Catatan Tentang Kelmi, Batu Kali yang Baik Hati

Bila Pramoedya Ananta Toer berkata Menulis adalah bekerja untuk keabadian, maka aku menulis catatan ini untuk mengabadikan perkawananku dengan Kelmi, Helmi Firdaus.

Kelmi 1

Saya memilih psikologi sosial sebagai peminatan kuliah S1. Semua baik-baik saja sampai saya mengambil mata kuliah yang wajib diambil mahasiswa psikologi sosial maupun psikologi industri. Pada kuliah Model Pengambilan Keputusan itu, saya bertemu dua orang gila yang mengubah arah kuliah saya, Pak Ino dan Kelmi, panggilan akrab Helmi Firdaus. Dan pagi ini saya mendapat kabar, Kelmi menyusul Pak Ino di surga. 

Kelmi adalah penanya kritis di kelasnya Pak Ino. Tidak hanya sekali pertanyaan kritis bahkan usil dilontarkannya. Kegarangan Pak Ino tidak menciutkan nyali, ketika mahasiswa lain memilih menundukkan kepala, Kelmi justru dengan santai bertanya dan menyanggah. Waktu kuliah selesai tidak selalu menghentikan perdebatan di antara mereka, tak jarang berlanjut sambil mereka merokok bersama. Perdebatan dan perbedaan pendapat tidak pernah membuat mereka saling benci. 

Kelmi, batu kali kecil yang keras. Ukuran tubuhnya yang kecil berkebalikan dengan nyalinya. Norma-norma dipertanyakan, aturan-aturan digugat. Pertanyaannya membuat dosen dan manajemen kampus geleng kepala. Pertanyaan Kelmi tidak untuk mematikan, tapi ajakan bagi siapa saja untuk berpikir. Kalau pun tidak mendapat jawaban memuaskan, Kelmi tetap santai. Seolah cukup bertanya, tanggung jawabnya untuk mengajak orang lain berpikir sudah selesai. Orang mau berpikir atau tidak, bukanlah urusannya. 

 ***

Pada suatu hari, kondisiku kepepet. Aku harus dapat kontrakan baru untuk tempat tinggal, sementara kondisi keuanganku lagi tipis banget. Aku coba kontak beberapa kawan namun tidak ada jalan keluar. Sampai kemudian aku menghubungi Kelmi, dan persoalanku selesai. Aku numpang di kontrakannya Kelmi dan Samian (kemudian bertambah dengan Taufik) yang notabene adalah adik angkatanku di Psikologi Unair.

Jangan bayangkan kontrakan besar. Kontrakan itu hanyalah sebuah lorong yang menghubungkan 3 ruang, 1 ruang tamu dan 2 ruang tidur. Tak ada pintu di ketiga ruang itu, hanya ada pintu depan dan pintu belakang. Jadi meski ada pengaturan kepemilikan kamar, nyatanya urusan tidur tetaplah sebuah kekacauan yang menyenangkan. Siapa duluan tidur ya disitulah kamarnya haha. Tidur pun bisa di mana saja. Meski begitu kami tidak pernah bertengkar mengenai tempat tidur. Semua tahu diri, yang penting rukun. Dan bila diingat kembali, Kelmi adalah pusat kerukunan kami.

Kelmi 3

Meski batu kali yang suka menantang pemegang otoritas, Kelmi adalah orang yang hangat. Hatinya besar. Ia tidak kecil hati ketika berhadapan dengan orang besar. Ia pun bisa berbagi hatinya yang besar ketika berhadapan dengan orang kecil. Olok-olok dan leluconnya jadi pencair suasana. Ketika orang sudah bersikap terbuka dan bersedia bercerita, ia bersedia menyimaknya, pun ketika berbeda pandangan dengannya. Dengan gayanya itu, Kelmi menjadi teman baik bagi penghuni kontrakan, kawan yang berkunjung ke kontrakan dan siapa saja. Ia keras bagi pemegang otoritas, tapi lembut pada temannya.

Tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Kelmi optimis. Persoalan seberat apapun dapat diselesaikan. Syaratnya satu: ngobrol sambil ngopi. Kopi adalah percakapan antar teman, percakapan dari hati ke hati. Kopi membuka ruang kebekuan antara dua orang yang bermasalah. Bukaan yang memungkinkan adanya titik temu tanpa paksaan. Kopi itu mengalirkan kehangatan antar teman.

***

Bila batu kali, maka Kelmi adalah batu kali yang terus menerus gelisah. Tubuhnya aktif bergerak, sebagaimana pikirannya yang terus bergerak. Buatnya, orang hidup itu jadi diri sendiri. Buang saja, istilah Kelmi, “palsu-palsu”. Kesadaran bahwa ia hidup di jaman yang “palsu-palsu” membuatnya resah. Sistem pendidikan yang membuat para murid untuk menjadi sosok yang “palsu-palsu” sesuai standar. Sistem kerja yang menuntut pekerja untuk tampil dengan “palsu-palsu” semenarik mungkin.

Kegelisahan Kelmi memuncak ketika ia dituntut untuk mengerjakan skripsi. Meski peminatan Psikologi Industri dan Organisasi, ia enggan untuk membuat skripsi “palsu-palsu”, skripsi yang membenarkan sistem kerja menghisap pekerjanya. Ia pun membuat skripsi yang “aneh” di kalangan psikologi Industri dan Organisasi, dan bahkan di kalangan psikologi. Judul skripsi Kelmi Tingkat Perkembangan Kesadaran Orang Miskin. Ia menggunakan Teori Paulo Freire yang asing di literatur psikologi. Ia pun mendeklarasikan perlawanannya terhadap kewajiban skripsi dalam halaman persembahan:

Dibuat dengan “keterpaksaan” dan sadar dengan sepenuh-penuh kesadaran toh akhirnya ini akan terbuang berulang – pengguguran kewajiban karena aku masuk sistem pendidikan yang formal. (Sumber: file skripsi Kelmi di laptop saya)

Setelah lulus kuliah, penghuni kontrakan pun berpencar mengikuti jalannya masing-masing. Kelmi sendiri berhadapan dengan sistem “palsu-palsu” yang lebih keras dari skripsinya. Ia berjuang bertahan dengan keunikannya. Itulah mengapa meski sudah bertahun-tahun di Jakarta, Kelmi tetap merawat “Jancuk” dalam pergaulan sosial. Jancuk adalah celah yang terus dijaganya agar ia tetap otentik.

***

Kelmi 2

Setelah lulus kuliah, saya terlibat lagi dalam obrolan warung kopi dengan Kelmi justru setelah ia pindah ke Jakarta. Saya datang ke kantornya mulai sore hingga tengah malam sambil ia menyelesaikan pekerjaannya. Kami menginap di tempat kos Daus, berbincang absurd, mentertawakan “palsu-palsu” yang kami temukan dalam kehidupan, menonton film, dan main PS hingga fajar menjelang. Dua pertemuan terakhir, saya dan Kelmi terlibat obrolan berjam-jam. Serasa masih kuliah, kami bercerita tentang impian, yang baru secuil terwujud, sisanya masih melayang bebas di alam ide. Sungguh, saya kehilangan teman ngobrol.

Hari ini aku menjemput seorang kawan baik, Helmi Firdaus alias Kelmi, di Juanda, dan mengantarkannya untuk terakhir kali. Dalam senja sore ini, aku ucapkan “Selamat jalan kawan! Kita pasti akan ngobrol lagi……tentu dengan segelas kopi”

Kelmi 4

Album terakhir yang kami obrolkan……Song of Innocence dari U2 

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

8 thoughts on “Catatan Tentang Kelmi, Batu Kali yang Baik Hati”

  1. Saya sama skali tak mengenal sosok Kelmi. Rasa penasaranku yang menuntunku mencari tahu tentang almarhum lewat postingan ucapan belasungkawa kawan2nya. Melalui postingan dan tulisan Pak Bukik, saya merasakan keistimewaan almarhum di hati sahabat – sahabat yang ditinggalkannya. Entah kenapa saya meyakini bahwa Sosok Kelmi adalah orang baik meski hanya kenal lewat pesbuk dan sayapun merasa kehilangan.

  2. mbrebes mili mocone. meski gak kenal sama sekali sebelumnya, terlihat sekali dia orang yg lurus di jalan. turut kehilangan apalagi sebagai sesama orang lamongan.

  3. Mas kelmi pernah diundang insight (majalah kampus) untuk share ttg cara menulis yg baik.. Sy yg selalu nervous dg hal baru ngeliat Mas kelmi yg super duper nyuantai waktu itu membuat sy makin semangat untuk membuat tulisan, apapun yg sy mau..

    Selamat jalan Mas kelmi, jannah insyaa Allah..

  4. Saya tak mengenalnya tapi terkesan oleh paparan Bukik. Memang setiap individu itu unik, tapi sulit sekali saya menyebut orang demi orang sebagai unik. Pak Kelmi orang unik. Sampaikan salam saya dengan cara yang bisa atau mungkin.

  5. Salah satu dari sekian orang yang bikin aku kagum sekaligus iri dan dengki..krn telah menjalani hidup bahagia sesuai dengan fitrah penciptaanNya..selamat jalan masbro..bahagia sejati menanti..

  6. Sepertinya saya akan senang mengobrol dengan beliau…

    Sayang sudah dipanggil Pemulai Segalanya

    (Ngobrol langsung dengan Pak Bukik saja belum kesampaian.. hehehehe)

  7. Saya juga tidak mengenal mas kelmi secara pribadi. Tapi dari tulisan Mas Bukik dan Mas Ardi, beliau adalah sosok yg istimewa yg jarang ada atau boleh disebut langka. Sayang sekali, blm sempat berkenalan. RIP Mas Kelmi. Big hug buat teman teman yg merasa kehilangan.

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.