Mengapa Saya Tidak Menjual Buku Memilih Sekolah di Toko Buku?

Berbeda dengan dua buku sebelumnya, buku ketiga saya Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now tidak dijual di toko buku. Mengapa? 

Sejak buku pertama, Anak Bukan Kertas Kosong, sebenarnya agen buku telah menunjukkan peran pentingnya. Pertama, sebagaimana saya tulis di Agen Buku sebagai Pelompat Jurang Pengetahuan, agen buku adalah penghubung antara pembeli dengan buku yang sesuai dengan kebutuhan pembeli. Agen buku juga pendidik yang membangun kesadaran akan pentingnya sebuah buku bagi pembeli. Anda mungkin menilai pandangan ini bersifat idealis. Mana bukti konkretnya?

Kedua, agen buku menjual rata-rata 3 kali lebih banyak dari rata-rata penjualan toko buku. Bayangkan, 1 orang dibandingkan dengan 1 toko buku tetap saja lebih banyak penjualan buku oleh 1 orang. Padahal biaya untuk 1 orang jauh lebih kecil dibandingkan biaya untuk membuat 1 toko buku.

Meski sudah mengetahui fakta tersebut, buku kedua saya, Bakat Bukan Takdir, tetap diedarkan di toko buku. Dan lagi-lagi saya terbentur dengan kenyataan, kuota buku yang diberikan ke agen buku telah habis, sementara buku di toko buku masih menumpuk. Dua tahun uang tidak bergerak di toko buku.

Apakah kesimpulan saya berlaku untuk semua jenis buku? Bisa jadi tidak. Dugaan saya, kesimpulan agen buku lebih efektif mungkin hanya berlaku untuk buku yang dibutuhkan oleh segmen pembeli tertentu dan tidak berlaku buku yang dikonsumsi secara luas dan buku yang ditulis penulis terkenal.

Buku ketiga saya masih sama seperti buku pertama dan kedua, buku yang dicari oleh segmen pembeli spesifik. Karena itulah, saya sedari awal sudah terpikir untuk memasarkan buku ketiga hanya melalui jaringan agen buku. Namun, tidak mudah mewujudkan ide tersebut.

Saya harus meyakinkan pihak penerbit bahwa pemasaran melalui jaringan agen buku lebih efektif dibandingkan melalui toko buku. Setelah beberapa kali pertemuan dengan diskusi yang hangat, akhirnya penerbit bersepakat dengan ide pemasaran buku hanya melalui jaringan agen buku. Apa argumentasi saya? Kedua poin di atas tentu saya sampaikan, namun saya memaparkan konteks yang lebih luas.

Pertama, penerbit dan toko buku telah membunuh dirinya sendiri. Penerbit dan toko buku memperlakukan buku seperti tumpukan kertas kiloan. Tidak ada nilai tambah meski tumpukan kertas telah diubah menjadi buku. Tidak ada artinya nilai ilmu pengetahuan atau sastra yang terkandung dalam sebuah buku.

Tidak ada anggaran marketing untuk buku. Satu-satunya upaya marketing buku adalah DISKON. Terus terang saya sakit hati bahkan ketika buku cetak belum ada di tangan saya, namun buku sudah dipasarkan dengan harga diskon.

Bandingkan penjualan roti mendapat diskon hanya untuk roti tersisa ketika toko roti menjelang tutup. Apakah begitu buruknya buku saya sehingga belum terbit pun sudah diskon? Apakah buku yang belum terbit lebih tidak berharga dibandingkan roti di toko roti yang menjelang tutup?

Penerbit dan toko buku membunuh dirinya sendiri ketika memperlakukan harga karyanya sendiri seperti benda yang tidak berharga.

Kedua, banyak orang yang membutuhkan buku sebagai solusi dari persoalan atau tantangan hidup yang dihadapinya. Buku adalah solusi! Bila roti adalah solusi untuk kebutuhan biologis, maka buku adalah solusi untuk kebutuhan psikologis manusia. Buku membuat manusia tertawa. Buku membuat manusia tercerahkan. Buku membuat manusia menemukan cara baru yang lebih baik. Buku membuat manusia merasakan pengalaman psikologi yang kaya makna.

Problem buku bukanlah pada harga, tapi pada distribusi pada orang yang tepat dan waktu yang tepat. Persoalan zaman industri, biaya gudang yang besar, seringkali menimbulkan persoalan distribusi. Ketika sales kartu kredit jemput bola dengan rajin menelepon kita, penjual buku justru hanya mau berleha-leha menunggu pembeli datang ke tokonya.

Mengapa penjual buku tidak menelepon kita? Bagaimana bisa penjual buku mengerahkan sales untuk menelepon kita ketika anggaran marketing 0 rupiah? Kembali ke poin pertama.

Pada titik ini menjadi menjengkelkan ketika penerbit dan toko buku menuntut penulis yang harus melakukan promosi bukunya. Hei yang benar saja! Penulis hanya mendapat royalti 10% dari harga buku, sementara toko buku mendapat 40-50% dari harga buku, namun penulis yang disuruh melakukan promosi buku?

Kejengkelan itu yang saya rasakan sejak buku pertama. Tapi mari beralih, abaikan kejengkelan toko buku yang masih saja berkutat dengan cara-cara zaman industri (atau zaman dinosaurus?).

Ketika naskah buku ketiga, Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now, sudah masuk pada tahap penyuntingan, saya melakukan konsolidasi jaringan agen buku yang sudah lama tidak diurus. Bukan saya tidak mau mengurus, namun kesibukan kerja menghabiskan waktu dan energi :)

Beruntungnya, para agen buku masih sabar bertahap di grup WA agen buku. Tim TemanTakita.com mulai melakukan konfirmasi mengenai komitmen menjadi agen buku. Ada 33 agen buku yang menyatakan komitmennya sebagai agen buku.

Dukungan dari 33 agen buku yang membuat kami percaya diri membuka pendaftaran agen buku baru. Dan ketika dibuka pendaftaran di Halaman Agen Buku, jumlah agen buku bertambah lebih dari dua kali lipat hanya dalam waktu 1 minggu. Wow! Alhamdulillah banget

Kenapa banyak yang daftar menjadi agen buku? 

Pertama, menjadi agen buku pada dasarnya menyebarkan kebaikan, tepatnya menyebarkan solusi bagi mereka yang membutuhkannya. Ada kepuasan batin tertentu ketika orang yang membeli buku dari kita merasa terbantu dengan buku yang kita tawarkan. Indahnya membantu :)

Kedua, menjadi agen buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now berarti mempromosikan pendidikan yang menumbuhkan. Bentuk pendidikan yang berbeda dengan praktik pendidikan yang lebih banyak mencekoki anak. Dengan promosi tersebut, agen buku pada dasarnya menyelamatkan anak-anak dari sekolah yang mencekoki.

Ketiga, menjadi agen buku tidak butuh modal uang. Berbeda dengan toko buku yang harus investasi bangunan, agen buku relatif perlu investasi apapun. Agen buku bisa menawarkan buku pada orang yang membutuhan. Mereka yang memesan diminta membayar terlebih dahulu. Setelah itu, agen buku memesan buku di MemilihSekolah.com.

Bahkan bila memilih penjualan afiliasi, agen buku tidak perlu melakukan pemesanan buku karena setiap kali ada orang membeli melalui tautan (link) afiliasi, agen buku otomatis mendapat komisi.

Keempat, menjadi agen buku juga mendapat keuntungan finansial. Setiap penjualan buku, agen buku mendapat 25% dari harga buku. Dan karena buku ketiga ini tidak melalui toko buku, agen buku mendapat keuntungan lain. Pencapaian penjualan dengan jumlah tertentu akan membuahkan bonus menarik bagi agen buku.

Anda tertarik menjadi agen buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now? Segera klik di Halaman Agen Buku. *eh

Itulah mengapa saya tidak menjual buku memilih sekolah di toko buku serta alternatif pengganti toko buku.

Apakah jaringan agen buku akan menjadi pengganti jaringan toko buku? Saya belum tahu jawabannya, tapi kalau pun ada jawabannya, pasti bukan berasal dari toko buku besar, namun dari segelintir orang gila yang mencoba melakukan perubahan. 

Ingin tahu lebih lanjut tentang buku
Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now?
Follow Instagram: @MemilihSekolah | Twitter: @MemilihSekolah |
Facebook: @MemilihSekolah 

Sumber foto: MemilihSekolah.com

Published by

Bukik Setiawan

Blogger

Gimana komentarmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.