search

Bukik Bertanya: @Pitra, Otak yang Terus Berpikir

Ibarat otak, sosok yang satu ini tajam dalam menganalisis terutama terkait dengan media sosial dan teknologi. Meski begitu, orangnya rendah hati dan suka berbagi ide. Simak ya

Sekitar 5 tahun lalu, aku baca informasi di Facebook, terus masuk ke webnya Fresh. Wah acara keren ini, orang-orang berbagi pengetahuan secara gratis. Aku menulis komentar di webnya Fresh, tanya kemungkinan mengadakan forum serupa di Surabaya. Tapi tidak ada balasan buat komentar itu di email. Waktu berlalu. Aku mulai aktif di twitter dan berkenalan dengan teman-teman Fresh Surabaya. Aku pun masuk lagi ke webnya Fresh. Ya ampun…..ternyata komentarku sudah dibalas tapi tidak masuk email. :D

Dari melacak webnya Fresh itu, aku akhirnya berkunjung ke blog keren Media Ide. Blognya menarik. Banyak sekali materi mengenai media sosial mulai prinsip, teknik, jenis media sosial sampai ulasan fenomena di media sosial. Kalau ada kasak-kusuk di media sosial, hampir bisa dipastikan akan dimuat di blog itu. Baca blog keren itu mengubahku menjadi “lebih beradab” secara media sosial. Awalnya kosongan, begitu baca blog itu langsung banyak ide. Lebih penting lagi, aku jadi belajar bagaimana menggunakan media sosial yang efektif.

Tidak disangka, ternyata dikemudian hari, Indonesia Bercerita diulas di blog keren ini. Posting tersebut sangat membantu Indonesia Bercerita dikenal oleh banyak orang. Iya posting tersebut termasuk yang pertama kali mengulas Indonesia Bercerita. Sebelumnya hanya blog Bukik ini :D 

Apa aku sudah ketemu Pitra? Belum saudara-saudara…..masih lama hehe

Aku ketemu Pitra itu pas acara kopdar ulang tahun pertama Fresh Surabaya yang membahas mengenai komunitas di dunia online. Kalau lihat dari postingnya Pitra, acaranya itu akhir Mei 2011. Habis kopdar lanjut makan malam bebek mercon di pinggi kali Surabaya.

Apa kesanku setelah ketemu Pitra? Orang cerdas, paham banget media sosial, enak diajak ngobrol dan punya kepedulian sosial. Oh satu lagi yang penting, Pitra itu kalem di offline, heboh di online :D. Itu saja bocorannya. Selebihnya, silahkan nikmati cerita yang dituturkan Pitra melalui email dalam posting Bukik Bertanya: @Pitra, Otak yang Terus Berpikir.

Tentang Identitas Diri 

Saya Pitra. Nama lengkapnya Pitra Satvika. Anak pertama dari dua bersaudara. Biasa teman memanggil dengan sebutan “Pit”. Suka menolak kalau dipanggil dengan suku kata belakang, “Tra,” karena yang biasa memanggil itu hanya anggota keluarga yang lebih tua. Entah kenapa sejak Twitter makin hype, semakin banyak yang memanggil dengan sebutan, “Kak Pit.” Lebih baiklah daripada dulu, suka ada yang manggil dengan sebutan, “Om Pit.” Namun mohon jangan diulang lagi panggilan “Om” itu ya.

Nickname lainnya adalah “anakcerdas.” Ini nama yang dipakai di banyak forum. ID Twitter awal pun masih menggunakan nama @anakcerdas ini, sampai merasa perlu lebih serius lagi membangun personal branding di Twitter, dan perlu menggunakan nama asli. Untungnya pemilik ID @pitra saat itu adalah seorang teman yang sudah pernah kenal sebelumnya. Ia dengan sukarela memberikan ID-nya kepada saya, ditukar dengan traktiran. :)

Bukik Bertanya Pitra

Tentang Pengalaman yang Menggetarkan

Hmmm.. ini susah menjawabnya, karena hubungan dengan orang tua hampir tidak pernah terjadi konflik. Keluarga juga berasal dari lingkungan yang berkecukupan. Namun kalau momen keluarga yang paling menggetarkan hati adalah saat adik saya menikah. Rasanya seperti mau melepas benar adik yang sudah dekat banget sejak kecil. Padahal sih setelah nikah juga tiap hari ternyata masih ketemuan. Meski secara fisik nggak berbeda, namun secara status sudah berbeda.

Tentang Kejadian yang Mengubah Hidup

Rasanya hidup saya baru terasa setelah lulus kuliah. Sejak sekolah dan duduk di bangku kuliah, rasanya biasa-biasa saja. Bukan seseorang yang spesial. Namun hal yang paling saya ingat adalah tahun 1998 saat terjadi penembakan di Trisakti. Saat itu saya sedang tugas akhir di Jurusan Arsitektur ITB. Malam setelah penembakan, kami di studio berdiskusi dan waswas apa yang terjadi pada mahasiswa keesokan hari. Suasana stres, tak ada yang bisa fokus mengerjakan tugas. Namun semua bernafas lebih lega saat Suharto turun. Saya dan teman-teman kampus saat itu di Bandung, hanya bisa ikut march hingga Gedung Sate. Ada hal yang berbeda banget saat itu. Kami march dikawal oleh tentara. Padahal biasanya untuk keluar dari Ganesha saja sudah mendapat tolakan balik dari para tentara yang berjaga.

Lulus kuliah S1, bahkan saat masih kuliah S2 saya bersama teman-teman punya idealisme tinggi, membangun kembali komik Indonesia. Kisah ini sudah terjadi 10 tahun lalu, saat kami membangun Studio Komik Bajing Loncat tahun 1999. Saat itu kami membangun studio komik, dengan modal sendiri yang seadanya. Menerbitkan komik independen, hingga bekerja sama dengan penerbit Mizan.

Untuk ukuran studio komik, nama kami banyak dikenal. Baik itu di lingkungan komunitas pecinta komik, hingga punya pembaca favorit. Ada lebih 30 komik yang kami buat, namun yang paling kami banggakan adalah komik Ophir: Sic Transit Gloria Mundi, yang bercerita tentang petualangan beberapa pemuda di era Sriwijaya. Beberapa kali nama studio kami muncul di koran, bahkan sempat menjadi berita utama Kompas lembaran kedua di hari Minggu.

Namun idealisme tanpa bisnis dan pasar yang siap, sama juga bohong. Itu hal penting yang kami pelajari dari membuat komik lokal. Meski menyenangkan, namun bisnis komik di Indonesia tidak bisa memberikan nafkah yang menjanjikan. Untuk mendukung modal, kami bahkan sempat meng-outsource-kan diri kami menjadi tenaga freelancer storyboard di beberapa agency. Kami juga sempat mengerjakan komik untuk beberapa brand dan LSM. Nilainya memang jauh lebih besar daripada mengerjakan komik untuk penerbit, namun tetap ada batasan yang tidak bisa kami lewati. Intinya, kami mentok, tak ada jalan yang lebih baik untuk mendatangkan profit bagi bisnis kami.

Bukik Bertanya Pitra

Studio Komik Bajing Loncat pun bubar jalan. Secara resmi kami menceritakan bubarnya studio kami di sebuah perhelatan komik komunitas. Kami saat itu bercerita kalau kami tidak mungkin lagi melanjutkan produksi komik. Teman-teman komunitas, yang juga paham kondisi komik dalam negeri, sangat menyayangkan, meski maklum kalau hal ini akhirnya terjadi.

Awalnya kami berlima di studio itu. Salah satunya, yang paling lihai di bidang komik melanjutkan kuliah ke luar negeri setelah mendapatkan beasiswa. Di sana ia bekerja di sebuah studio komik, dan mendapatkan kesempatan baru. Setelah kuliah, ia kembali ke Jakarta, membangun studio komik baru, dengan pasar baru. Ia mengerjakan komik untuk penerbit Amerika Serikat, dan sukses.

Saya dan teman saya, Fedi dan Andriani, merintis bidang yang berbeda. Kami memasuki dunia interaktif. Inilah cikal bakal Stratego. Kami mengerjakan desain website sederhana, hingga mendapatkan klien besar pertama, KFC Indonesia. Andriani pun akhirnya mengundurkan diri setelah menikah. Tinggal saya dan Fedi hingga sekarang, yang akhirnya membangun entitas baru bernama Stratego. Fokusnya di dunia interaktif.

Di era saat social media belum hype, kami sudah mencoba membantu klien masuk social media dengan memanfaatkan Friendster. Dengan munculnya Facebook dan keleluasaan membangun aplikasi dengan platformnya, kami pun eksplorasi ke sana. Menjadikan Stratego sebagai perusahaan yang paham dunia online menjadi kewajiban saya, sementara rekan saya, Fedi, lebih mendalami aplikasi interaktif untuk kebutuhan event, seperti interactive floor, holographic display, motion sensor, dll.

Dalam bisnis ini juga cocok-cocokkan sih. Harus saling melengkapi kekurangan. Lebih pas lagi kalau ada yang kuat di sisi produksi, lalu partnernya kuat di sisi marketing dan account. Kenyataannya nggak mungkin ada orang yang bisa mendalami semuanya. Toleransi juga penting, karena saat berpartner, kita akan semakin tahu kekurangan dan kekuatan masing-masing. Yang lebih penting lagi, harus punya visi yang sama, dan akur dalam mengeksekusinya.

Membangun bisnis tidak cukup dengan modal dan skill (padahal pas mulai modal juga modal dengkul sih). Tanpa menjalin networking, bisnis pun tak akan jalan. Kita perlu memperluas jaringan, mengenal semakin banyak orang dari beragam industri. Cara tradisional adalah dengan mendatangi masing-masing industri dan bercerita tentang apa yang kami kerjakan. Apakah cara ini berhasil? Tidak sama sekali.

Cara yang tanpa sengaja tapi bermanfaat dalam jangka panjang adalah dengan membangun eksistensi diri di ranah digital. Blog media-ide.com saya buat sejak Juli 2005. Saya saat itu tertarik dengan konsep blog yang dibuat oleh Adrants.com, dan belum pernah ada yang membuat blog serupa di Indonesia. Ini juga merupakan cara saya untuk belajar tentang sesuatu yang baru di ranah digital dan social media. Hal paling baik dari belajar adalah dengan menuliskannya ulang.

Saat itu kebanyakan blog bersifat personal. Sedikit sekali yang membahas niche topik tertentu. Mungkin karena belum adanya alternatif lain, makanya ternyata blog saya terbaca oleh orang-orang di advertising agency dan brand. Ada loh proyek Stratego yang berawal dari seorang brand yang membaca tulisan saya di blog. Klien multinasional pula.

Bukik Bertanya Pitra

Dengan identitas blog ini pula, saya pun merasa nggak canggung saat bertemu dengan blogger lain. Dulu kalau kopdar dengan sesama warga online, yang dijadikan identitas bukan ID twitter, tapi URL blog. Saya bertemu dengan blogger-blogger muda, yang saat ini kebanyakan dari mereka menduduki posisi penting di banyak perusahaan. Hubungan pertemanan yang berdampak menyenangkan pula dari sisi bisnis. Inilah networking sesungguhnya.

Blog saya juga sempat mendapat beberapa penghargaan. Yang pertama dari Pesta Blogger pertama. Yang kedua dari Deutsche Welle Jerman, melalui kompetisi The BOBs. Dari yang kedua ini, akhirnya saya mendapatkan kesempatan menjelajah benua Eropa. Setelah lebih dari 10 tahun nggak pernah ke luar negeri, akhirnya saya bisa pergi ke luar, ke Jerman, (hampir) gratis.

Selain itu saya juga masuk sebagai finalis IYCE (International Young Creative Entrepreneurs) yang diselenggarakan oleh British Council selama 2 tahun berturut-turut. Di sini saya berkenalan dengan banyak individu yang punya talenta luar biasa di dunia kreatif. Membuka lebih banyak lagi inspirasi dari sana.

Selain di Stratego, saya dan teman-teman lainnya, yang saya temukan di ranah digital, merasakan kalau saat itu (tahun 2009) belum ada kegiatan offline tempat pelaku ranah digital dan kreatif berbagi pengalaman dan cerita. Maka kami lalu membuat FreSh (Freedom of Sharing). Kami menyelenggarakan event ini selama sebulan sekali.

Sayangnya selama tahun 2012 kegiatan ini banyak vakum. Selain karena pengurusnya sudah terlalu sibuk dengan dengan kegiatan profesional masing-masing, juga karena sudah semakin banyaknya event sharing offline bermunculan. Hal yang saya pelajari dari FreSh ini adalah sulitnya mencari relawan yang berniat meneruskan FreSh, karena belum tentu mereka punya semangat yang sama dengan para pendirinya. Ini pula yang membuat kegiatan FreSh banyak mandek karena ketergantungan pada pendirinya.

Di tahun 2013 ini kegiatan FreSh akan aktif kembali. Terima kasih kepada Catur dan Chandra Marsono yang kini aktif membangun FreSh kembali supaya bisa melanjutkan kegiatan event sharing offline seperti saat awal dulu.

Tentang Buku

Sebenarnya ini berawal dari saya membikin slide yang membahas studi kasus beberapa kampanye social media 2012. Slidenya diupload ke slideshare.net bulan Desember. Ternyata banyak banget yang merespon. Saya pun melengkapi lagi dengan semakin banyak studi kasus yang diterjemahkan ke slide. Sisa slide ini sengaja tidak saya upload ke slideshare.net.

Lalu saya pikir, kayaknya lebih baik kalau saya buatkan white paper untuk membahas kampanye itu. Lebih jelas dalam tulisan tentunya, daripada slide. Isinya pun bisa lebih banyak. Saya memilih menuliskan dalam bahasa Inggris karena saya berharap kalau isinya bisa dibaca pula oleh agency dan brand luar, supaya mereka pun betapa besarnya kampanye social media di Indonesia.

Semakin lama, tulisan semakin panjang. Itu pun belum membahas semua topik. Rekan saya, Fedi, lalu mengusulkan, bagaimana kalau kita buat jadi buku saja. Nggak sekedar report, tapi benar-benar buku. Desain buku pun dibantu oleh tim Stratego. Kami juga meminta teman yang lebih lihai bahasa inggris untuk mengoreksi tulisan saya.

Setelah jadi buku, kepikiran wah lucu juga kalau bikin event-nya ya. Karena budget terbatas, jadilah event non komersial di @atamerica. Buku pun mendapat sokongan tambahan dana untuk mencetak dari sponsor. Buku ini sendiri ternyata agak terlambat masuk percetakan, sehingga tidak bisa rilis saat event. Hanya dicetak terbatas pula. Pemesanan hanya via web di www.strategocorp.com/socialmedia2012.

Buku Pitra 2

Buku ini memang ditargetkan untuk para praktisi social media di dalam brand ataupun advertising agency. Untuk melihat kilas balik kasus social media apa saja yang terjadi di tahun 2012, mana yang menarik dan berhasil, mana yang tidak. Buku ini juga bisa dijadikan referensi mahasiswa yang menggeluti dunia komunikasi, khususnya ranah online, untuk rujukan kasus social media.

Tentang yang Dihargai

Terhadap diri sendiri. Dari sisi bisnis, mencoba untuk tidak terlalu idealis. Bila punya ide, langsung pikirkan dari sisi jualannya. Kalau nggak bisa, ya abaikan saja ide itu. Cari yang lain.

Selain itu berbagilah sesering mungkin hal yang memang kita suka, melalui banyak medium. Untuk kasus ini jangan melihat dari sisi bisnis, karena biasanya bila konsisten, dalam jangka panjang secara tidak langsung akan memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi diri kita sendiri.

Terhadap Keluarga. Dukungan keluarga akan pilihan yang diambil dalam hidup. Tidak melarang, meski tetap menawarkan alternatif solusi. Waktu saya beridealisme tinggi di dunia komik, bapak dan ibu memang mempertanyakannya. Namun setelah berulang kali diliput media, mereka tidak meributkannya kembali. Lalu setelah komik bubar, dan berganti menjadi Stratego, dan benar-benar meraih keuntungan, sudah tidak pernah mempertanyakannya kembali.

Terhadap Rekan Kerja. Partner kerja, yang juga sahabat sejak kuliah. Secara pengetahuan dan pengalaman saling melengkapi. Nggak yakin juga bisa bikin bisnis sendiri kalau nggak berangkat bareng sejak awal dengan dia.

Terhadap Indonesia. Saya lahir di Indonesia, hidup di Indonesia, dan berharap saat mati pun ada di negeri ini. Saya mencari nafkah di negeri ini, terutama Jakarta. Saya mencoba menjadi bagian dari masyarakat Jakarta yang tidak berkeluh kesah karena macet, karena sudah lebih dari setahun ini saya tak lagi menggunakan mobil pribadi. Kemana-mana menggunakan bus dan angkutan umum lainnya. Plus jalan kaki. Melalui perjalanan dengan angkutan umum, saya bisa lebih mendalami wajah Jakarta. Saking seringnya berjalan kaki, kadang jadi suka melakukan perlawanan terhadap kendaraan (motor) yang merampas hak pejalan kaki dengan naik trotoar dan jembatan penyeberangan.

Terhadap kehidupan. Buat saya hidup adalah pengalaman. Kalau saya dianggap punya pengalaman atau skill lebih, itu hanya kebetulan saya terlahir duluan. Bukan berarti saya yang terhebat. Siapapun dari kita kalau sudah punya “jam terbang” pasti akan menjadi ahli di bidangnya. Asalkan ia mendapatkan kesempatan. Hal yang masih kurang dalam hidup saya saat ini adalah mencari pendamping hidup. Ada yang bilang saya selektif. Bisa jadi, karena setiap keputusan besar harus diikuti dengan banyak pertimbangan matang pula, termasuk mencari pasangan hidup.

Bukik Bertanya Pitra

Tentang Simbol Diri 

Kalau milih benda, hahaha diri saya adalah sebuah otak manusia. Yang mencoba selalu berpikir, mencari-cari ilmu, mempelajarinya, dan mengadaptasinya untuk produk/layanan baru Stratego. Otak juga menjadi tempat mengingat. Bisa saja suatu saat kita lupa, namun dengan trigger tertentu, memori itu akan bisa kembali. Itu yang saya lakukan melalui tulisan saya. Saat saya lupa, membaca itu akan memicu kembali ilmu dan pengalaman yang sempat saya lupakan.

Tentang Imajinasi Indonesia 2030

Saya melihat konteks yang lebih kecil saja ya, Jakarta, karena terlalu luas membayangkan Indonesia. Inginnya Jakarta sudah menjadi kota yang ramah bagi para manusia modern. Manusia modern adalah mereka yang berani meninggalkan kendaraan pribadinya. Bukan karena bensin mahal. Namun karena kesadaran diri kalau ia membawa kendaraan pribadi berdampak pada sengsaranya warga Jakarta lainnya yang sudah berkorban menggunakan angkutan umum. Saya melihat manusia modern ini ramah, saling menyapa sopan di dalam angkutan umum. Meninggalkan keegoisan yang dibawa saat mengendarai kendaraan pribadi dan mengklakson-klakson mobil lainnya di tengah kemacetan. Meninggalkan keegoisan dirinya saat naik trotoar demi melewati kemacetan dan mengabaikan keselamatan warga Jakarta lainnya yang berjalan kaki. Meninggalkan keegoisan setiap kendaraan yang memasuki jalur angkutan umum demi melewati kemacetan, tanpa menyadari pengorbanan yang sudah dilakukan para penumpang angkutan umum demi mereka yang bermobil dan bermotor.

Saya melihat kota yang ramah dengan warganya. Banyak taman terbuka dimana-mana dengan pedagang kaki lima berdagang tertib di lokasi yang ditentukan. Taman tempat anak-anak dari segala kelas ekonomi berkumpul, bermain bersama, tanpa rasa takut. Taman yang bukan sekedar lahan hijau, tapi menjadi tempat berkumpul beragam komunitas setiap harinya. Saya melihat kota yang sudah merata jaringan internet wifi-nya, sehingga semakin banyak yang bisa bekerja tanpa perlu meninggalkan rumah. Mereka yang lebih suka untuk datang ke taman, bekerja di coffee shop yang tersedia sana, daripada memilih datang ke mall. Saya melihat mereka bekerja ditemani keluarga di sampingnya. Mereka yang bisa semakin banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya daripada terjebak macet di kota.

Hal kecil yang berdampak besar untuk Indonesia

Berjalan kaki dan menggunakan angkutan umum. Ini yang saya coba ajak ke teman-teman yang kemana-mana sendirian dengan mobil dan motor. Saat ini Jakarta memang bukan kota yang ramah bagi pejalan kaki. Namun bukan berarti kita tidak bisa memulainya. Dengan berjalan kaki dan berangkutan umum, kita bisa lebih menghargai orang lain dan melihat kondisi kota sebenarnya. Semakin banyak yang melakukannya, semakin kuat dorongan yang akan muncul kepada pemerintah untuk membuat kota yang ramah bagi target sesungguhnya, yakni warga sendiri, dan bukan kendaraan yang dipakainya.

Tentang Judul Biografi

Hahahaha apa ya? Kalau saya sih lebih ingin dikenal sebagai orang yang suka berbagi pengalaman dan pengetahuan melalui beragam media. Mungkin judul biografinya: “Mulai dengan sederhana. Bisa terwujud karena suka.”

Tentang Hal Terkonyol 

Kalau saya boleh mengulang masa hidup saya setelah lulus, saya akan mencari pengalaman kerja dulu, baru berbisnis. Karena sangatlah konyol membangun bisnis dengan idealisme tinggi, tapi modal nol, pengalaman nol, dan networking nol. Saya mendapatkan pelajaran itu dengan cara mahal, menjadi “sengsara” (dalam arti kekurangan finansial) selama lebih dari 3 tahun.

Asyik kan ceritanya @Pitra? Menurutku, kata-katanya yang menarik itu: “…berbagilah sesering mungkin hal yang memang kita suka.” Kalau menurutmu, apa kata-kata yang menarik? Tulis di komentar ya…

Inspirasi keren wajar kan disebarluaskan. Bisa melalui Twitter, Facebook, Google+, atau Pinterest. Tinggal klik bisa sebarin banyak manfaat….
Kali ini aku mau ngasih motivasi tambahan buat yang mau nulis komentar mengenai posting ini. Apa motivasi tambahannya? *bongkar-bongkarlemari. Yah sayang aku lagi gak punya stok kaos atau hadiah menarik. Yah terpaksa deh, motivasi tambahannya kali ini berupa 3 paket pulsa 100 ribu. Lumayan kan bisa buat sebulan :D

Gimana caranya?

  1. Follow @blogbukik & @pitra
  2. Baca, pilih dan tweetkan kata-kata inspiratif dari posting ini dengan format “kata inspiratif” @Pitra #BukikBertanya di @blogbukik
  3. Tuliskan kata-kata inspiratif itu di kolom komentar dan jawab pertanyaan “Apa sih manfaat/inspirasi dari kata-kata itu buat karir kamu?”
  4. Pemenang adalah yang memenuhi syarat diatas dan jawabannya yang paling nendang, paling nyentuh, paling gimana gitu pokoknya
  5. Waktu buat ngetweet dan nulis komentar itu mulai Senin sampai Rabu, 3 – 5 Juni 2013.
  6. Pengumuman pemenang akan diumumkan pada posting Bukik Bertanya berikutnya, hari Senin minggu depan

Ikutan ya….berbagi inspirasi, bisa dapat tambahan rejeki :D

Incoming search terms:

11 Comments

  1. Posted June 3, 2013 at 9:27 am | Permalink

    waaaa…. panjang banget…
    saya ketemu mas pitra sekali, pas di RotiFresh terakhir di SMGTown…

  2. Posted June 3, 2013 at 9:31 am | Permalink

    “Buat saya hidup adalah pengalaman” Saya belum berkarir, tapi ini bermakna bagi hidup. Ada yang bilang Hidup itu pperjalanan dan perjuangan, dan perjalanan serta perjuangan itu menumbuhkan pengalaman buat perjalanan kehidupan kedepannya lagi. ya hidup adalah pengalaman, setiap orang gak ada yg sama pengalamannya selama hidup. ini motivasi khusus sebab saya sendirilah yg harus menciptakan pengalaman daridan dalam hidup ini.

  3. Posted June 3, 2013 at 10:36 am | Permalink

    Blogger sejati reeek
    buat saya ngeblog itu awalnya buat menyimpan kebiasaan dengan tulisan tentang kebiasaan saya tentang ngoprek linux, jalan-jalan dan kuliner seperti halnya diare (jaman dulu), mencoba menulis walaupun tidak pandai menulis yang penting saya paham karena niatnya juga untuk catatan pengingat jika saya lupa tentang ngoprek, syukur-syukur kalau bisa bermanfaat buat orang lain.
    saya pernah membaca tentang buku itu “Social Media Landscape in Indonesia 2012″ soalnya bos saya beli dan saya pinjam saja :D, menurut saya buku yang keren pembahasan yang mendetail dan bahasa inggrisnya mudah di pahami

    saya setuju dengan kata ini “pengalaman kerja dulu, baru berbisnis. Karena sangatlah konyol membangun bisnis dengan idealisme tinggi, tapi modal nol, pengalaman nol, dan networking nol” dengan hal tersebut menjadi boss tanpa berawal dari bawah tidak akan mengerti kondisi bawahannya atau bahkan tidak mau tau

    salam kenal pak @pitra
    saya juga merantau di ibukota tanpa membawa polusi dan memanfaatkan fasilitas umum saja…

    salam pak bukik yang menjadi inspirasi saya dengan berani “keluar zona nyaman” salut dengan perjuangan pak bukik

  4. Posted June 3, 2013 at 1:24 pm | Permalink

    Senang sekali membaca kisahnya Kak Pitra ini..

    Tak terlalu kenal dg orangnya, tapi sudah lama sekali follow akunnya..

    Pernah melihat dari kejauhan. Karena saya harus masuk ke sebuah room di acara ON|OFF kalau nggak salah, jadi tidak sempat ketemu. Memang kesannya pendiam banget orangnya. Tetapi setelah baca kisahnya ini, benar-benar orang yang keren dan berisi…

    Salam kenal Kak Pit

    @rudicahyo

  5. Posted June 3, 2013 at 2:04 pm | Permalink

    mantep iki critane kak pit ^^

  6. Posted June 3, 2013 at 9:00 pm | Permalink

    “Namun, idealisme tanpa bisnis dan pasar yang siap sama saja bohong”

    Itu merupakan kata-kata yang amat mengispirasiku. Kenapa? Karena aku pernah merasakan beberapa kali di posisi tersebut dan kata-kata itu sungguh menyadarkan sekaligus mengingatkan akan idealisme kita yang perlu dipersiapkan untuk menghadapi realita agar dapat tetap terwujud sesuai dengan mimpi kita..

  7. Posted June 4, 2013 at 1:06 am | Permalink

    Suka tiap baca posting Bukik Bertanya nya pak Bukik, benar-benar menginspirasi :D jadi ingin melanjutkan blog abal-abal saya :p yang salah satu kategorinya mengangkat interview seperti ini http://blog.godeny.com/tag/interview
    untuk mas Pitra, salam kenal mas :) walau tdk kenal secara langsung, tapi saya silent readernya TL mas pit, dan suka ide-ide di blog media-idenya, keren.
    setuju dengan kata “..saya dianggap punya pengalaman atau skill lebih, itu hanya kebetulan saya terlahir duluan…” yah, jadi ingat sebuah kutipan -generasi kemarin menjadi inspirasi generasi saat ini, dan generasi saat ini bisa jadi menjadi inspirasi generasi esok hari- yg pada dasarnya semua orang berbakat untuk sukses dan bisa menginspirasi org di kemudian hari. seperti kata-kata Isaac Newton “If I have seen further it is by standing on the shoulders of giants” untuk belajar kita harus memandang jauh dari pundak orang-orang terdahulu.
    salam utk semuanya

  8. Posted June 4, 2013 at 10:56 am | Permalink

    Salam kenal juga semua. Ini sebetulnya sudah ditulis bulan Februari hahaha.. tapi baru dipublikasikan Mas Bukik barusan.
    Padahal udah lama gak nulis di media-ide.com. Yang santai2 sekarang ada di blog satunya: pitra.media-ide.com. Lalu saya lebih banyak bikin slide sekarang. Ada di slideshare.net/anakcerdas.

    Kalau ada pertanyaan lain, silakan yaa :)

  9. Posted June 4, 2013 at 1:41 pm | Permalink

    wah keren banget ceritanya. Salam kenal buat Mas Prita. Kayaknya statement yang ini mencari pengalaman kerja dulu, baru berbisnis ada benarnya. Tapi biasanya setelah bekerja jadi takut buat berbisnis. apalagi kalau jabatannya sudah terlanjut tinggi. :)

  10. Posted June 5, 2013 at 7:59 pm | Permalink

    “kata inspiratif” : Saya melihat mereka bekerja ditemani keluarga di sampingnya. Mereka yang bisa semakin banyak menghabiskan waktu bersama keluarganya daripada terjebak macet di kota.

    Ini kata-kata sederhana yang prakteknya susah sekali dipraktekkan. Setelah melahirkan saya sempat minta ijin untuk bekerja dari rumah, tapi si bos dengan senang hati membuat surat berhenti “kerjasama” ke saya.
    Menyesal, ya gak juga.

    Patah semangat, iya.
    Sempat terpikir kalau akhirnya saya mesti ikhlas tidak berpenghasilan. Tapi ya kalau dicari-cari, terus mencari-cari, pasti ada jalan.
    Kata siapa karir cuma bisa dicapai dengan jadi manusia kantoran? :D

  11. Posted June 28, 2013 at 9:27 am | Permalink

    Mas Bukik,

    Cerkas ini tulisan panjangnya. Ternyata perjalanan panjang untuk kehidupan itu enggak akan selesai lekas yah :))

    Semoga inspirasinya menular ke saya. Amin

One Trackback

  1. By Bermula dari Nol on June 27, 2013 at 11:52 pm

    [...] Baca juga tulisan Mas Bukik di tautan ini. [...]

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *

*
*

Blog Bukik - Karir, Teknologi dan Organisasi