugu, memandang dunia sebagai seorang pemula. Seorang The Dancing leader menghargai pengetahuan, sebagaimana penghargaannya terhadap imajinasi. Ia yakin dengan imajinasi sebagai sebuah media untuk memperbarui keadaan, untuk melakukan perubahan.
Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda, “Apa yang anda ketahui tentang organisasi anda? Bagaimana anda ingin mengimajinasikan ulang organisasi anda?”
Ikuti terus dengan follow @bukik di twitter
: Serial Insert The Dancing Leader
Ada cara menarik yang dilakukan sebuah organisasi ketika mereka menghadapi persoalan yang timbul. Ketika ada persoalan mereka cenderung menyelesaikan dengan membuat aturan tambahan. Ketika ada kasus khusus maka dibuat aturan khusus yang mengecualikan ketentuan umum. Apakah anda terbayang akibatnya?
Kekhawatiran dalam diri kita akan ketidakpastian mendorong kita berupaya memastikan segala sesuatu, termasuk diantara membuat aturan. Adanya aturan membuat kita bisa memastikan orang melakukan tindakan tertentu dan tidak melakukan tindakan lainnya. Dengan aturan kita mengontrol situasi ketidakpastian. Itulah kekuatan aturan.
Tapi kekhawatiran akan ketidakpastian membuat kita lupa akan sisi lain dari aturan. Aturan yang semakin banyak akan membuat potensi orang terkekang. Semakin banyak aturan akan semakin mematikan inisiatif. Semakin banyak aturan semakin besar kemungkinan lahir kontradiksi, celah, dan kerumitan.
Sayangnya, kecenderungan umum yang terjadi, semakin besar organisasi maka semakin rumit pula aturannya. Semakin besar organisasi semakin lupa sejarah bahwa mereka lahir karena adanya tindakan untuk memngoptimalkan peluang, bukan karena aturan. Dee Hock, pendiri Visa menyimpulkan, 50% energi kita habiskan untuk mengurusi birokrasi organisasi kita sendiri. Kecenderungan membuat organisasi seolah seperti orang yang terjerat dalam belitan tali yang membuatnya tak bisa banyak bergerak.
Menjadi The Dancing Leader itu mengasah kapasitas untuk mengelola kecemasan akan ketidakpastian. Ketika menghadapi ketidakpastian, ia tidak berubah menjadi penunggang kuda binal yang hilang akal dan akan melakukan apa saja.
Menjadi The Dancing Leader berarti berdamai dengan kecemasan akan ketidakpastian. Ia menahan diri untuk tidak mengontrol situasi melalui aturan. Ia tetap yakin dengan kapasitas positif dirinya. Ia menerima ketidakpastian sebagai sebuah gelombang yang perlu dihadapi. Menjadi The Dancing Leader akhirnya adalah menjadi peselancar yang meluncur diatas gelombang ketidakpastian.
Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda, “Kapan anda merasakan kerumitan aturan yang membuat hal simpel menjadi kompleks? Apa yang bisa dilakukan agar organisasi fokus pada misinya?”
Ikuti terus dengan follow @bukik di twitter
: Serial Insert The Dancing Leader
Perhatikan bagaimana seekor ulat berubah menjadi kepompong. Kepompong adalah fase diam yang menjadi transisi perubahan ulat menjadi bentuk baru yang indah, seekor kupu-kupu. Hanya dengan diam menjadi kepompong maka ulat dapat berubah menjadi kupu-kupu.
Dalam kenyataannya, kita yang bekerja begitu sulit untuk diam. Semua sibuk. Semua orang mengejar target. Semua orang berusaha segera menyelesaikan persoalan. Bahkan ketika mengikuti kelas-kelas training, banyak orang hadir tetapi pikirannya tetap di pekerjaan. Tak jarang di tengah training, orang menelepon atau sms untuk memberitahukan pesan kepada rekan bisnisnya. Kita adalah ulat-ulat yang bergerak rakus menghabiskan dedaunan.
Akibatnya, kelas training tidak berjalan secara efektif. Bisa jadi materi tersampaikan tetapi kehilangan konteks aplikasi materi itu. Ada berbagai kelas training tetapi tidak berdampak pada kinerja. Kita lebih suka mencapai target sehingga mendapat umpan balik langsung berupa apresiasi. Persis seperti ulat yang memakan daun untuk segera mengeyangkan perutnya.
Perubahan itu diam. Perubahan bukan semata-mata melakukan aktivitas baru atau menambah jumlah aktivitas lama. Perubahan itu berada pada fase diam untuk merefleksikan cara kerja kita. Refleksi yang memungkinkan kita mengidentifikasi praktek-praktek baik yang perlu dipertahankan, sekaligus memberi kita kesempatan untuk menciptakan praktek inovatif.
Menjadi The Dancing Leader berarti mendengarkan irama kerja dalam organisasi dan merasakan perasaan orang-orang disekitarnya. Ia sadar akan momentum untuk bergerak sebagaimana sadar momentum untuk diam. Ia sadar dengan memaksakan perjalanan hanya akan semakin melelahkan. Ia memberi kesempatan pada diri dan orang lain untuk melakukan proses belajar bersama. Sebuah circle learning, diam, refleksi, mengenali praktek terbaik dan menciptakan praktek inovatif.
Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda, “Kapan terakhir kali anda mengalami circle learning, diam, refleksi dan belajar bersama untuk melakukan perubahan inovatif?”
Ikuti terus dengan follow @bukik di twitter
: Serial Insert The Dancing Leader
Kebiasaan itu candu. Kebiasaan itu menyenangkan, sehingga begitu menyenangkannya kita mempertahankannya, mirip seperti orang kecanduan. Ketika awal bekerja, kita masuk dengan penuh ketakjuban dan antusiasme mempelajari segala sesuatu. Kita mendapatkan pelajaran-pelajaran penting pada tahun-tahun pertama. Entah tahun pertama sebagai karyawan, sebagai manajer, sebagai direktur, maupun sebagai pebisnis. Read more
Oct 14
Dengarkan The Dancing Leader 8
Sebuah survey yang dilakukan sebuah konsultan internasional pada jutaan karyawan di seluruh dunia menunjukkan hanya 20% dari mereka yang menggunakan kekuatan dirinya. Sungguh ironis, sebagian besar justru bekerja tidak menggunakan kekuatan diri mereka. Kekuatan unik justru disimpan ketika bekerja.
Apa dampaknya ketika kita bekerja tanpa menggunakan kekuatan unik? Kita akan merasa terpaksa dalam bekerja, bekerja tidak sepenuh hati. Ketika bekerja kita tidak menjadi diri sendiri, menjadi orang yang berbeda. Kita menghadapi orang yang loyo, tidak antusias, dan enggan mengikuti perubahan. Kita bekerja tanpa hasrat, setengah hidup setengah mati.
Karyawan tidak menggunakan kekuatan uniknya karena para pemimpinnya juga begitu. Banyak pemimpin yang tidak otentik, memimpin dengan menggunakan topeng. Pemimpin yang tidak menggunakan kekuatan unik, anugerah dari sang pencipta. Dalam jangka pendek, mungkin akan baik-baik saja. Tetapi persoalan akan muncul ketika datang gelombang perubahan. Pemimpin yang awalnya baik-baik saja mulai mudah ragu, gampang berganti haluan, gentar dan tidak berani melakukan inovasi.
Menjadi The Dancing Leader berarti kita menjalankan kepemimpinan dengan sepenuh hati. Kita gunakan kekuatan unik dalam setiap aktivitas, sehingga seolah-olah melebur dalam aktivitas tersebut. Kita masuk dalam sebuah aliran energi yang begitu indah. Kaki, tangan dan tubuh terasa begitu ringan bergerak. Kita akan mengerahkan seluruh kapasitas untuk mengatasi tantangan, ibarat alunan ombak yang menghantam karang tantangan.
Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda, “Kapan terakhir kali anda menggunakan kekuatan unik anda dalam bekerja?
Dengarkan The Dancing Leader 7
Apa yang terbayang di benak anda tentang kura-kura? Sebagian orang akan terbayang dengan kelambatannya. Apa yang terbayang di benak anda tentang kuda? Betul, sebagian dari anda mungkin menjawab cepat.
Kalau seandainya ada lomba cepat antara kura-kura dan kuda, siapa yang sekiranya akan mencapai garis finish sebagai pemenang? Apa jawaban anda? Mana yang benar? Saya tanyakan ini di peserta training, sebagian menjawab kuda yang jadi pemenangnya, sebagian lagi kura-kura yang jadi pemenangnya dengan segala trik.
Persepsi kita sering menjebak sehingga kita yakin bahwa kita berada pada dunia yang tunggal. Seolah-olah seluruh mahluk berada pada wilayah sebagaimana yang kita tinggali, daratan. Sehingga wajar bila kita langsung menjawab, kuda yang menjadi pemenang adu kecepatan. Padahal, adu kecepatan diadakan di laut. Kalau begini, siapa yang akan jadi pemenang?
Sebagian besar orang ibarat kura-kura yang ingin menjadi kuda, berlatih lari agar bisa secepat kuda, melakukan operasi agar punya kaki sepanjang kuda. Seolah-olah berlari dari bayang-bayang diri sendiri. Sebagian lagi merasa minder dan merasa tidak layak tampil di pentas kehidupan. Jadi tenggelam dalam keseharian atau mengikuti kebiasaan dan rutinitas.
Setiap mahluk dianugerahi kekuatan unik oleh sang pencipta. Sayangnya, anugerah itu seringkali tertutup karena kita lebih sering memandang sisi kelemahan diri dan orang lain. Kita seringkali berusaha meniru orang lain atau terbawa oleh situasi sehingga mengabaikan kekuatan diri.
The Dancing Leader menerima kekuatan unik dirinya sebagaimana mereka menerima kelemahan dirinya. The Dancing Leader fokus pada kekuatan uniknya dan terus berusaha mengembangannya pada peran-peran yang sesuai. The Dancing Leader memijarkan kekuatan unik ke sekitarnya
Tanyakan pada diri sendiri dan rekan anda, “Apa kekuatan unik anda? Apa yang telah anda lakukan untuk mengasah dan memijarkan kekuatan unik itu?”
Dengarkan The Dancing Leader 5
Apakah anda masih ingat Mahatma Gandhi? Betul, seorang pemimpin kemerdekaan India, pemimpin yang rendah hati, sederhana, meyakini perjuangan tanpa kekerasan. Read more
Oct 8
Oct 6
Perhatikan awalnya gerakan simpel, yang kemudian berubah menjadi sebuah tarian bersama! Apa inspirasi dari video ini bagi anda sebagai seorang The Dancing Leader?
Baca transkrip lengkapnya: Read more
Theme: Linen by The Theme Foundry