Posts from the ‘Kliping’ Category
Mar 15
Unggah Prestasi di Dunia Maya
Berprestasi di dunia fana. Hmm..rasanya sudah biasa. Bagaimana jika berprestasi di dunia maya? itu baru unik. Di zaman globalisasi 3.0 seperti sekarang, masyarakat baik perorangan maupun kelompok memang memiliki peranan yang yang lebih kental dalam mempengaruhi apa yang akan disuka atau tidak, mana yang akan trend atau dilupakan, atau sekedar menyumbang pemikiran pada perubahan. Read more
Sep 6
Seperti Bekerja Sendiri…
KOMPAS – PSIKOLOGI – Minggu, 5 September 2010 | 02:58 WIB
KRISTI POERWANDARI – PSIKOLOG
Dua teman dekat saya yang berbeda tempat kerja mengeluh, ”Seperti benar-benar sendiri, merasa tidak ada yang mengerti di tempat kerja.”Mereka merasa ”tidak lagi punya rumah”, ”kosong dan tidak bersambung dengan komunitas di lingkungan kerja”. Yang satu merasa tidak dihargai keahliannya, satunya merasa dikhianati oleh lingkaran terdekatnya sendiri. Read more
Sep 2
Mengukur Kesungguhan Hati Karyawan
Saya masih belum sempat posting soal dolan ke Jakarta dan meraih SDG Award. Tiba-tiba, Afil, dulu mahasiswi cerdas, sms dan bilang akan wawancara dengan saya dan Samian. Singkat cerita, ini adalah hasil wawancara se(a)ru itu. Silahkan menikmati! Read more
Aug 15
Ide ”tolol” perubahan
Budi Setiawan [kabarbisnis.com/Purna Budi Nugraha]
TAK PERNAH kehabisan ide kreatif. Begitulah mungkin sosok Budi Setiawan bisa digambarkan. Ketua Program Studi Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi (MPPO) Fakultas Psikologi Universitas Airlangga ini akan memberi hadiah untuk memperingati kemerdekaan RI yang ke-65 pada 17 Agustus 2010.
Bukik, sapaan karib Budi Setiawan, telah menulis buku berjudul `Upaya Tolol Mengajak Perubahan Positif di Indonesia`. Buku tersebut bisa diunduh secara gratis di www.bukik.com, situs pribadi Bukik. Selain itu, buku digital tersebut juga akan disebarkan ke berbagai situs jejaring sosial dan mailing list.
”Buku tersebut bisa diundah mulai 17 Agustus 2010. Saya ingin mengajak semua orang berpikir sedikit `tolol` untuk mengawali perubahan positif,” ujar pria kelahiran 29 Juli 1975 tersebut. Read more

Budi Setiawan [kabarbisnis.com/Purna Budi Nugraha]
K’naan: Wavin Flag
Wavin Flag
K’naan
When i get older, they’ll call me freedom
Just like a Waving Flag. Read more
Jul 12
10 Principles of Change Management
Tools and techniques to help companies transform quickly.
By John Jones, DeAnne Aguirre, and Matthew Calderone
Sumber: http://www.strategy-business.com/article/rr00006?pg=all
Way back when (pick your date), senior executives in large companies had a simple goal for themselves and their organizations: stability. Shareholders wanted little more than predictable earnings growth. Because so many markets were either closed or undeveloped, leaders could deliver on those expectations through annual exercises that offered only modest modifications to the strategic plan. Prices stayed in check; people stayed in their jobs; life was good. Read more
Naked Consulting: What Clients Really Want
Clients are looking for transparency, humility, vulnerability, and honesty—the opposite of what is often given to them, writes Pat Lencioni
By Pat Lencioni Read more
May 15
Sastra, Imajinasi dan Pendidikan Kita
TEROKA
Sastra, Imajinasi dan Pendidikan Kita
KOMPAS, Sabtu, 15 Mei 2010 | 05:14 WIB – Oleh AGUS WIBOWO
Siapa sangka negara-negara adidaya dengan teknologi maju ternyata memiliki segudang sastrawan besar? Jerman, misalnya, memiliki sastrawan Goethe, Herman Hesse, dan Heinrich Boll. Inggris memiliki Shakespeare, Robert Frost, TS Eliot, dan Russel. Rusia memiliki Pushkin, Tolstoy, Destoyevsky, Chekov, Pasternak, Solzhenitsyn, dan Brodsky. China memiliki Lu Shun, Li Tai P, dan Wang Wei, sementara India memiliki Rabindranath Tagore, RK Narayan, dan sebagainya.
Pertanyaannya, adakah korelasi kuantitas sastrawan di sebuah negara dengan kemajuan teknologi? Tentu saja ada. Bagi Putu Wijaya (2007), besar-kecilnya apresiasi sastra memengaruhi kemajuan teknologi sebuah bangsa. Apresiasi terhadap sastra, lanjut Putu Wijaya, akan membawa masyarakat bertamasya di dunia imajinasi—yang luas tak terkira. Read more
Sejarah Appreciative Inquiry
by Jane Magruder Watkins and Bernard Mohr, from their book Appreciative Inquiry: Change at the Speed of Imagination courtesy of Jossey-Bass Publishing Read more
Mar 6
Kick Andy Heroes 2010: Dyand Fariz
SL MPPO Jilid 2 menampilkan Dyand Fariz beserta 8 performer Jember Fashion Carnaval
Bagi rekan-rekan di Surabaya dan sekitarnya, saksikan cerita inspiratif Dyand Fariz pada
09 April 2010 — 17.00 – 23.50 WIB — Gramedia Expo Surabaya
Kunjungi website MPPO atau website Berbahaya.org
Kick Andy Singgih S Kartono MAGNO
Singgih Susilo Kartono, Pencipta Radio Magno akan menjadi Bintang Tamu dalam SL MPPO Jilid 2
09 April 2010 — 17.00 – 23.50 WIB — Gramedia Expo Surabaya
Kunjungi website MPPO atau website Berbahaya.org
Indonesia Kehilanganmu
…..komunitas imagine indONEsia…..turut berduka….indonesia kehilangan dua tokoh mbah surip dan WS Rendra, yang berani menjadi diri sendiri, menjadi indonesia yang beda, yang unik…….semoga damai di sisi-Nya……
The Problem with Problems
BusinessWeek article:
“Deficit thinking” sees organizations focusing on what’s wrong and problems that need to be solved. In doing so, they often overlook real opportunities
It is practically a mantra of modern management that the first task in dealing with a situation is to define the problem accurately. Only after managers have done that can they hope to get all team members “on the same page.” It’s widely felt that without agreement on the problem we will be unable to succeed.
But there are problems with the way managers and groups approach problems. The first is that we rush to identify the problem so that we can get on with the real work of solving it, which can lead down a costly or disruptive path. There is seldom a single correct formulation for the interesting issues that face managers. Yet the particular path chosen affects the solution produced.
For instance, for a time the downloading of music from the Internet was viewed as a problem of young people stealing from the music industry. Advertisements and lawsuits aimed at curbing the practice were not particularly effective. With the problem reframed as a channel management problem,iTunes provided a more satisfying result.
click here
Mar 25
2009 Global Forum: Manage by Designing
The Basics
What: “Manage by Designing in an Era of Massive Innovation”
Why: To unite design thinking with sustainable business practice and education
How: A three-day interactive summit with large-group interactive change methods, break-out sessions, and expert-led discussions
When: June 2-5, 2009
Where: Case Western Reserve University, Cleveland, Ohio, USA
Read more
Mar 12
Budaya Organisasi = Inti Positif TRANS TV
ABSTRAKS
Ginta Naufal, 110310631, Budaya Organisasi Sebagai Inti Positif Organisasi
Trans TV, Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya, 2008.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami Budaya Organisasi Sebagai
Inti Positif Organisasi Trans TV. Hal ini dilatar belakangi oleh fenomena
permasalahan internal dan eksternal yang dihadapi organisasi akibat dari
perkembangan arus informasi serta kesuksesan Trans TV menjadi Trend Setter
pertelevisian Indonesia. Untuk mendapatkan pemahaman tersebut, penelitian ini
menggunakan pendekatan appreciative inquiry yang dapat menggambarkan
budaya organisasi tersebut melalui cerita dan kisah inspiratif karyawan sesuai
topik afirmatif yang di tentukan.

Penelitian ini bertipe kualitatif yang mendasarkan prosesnya sesuai
dengan paradigma penelitian social constructionist, paradigma ini digunakan
untuk mengkonstruksikan realitas yang ada di Trans TV. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah narrative methods yaitu dengan jalan mengumpulkan
atau mendengarkan cerita yang ada terkait dengan pengalaman karyawan
bersama lingkungan kerjanya di Trans TV. Untuk mengumpulkan cerita tersebut,
peneliti menggunakan wawancara appresiatif dengan teknik analisis yang
digunakan adalah narrative analysis yang bertujuan untuk mengintepretasi
cerita-cerita yang diberikan keryawan untuk kemudian menjadi inti positif
organisasinya.
Read more
Feb 23
POSITIVE ORGANIZATIONAL DEVELOPMENT
Program MPOD ini adalah sumber inspirasi bagi Magister Perubahan dan Pengembangan Organisasi (MPPO).
Silahkan menikmati!
MASTER OF SCIENCE IN POSITIVE ORGANIZATIONAL DEVELOPMENT
The demand for high quality, relevant education in the ever-changing field of organizational behavior prompted Weatherhead to expand this domain alongside the emerging fields of positive psychology and positive organizational scholarship. While addressing the changing world of opportunities for developing human systems that flourish, the MPOD program remains grounded in the basic belief that the self can be a powerful instrument for change; that personal and professional development go hand in hand.
Feb 5
David Cooperrider: the Evolution of AI

Professor of Social Entrepreneurship,
Weatherhead School of Management,
Case Western Reserve University
Chairman and Founder,
Center for Business as an Agent of World Benefit
Cleveland, Ohio
David Cooperrider is best known for his theory and practice of appreciative inquiry (AI) as it relates to corporate strategy, change leadership, and positive organizational scholarship. The idea behind the AI method is to help organizations globally through strengths-based approaches to multi-stakeholder innovation and sustainable design. He is also a founder and chairman of the Center for Business as an Agent of World Benefit, which proposes that many global issues today are a chance for organizations to embrace social entrepreneurship and eco-innovation, and find new sources of value.
Cooperrider has lectured or taught at many prestigious academic institutions, including Harvard, Stanford, Katholieke University in Belgium, and Cambridge. He has authored 14 books and more than 50 articles, and also designed and facilitated a 2004 UN summit on global corporate citizenship for Kofi Annan and 500 business leaders. He also helped build the United Religions Initiative by working with ex-President Jimmy Carter, His Holiness the Dalai Lama, and many other religious leaders. Cooperrider’s distinctions include receiving ASTD’s highest award for “distinguished contribution to the field” for organizational learning in 2004.
Q| What was your first job and what lesson did you take away from it?
Read more
NOKIA: Revitalising the corporate values
“I’ve had a professional relationship with Ashridge Consulting for 20 years. The key word that comes to mind is partnership. They are also leading edge, very easy to work with and proactive.” (Bruno Dalbiez, Member of Nokia’s Organisation Development and Change Team)
Nokia at a glance
Finland-based Nokia, was established as a wood pulp mill in 1865. By 1994 it was in the technology and mobile communications business and by 2000 it had just under 60,000 employees in over 50 countries with sales of 31 billion Euros. Responding to such extraordinary growth, Nokia’s Group Executive Board identified a need to refresh the corporate values and to bring them to life for the thousands of new employees around the world.
An Appreciative Inquiry (AI)
Using a high participation approach called Appreciative Inquiry, Ashridge worked in partnership with Nokia’s Organisation Development & Change Team to find out where the values were already most alive and help them grow from there.
Appreciative Inquiry is the art of discovering and valuing the factors that ‘give life’ to an organisation, group, individual or relationship. Best examples of the past and the present are recalled and rigorously understood to set the stage for well-grounded visualisation of what could be possible in the future. Read more
Feb 11
Stay hungry, stay foolish
Transkrip Pidato Steve Jobs dari KlipingKehidupan.org
Saya merasa bangga di tengah-tengah Anda sekarang, yang akan segera lulus dari salah satu universitas terbaik di dunia. Saya tidak pernah selesai kuliah. Sejujurnya, baru saat inilah saya merasakan suasana wisuda. Hari ini saya akan menyampaikan tiga cerita pengalaman hidup saya. Ya, tidak perlu banyak. Cukup tiga.
Cerita Pertama: Menghubungkan Titik-Titik
Saya drop out (DO) dari Reed College setelah semester pertama, namun saya tetap berkutat di situ sampai 18 bulan kemudian, sebelum betul-betul putus kuliah. Mengapa saya DO? Kisahnya dimulai sebelum saya lahir. Ibu kandung saya adalah mahasiswi belia yang hamil karena “kecelakaan” dan memberikan saya kepada seseorang untuk diadopsi.
Dia bertekad bahwa saya harus diadopsi oleh keluarga sarjana, maka saya pun diperjanjikan untuk dipungut anak semenjak lahir oleh seorang pengacara dan istrinya. Sialnya, begitu saya lahir, tiba-tiba mereka berubah pikiran bayi perempuan karena ingin. Maka orang tua saya sekarang, yang ada di daftar urut berikutnya, mendapatkan telepon larut malam dari seseorang: “kami punya bayi laki-laki yang batal dipungut; apakah Anda berminat? Mereka menjawab:
“Tentu saja.” Ibu kandung saya lalu mengetahui bahwa ibu angkat saya tidak pernah lulus kuliah dan ayah angkat saya bahkan tidak tamat SMA. Dia menolak menandatangani perjanjian adopsi. Sikapnya baru melunak beberapa bulan kemudian, setelah orang tua saya berjanji akan menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.
Dan, 17 tahun kemudian saya betul-betul kuliah. Namun, dengan naifnya saya memilih universitas yang hampir sama mahalnya dengan Stanford, sehingga seluruh tabungan orang tua saya- yang hanya pegawai rendahan-habis untuk biaya kuliah. Setelah enam bulan, saya tidak melihat manfaatnya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan dalam hidup saya dan bagaimana kuliah akan membantu saya menemukannya. Saya sudah menghabiskan seluruh tabungan yang dikumpulkan orang tua saya seumur hidup mereka. Maka, saya pun memutuskan berhenti kuliah, yakin bahwa itu yang terbaik. Saat itu rasanya menakutkan, namun sekarang saya menganggapnya sebagai keputusan terbaik yang pernah saya ambil.
Begitu DO, saya langsung berhenti mengambil kelas wajib yang tidak saya minati dan mulai mengikuti perkuliahan yang saya sukai. Masa-masa itu tidak selalu menyenangka n. Saya tidak punya kamar kos sehingga nebeng tidur di lantai kamar teman-teman saya. Saya mengembalikan botol Coca-Cola agar dapat pengembalian 5 sen untuk membeli makanan. Saya berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk mendapat makanan enak di biara Hare Krishna. Saya menikmatinya. Dan banyak yang saya temui saat itu karena mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi, ternyata kemudian sangat berharga. Saya beri Anda satu contoh:
Reed College mungkin waktu itu adalah yang terbaik di AS dalam hal kaligrafi. Di seluruh penjuru kampus, setiap poster, label, dan petunjuk ditulis tangan dengan sangat indahnya. Karena sudah DO, saya tidak harus mengikuti perkuliahan normal. Saya memutuskan mengikuti kelas kaligrafi guna mempelajarinya. Saya belajar jenis-jenis huruf serif dan san serif, membuat variasi spasi antar kombinasi kata dan kiat membuat tipografi yang hebat. Semua itu merupakan kombinasi cita rasa keindahan, sejarah dan seni yang tidak dapat ditangkap melalui sains. Sangat menakjubkan.
Saat itu sama sekali tidak terlihat manfaat kaligrafi bagi kehidupan saya. Namun sepuluh tahun kemudian, ketika kami mendisain komputer Macintosh yang pertama, ilmu itu sangat bermanfaat. Mac adalah komputer pertama yang bertipografi cantik. Seandainya saya tidak DO dan mengambil kelas kaligrafi, Mac tidak akan memiliki sedemikian banyak huruf yang beragam bentuk dan proporsinya. Dan karena Windows menjiplak Mac, maka tidak ada PC yang seperti itu. Andaikata saya tidak DO, saya tidak berkesempatan mengambil kelas kaligrafi, dan PC tidak memiliki tipografi yang indah. Tentu saja, tidak mungkin merangkai cerita seperti itu sewaktu saya masih kuliah. Namun, sepuluh tahun kemudian segala sesuatunya menjadi gamblang. Sekali lagi, Anda tidak akan dapat merangkai titik dengan melihat ke depan; Anda hanya bisa melakukannya dengan merenung ke belakang. Jadi, Anda harus percaya bahwa titik-titik Anda bagaimana pun akan terangkai di masa mendatang. Anda harus percaya dengan intuisi, takdir, jalan hidup, karma Anda, atau istilah apa pun lainnya. Pendekatan ini efektif dan membuat banyak perbedaan dalam kehidupan saya.
Cerita Kedua Saya: Cinta dan Kehilangan.
Saya beruntung karena tahu apa yang saya sukai sejak masih muda. Woz dan saya mengawali Apple di garasi orang tua saya ketika saya berumur 20 tahun. Kami bekerja keras dan dalam 10 tahun Apple berkembang dari hanya kami berdua menjadi perusahaan 2 milyar dolar dengan 4000 karyawan. Kami baru meluncurkan produk terbaik kami-Macintosh- satu tahun sebelumnya, dan saya baru menginjak usia 30. Dan saya dipecat. Bagaimana mungkin Anda dipecat oleh perusahaan yang Anda dirikan? Yah, itulah yang terjadi. Seiring pertumbuhan Apple, kami merekrut orang yang saya pikir sangat berkompeten untuk menjalankan perusahaan bersama saya. Dalam satu tahun pertama,semua berjalan lancar. Namun, kemudian muncul perbedaan dalam visi kami mengenai masa depan dan kami sulit disatukan. Komisaris ternyata berpihak padanya. Demikianlah, di usia 30 saya tertendang.
Beritanya ada di mana-mana. Apa yang menjadi fokus sepanjang masa dewasa saya, tiba-tiba sirna. Sungguh menyakitkan. Dalam beberapa bulan kemudian, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya merasa telah mengecewakan banyak wirausahawan generasi sebelumnya -saya gagal mengambil kesempatan. Saya bertemu dengan David Packard dan Bob Noyce dan meminta maaf atas keterpurukan saya. Saya menjadi tokoh publik yang gagal, dan bahkan berpikir untuk lari dari Silicon Valley. Namun, sedikit demi sedikit semangat timbul kembali- saya masih menyukai pekerjaan saya. Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tidak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya putuskan untuk mulai lagi dari awal. Waktu itu saya tidak melihatnya, namun belakangan baru saya sadari bahwa dipecat dari Apple adalah kejadian terbaik yang menimpa saya. Beban berat sebagai orang sukses tergantikan oleh keleluasaan sebagai pemula, segala sesuatunya lebih tidak jelas. Hal itu mengantarkan saya pada periode paling kreatif dalam hidup saya.
Dalam lima tahun berikutnya, saya mendirikan perusahaan bernama NeXT, lalu Pixar, dan jatuh cinta dengan wanita istimewa yang kemudian menjadi istri saya. Pixar bertumbuh menjadi perusahaan yang menciptakan film animasi komputer pertama, Toy Story, dan sekarang merupakan studio animasi paling sukses di dunia. Melalui rangkaian peristiwa yang menakjubkan, Apple membeli NeXT, dan saya kembali lagi ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung bagi kebangkitan kembali Apple. Dan, Laurene dan saya memiliki keluarga yang luar biasa. Saya yakin takdir di atas tidak terjadi bila saya tidak dipecat dari Apple. Obatnya memang pahit, namun sebagai pasien saya memerlukannya. Kadangkala kehidupan menimpakan batu ke kepala Anda. Jangan kehilangan kepercayaan. Saya yakin bahwa satu-satunya yang membuat saya terus berusaha adalah karena saya menyukai apa yang saya lakukan. Anda harus menemukan apa yang Anda sukai. Itu berlaku baik untuk pekerjaan maupun asangan hidup Anda. Pekerjaan Anda akan menghabiskan sebagian besar hidup Anda, dan kepuasan sejati hanya dapat diraih dengan mengerjakan sesuatu yang hebat. Dan Anda hanya bisa hebat bila mengerjakan apa yang Anda sukai. Bila Anda belum menemukannya, teruslah mencari. Jangan menyerah. Hati Anda akan mengatakan bila Anda telah menemukannya. Sebagaimana halnya dengan hubungan hebat lainnya, semakin lama-semakin mesra Anda dengannya. Jadi, teruslah mencari sampai ketemu. Jangan berhenti.
Cerita Ketiga Saya: Kematian
Ketika saya berumur 17, saya membaca ungkapan yang kurang lebih berbunyi: “Bila kamu menjalani hidup seolah-olah hari itu adalah hari terakhirmu, maka suatu hari kamu akan benar.” Ungkapan itu membekas dalam diri saya, dan semenjak saat itu, selama 33 tahun terakhir, saya selalu melihat ke cermin setiap pagi dan bertanya kepada diri sendiri: “Bila ini adalah hari terakhir saya, apakah saya tetap melakukan apa yang akan saya lakukan hari ini?” Bila jawabannya selalu “tidak” dalam beberapa hari berturut-turut, saya tahu saya harus berubah. Mengingat bahwa saya akan segera mati adalah kiat penting yang saya temukan untuk membantu membuat keputusan besar. Karena hampir segala sesuatu-semua harapan eksternal, kebanggaan, takut malu atau gagal-tidak lagi bermanfaat saat menghadapi kematian. Hanya yang hakiki yang tetap ada. Mengingat kematian adalah cara terbaik yang saya tahu untuk menghindari jebakan berpikir bahwa Anda akan kehilangan sesuatu. Anda tidak memiliki apa-apa. Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hati Anda.
Sekitar setahun yang lalu saya didiagnosis mengidap kanker. Saya menjalani scan pukul 7:30 pagi dan hasilnya jelas menunjukkan saya memiliki tumor pankreas. Saya bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter mengatakan kepada saya bahwa hampir pasti jenisnya adalah yang tidak dapat diobati. Harapan hidup saya tidak lebih dari 3-6 bulan. Dokter menyarankan saya pulang ke rumah dan membereskan segala sesuatunya, yang merupakan sinyal dokter agar saya bersiap mati. Artinya, Anda harus menyampaikan kepada anak Anda dalam beberapa menit segala hal yang Anda rencanakan dalam sepuluh tahun mendatang. Artinya, memastikan bahwa segalanya diatur agar mudah bagi keluarga Anda. Artinya, Anda harus mengucapkan selamat tinggal. Sepanjang hari itu saya menjalani hidup berdasarkan diagnosis tersebut. Malam harinya, mereka memasukkan endoskopi ke tenggorokan, lalu ke perut dan lambung, memasukkan jarum ke pankreas saya dan mengambil beberapa sel tumor. Saya dibius, namun istri saya, yang ada di sana, mengatakan bahwa ketika melihat selnya di bawah mikroskop, para dokter menangis mengetahui bahwa jenisnya adalah kanker pankreas yang sangat jarang, namun bisa diatasi dengan operasi. Saya dioperasi dan sehat sampai sekarang. Itu adalah rekor terdekat saya dengan kematian dan berharap terus begitu hingga beberapa dekade lagi.
Setelah melalui pengalaman tersebut, sekarang saya bisa katakan dengan yakin kepada Anda bahwa menurut konsep pikiran, kematian adalah hal yang berguna:
Tidak ada orang yang ingin mati. Bahkan orang yang ingin masuk surga pun tidak ingin mati dulu untuk mencapainya. Namun, kematian pasti menghampiri kita. Tidak ada yang bisa mengelak. Dan, memang harus demikian, karena kematian adalah buah terbaik dari kehidupan. Kematian membuat hidup berputar. Dengannya maka yang tua menyingkir untuk digantikan yang muda. Maaf bila terlalu dramatis menyampaikannya, namun memang begitu.
Waktu Anda terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjalani hidup orang lain. Jangan terperangkap dengan dogma-yaitu hidup bersandar pada hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan omongan orang menulikan Anda sehingga tidak mendengar kata hati Anda. Dan yang terpenting, miliki keberanian untuk mengikuti kata hati dan intuisi Anda, maka Anda pun akan sampai pada apa yang Anda inginkan. Semua hal lainnya hanya nomor dua.
Ketika saya masih muda, ada satu penerbitan hebat yang bernama “The Whole Earth Catalog“, yang menjadi salah satu buku pintar generasi saya. Buku itu diciptakan oleh seorang bernama Stewart Brand yang tinggal tidak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia membuatnya sedemikian menarik dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum era komputer dan desktop publishing, jadi semuanya dibuat dengan mesin tik, gunting, dan kamera polaroid. Mungkin seperti Google dalam bentuk kertas, 35 tahun sebelum kelahiran Google: isinya padat dengan tips-tips ideal dan ungkapan-ungkapan hebat. Stewart dan timnya sempat menerbitkan beberapa edisi “The Whole Earth Catalog”, dan ketika mencapai titik ajalnya, mereka membuat edisi terakhir. Saat itu pertengahan 1970-an dan saya masih seusia Anda. Di sampul belakang edisi terakhir itu ada satu foto jalan pedesaan di pagi hari, jenis yang mungkin Anda lalui jika suka bertualang. Di bawahnya ada kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish.” (Jangan Pernah Puas. Selalu Merasa Bodoh). Itulah pesan perpisahan yang dibubuhi tanda tangan mereka. Stay Hungry. Stay Foolish. Saya selalu mengharapkan diri saya begitu. Dan sekarang, karena Anda akan lulus untuk memulai kehidupan baru, saya harapkan Anda juga begitu. Stay Hungry. Stay Foolish.
Transcript of Commencement Speech at Stanford given by Steve Jobs
Thank you. I’m honored to be with you today for your commencement from one of the finest universities in the world. Truth be told, I never graduated from college and this is the closest I’ve ever gotten to a college graduation.
Today I want to tell you three stories from my life. That’s it. No big deal. Just three stories. The first story is about connecting the dots. Read more
LYNETTE: Situasi Defisit
Pada rapat mingguan mereka, Lynette, manajer baru dari tim customer service, menjelaskan mengenai kinerja buruk timnya dan apa yang akan ia lakukan untuk meningkatkan kinerja tersebut. Ketika Lynette mulai berbicara, beberapa manajer di dalam ruangan tersebut mendengarkannya dengan sopan, sementara ada manajer-manajer lain (senantiasa orang-orang yang sama dari minggu ke minggu) mengajukan beberapa pertanyaan untuk mengklarifikasi. Pada akhir dari presentasi Lynette, sang atasan mengucapkan terima kasih padanya dan mengatakan bahwa ia menanti perkembangan dari hasil perencanaan Lynette pada bulan berikutnya. Setelah itu, rapat pun kembali berjalan seperti semula. Akan tetapi, ada banyak hal yang belum tersampaikan.
Ada lebih dari satu manajer yang tidak setuju dengan analisis Lynette akan permasalahan tersebut. Namun mereka tidak mengatakan apapun. Beberapa orang tidak mengatakan apapun karena takut akan membuat malu Lynette. Beberapa orang lainnya hanya diam saja karena takut berdebat. Doug mulai berpikir apakah Lynette benar-benar seorang manajer yang berkompeten dan memahami situasi yang ada di timnya. Marlene percaya bahwa Lynette mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, tetapi memilih untuk tidak mengemukakan semuanya di rapat demi melindungi anggota-anggota di tim customer service. Bruce berpikiran bahwa Lynette berupaya untuk melindungi dirinya sendiri dengan cara menutup-nutupi permasalahan yang sebenarnya. Sondra berpikiran bahwa Lynette adalah seorang manajer yang baik hati, hanya saja anggota-anggota timnya seringkali mengambil keuntungan dari sifat Lynette tersebut. Orang-orang lain yang hadir di rapat itu pun memiliki berbagai pikiran dan opini yang mereka simpan sendiri.
Read more










